THE ALEXIS

THE ALEXIS
UNBELIEVABLE



“Dialah satu-satunya saksi hidup dalam peristiwa itu. dan kami ingin mengetahui siapa pelakunya.” Endra mulai menjelaskan. Sedangkan Artha yang tidak mengerti apa pun tentang pembicaraan mereka hanya menampilkan wajah penuh tanda tanya.


“Jika itu masalahnya, kenapa dia harus melakukan itu?” tanya Krisna.


“Kau teman dekatnya Kris, apa kau tidak tau bagaimana sifat laki-laki itu? Orang seperti dia, apa kau pikir mudah mengatakan hal-hal seperti itu? Didekati saja susahnya minta ampun. Bahkan aku yang sering berurusan dengannya saja masih sulit menebak pikirannya," jelas Endra panjang lebar.


“Ok, jika seperti itu. Tapi apa perlu menghancurkan hatinya lagi?” Disini Artha semakin bertanya-tanya dengan ucapan Krisna.


“Kurasa itu sepadan dengan apa yang sudah dia lakukan selain kematian. Lagi pula sudah tau dia sebagai saksi mata, tapi dia tidak melaporkannya.” Adit menimpali.


“Apalagi dia juga telah menelantarkannya," imbuh Endra.


“Dia tidak menelantarkannya, End!" Krisna memberi penekanan di akhir kalimat.


“Lalu apa yang dia lakukan dengan tidak muncul di rumah sakit bahkan hingga kematiannya?” Endra memberikan senyum congkaknya pada Krisna yang terus membela teman dekatnya.


“Dengan meninggalkannya di rumah sakit sendirian tanpa menjenguknya hingga kematiannya, itu sudah menunjukkan bahwa orang itu tidak mau bertanggung jawab padanya.” Artha sudah bisa mulai menangkap kasus apa yang sedang mereka bicarakan berkat kata-kata Adit.


“Bukan seperti itu, guys. Saat itu pun dia juga sedang terluka," bela Krisna.


“Sorry guys. Apa yang sedang kalian bicarakan ini masalah kematian Shasha?” Pertanyaan Artha dijawab dengan anggukan serempak dari ketiga sahabatnya.


“Dan alasan dia tidak menjenguk Shasha karena dia mencari mereka semua.” Semua terdiam dengan pernyataan Krisna. Artha pun turut menatap Krisna dengan tatapan menelisik. “Dia membereskan mereka semua," tambah Krisna.


“Apa yang kau maksud dengan membereskan mereka? Apa dia membunuh mereka?” Adit menatap Krisna dengan tatapan menelisik.


“Dia bukan orang yang sanggup membunuh orang. Tapi semua kejadian yang menimpanya bisa saja membuatnya melakukan hal di luar kendalinya," ujar Krisna.


“Itu sebabnya dia tidak melaporkannya ke polisi? Karena dia membereskan mereka sendiri?” Endra mulai merasa bimbang. Antara percaya dan tidak percaya. Karena dia sendiri juga merasakan bagaimana perubahan sikap orang yang sedang mereka bicarakan ini.


“Bagaimana kau bisa yakin? Apa dia sendiri yang mengatakannya?” Adit kembali mengintrogasi.


“Tidak. Itu hanya dugaanku saja," balas Krisna.


GUBRAKKK!!


Adit dan Endra yang terjatuh dari tempat duduknya, segera kembali menegakkan tubuhnya kembali seraya memutar matanya. Mereka merasa konyol karena hampir mempercayai omong kosong Krisna. Sementara mereka berdua merasa konyol dengan diri mereka, Artha justru sebaliknya.


“Kecelakaan tunggal di gunung, pembunuhan di salah satu hotel prostitusi, kebakaran club malam di tengah kota, meledaknya mobil sedan di pinggir kota, kematian mendadak dua atlet dengan cara gantung diri dan overdosis narkoba, pembantaian beberapa pemuda secara brutal oleh orang tidak dikenal di tempat prostitusi.” Tiba-tiba Artha menyebutkan serentetan kasus yang tidak diketahui oleh mereka semua.


