
“Hi, dear. Sampai kapan kau akan disini?” Khiara menoleh pada sumber suara.
Seseorang menjatuhkan pantat disebelahnya. Seorang pria dengan ketampanan pria Asia-Eropa. Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Namun Khiara segera memalingkan wajahnya tak minat.
Ia kembali pada Kaiven yang sedang bermain air di kolam renang. Khiara tak perlu khawatir anaknya itu akan tenggelam, anak itu sudah bisa berenang. Daya tangkapnya sungguh mengagumkan.
“Entah lah, mungkin sebentar lagi. Aku sedang malas,” jawabnya. Pria itu beralih pada Kaiven.
“Dia mencari mu.” Senyum miring tersungging dibibir Khiara.
“Sudah ku duga.”
“Sepertinya kau sudah berhasil membuatnya jatuh cinta.” Khiara hanya diam saja. “Setengah dari misimu sudah berhasil, tapi ku rasa kau akan gagal di akhir.” Khiara mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?”
“Ayo lah Khiara, kau mulai jatuh cinta padanya.” Khiara tertawa geli mendengarnya.
“Oh Adit, come on! Kau tau, aku hanya jatuh cinta pada satu orang. Dan rasa itu tidak berubah sampai sekarang.”
“Tapi kau memang sudah jatuh cinta padanya, sayang. Karena itu sekarang kau menghindar darinya.”
“Aku memang menghindari semua pria, Dit. Aku seorang ____”
“Kau tidak menghindari mereka Khiara, tapi kau menolak mereka. Melempar mereka jauh-jauh sebelum bisa menyentuhmu.”
Benar, apa yang dikatakan Adit memang lah benar. Itu lah yang selama ini ia lakukan. Dan sekarang ia memang sedang tidak tau dengan perasaannya sendiri. Jika ia sendiri termakan oleh permainannya, ia tak akan mungkin bisa melanjutkan misinya.
“Bagaimana kau tau jika dia mencariku?” Khiara mengalihkan pembicaraan.
Jika Alex bertanya pada Artha, itu sangat mungkin. Karena pria itu pasti menemui Artha mengingat Alex pernah melihat dirinya dan Artha mengobrol di gunung. Khiara yakin jika pria itu pasti akan mencari tau siapa Artha.
“Sepertinya dia juga sudah mencari tau tentang keberadaanku di dekatmu. Dia menghubungiku secara pribadi.” Khiara langsung menoleh pada Adit. “Sepertinya kau terlalu meremehkannya.”
Jika Alex sudah mencari tau tentang Adit, berarti kemungkinan dia juga sudah mencari tau sahabat Khiara yang lainnya. Mencari tau tentang mereka memang hal yang mungkin, pria itu bisa menarik garis besar dari kedekatannya dan Artha dan melebar pada sahabat Artha yang pastinya sahabat Khiara juga.
Khiara memang tidak menghapus data pribadi mengenai hubungannya dan para sahabatnya. Ia membiarkan saja begitu adanya untuk diketahui oleh siapa saja yang berusaha mencari taunya. Karena memang tidak ada yang salah dengan kedekatan mereka.
Tapi jika orang itu bisa menghubungi seorang Aditya Iskandar secara langsung, berarti orang itu bukan lah orang biasa. Jika itu Artha, Endra atau Krisna itu masih bisa dicerna. Namun jika sampai pada seorang Aditya, orang itu pasti memiliki banyak koneksi di sekitarnya.
Adit bukan lah orang biasa, dia adalah orang besar. Dia adalah calon penerus perusahaan motor terbesar di Eropa. Tidak sembarangan orang bisa menghubunginya.
Apakah mungkin seorang pewaris saham di universitas elit di sebuah Negara berkembang mampu menembus seorang Adit? Itu rasanya mustahil. Bahkan para pengusaha multinasional yang belum pernah bekerja sama dengannya pun hanya bisa menghubungi Adit melalui asistennya.
Dunia Adit dan dunia Alex jelas jauh berbeda. Level mereka berbeda. Oh, Khiara memang pernah melihat mansion beserta ladang bunga milik keluarganya. Itu cukup membuktikan seberapa kayanya keluarga Alex.
Tapi perlu dicatatat, mansion itu berdiri di Negara berkembang di kawasan Asia tenggara, bukan di benua Eropa atau pun Amerika.
Alex memang kaya, tapi di lingkup multinasional dia bukan orang yang memilliki kuasa. Setidaknya itu lah yang ia tau dari informasi akurat yang didapatnya.
