
Malam pembalasan….
Sebuah kamar hotel terasa begitu panas dengan pergulatan dua manusia yang tengah memadu kasih. Dengan panasnya mereka bercinta tanpa mereka sadari, bahwa malam ini akan menjadi akhir dari hidup mereka.
Sesuai janjinya, malam ini Alex menghampiri mereka dengan membawa dewa kematian bersamanya. Satu hari sudah cukup lama untuk para b*jingan tengik seperti mereka.
“Berzina-lah sepuas mu, sebelum maut menjemputmu, maka kau akan membusuk di neraka!” Suara Alex bagaikan desisan malaikat maut di balik topinya.
Jika kau beruntung, kita akan bertemu di sana.
Alex yang bersandar di samping pintu kamar itu menilik jam tangannya dan menghitung mundur dengan mengetukkan jarinya secara acak pada tembok di belakangnya. Entah kenapa dia sangat mirip dengan seorang psikopat.
“Three-two-one. This is the show time!” Alex mebalik tubuhnya dan membuka kamar hotel itu dengan lihainya.
Tidak sulit baginya jika hanya membobol kunci sebuah pintu. Dengan perlahan dia memasuki kamar itu dengan seluruh ketenangan dan aura dewa kematian di belakangnya.
“Aaaahhhh___Erick, f*ck me harder! Make me fly!” Suara erangan terdengar lebih keras saat dia mendekati mereka.
Setelah melihat mereka berdua yang sedang panas-panasnya, dia menghentikan langkahnya dan bersandar pada dinding di sebelahnya dengan bahu kirinya. Menyilangkan kedua tangan dan kakinya dengan santai sambil menikmati adegan syur di depannya.
Anggap saja, saat ini dia sedang melihat blue film secara langsung. Meski sebenarnya dia tidak pernah suka menonton film seperti itu. Langsung melakukan akan lebih menyenangkan dari pada hanya sekedar menonton.
Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Alex di sana. Selain karena lampu kamar yang remang-remang, kedatangan Alex juga bagaikan setan. Tak kasat mata dan tanpa menimbulkan suara, begitu ringan layaknya dewa angin.
Mereka tetap melakukan adegan panas itu dengan cara do*gy style. Erangan sang wanita meminta lebih dan lebih. Seolah tusukan Erik masih belum bisa memuaskannya.
Sedangkan Alex tetap menikmatinya dengan tatapan mengejek. Dia tetap bediam diri di sana, membiarkan mereka mencapai kl*maksnya. Anggap saja ini hadiah darinya sebelum dia mencabut nyawa mereka berdua.
Sebenarnya Alex hanya menginginkan nyawa Erick. Tapi karena wanita murah*n itu bersamanya, maka tidak ada pilihan lain selain melenyapkannya. Tidak ada salahnya turut mengurangi sampah dari dunia ini. Dan erangan tak tertahankan milik Erik menggema di seluruh ruangan. Alex mengernyikan dahinya berusaha menulikan telinganya dari suara yang menjijikan itu.
Walau sang wanita belum mencapai klim*ks, tapi Erick sudah terkulai lemas di atas punggung wanita itu.
Menyedihkan! Dan saat sang wanita mengumpat karena hasratnya yang belum terpuaskan, ekor matanya menangkap sosok tubuh Alex yang bersandar di dinding. Ia memekik begitu saja dan mengagetkan Erick.
“SIAPA KAU?” Suara Erick terdengar gusar. Dia sangat marah. Berani-beraninya ada orang yang mengusik bahkan mungkin menontonya saat bercinta. Sedangkan sang wanita segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Alex tertawa congkak. Tawa itu sanggup membuat bulu kuduk mereka berdua meremang. Begitu dingin dan menakutkan. Alex menekan saklar lampu yang ada di sebelahnya dengan tangan kanan lalu menegakkan tubuhnya.
“Ka-kau!”
“Erick-Erick. Kau tidak akan bisa memuaskan wanita itu dengan pistol seperti itu.” Alex memincingkan matanya pada kejantanan Erick yang tidak seberapa itu dengan sarat penuh ejekan.
Erick tentu reflek menutupinya dengan tangannya. Dia menyambar cel*na dal*mnya dan segera bergegas memakainya layaknya badut yang ketauan wajah aslinya.
“Kau selamat juga rupanya. Apa kau ke sini untuk menuntut balas, hah?”
“Bingo!” Alex menjentikan jarinya. “Kau sudah memberikan kematian padaku, maka aku pun akan memberikan hal yang sama untukmu.”
“Cihh___Kau kira bisa menghabisiku dengan kondisi tubuhmu yang seperti itu, hah? Kau bahkan akan kembali sekarat sebelum kau berhasil menyentuhku.”
“Kau yakin?” Alex mulai melangkah mendekatinya dengan perlahan.
