
Alex melangkahkan kakinya menuju kantin dengan iPad di tangan kirinya. Di sebelahnya ada Ata yang juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua berjalan beriringan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut mereka. Karena mereka sedang sibuk menelaah apa yang ada dalam iPad mereka.
Tiba-tiba Ata menepuk bahu Alex, membuat Alex menoleh pada rekannya. Gersture tubuhnya seolah bertanya, kenapa?
Mereka kini sudah sampai di kantin, dan Ata menujuk ke suatu arah dengan dagunya. Alex mengikuti kemana arah yang dimaksudkan oleh Ata. Apa yang ada di sana, membuatnya mematikan iPadnya dan menuju ke ujung lorong untuk melihatnya lebih jelas.
Alex menyilangkan kedua tangan dan kakinya sembari bersandar pada dinding dengan bahu kirinya. Ata pun turut menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berdiri di sebelahnya untuk melihat apa yang akan terjadi di depan sana.
Seorang wanita sedang tersenyum mendengarkan teman-temannya bercerita sambil menikmati kudapan di depannya. Sesekali ia menimpalinya dengan sesuatu yang ada di pikirannya. Tergelak ketika pembicaraan terdengar lucu, dan cemberut ketika pembicaraan terkesan aneh baginya.
“Kau tau, Khiara? Aku terpaksa memungutnya saat air seniku masih menggenang di sana.”
“Iyaakkkssss___kau menjijikan, Lus. Sepertinya kau harus menghilangkan kebiasaanmu membawa ponsel ke toilet.” Semua orang yang satu meja dengannya mengerut jijik mendengarkan cerita Lusi.
“Yah, kau benar. Tapi Khiara, meski kau bilang menjijikan kau masih meneruskan makananmu.”
“Hahaha, itu tidak berpengaruh padaku. Hal itu tidak membuat mangkok baksoku berubah seperti genangan air senimu.” Semua tertawa mendengarnya, walau sebagian tidak bisa meneruskan makan mereka.
“Wah, wah. Sepertinya asik sekali kalian. Apa yang sedang kalian bicarakan?” Seseorang menginterupsi kebersamaan mereka.
Tidak, bukan satu orang saja. Tepatnya tiga orang, hanya saja baru satu orang yang berbicara. Khiara tidak langsung menoleh pada mereka, sudut ekor matanya pasti sudah cukup untuk menganalisa.
Di tempatnya, Alex dan Ata masih memperhatikan mereka semua. Ata bersiul ringan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sedangkan Alex masih sama dengan posisinya dan diam dengan ekspresi yang begitu datar tanpa ada yang bisa mengartikannya.
“Apa kau mengkhawatirkannya?” Ata penasaran dengan apa yang dirasakan Alex.
“Tidak juga.” Seulas senyum miring tersungging di bibir Alex. “Apa kau pikir Nadya akan mampu menjatuhkannya?”
“Hahaha, kau benar. Bahkan Khiara jauh lebih tinggi di atas Nadya. Sisi elegantnya bahkan tidak bisa Nadya gapai sama sekali.”
“Elegant___itu yang kau dapat dari berbicara dengannya saat itu?”
“Ya.”
Dia sangat rapuh. Pikir Alex. Yah, memang. Justru itu lah yang dia rasakan saat wanita itu duduk di sebelahnya.
Alex kembali fokus pada segerombolan orang di depan sana. Walau sebenarnya dari tadi tatapannya tidak pernah lepas dari mereka.
Alex menajamkan penglihatannya, Khiara hanya terus mengamati perubahan ekspresi dari teman-temannya setelah kedatangan mereka. Penolakan. Alex yakin Khiara mampu membaca hal itu dari teman-temannya, beberapa detik kemudian terlihat senyum samar yang tersungging di sudut bibir mungil Khiara.
“Kenapa kalian tidak menjawab?” Nadya mulai kesal karena diabaikan.
“Apa kami mengganggu kalian? Ayo lah!” Dua orang dari mereka mulai berbicara.
“Kalian pergi lah, tidak ada yang ingin berbicara dengan kalian di sini.” Sergah Rein yang begitu to the point.
