THE ALEXIS

THE ALEXIS
GUESTS STAR



Suatu siang yang begitu panas….


Khiara menyilangkan kedua lengannya sambil melihat-lihat majalah dinding yang terpasang di lorong gedung fakultasnya. 


Sebuah poster besar tertempel di sana. Poster mengenai pekan olah raga yang diadakan oleh anak-anak BEM. Yang artinya seluruh penghuni universitas akan mengikuti kegiatan kampus ini. Acara ini akan diadakan dua minggu lagi selama seminggu berturut-turut dan akan ditutup dengan promnight dan concert penggalangan dana.


“Di saat cuaca panas seperti ini? Hah ... yang benar saja.” Hal ini benar-benar seperti festival dan pekan olahraga saat musim panas. 


“Dua minggu lagi berarti setelah UAS.” Khiara hanya mengedikan bahunya kemudian berlalu dari sana. Sejujurnya dia sangat menyukai olah raga, tapi saat ini dia tidak berniat untuk mengikuti event tersebut. 


Dia akan menggunakan waktu liburannya untuk ke kediaman baru orang tuanya untuk menemui anak semata wayangnya. Ya, Khiara sudah memindahkan orang tuanya dan anak semata wayangnya ke Indonesia berkat permintaan ibunya saat itu. 


Khiara membelikan rumah yang cukup besar untuk ditempati merek bertiga. Kenapa hanya bertiga? Ya karena Kael memilih untuk stay di Paris untuk meneruskan studinya. Dan Khiara pun sangat mendukungnya. 


Rumah yang dibeli Papa Louis tidak jadi di sewakan sebagai property karena Kael masih di sana. Dan rumah baru mereka yang di Indonesia sengaja disiapkan oleh Khiara bukan karena orang tua tidak mampu membeli rumah baru, tapi lebih kepada keinginan Khiara yang ingin memberikan sesuatu pada orang tua mereka sebagai rasa sayang dan terima kasihnya.


Dan tiba-tiba senyum sumringah mengembang saat memikirkannya. Dia tak sabar menunggu saat liburan untuk bertemu dengan mereka.


“Kak Khiaraaa ....” Tiba-tiba seseorang memanggilnya. 


Kening Khiara berkerut lalu berbalik ke arah suara tersebut. Seseorang sedang berlari ke arahnya lalu beberapa saat kemudian berhenti di depannya dengan terengah-engah.


“Iya?” Oh, Khiara lupa melepas tangannya yang terlipat di depan dada. “Ada apa?”


“Ini, boleh minta tolong, Kak?” Gadis ini adalah adik tingkatnya. “Aku nitip ini untuk Kak Alex," ujarnya sambil menyerahkan amplop panjang pada Khiara.


“Apa ini? Surat cinta?” goda Khiara.


“Bukan! Masa surat cinta ada kop organisasinya," sahut gadis itu.


“Hahhaha ... Who knows? Bisa saja kamu tidak modal," celetuk Khiara dengan maksud untuk bercanda.


“Kak Khiara! Lagi pula mana berani aku mengirim surat cinta untuknya. Bisa-bisa aku dilahap olehnya," sanggahnya dengan ngedumel.


“Hahhaa ... lalu kenapa kau tidak memberikannya langsung?” Khiara jelas penasaran, kenapa surat untuk Alex justru diberikan padanya.


“Hehehe ... tidak berani. Lagi pula, jika bisa menyerahkannya lewat pacarnya yang baik hati ini, kenapa harus berurusan dengannya langsung?” Gadis yang dia kenal dengan nama Ayu ini langsung memberikan cengiran kudanya.


“Pacar?” Kening Khiara berkerut karenanya.


“Alaaah, jangan bohong Kak Khiara! Seluruh kampus juga sudah tau kalau Kak Alex telah jatuh hati padamu. Adegan mesra kalian benar-benar telah menggemparkan kampus. Aaakkkkhh!!” gadis itu histeris sambil menangkup kedua pipinya. Khiara harus menjauhkan telinganya sesaat agar tidak tuli mendadak.


“Bikin melted. Itu benar-benar adegan romantis yang pernah ku lihat secara live!” tambah gadis itu dengan menggebu-gebu. Khiara menjitak kepala Ayu pelan. 