Seharusnya Erick yakin bahwa tubuh Alex sedang sekarat, mengingat mereka baru beberapa hari yang lalu mengirimnya ke rumah sakit. Namun apa yang dilihatnya saat ini mematahkan keyakinannya. Alex nampak baik-baik saja. Bahkan terlihat lebih bugar dan kuat dari sebelumnya.
Apa yang terjadi? Ini tidak mungkin!
“Kau kaget, hah?”
Bunyi langkah kaki Alex terdengar begitu mengerikan. Sang wanita yang ketakutan, berusaha untuk keluar dari kamar itu dengan melewati Alex. Namun naas, dengan cepat sebuah peluru telah bersarang di keningnya.
Mata Erick terbelalak menatap tubuh yang limbung ke lantai dengan darah yang mulai luber di sekitarnya.
“Kau tidak seharusnya berada disini, sayang.” Entah kenapa di mata Erick, Alex kini terlihat seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
“Bre-br*ngsek kau!” Bahkan Erick sudah kehilangan nyalinya, dan tanpa dia sadari mengumpat dengan terbata-bata.
“Siapa di sini yang br*ngsek, hah? Kau yang sudah merampas milik orang lain seperti binatang atau aku yang merampas j*langmu dengan sekali tembakan?” Alex meletakkan pistol berperedamnya di atas meja. “Tenang lah! Jika kau mencitai j*langmu itu, sebentar lagi kau akan menyusulnya.”
“Br*ngsek kau!” Sergah Erick sambil melayangkan tinju pada Alex yang berbalik padanya.
“Menyerang orang dari belakang, heh? Pengecut sekali kau ini.” Alex mengeraskan cengkramannya pada tangan Erick yang masuk ke dalam cengkramannya.
“Kita slesaikan ini secara jantan! Aku tidak suka cara pengecut seperti yang kalian lakukan.” Alex semakin mengeraskan cengkramannya hingga membuat Erick meringis kesakitan.
“Laki-laki macam apa kalian yang beraninya keroyokan? Aku akan memberikan kematian yang cepat untukmu. Tapi aku bersumpah bahwa itu akan sangat menyakitkan.”
“Kau tidak akan bisa membunuhku!”
“Kau yakin?” Bahkan hanya dengan satu cengkraman saja, Alex berhasil membuatnya tidak berkutik. Tulang sendi pergelangan tangannya terasa remuk. Alex memutar tangan itu hingga suara tulang lengan yang patah terdengar nyaring di telinganya.
“AARRRRGGGGGHHHHH!”
Suara teriakan terdengar ngilu bagi siapa saja yang mendengarnya. Untung saja hotel ini merupakan hotel tempat-tempat orang m*sum. Sehingga teriakan itu tidak akan mengganggu siapa pun di sana. Mereka hanya akan menganggap teriakan itu sebagai teriakan n*fsu yang terlampiaskan.
“Kau membosankan. Kita sudahi saja permainan malam ini.”
“Kau akan menyesal!”
“Kita lihat, siapa yang akan menyesal. Aku? Atau kau yang akan menyesalinya di neraka.” Alex mengeluarkan pisau lipatnya.
Sesuai janjinya, Alex memberikan kematian yang menyakitkan padanya. Dia akan mati dalam waktu yang singkat, namun waktu yang singkat itu terasa begitu menyakitkan dan menyiksa. Hingga dia akan memohon untuk mati saat ini juga.
Erick tidak bisa mengeluarkan suaranya. Napasnya tersengal, dengan gontai dia mundur ke belakang. Sebentar lagi dia akan menemui ajalnya.
Nikmati lah beberapa detik yang tersisa!
Alex membersihkan tangannya dari cipratan darah dengan tissue yang ada. Tubuh Erick menghalanginya dari cipratan darah karena dia menancapkannya dari belakang. Sehingga darah menyembur ke arah yang berlawanan. Namun tangannya tetap tidak bisa menghindarinya. Dia mengambil ponselnya.
“Bereskan kekacauan ini," perintahnya kemudian memutuskan sambungan begitu saja, mengambil pistolnya dan keluar dari tempat itu. Dia sudah bersiap menuju target berikutnya.
...***...
Sebuah Red Mazda MX-5 melaju menuju pegunungan. Malam minggu seperti ini pastinya anak muda penggila kecepatan akan berkumpul di gunung untuk saling mengadu ketangkasan. Berlomba dan saling berebut posisi pertama untuk menjadi penguasa.
Di belakangnya sebuah black spider melaju tanpa menyalakan lampu utama. Menempel tepat di bemper belakang bak bayang-bayang. Bergerak dalam kegelapan dan kesunyian yang membawa kabut kematian. Dan beberapa menit kemudian, permainan dimulai.
Dia memisahkan diri dari mobil di depannya dan menyalakan lampu utama. Mengagetkan sang pemilik Mazda tanpa mengenal aba-aba.
“****! Mobil sialan! Dari mana datangnya?” umpat David, si pengemudi Mazda.
Mobil itu layaknya setan yang tiba-tiba datang. Mengagetkan dan memulai pertikaian. Sorot lampu putih memantulkan sinar terang pada spionnya, membuat titik blind di matanya.