“Tapi sayangnya, kami sangat ingin bergabung dengan kalian.” Nadya duduk tepat di depan Khiara.
Sebenarnya kursi itu tadinya tidak kosong, tapi salah satu dari mereka menarik Lusi yang ada disana untuk menyingkir dari tempatnya.
“Dan sepertinya ada mahasiswa baru disini, kenalkan namaku Nadya,” ujarnya tanpa mengulurkan tangannya sama sekali. Ia bersedekap sambil bersandar pada kursinya. Menunjukan sisi keangkuhannya.
Wanita ini terlalu ketara. Mana ada mahasiswa yang bisa mengenali mahasiswa baru di sebuah kampus yang memiliki mahasiswa ribuan orang seperti ini? Memangnya wanita itu bisa menghafal semua wajah-wajah mahasiswa di kampus ini? Jangan gila! Wanita ini sebelumnya sudah mengincarnya.
“Khiara tidak perlu berkenalan denganmu Nad.” Rein menimpalinya, namun tak ada tanggapan darinya.
“Jika kalian tidak mau pergi, biar kami yang pergi dari sini.” Teman-teman Khiara segera beranjak dari kursinya begitu Rein berdiri. Tapi tidak dengan Khiara.
“Kalian pergi lah! Sepertinya nona ini ingin berbicara denganku,” ujar Khiara sambil menatap lurus pada Nadya yang menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Khira mengangkat sebelah tangannya saat Lusi hendak membantahnya. Mengisyaratkan agar mereka semua pergi dari sana. Dan akhirnya mereka pergi meninggalkannya. Namun tidak benar-benar meninggalkannya.
Semua orang yang ada di sana berusaha mencari pasokan oksigen di sekitarnya. Mereka semua sudah kesulitan bernafas sejak kedatangan Nadya dan genk-nya.
Akan kah pertempuran berdarah segera terjadi di depan mereka? Jika iya, siapakah yang akan memenangkan pertarungan di antara mereka? Sedikit menakutkan, tapi sungguh sangat sayang jika dilewatkan.
...***...
Angkuh namun sangat elegant. Begitu lah yang menjadi kesan bagi mereka yang melihatnya. Tidak hanya sikapnya, aura kekuasaan pun mulai menyeruak keluar dari dalam dirinya. Bagaikan penguasa yang memiliki kekuasaan mutlak.
Kalah tinggi, itu lah yang terbersit di pikiran Nadya saat ini. Aura itu sungguh mengintimidasi. Belum lagi sorot mata yang dingin tanpa ekspresi. Nadya sadar sangat merasakan hal ini, hanya saja ia tidak mau mengakui. Entah mengapa ia merasa wanita ini tak tertandingi.
Apa ini? Ada apa denganku? Tidak, tidak ada seorang pun yang bisa mengungguliku. Teriaknya dalam hati.
“Kau mahasiswa baru di kampus ini?” Akhirnya Nadya membuka suaranya setelah lepas dari pergulatan batinnya. Ia memberanikan diri untuk mematahkan seluruh intimidasi yang diarahkan padanya. Beruntung ia mampu mengendalikan suaranya untuk tidak gentar.
“Ku harap kau tau, saat ini sedang berhadapan dengan siapa.” Masih belum ada respon dari Khiara, ia masih membiarkan Nadya meneruskan kalimatnya. Dan itu membuat lawannya semakin terintimidasi hanya dengan sikap diamnya. Sikap yang begitu tenang itu, entah mengapa terasa sangat mengerikan bagi Nadya.
“Jangan pernah cari masalah disini! Kalau tidak mau ku tendang keluar dari kampus ini.”
“Dan masalah seperti apa yang kau maksud?” Untuk pertama kalinya wanita di depannya ini membalas ucapan Nadya. Pembawaannya masih begitu tenang. Nadya menyeringai mendengarnya. Seringaian yang sebenarnya membawa kegetiran dalam hatinya.
“Rupanya kau sangat cekatan. Baik lah, jauhi Alex. Jangan pernah mendekatinya apa lagi memprovokasinya. Aku masih mengingatmu, kau wanita yang waktu itu.”
