
Setelah makan malam, Khiara tidak berniat melakukan apa pun. Kemarin Alex bilang padanya bahwa dia akan pulang hari ini. Tapi sampai saat ini, orang itu belum menampakkan batang hidungnya.
Sejujurnya dia tidak suka berada di sini. Tempat ini terlalu menakutkan baginya. Dia merasa terlalu mistis berada di sini. Meski ada beberapa pelayan yang setia menemaninya 24 jam.
Tempat ini merupakan villa di tengah hutan. Bangunan villa ini sangat khas dengan bangunan villa di Bali. Ukurannya pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan mansion Alex yang sebelumnya. Jika mansion sebelumnya dikelilingi oleh pemandangan indah dan ladang bunga, maka di sekeliling villa ini ditumbuhi dengan banyak pohon kelapa yang menjulang tinggi.
Itu lah yang membuatnya berfikir tempat ini sedikit memberikan kesan mistis, walau sebenarnya dia tidak menemui hal-hal janggal selama berada di tempat ini. Khiara bukanlah orang yang takut pada kegelapan malam. Tapi dia adalah orang yang sangat paranoid jika menyangkut hal-hal mistis di negara ini.
Sebenarnya tempat ini tidak terlalu buruk di pagi hari. Bahkan terkesan sangat asri dan menyejukkan hati. Tapi suasana itu berubah saat malam hari. Tempat ini terasa mencekam untuknya. Seandainya Alex meninggalkannya pada malam hari saat itu, pasti ia tidak akan mau ditinggal sendiri dan memilih untuk pulang.
Sayangnya dia terlalu gegabah ketika mengatakan tempat ini sangat asri dan dia menyukainya, tanpa dia sadari bahwa dia tidak menyukai perubahan tempat ini di malam hari. Dan dia merutuki dirinya sendiri saat sadar bahwa Alex mengisolasinya.
Tidak ada mobil atau pun kendaraan lain yang bisa dia gunakan untuk keluar dari tempat ini. Dan dia pun tidak mungkin keluar dari tempat ini dengan berjalan kaki. Jarak jalan utama dengan tempat ini cukup membuat kakinya lumpuh jika memaksakan untuk berjalan kaki.
Dia tau bahwa Alex mengajaknya kemari agar bisa berfikir jernih saat mempelajari berkas-beras penting universitasnya. Tapi dia tidak tau jika ternyata Alex akan meninggalkannya sendirian setelah sarapan pagi.
Seandainya saja dia menyadari sebelumnya jika Alex akan mengurungnya bersama dengan berkas-berkas sialan itu sendirian, dia akan lebih memilih untuk dikurung di mansion yang sebelumnya.
Setidaknya dia akan merasa lebih nyaman di sana. Dan tentunya dia pasti akan bisa berfikir lebih jernih. Karena di mansion itu dia tidak akan merasakan takut, bahkan dia sangat ingin berlama-lama di sana. Alex juga tidak perlu khawatir dia akan melarikan diri dan melalaikan tugasnya, jika memang itu yang dipikirannya.
Tidak seperti saat ini. Di tempat ini justru membuatnya ingin sekali melarikan diri. Sudah dua hari dua malam dia tinggal di tempat ini. Dan penyakit tidak bisa tidur nyenyak yang dialaminya membuatnya semakin stress. Apa lagi hujan deras di luar sana membuatnya semakin gelisah.
Dia hanya berharap bahwa malam ini dia bisa tidur nyenyak. Tidak seperti tadi malam yang bahkan dia tidak bisa memejamkan matanya barang satu jam saja. Maka untuk mengatasinya, dia meminta obat tidur pada pelayan setelah makan malam.
Dan di sinilah dia sekarang, meringkuk di tempat tidur menunggu detik-detik obat itu bekerja pada tubuhnya. Dia sudah menutup semua jendela kamarnya dan mengatur suhu ruangan. Tapi dia tidak mematikan lampu ruangan seperti biasanya.
Dua hari ini merupakan pengecualian. And this is it! Dia mulai merasakan kantuk dan perlahan pandangannya mulai kabur. Dia mulai tertidur.
Di waktu yang sama, Alex baru saja sampai dan segera memarkirkan mobilnya ke garasi villa. Para pelayang menyambut kedatangannya.
“Di mana Khiara?”
“Tidur?” Alex melihat iWatch-nya. Dan jam masih menunjukan pukul 7.30 malam.
“Iya, Tuan. Tadi Nona Khiara meminta obat tidur. Katanya Nona Khiara tidak bisa tidur semalaman," jelas pelayannya.
“Kenapa?” tanya Alex sambil mengerutkan kening.
“Kami kurang tahu, Tuan. Nona Khiara tidak ingin mengatakannya pada kami."
“Baiklah. Kalian boleh pergi," ujarnya lalu bergegas ke kamarnya.
Alex membuka pintu kamarnya, tapi masih mendapati lampu kamarnya menyala dengan terang. Dia melangkah menuju ranjang dan menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Khiara hingga puncak kepalanya.
Alex tersenyum melihatnya. Khiara meringkuk seperti bayi dengan guling dalam dekapannya. Dia kembali membetulkan selimutnya dan segera menuju kamar mandi.
Setelah mandi dia memadamkan lampu kamarnya dan naik ke atas ranjang. Ini memang masih terlalu sore untuk tidur malam, tapi biarlah. Dia juga merasa lelah setelah perjalanan 9 jam dengan pesawat.
Alex menyusup di balik selimut itu dan memeluk Khiara dari belakang. Merasakan harum tubuh Khiara yang begitu menggoda, serta rambut yang begitu halus membuatnya betah menyusupkan wajahnya di sana.
Seandainya setiap malam dia merasakan seperti ini, pasti lelahnya langsung menghilang dan terbayar dengan kenyamanan yang menyenangkan.
Seperti saat ini. Entah mengapa, hidupnya terasa sempurna hanya dengan seperti ini. Kekosongan yang dia rasakan selama ini serasa terisi kembali dengan kehadiran seorang Khiara.
Alex menangkap cahaya kilatan di balik tirai kamarnya. Dia segera menutup sebelah telinga Khiara agar tidak terbangun karena suara geledek yang menggelegar. Tapi sepetinya itu tidak membantunya. Khiara masih bisa mendengarnya. Dan wanita itu terlonjak saat suara itu menggelegar di atas langit seakan membelah bumi. Namun sedetik kemudian, dia kembali terpejam. Sepertinya pengaruh obat tidur itu masih berkerja.
Alex membalikkan tubuh Khiara hingga berhadapan dengannya. Dan wanita itu langsung menyusupkan wajahnya ke dada bidangnya. Mencari tempat yang nyaman, dan di sanalah tempatnya. Alex tersenyum merasakan pergerakan Khiara, bahkan tangannya setelah membalikkan tubuh itu pun sampai menggantung karenanya.
“Tidurlah," ucapnya sambil mengusap-usap punggung Khiara setelah wanitanya itu berhenti bergerak. Dia memeluk tubuh Khiara erat dan membetulkan selimutnya. Malam ini akan menjadi malam dengan tidur yang paling nyenyak bagi mereka berdua.
...***...