THE ALEXIS

THE ALEXIS
CHALLENGE



Alex sudah melihat poster yang tertempel di mading kampus. Dia tahu saudara kembarnya selalu mengikutinya setiap tahun. Maka kali ini pun dia berniat untuk mengikutinya. Sudah lama dia tidak mengikuti kompetisi seperti ini.


“Lex, apa kau akan mengikuti kompetisi tahunan?” Nadya sudah bergelayut di lengannya.


Beberapa hari ini Nadya menempel pada Alex seperti lintah. Di mana pun ada Alex, di situlah ada Nadya. Hal ini terjadi setelah Nadya bersikeras menemui Alex beberapa hari lalu.


Wanita ini menunjukan sebuah rekaman video dan foto kemesraan Khiara dan Adit yang didapatnya. Nadya benar-benar percaya diri dalam menunjukan rekaman video tersebut. Dan reaksi Alex-lah yang membuatnya merasa puas dan semakin berani untuk mengakuisisi Alex menjadi miliknya. Kemenangan telah ia dapatkan.


Alex memang terbakar api cemburu saat melihat video tersebut. Dan rasa cemburu itu memang tidak bisa ditutupinya. Wajahnya mengeras, tangannya mengepal dan mata dinginnya menyorot dengan tajam. Bagi orang-orang yang melihatnya, itu terlihat seperti luapan emosi kebencian.


Dan setelahnya, Nadya selalu ada di sekitarnya. Bersikap protective padanya, tidak membiarkan seorang wanita pun mendekatinya. Namun Alex tidak mempermasalahkannya, malah justru terkesan menikmati kehadiran Nadya di sisinya. Dan tentunya, dia menghindari Khiara dalam setiap kesempatan.


“Emh,” jawabnya singkat.


“Bagus! Aku akan menyemangatimu saat kau bertanding. Oya, ngomong-ngomong apa kau akan tampil di acara penutupan?” tanya Nadya lagi.


Sebuah performance. Entah kenapa hal itu membuatnya teringat pada Khiara. Tepatnya pada pembicaraannya dengan Adit dan Natasha.


“Ehem!” Mereka berdua menoleh pada suara dehaman tersebut. Di belakang mereka sudah ada Khiara yang bersandar di dinding dan menyilangkan kedua tangan dan kakinya dengan santai.


“Maaf mengganggu waktu pacaran kalian,” ujarnya sambil berjalan mendekati mereka. Dia menekankan pada kata pacaran karena sebal dengan Alex yang menghindarinya, tapi malah menempel pada Nadya.


Khiara sendiri tidak tau topan apa yang menerpa Alex hingga pria itu berubah seketika. Tapi Khiara sendiri enggan untuk mencari tahu. Khiara sendiri massih berpegang pada motto hidupnya yang tak akan pernah mengejar-ngejar lelaki.


Biarlah pria itu begitu, toh itu akan menunjukan pada Khiara seberapa besar cinta pria itu padanya. Jika pria itu memang mencintainya, tak mungkin pria itu akan berpaling darinya. Apalagi karena masalah yang Khiara sendiri tidak tahu apa.


Alex hanya terdiam dan ekspresinya hanya datar-datar saja, walau jelas-jelas Nadya semakin merapatkan tubuhnya. 


“Kau memang tidak tau malu menggangu orang yang sedang berpacaran.“ Nadyalah yang membalas ucapan Khiara. Terlihat jelas dari wajahnya jika wanita itu benar-benar sebal diganggu oleh Khiara.


“Oops ... sorry. My bad. I don’t have manner for this one,” ujar Khiara menanggapi.


“Kau!” Khiara berhasil membuat Nadya emosi, namun Nadya segera mengontrol emosinya. Ia sadar bahwa saat ini, ialah pemenangnya. Dan ia akan menunjukan pada Khiara bahwa Khiara hanya lah krikil kecil pengganngu jalannya.


“Untuk apa kau ke sini Khiara, Sayang? Kau sudah memiliki pria lain, kenapa kau masih mengganngu kami, hemh?” Kening Khiara berkerut mendengarnya. Wanita ini bicara apa?


“Ada apa?” Suara Alex begitu dingin. Nada bicaranya sangat melukai hati Khiara, tapi ia berhasil menyembunyikannya. Bukan Khiara namanya jika tidak bisa berakting dengan sempurna.