“Apa kau benar-benar sudah mengetaui benar siapa targetmu?” Kali ini Adit menoleh dan menatap mata Khiara dengan lekat.
Khiara hanya menghembuskan nafas beratnya dan beranjak dari sana. Kaiven sudah terlau lama bermain air disana.
...***...
Bahkan ia tak menuliskan nama Alex dalam daftar balas dendamnya sebelumnya. Ia baru membubuhkan nama Alex dalam daftar to do list-nya setelah ia bertemu dengan pria itu.
Itu ia lakukan sebagai langkah awal untuk mengorek keterangan darinya. Bagaimana pun, hanya Alex yang mengetahui orang-orang yang tengah ia cari. Ia sebenarnya juga hanya ingin bermain-main dengan Alex dan memberi sedikit pelajaran padanya.
Tapi kenapa sekarang ia justru malah terjebak dalam perasaannya?
Jika seperti ini, mungkin sebaiknya ia fokus dulu pada balas dendam utama. Yah, balas dendam pada orang yang telah memperkosa dirinya. Orang yang telah menyeretnya dalam kehancuran empat tahun yang lalu.
Sambil mencari tau dimana keberadaan keparat itu, ia akan menyelidiki lebih lanjut siapakah Alex sebenarnya.
"Khiara_"
"Hemh?" Khiara mengangkat wajahnya saat ibunya menepuk bahunya.
"Apa tidak sebaiknya kami ikut kembali ke Indonesia saja? Kami khawatir padamu."
"Tidak perlu khawatir pada ku, Mah. Aku bisa jaga diri."
"Tapi sayang_"
"Mah, aku akan baik-baik saja."
"Tapi nak, apa kamu tak kasian dengan anakmu? Jogja-Paris itu terlalu jauh lho. Jika ada apa-apa butuh waktu lebih dari dua belas jam untuk perjalanan."
"Aku tau, Mah. Tapi akan lebih beresiko jika kalian, terutama Kaiven berada di dekat ku. Tunggu sampai aku selesai dengan masalahku, ya!?"
"Jika hanya itu masalah, kita tidak harus tinggal bersama nak. Kita bisa tinggal terpisah. Asalkan tetap dalam satu kota."
"Enggak Mah, kalian tidak bisa tinggal di rumah Mamah. Masih_"
"Kami tidak akan tinggal di rumah Mamah jika itu membuatmu khawatir. Kami bisa beli rumah lagi yang letaknya sedikit lebih jauh dari lokasimu tinggal." Ibunya meraih wajah putrinya. "Papa Louis pun juga sudah pensiun, dia ingin kembali ke Jogja dan menghabiskan masa tuanya disana."
Khiara melirik ayah sambungnya itu yang kini tengah bermain dengan Kaiven. Pria tua itu begitu menyayangi istrinya, dia tidak pernah protes kala harus mengikuti ibu Khiara itu untuk tinggal di negara yang berbeda-beda selama empat tahun terakhir ini. Beliau mengikuti kemanapun istrinya pergi.
Mengingat hal itu, membuat Khiara merasa bersalah. Demi mengikutinya yang tengah bersembunyi dari masalah di masa lalunya, orangtuanya rela berpindah-pindah negara.
Ia mengabaikan fakta bahwa dimasa tua orangtuanya, tentunya mereka hanya ingin menghabiskan masa tua mereka dengan damai di tempat yang sangat mereka inginkan. Tempat dimana mereka bisa merasa nyaman.
"Lalu bagaimana dengan rumah ini? Papa sudah membelinya untuk kalian."
"Rumah ini merupakan properti, kita bisa menyewakannya."
Khiara mengangguk mengerti. "Baiklah, akan ku pikirkan." Senyum ibunya merekah. Dan itu membuat Khiara lega. Ini adalah kali pertamanya ibunya itu meminta sesuatu padanya, dan ia senang karena ibunya itu sudah mau mengutarakan isi hatinya.
"Terimakasih sayang," ujar Mrs. Louis lalu memeluk anak perempuan semata wayangnya.
Bagi Mrs. Louis mungkin permintaannya ini memang sedikit egois, tapi ia benar-benar khawatir dengan anak perempuan dan cucu pertamanya itu.
Ia juga merasa kasihan pada suaminya yang begitu rindu dengan kota kecil itu. Meski kota itu bukanlah kota kelahirannya. Tapi suaminya itu sudah langsung kepincut dengan kota itu sejak pertama menginjakkan kaki disana.
...***...