
Alex menginjak pedal gasnya dalam-dalam hingga suara angin malam yang terbelah oleh laju mobilnya menghasilkan suara yang mengerikan. Suara itu bagaikan suara kedatangan Dewa Kematian yang sebentar lagi siap mencabut nyawa orang-orang yang telah digariskan untuk menemui ajalnya.
Di area parkir sebuah club malam yang sangat ramai di malam minggu seperti ini, penjaga dan beberapa pengunjung club malam tersebut nampak mengumpat karena cara mengemudi sang empunya balck spider yang tidak tau tempat.
Namun sedetik berikutnya terbungkam dengan cara parkirnya yang menakjubkan. Alex memarkirkan black spider-nya secara parallel dengan sangat sempurna hanya dalam waktu sepuluh detik. Mungkin cara parkirnya ini hanya dapat mereka lihat di dalam film-film balapan yang pernah mereka tonton.
Alex segera keluar dari mobilnya dan melangkah ke dalam club malam tersebut. Dia memang sedang tidak ingin membuang-buang waktunya. Bahkan dia tidak memperdulikan wanita-wanita yang histeris setelah melihatnya.
Di dalam sana, dia disambut dengan banyak tatapan lapar para wanita yang siap menanggalkan bajunya jika dia memintanya. Ini memang salahnya, seharusnya dia kemari tidak dengan penampilan yang penuh karisma seperti ini.
Walau dia telah berusaha untuk tidak mencolok dengan mentupi seluruh tubuhnya dan menggunakan topi baseball untuk menyembunyikan wajahnya, tapi karisma dan pesona yang melekat pada dirinya tetap saja tidak bisa ditutupinya.
Lagi pula, memang salahnya jika semua wanita itu terperangkap dalam pesonanya? Dia tidak minta dilahirkan dalam tubuh sempurna yang dapat menggoda para wanita.
Tapi seharusnya dia patut bersyukur karenanya. Setidaknya ini memudahkannya untuk mendapatkan tujuannya.
“Hai tampan. Mau ku temani?” Wanita ini sudah wanita kesekian kalinya yang menghampirinya.
“Kau kenal orang ini?” Akhirnya Alex menanggapinya setelah dia tidak menemukan di mana orang yang dicarinya
“Ah, Erick. Dia biasanya ada di lantai atas. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan salah satu wanitanya. Jika kau mau, aku bisa menemanimu di lantai atas.”
“Aku tidak membutuhkan j*lang sepertimu," jawabnya sarkastik lalu meninggalkan wanita itu dengan kekesalannya.
Dia sedang diburu oleh waktu, dan dia juga tidak pernah suka bermain-main dengan j*lang. Baginya, j*lang hanya akan membawa kotoran padanya.
Alex menaiki tangga menuju lantai dua. Dia mengedarkan pandangannya, dan... dapat!
Dia menaikkan tudung hoodie-nya untuk menyembuyikan wajahnya dan berjalan mendekati Erick yang tengah asik dengan wanitanya.
Alex mengambil posisi duduk di belakang Erick. Menyilangkan kaki dan tangannya lalu bersandar di sofa yang membatasi tubunya dengan Erick. Di balik kursi itu dia bisa mendengar semua yang diucapkan pria itu.
“Aku jadi kasian dengan wanita itu," ujar sang wanita.
“Yah, kau benar. Sungguh malang sekali nasibnya.” Kini Erick mulai mengomentari kemalangan seseorang seolah dia tidak berdosa pada orang tersebut. “Tapi apa mau dikata, itu sudah nasibnya. Nasibnya memang sial.”
“Lalu apa yang terjadi dengan orang yang bernama Alex itu?”
“Akan lebih baik jika dia mati.”
“Kau ini mengerikan.”
“Apa Alex masih di rumah sakit?”
“Entah lah Dic, aku tidak tau. Tapi akan sangat menarik jika orang itu menjadi gila begitu sadar dari komanya dan mengetahui kekasihnya telah mati," ujar Erick membalas pertanyaan temannya yang Alex yakini bernama Dicky.
