
Penerbangan di atas daratan Eropa….
Di dalam kabin pesawat pribadinya, Adit duduk termenung memikirkan semua kebenaran yang beberapa waktu lalu baru didengarnya. Dia mencoba menganalisa dan mengaitkan benang-benang kusut pada poin-poin yang berantakan agar membentuk gambar jelas di atas sebuah papan teka-teki.
Berulang kali Adit menghubungi Artha, namun orang itu tak kunjung mengangkatnya. Dia khawatir Artha akan melakukan hal-hal yang tidak disadarinya yang dapat membuka kotak kelam masa lalu Khaira. Dan kekhawatirannya semakin menjadi saat dia menghubungi Krisna.
Krisna mengatakan bahwa Artha berhasil membawa Khaira dengan paksa keluar dari ruang rapat kemudian di susul oleh Alex. Karena hal itu dia segera meminta Krisna untuk mengikuti mereka dan terus menghubungi Artha.
Mereka harus memastikan agar Artha tidak melakukan sesuatu yang melampaui batas. Karena mereka sama-sama tahu, kemarahan Artha tersulut karena Khiara mendatangi bahaya. Dan mereka juga tahu, jika Artha sudah tersulut api maka dia akan kehilangan kendali atas dirinya.
Dan kini dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Adit teringat dengan pertemuannya dengan Alex di pesta beberapa waktu lalu. Pria itu sudah tahu maksud dan tujuan Khaira mendekatinya. Entah dari mana dan bagaimana pria itu bisa mengetahuinya. Sedangkan Adit yakin jika Khaira telah menghapus seluruh keterkaitan Shasha dengannya serta Vita Dolce.
Flash back on …
“Well, sebelum kau bertanya, aku akan mengatakannya terlebih dulu.” Alex membuka pembicaraan. “Seperti yang kau tahu, nama asliku adalah Jester Alexander. Sedangkan namaku yang lain adalah Alexander Sebastian. Atau mungkin kau lebih mengenalnya sebagai Alex Sebastian.”
“Untuk apa kau menggunakan dua nama?” tanya Adit penasaran.
“Ada alasan khusus kenapa aku menyandang dua nama. Seperti halnya Khiara. Dia juga menggunakan lebih dari satu nama, bukan?” Adit tidak bisa menutupi keterkejutannya. “Khiara dan Alexi.”
“Bagaimana kau bisa tau?” Adit menangkap senyum tipis di bibir Alex.
“Tidak penting bagaimana aku mengetahuinya. Yang jelas, aku tidak peduli dengan apa pun yang telah kalian rencanakan.”
“Dan rencana seperti apa yang kau maksudkan?” Adit berusaha untuk memancing, bukan terpancing.
“Mungkin seperti, membalas dendam padaku karena aku telah meninggalkan Shasha sendiri?” Adit terkejut mendengarnya, Alex sudah bisa membaca semuanya.
“Pertemuanku dan Khiara bukan suatu kebetulan belaka, bahkan dengan adanya kalian di belakangnya, cukup membuktikan bahwa ada rencana di balik ini semua.” Alex menatap Adit lekat.
“Awalnya aku tidak mengira bahwa ternyata dia memiliki hubungan dengan orang-orang yang ku kenal.” Alex tersenyum miris saat mengatakannya.
“Sepertinya tidak ada yang bisa luput dari seorang Jester Alexander.” Senyum geli namun terkesan congkak tersungging di bibir Alex. “Tapi dari kami berempat, kenapa kau lebih memilih untuk menemui ku?”
“Karena kaulah yang paling dekat dengannya," jawab Alex.
“Kenapa kau berfikiran begitu?” tanya Adit lagi.
“Entahlah, hanya saja intuisiku mengatakan demikian" Alex mengedikkan bahunya.
“Intuisi?” Kening Adit berkerut.
“Aku hanya mengikuti instingku, biasanya isntingku selalu benar. Intuisiku mengatakan bahwa kaulah yang paling dekat dengannya, walau Endra juga sangat dekat dan bahkan mengenalnya jauh lebih lama dari kalian, tapi kaulah tempatnya menumpahkan seluruh masalahnya. Dan instingku membawaku kemari untuk menemui mu.” jelas Alex panjang lebar.
Pantas dia bisa menjadi seorang pengusaha dan pebisnis yang sukses di usia mudanya. Insting dan intuisinya sangat tajam.
“Well, kau memang benar. Pertemuan mu dan Khiara memang bukan ketidaksengajaan. Dia memang sengaja menemui mu. Dan seperti yang kau bilang, dia mendekati mu untuk membalaskan dendamnya padamu.” Adit bisa menangkap senyum miris di sana. “Dan semua itu dia rencanakan sendiri. Kami hanya mendukungnya dari belakang.” Adit tidak mengatakan bahwa hanya dia dan Endra yang mendukung rencana Khiara.