David bahkan tidak bisa melihat mobil apa yang ada di belakangnya. Dia harus segera menjauh agar bisa lepas dari sinar yang menyilaukan. Namun sayang, sang penantang tak memberikan kesempatan.
Apa sebenarnya maunya?
Disaat David mengeluarkan sumpah serapah di belakang kemudinya, maka berbanding terbalik dengan pengemudi mobil di belakangnya.
Senyum milik Sang Hades justru tersungging di bibir Alex. Alex mengetukkan jemarinya secara acak pada stir mobil, mempertimbangkan cara seperti apa yang cocok untuk membunuhnya.
Apa membuat mobilnya meluncur ke dalam jurang, atau kah menghabisinya dengan tangan?
Alex meraih berkas yang tergeletak pada seat di sebelahnya. Sebuah foto dan rincian informasi tercetak di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk menunjukan wajahnya pada sang pengemudi di depan sana. Dia kembali melempar berkas tersebut ke sampingnya dan mendorong tuas gas lebih dalam.
Dengan gesit mobil Alex menyalip Mazda di depannya. Sedetik berikutnya dia menarik tuas handbreak dan melakukan maneuver, sehingga kini posisi mobilnya berada di depan mobil David dengan posisi berlawanan. Mobil Alex melaju mundur dengan mengikuti kecepatan mobil David.
“****!” Belum selesai dengan keterkejutannya, David telah kembali mengumpat dan menekan pedal rem saat mobil di depannya menyorotkan lampu jarak jauhnya yang membuat matanya silau.
“Minta dihajar ni bocah!” David segera keluar dari mobilnya, dan alangkah terkejutnya dia saat mengetahui mobil siapa yang ada di depannya.
Alex keluar dengan begitu tenang, menyusupkan kedua tangannya di saku jaketnya dan melayangkan sebuah senyuman pada David yang mematung di sebelah mobilnya. Senyuman itu layaknya senyuman teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama.
“Lama tak jumpa David.”
“Ka-kau!”
“Terkejut, hah?”
“Mau apa kau?”
“Mau apa? Apa aku harus memperjelasnya?”
“Hah, bahkan ujung kuku pun kau tak akan bisa menyentuhku!" seru David dengan tawa congkaknya.
“Ayo lah, kau hanya hebat saat keroyokan.”
“Hahaha, tanpa keroyokan pun aku bisa mematahkan seluruh tulangmu. Apa kau tidak tau siapa aku, hah?”
“Altet karate DAN 4 yang menyabet beberapa gelar kejuaraan di tingkat nasional. Lalu?”
“Memang seberapa hebat kemampuanmu sampai kau berani menantang ku, hah?”
“Kau mau mencobanya?”
“Jangan banyak bicara!”
David segera melancarkan serangan pada Alex. Namun sayang, Alex mampu minghindarinya dan sebuah pukulan cepat mendarat tepat di dadanya. Alex tidak berniat untuk bermain-main dengan David. Dia menyelesaikan ini dalam sekali pukulan telak.
“Kau terlalu banyak membual.” Nada bicara Alex penuh akan ejekan.
Kedua mata David melebar seakan ingin keluar dari tempurungnya. Dia tidak percaya akan hal ini. Dadanya begitu sesak dan sangat menyakitkan. Seakan dia mengalami serangan jantung dadakan. Seorang Alex yang tidak begitu mahir dalam bela diri mampu merobohkannya dalam sekali pukulan.
“Kau hanya memiliki waktu 2 menit disisa hidupmu, jika kau beruntung," ujar Alex sambil berlalu meninggal David yang terkapar di tanah. Dia segera memutar balik mobilnya dan menuju area balap.
Setelahnya seseorang datang dan menghampiri David yang dalam keadaan sakaratul maut. Orang itu berdiri tepat di depan David dengan senyum miris di bibirnya.
Dia tau bahwa pukulan Alex tidak lah terlalu kuat, tapi kecepatannya mencapai 40km/jam. Dan itu mampu menghentikan jantung David dalam waktu singkat. Entah itu dengan merusak jantungnya atau pun tanpa merusak jantungnya. Dia sangat mengetahui kemampuan Alex yang satu ini.
“Walaupun diburu waktu, tapi sepertinya dia tetap tidak membiarkanmu mati mudah. Dia tetap berniat menyiksamu," ujarnya dengan penuh simpati.
Beberapa detik kemudian David menghembuskan napas terakhirnya. Orang itu membopong tubuh David dan memasukkannya ke dalam mobil. Mengaturnya sedekian rupa agar terlihat seperti kecelakaan tunggal dan korban meninggal dikarenakan serangan jantung, lalu kembali ke mobilnya.
Di dalam mobilnya, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan lihainya. Dan beberapa saat kemudian, mobil David bergerak dengan sendirinya, tergelincir dan menabrak pembatas jalan. Perfect! Sebuah settingan kematian yang sempurna.
...***...