“Kau ini biang gossip ya? Bisa tidak mulutnya dikondisikan?” Khiara memasang muka sebal yang dibuat-buat. Tentu saja dia tidak marah pada gadis itu, hanya saja dia sedikit malu jika mengingat acara pelukan waktu itu.


“Hehhhe ... maaf kak. Tapi beneran deh, swear! Kalian memang pasangan yang cocok. Aku lebih suka jika Kak Alex denganmu daripada dengan nenek sihir yang satu itu.” Khiara tahu siapa yang dimaksudkan Ayu. Pastilah Nadya, siapa lagi kalau bukan anak manja sok berkuasa itu.


“Udah?” tanya Khiara santai. Sejujurnya dia sedikit terhibur dengan tingkah adik kelasnya ini.


“Udah.” Cengiran gadis itu masih saja mengembang ditambah dengan kedipan kedua matanya berkali-kali.


“Ya sudah sana pergi!” ujar Khiara, mengusirnya.


“Ok Boss!” balas gadis itu sambil memberi hormat pada Khiara dengan tangan kanannya.


“Ah, tunggu!” Gadis itu kembali berbalik ke arahnya.


“Apa lagi sih, Kak? Tadi katanya disuruh pergi ....”


“Ngomong-ngomong ini apa? Boleh kubuka?” tanya Khiara dengan iseng.


“Yaah ... kakak kepo ... janganlah! Bukan haknya ini.” Khiara sudah beracting hendak merobek ujung amplop tersebut. “Ei ei ei jangan, Kak! Bahaya amat sih. Itu isinya undangan pengisi acara untuk konser penutupan pekan olah raga nanti.” jelas Ayu.


“Undangan?” Khiara mengerutkan keningnya.


“Iya, katanya dulu saat Kak Alex masih di fakultas seni, Kak Alex selalu tampil di acara pentupan tanpa absen. Hanya saja tahun lalu dia tidak ikut. Jadi kali ini kami mengundangnya lagi. Siapa tau dia bersedia tampil lagi. Kan lumayan. Hehehehe ....”


“Lumayan karena gretongan?” sindir Khiara.


“Itu juga termasuk sebagai alasan sih ....“ Ayu mengetu-ngetukkan jari di dagunya. “Tapi alasan utamanya karena banyak permintaan dari mahasiswa yang masuk ke BEM untuk mengundang Kak Alex. Sepertinya penampilan Kak Alex lebih ditunggu-tunggu dari pada penampilan artis ibu kota lainnya,” lanjutnya.


“Benarkah?”


“Entah, aku sendiri juga tidak tau. Ini saja masih tahun pertamaku di sini. Dan sepertinya aku beruntung karena Kak Alex masih meneruskan kuliah di sini. Aku akan bisa melihat penampilannya yang katanya luar biasa itu.” Jelas sekali binar kebahagiaan di mata Ayu. Bahkan mata itu kini sudah seperti puppies eyes.


“Yah, kalau dia mau tampil.” Kata-kata Khiara telah merusak mimpi indah gadis ini. 


“Yah ...." Gadis itu terlihat kecewa. “Kalau dia tidak mau, kakak harus memaksanya agar mau. Pokoknya harus! Ya Kak! Ayo lah kak! Pleaaseee!” gadis itu merengek seperti anak kecil dan bergelayutan di lengan Khiara.


“Ayolah, Kak! Ayolah! Aku tidak akan melepaskan tanganmu jika kau tidak memenuhi permintaanku.” Rengekan itu membuat Khiara melotot padanya, lalu mendorong kepala gadis itu dengan dua jari tangan kirinya agar menjauh darinya.


“Akan ku usahakan.” Khiara sendiri tidak tau apakah akan berhasil membujuk orang itu. 


“Benar ya. Awas, aku akan mencari Kakak sampai ujung dunia jika Kakak tidak berhasil membujuknya.” 


“Iya!” ****! Apa tadi yang dia bilang? Harus berhasil? Kerewelan gadis itu berhasil membuatnya mengucapkan janji yang tidak tau apakah bisa ia tepati atau tidak.


Ini bukan masalah Alex mau atau tidak, tapi apakah dia bisa atau tidak? Alex yang ini bukanlah si genius musician Alex yang dulu. Jelas saja tahun lalu Alex tidak ikut, karna Alex sejak tahun lalu sudah bukan Alex yang mereka kenal.


***