
Di balik meja kerja di ruang rahasianya, Alex sedang menekuni sebuah rekaman CCTV yang terkesan aneh untuknya. Ini adalah rekaman CCTV sebuah café 24 jam di dekat bandara.
Well, sejak dia meninggalkan Khiara di tengah malam, Ata dan komputernya inilah yang sedari tadi dipelototi olehnya. Khiara memang prioritas utamanya, namun ini adalah hal penting yang menjadi tujuannya sejak kematian kakaknya. Dan dengan terpaksa dia harus meninggalkan Khiara untuk sementara.
Semoga saja dia tidak salah langkah, karena dia tak tahu bagaimana yang akan dipikirkan oleh seorang wanita. Wanita itu sulit sekali di tebak. Meski analisanya setingkan Sharelock Holmes sekali pun, dia tetap tidak akan bisa menebak apa yang ada di balik tempurung kepala wanita yang dicintainya.
Apalagi wanita itu adalah wanita yang sangat berbeda, meski kepalanya terlihat mungil namun wanita itu bisa memikirkan berjuta-juta spekulasi yang sering kali di luar pemikirannya. Dia benar-benar harus bisa menggabungkan insting, intuisi dan daya analisanya jika berhadapan dengan Khiara.
Dan alasan kenapa dia bisa sampai membajak CCTV di café tersebut karena dia sedang mengikuti seseorang yang baru saja mendarat beberapa jam lalu. Orang tersebut menuju ke café tersebut. Namun rekaman CCTV tersebut seolah terpotong dan di gantikan dengan rekaman CCTV pada jam-jam yang acak. Dengan artian CCTV tersebut mati antara pukul 2.00 AM hingga pukul 7.40 AM. Dan itu tidak hanya CCTV di dalam ruangan, namun CCTV di luar bangunan dan parkiran pun juga terhenti.
Dia menyadarinya karena pukul 7.41 AM gambar rekaman CCTV itu benar-benar berbeda. Sedangkan orang yang sedang diintainya telah masuk ke dalam café sejak pukul 7.35 AM. Dan orang itu baru terekam oleh kamera pada pukul 7.41 AM.
Alex segera menyelidiki dari jam berapa rekaman CCTV itu terhenti. Apakah terjadi tindak kejahatan yang telah terjadi di café tersebut? Kenapa seseorang memotong rekaman CCTV dalam rentang waktu yang lama? Segala pertanyaan segera terjawab ketika dia kembali beralih ke rekaman camera dari satelit yang diambilnya.
Dia seperti mengenali dua sosok yang keluar dari café tersebut pada pukul 7.30 AM. Dua sosok yang sedang diperhatikan oleh seseorang yang sedang diintainya. Dan dia segera memperbesar gambar tersebut. Khiara dan ... Adit? Kening Alex berkerut, Adit? Dia segera tersadar.
“Ta, lihat jam berapa pesawat Adit mendarat!”
“Adit? Dia pulang?” Alex menganggukan kepala tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Baiklah, tunggu sebentar!” Dan Ata segera melaksanakan perintah tersebut sedangkan Alex melacak di mana keberadaan Khiara melalui ponselnya.
“SHIT!” Alex mengumpat ketika muncul tulisan NO SIGNAL besar di tengah-tengah salah satu layar monitornya.
“Dia mendarat pukul tiga dini hari.” Kening Alex kembali berkerut, dan dia segera bergeser pada salah satu komputernya yang lain. Komputer yang menunjukan rekaman camera dari satelit di atas sana. Dia menelurusi rekaman tersebut dari pukul satu hingga dua dini hari.
“Binggo!” Alex menemukan Khiara yang datang ke café tersebut pukul dua dini hari. Berarti setelah dia meninggalkannya, wanita itu langsung menuju café tersebut. Alex menjadi geram karenanya. Jadi dia terbangun karena ini? Ingin menjemput Adit?
“Ada apa?” Alex tidak menjawab. Dan apa yang mereka lakukan di café tersebut dalam waktu yang begitu lama? Alex meremas rambutnya. Ini kah yang dinamakan cemburu? Prasangka-prasangka buruk terus saja mampir di otaknya. Wait! Mereka tidak mungkin melakukan hal-hal yang aneh. Apalagi di café. Tidak! Itu tidak akan masuk akal bagi Adit dan Khiara. Perlahan otaknya bisa berfikir jernih.