“Hahaha, kau benar. Pasti boss akan sangat senang melihatnya.”
“Alexi?” Dicky dan Erik nampak terkejut mendengarnya.
“Kau tidak bercanda bukan?” tanya Dicky
“Kau yakin?” Kini Erick yang berusaha meyakinkan kembali. Berharap mereka salah dengar.
“Aku tidak mungkin salah. Saat aku melihat wanita itu, aku seperti pernah melihatnya. Dan aku baru teringat mengenai wanita itu hari ini. Aku tidak sengaja menemukan foto SMA temanku yang kebetulan satu sekolah dengan mereka.” Penjelasan David membuat bahu mereka lemas.
“Apa boss mengetahuinya?” tanya Dicky.
“Entah lah, tapi sepertinya dia belum menyadarinya.”
“Jika Alexi memburu kita, dia mungkin hanya akan menjebloskan kita ke penjara. Dan penjara bisa dibeli dengan uang guys. Jadi kalian tenang lah!” Erik berusaha menenangkan kedua temannya. Yang sebenarnya dia sendiri juga tidak yakin dengan omongannya sendiri.
“Jangan bodoh! Alexi bukan lah orang yang bisa diremehkan. Dia sangat cerdas. Dia tidak akan mungkin melepaskan kita begitu saja. Begitu kita terjerat hukum, dia tidak akan membiarkan kita bebas begitu saja. Apa lagi jika dia sudah bekerjasama dengan si jaksa yang bernama Noa itu," sergah Dicky panjang lebar.
“Dicky benar. Tapi ralat! Dia pengacara, bukan jaksa," sahut David.
“Yah, whatever lah.”
“Alexi? Jadi ada orang lain selain aku yang akan membalas kalian, huh? Menarik. Tapi tenang lah! Kalian tidak akan masuk penjara. Kalian semua hanya akan mati di tanganku," desis Alex dengan suara yang tidak bisa didengar oleh mereka semua.
“Kalau begitu sebelum itu terjadi, lebih baik kita bunuh saja dia," ujar Erick dengan ide gilanya.
“Apa kau kira bisa membunuhnya? Kau tidak memikirkan pagar pembatas para pangeran vita dolce itu, hah? Bahkan secuil kukunya pun kita tidak akan sanggup menyentuhnya.” Erick menggertakan giginya mendengar ucapan David.
Kenapa dia tidak memikirkan ini sebelumnya. Dan kenapa rasanya, masalah ini akan mengantarkan mereka pada para penguasa mutlak daerah ini?
“Aku harap jika dia memburu kita, kita hanya akan dijebloskan ke penjara," sahut Dicky.
“Yah, semoga Alexi tidak menganut paham mata dibalas dengan mata dan nyawa dibalas dengan nyawa," sambung David.
Aku tidak tau bagaimana paham wanita itu. Tapi disini, aku lah salah satu orang yang menganut paham itu saudara-saudara. Senyum tipis Alex tersungging dibalik tudung hoodie-nya.
“Tenang kan lah diri kalian. Wanita seperti itu tidak akan pernah bisa membunuh kita," jelas Erik lagi untuk menenangkan dirinya sendiri dan teman-temannya.
“Wanita itu mungkin tidak bisa membunuh kita, tapi bagaimana dengan para pangeran vita dolce, hah? Kau tidak melupakan mereka, bukan?” Erick memikirkan ucapan David.
“Mereka sanggup melakukan apa pun untuk seorang Alexi, bahkan membunuh kita sekali pun.” Kini Dicky yang menambahi.
Menarik! Aku akan sedikit mengulur waktu untuk kalian. Nikmati lah rasa takut itu untuk malam ini. Besok aku akan menjemput kalian. Dengan dewa kematian bersamaku tentunya. Alex berdiri meninggalkan tempat itu.
...***...