“Well ....” Khiara sedikit membetulkan letak kacamata anti radiasinya. “Aku hanya ingin menyerahkan ini.” Ia menyerahkan amplop putih dari Ayu pada Alex dengan mengapitnya pada dua jari tangan kanannya. Seperti menyerahkan sebuah kartu poker pada pemain judi. Dan Alex pun menerimanya. 


“Apa ini?” tanya Alex seakan enggan membukanya.


“Apa kemampuan bahasamu berlum terlalu fasih sehingga aku harus membacakannya untukmu, Tuan Jester Alexander?” Ada penekanan di nama depannya, tapi ucapan Khiara justru membuat Alex menyeringai.


“Jester Alexander? Kau sedang mengigau?” Nadya menginterupsi mereka berdua.


Oh, sumpah ini benar-benar menyebalkan. Kenapa wanita j*al*ang ini harus ada? Khiara hanya meliriknya dengan malas. Dan wanita itu semakin menempelkan dadanya pada lengan Alex. Dan yang lebih membuat Khiara meradang adalah sikap Alex yang biasa-biasa saja. Membaca surat itu dengan santai seakan sudah terbiasa lengannya digelayuti wanita gila ini.


Dan untuk Khiara ini adalah pertama kali baginya merasakan hal ini. Dengan penuh kesadaran ia benar-benar menyadari, bahwa ia sedang termakan api cemburu saat ini. Tapi di sisi lain, ia harus tetap bersikap santai demi harga diri. 


Seandainya saja di sini ada pintu kayu atau besi, ingin sekali rasanya ia menjebleskan kepala Alex ke sana dan menyadarkannya. Halloo .... beberapa hari yang lalu dia telah melamarnya. Lalu kenapa sekarang justru bermesraan dengan wanita lain dan bersikap dingin padanya? 


“Lalu apa lagi yang kau tunggu?” Alex mengangkat kepalanya dan menatap Khiara.


“The answer. Do you want do it or not?”


“Nope.” Khiara menghembuskan nafas.


“Sudah kuduga. Kau memang tidak memiliki keahlian dalam bermusik.”


“Jangan sok tahu! Kau akan terpukau jika melihatnya,” sergah Nadya. “Lex, sebaiknya kau tunjukan siapa dirimu padanya.” Khiara berdecak karena kesal dengan Nadya yang terus saja mengoceh.


“Terserahlah ... itu tidak pent ....” Tiba-tiba kalimatnya terhenti saat sudut mata Khiara menangkap sosok Ayu yang berdiri sedikit lebih jauh di belakang Alex dan Nadya dengan membawa block note yang bertuliskan beberapa kata di setiap lembarnya.


Khiara menajamkan matanya untuk membaca tulisan itu. Lembar pertama adalah⎾언니사랑해⏌*eonni saranghae yang berarti ‘kak, aku mencintaimu’, kemudian lembar selanjutnya adalah ‘you promised!’ dan terakhir adalah ‘aku berharap padamu’.


“Geez, this punk! You’ll pay this, kid!” desis Khiara saat selesai membacanya. Nadya menoleh ke arah Ayu, dan gadis itu langsung kabur begitu saja. “Aku tarik kembali, kau tetap harus menerima. Tidak perduli mau sehancur apa penampilanmu nanti.”


“Jika aku tidak mau?”


“Aku akan memaksamu.” Tiba-tiba Khiara mendapat ide. “Let’s do it.” Khiara menunjuk ke arah lapangan basket dengan ibu jarinya. “Triple O.” Alex tersenyum congkak.


“Kau menantangku?”


“Yes. Jika kau kalah, kau harus menerimanya ditambah dengan satu tantangan dariku, tapi jika aku yang kalah ... aku akan menjadi budakmu selama seminggu.”


“Deal!” Alex langsung menyetujuinya dengan cepat. ****! Semangat sekali dia ingin menjadikanku budak, tapi jangan harap kau akan berhasil.


“Oke, kita lakukan setelah kuliahku berakhir.” Khiara menilik jam tangannya. “Empat jam lagi,” ujarnya lalu berlalu dari sana. 


Alex menatap punggung Khiara. Dia tidak perduli siapa yang akan menang atau pun kalah nantinya, yang dia pikirkan hanyalah membuat Khiara cepat pergi dari hadapannya.


***