Apa hubungannya dengan kasus Shasha? Apa Artha sedang melantur? Itulah sekelebat pemikiran yang melintas di kepala Krisna dan Endra. Sedangkan Adit menatap tajam Artha dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Kurasa omongan Krisna bukan omong kosong belaka.” Kini tatapannya berpindah pada Krisna.


“Seluruh rentetan kasus itu terjadi dua hari setelah kematian Shasha," ujar Artha.


Semua tercengang mendengarnya. Artha yang dari tadi hanya diam mendengarkan dan menelaah pembicaraan mereka, kini mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan mereka. Mereka tentunya cukup cerdas untuk menarik sebuah garis besar dari apa yang diungkapkan Artha dengan masalah yang sedang mereka bicarakan.


“Semua kasus mengakibatkan korban tewas. Sampai saat ini, polisi belum bisa memecahkan semua kasus beruntun ini. Tidak tau siapa dalang di balik semuanya, sama seperti kasus Shasha.” Artha menatap wajah para sahabatnya satu persatu. “Apa disini hanya aku yang mengetahuinya? Padahal berita itu disiarkan besar-besaran di seluruh media.”


“Bagaimana kami bisa tahu? Kita semua bahkan sudah tidak ada di tanah air saat peristiwa itu terjadi. Kau sendiri, bagaimana kau bisa mengetahui berita itu? Apa itu menjadi berita internasional?” Artha menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Adit.


“Karena aku tau siapa mereka semua. Kak Noa bahkan menunjukan foto-foto TKP padaku. Dan serentetan kasus itulah yang mencoreng nama kepolisian karena dianggap gagal mengungkap siapa pelakunya," jelas Artha.


“Kau mengenalnya?” Artha menoleh pada Endra.


“Mereka anak-anak balap liar yang sering main di gunung.” Mereka bertiga semakin tercengang karenanya. “Bukankah anak balap motor juga masuk dalam daftar korban rentetan kasus ini?”


Kini Artha menatap Adit yang terlihat memikirkan sesuatu. Adit teringat, ada dua orang anak balap motor yang mati karena gantung diri dan over dosis narkotika.


“Lalu apa Kak Noa tahu tentang keterkaitan mereka dengan dunia balap?” Endra kembali bertanya.


“Kau kira kakakku orang bodoh? Polisi saja tahu keterkaitan mereka, mana mungkin Kak Noa tidak tau," ujar Artha yang terlihat sewot.


“Lalu kenapa polisi sampai tidak bisa menemukan siapa pelakunya?” tanya Adit.


“Semuanya dilakukan dengan sangat rapi. Tidak ada petunjuk sama sekali yang tertinggal.” Mereka tentu bisa membayangkan bahwa orang yang melakukannya pastilah pembunuh professional.


“Lagi pula, para bedebah seperti mereka memang pantas mati. Setidaknya siapa pun yang membunuh mereka, entah itu orang yang sedang kalian bicarakan atau bukan. Orang itu sudah berkontribusi membasmi sampah di kota ini," imbuh Artha dan Adit pun menyetujuinya. Dua orang dari kalangan balap motor itu memang buka orang yang pantas untuk hidup di dunia ini.


“Lalu sebenarnya siapa saksi hidup yang kalian bicarakan ini?” Pembicaraan para sahabatnya berhasil membuat Artha penasaran. Dia merasakan ada yang janggal.


“Kekasih Shasha.” Krisna menjawabnya dengan suara lemah.


“Apa? Kekasih Shasha?” Artha terdengar tidak percaya, namun dibalas anggukan oleh Krisna. “Jangan bercanda! That’s nonsense!”


“Apanya yang bercanda?” Krisna malah menjadi kesal sekarang.


“Mana mungkin! Dia sudah mati!”


***