Senyum miring tersungging di sudut bibir wanita bernama Khiara. Seringaian itu, begitu menakutkan di mata Nadya. Ia belum pernah merasa takut seperti ini sebelumnya, kecuali pada Alex dan kakaknya.
“Lalu, apa alasannya? Kenapa aku harus menjauhinya?” Pertanyaan Khiara sudah membuat ketakutannya menjadi amarahnya. Ia melupakan rasa takut yang menjalar dalam dirinya.
“Karena dia milikku, tak ada seorang pun yang boleh mendekatinya termasuk kau yang hanya anak baru.” Desisnya.
“Milikmu? Apa dia sebuah barang?” Nadya mendelik mendengarnya. “Sudah lah, aku mengerti apa yang kau maksudkan. Tidak ada alasan untuk melanjutkan pembicaraan ini. Karena ini sangat tidak penting. Hanya sebuah pembicaraan klasik seorang gadis remaja yang mengejar pangeran berkuda putihnya.”
Seluruh kata-kata dan senyum merendahkan itu, benar-benar tidak bisa diterima oleh Nadya. Ia tau saat ini Khiara sangat puas melihat ekspresinya yang sudah menampakkan urat marahnya, karena kini senyum kemenangan tersungging di bibir Khiara.
“Kau___!” Desis Nadya tidak terima.
“Sebuah novel saja bahkan memiliki sequel yang lebih menarik dari ini.” Khiara mengakhirinya dan bangkit dari kursinya.
“Kau, kembali ke kursimu. Siapa yang menyuruhmu bangkit, hah?” Seru Stefani yang ada di sebelah kirinya. Khiara menoleh ke arahnya seraya mengangkat salah satu alisnya.
“Di sini tidak ada yang bisa mengaturku, nona. Termasuk seekor udang sepertimu.” Desis Khiara sarkastik dengan intonasi yang masih saja begitu tenang, lalu mulai berbalik memunggungi mereka untuk meninggalkan mereka.
Nadya bisa merasakan bahwa semua yang ada disana terperangah dibuatnya. Mereka semua dengan terang-terangan menunjukan ekspresi terpesona dengan sikap dan karisma wanita di depannya. Ia tidak suka mengakui ini, tapi Aura itu memang mampu mengintimidasinya. Bahkan semua orang yang ada di sini bisa terintimidasi hanya dengan melihat pembawaannya yang begitu tenang.
“Dia benar-benar berani.”
“Tapi dia sangat keren.”
“Aku benar-benar bersyukur dengan kehadiran mahasiswa baru itu.”
“Tapi sebentar lagi, apa ia akan selamat dari amukan Nadya?” Itu lah sekelebat kasak-kusuk halus yang mampu membuat Nadya naik pitam.
Persetan dengan intimidasi yang diterimanya. Ia telah dipermalukan. Tidak ada yang boleh melakukan hal ini padanya.
Aku lah yang berkuasa di sini! Berontak Nadya dalam hati.
“KAAAUU!!!” Teriakan Nadya mampu memecahkan gendang telinga siapa saja yang ada di sekitarnya.
Sedetik kemudian, dibarengi dengan suara pecahan mangkuk dan gelas yang berceceran di lantai, sebuah meja meluncur tajam ke arah Khiara setelah Nadya menendangnya. Semua orang dibuat menahan nafas karenanya.
Namun dengan sigapnya, Khiara mengembalikannya ke posisi semula hanya dengan kakinya tanpa harus membalikan tubuhnya. Meja itu bebenar-benar kembali ke posisinya semula tanpa bergeser satu inchi pun dari tempatnya semula.
Mata Nadya melotot dibuatnya, rahangnya jatuh begitu saja. Ia tidak mengira wanita itu akan melakukan hal yang mustahil di hadapannya. Tendangan kebelakang milik Khiara benar-benar berhasil membuat decak kagum semua orang di sana. Bahkan mampu membuat Nadya dan kedua anteknya membeku di tempatnya.
...***...
...-Nah loh, mampus loe. Siap-siap aja jadi santapan siang buat Khiara. Hahahaa-...