“Yah, dia memang pantas untuk balas dendam pada seorang Alexander Sebastian," ujar Alex.
Dan beberapa saat keadaan berubah menjadi hening. Entah kenapa Adit seperti melihat aura kemarahan terpancar pada diri Alex. Namun sedetik kemudian, pria itu bisa mengendalikan dirinya.
“Apa kau selalu di sampingnya?” tanya Alex.
“Kami selalu ada di sampingnya.” Adit menekankan bahwa tidak tidak hanya dirinya yang selalu ada untuk Khiara.
Pertanyaan Alex membuat Adit tercenung. Sesungguhnya Khiara banyak mengalami titik berat dalam hidupnya. Apakah Alex mengetahui masa-masa terberat Khiara? Dan titik terberat mana yang pria ini maksudkan?
Karena Adit sendiri tidak bisa membandingkan mana titik terberat untuk Khiara. Semua permasalahan complex yang dialami Khiara merupakan masalah yang tidak bisa dibilang ringan. Mulai dari kehilangan ayahnya, pemerkosaan yang dialaminya hingga kehilangan saudara sepupunya, Shasha.
“Tentu. Kenapa kau menanyakannya?” jawab Adit pada akhirnya.
“Aku menemukan bekas sayatan yang sudah menipis di lengan kirinya.” Adit kembali tercenung. “Apa kau yakin kau benar-benar menjaganya di saat-saat terberatnya?” Alex memberikan tatapan menuduh, dan Adit menghela napas setelahnya.
“Ya, hanya saja ... kami kecolongan saat itu. Kami semua bahkan berkumpul di rumahnya saat itu.” Tapi Adit tak berniat untuk menceritakannya pada Alex. Semua masalah Khiara tak akan pernah dia ungkapkan pada orang asing dengan semudah itu.
“Kapan dia melakukannya?” Alex benar-benar mengintrogasi dirinya tanpa jeda.
“Untuk apa kau menanyakannya ..."
“Apa itu empat tahun yang lalu?”Alex memotong Adit cepat dengan raut wajah serius.
“Ap-apa?” Kening Adit berkerut. Kenapa Alex justru menebak rentang waktu yang begitu lama? Benang yang menghubungkan mereka berdua adalah peristiwa kematian Shasha dua setengah tahun lalu. Tapi kenapa? Dan tiba-tiba Adit teringat sesuatu.
“Setelah pemerkosaan itu?” Pertanyaan Alex membuat Adit tercengang.
“Ka-kau ... bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Alex tersenyum getir mendengar pertanyaan Adit.
"Tentu aku mengetahuinya, karena aku yang sudah menyelamatkannya dari mereka," ujar Alex sambil mengalihkan pandangannya dari Sungai Han di depannya pada Adit.
"Kau ... menyelamatkannya?" Alex mengangguk. "Khiara tidak pernah cerita jika dia diselamatkan oleh seseorang," ujar Adit dengan jujur. Dia pun baru tahu jika saat itu ada yang menyelamatkan Khiara.
"Benarkah?" Kening Alex pun berkerut mendengar penuturan Adit.
"Lalu apa kau melihat wajah pelakunya?" Adit merasa akan bisa menemukan siapa pelaku yang sudah merenggut kesucian Khiara melalui Alex. Meskipun peristiwa itu telah berlalu lama, tapi Adit masih tetap bertekat ingin membalasnya.
Sedangkan Alex tidak langsung menjawab pertanyaan Adit. Dia memutar tubuhnya dan justru menatap Adit dengan tatapan menelisik.
"Apa dia tidak menceritakannya padamu?" Alex justru heran dengan ketidaktahuan Aditya.
"Tidak, aku sudah menanyakan berkali-kali bahkan sampai memaksanya. Tapi dia tetap bungkam," jelas Adit.
"Begitu rupanya ..." gumam Alex lirih.
"Katakan padaku, siapa pelakunya?" Adit mencoba untuk mendesak Alex.
"Aku tahu bagaimana wajahnya, tapi Khiara memintaku untuk tidak ikut campur lebih dari itu karena ..." Alex menggantungkan kata-katanya danmenatap Adit dengan tatapan seolah tengah mempertimbangkan.
"Karena apa?" Adit menjadi tidak sabaran.
"Dia salah salah satu teman sekolah kalian," jawab Alex.
"APA?" Adit auto menaikkan nada suaranya.
Flash back off ..
...***...