Tiba-tiba saja otaknya berputar bagaikan kaset yang di rewind. Dia berusaha menggabungkan potongan-potongan puzzle yang selama ini berserakan. Hingga membentuk sebuah gambar yang untuh. Apakah mungkin ....
“Dia hacker?” Wajah Alex masih menunjukan kerutan yang sangat jelas.
“Hah? Siapa?” Ata mengangkat wajahnya dari layar monitor di depannya.
“Ta, priksa security system perusahaan.”
“Perusahaan yang mana?”
“Semuanya!” Dengan malas Ata bangkit dari kursinya dan mengambil alih komputer yang ada di belakang Alex. Sedangkan Alex mencoba menghubungi Adit. “Hallo.”
“Kau kembali?” tanya Alex to the point.
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Tidak penting, kau sedang bersama Khiara?” Sebagai jawaban dia mendengar suara tawa Khiara di belakang sana. Tawa yang begitu renyah dan belum pernah dia dengar. Tapi dia bisa mengenali bahwa itu adalah suara Khiara. Dan dengan lihainya, seluruh jemari Alex menari di atas keyboard.
“Kau ingin bicara dengannya?” Sebenarnya percakapan macam apa ini? Kenapa isinya pertanyaan semua?
“Tidak! Tolong jaga dia! Semenatara waktu ini aku tidak bisa berada di dekatnya. Mungkin dia akan sedikit membenciku setelah ini. Tapi sampai saat aku bisa merengkuhnya kembali tiba, tolong jaga dia! Jangan biarkan dia sendirian barang sedetik pun!”
“Ada apa?”
“Aku akan menjelaskannya nanti. Yang jelas dia sedang dalam bahaya.” Hening sejenak.
“Baiklah.” Adit seakan tahu apa yang sedang di pikirkan Alex. Dan saat mengakhir percakapan, Alex sudah mendapatkan lokasi mereka. Mereka semua berkumpul di rumah Krisna. Alex jadi penasaran, kenapa mereka semua berkumpul.
“Entahlah.” Suara Adit terekam saat Adit menekan penyadap yang tanpa sepengatahuan Adit telah dikirimkan Alex ke ponselnya.
“Kau sudah membukanya? Berikan padaku.” Itu suara Khiara. Dan suaranya terdengar begitu tegas. “Berikan semua ponsel kalian!”
Dan beberapa saat kemudian, Alex dan Ata mendengar suara jemari yang berlari dengan cepat di atas sebuah keyboard. Ata setengah melirik Alex dan menajamkan pendengarannya. Sedangkan Alex terus mendengarkan. Lalu detik itu juga penyadap itu terputus. Alex segera beralih melacak ponsel Artha, Krisna dan Endra. Dan semuanya gagal. Dan dia pun akhirnya mengehela napas kasar.
“Tidak ada celah di security system perusahaan. Tapi ada update perbaikan security system di perusahaanmu. Dan itu ... hari ini pukul lima pagi," jelas Ata, melaporkan.
Dan itu cukup untuk menjelaskan bahwa kecurigaan Alex benar. Khiara adalah seorang hacker. Alex menyadarkan tubuhnya ke kursi dan menghembuskan nafas lelah. Alex bisa menyimpulkan berdasarkan informasi dari Ata, Khiara pasti telah membongkar dan mengobrak abrik perusahaannya. Pasti tidak akan ada data yang luput dari Khiara.
“Dia akan tahu semuanya," gumamnya lirih. “Kembalilah mengintainya!” perintahnya kemudian.
Sejak Alex menekuni CCTV tersebut, pengintaian memang diserahkan pada Ata. Alex beranjak menuju ke tempat tidurnya. Dia ingin beristirahat sejenak. Dan Ata segera kembali ke komputernya. Sebenarnya Ata juga bosan jika terus mengintai orang itu.
“Aku akan menguncinya.” Dan Alex menyetujuinya dengan isyarat tangannya. Ata juga butuh tidur. Dengan ini, dia tidak perlu selalu berada di depan komputer. Karena satelit akan mengituti ke mana pun orang itu pergi dan merekamnya.
"Apa orang itu akan mengincar Khiara lagi?" tanya Ata.
"Ya!" jawab Alex dengan yakin.
...***...