
Arena balap nampak sangat ramai. Alex mengamati seseorang di tengah keramaian di depan sana dengan bersandar pada salah satu pohon tak jauh dari sana. Dia meninggalkan mobilnya sedikit lebih jauh di belakang sana. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Sebentar lagi kerumunan di depan sana akan bubar dengan sendirinya.
Alex begitu sabar menunggu di balik bayang-bayang pepohonan. Seolah dia menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Auranya begitu menakutkan, bahkan mungkin lebih menakutkan dari makhluk-makhluk astral penunggu hutan.
Tak berapa lama, mereka mulai meninggalkan tempat itu. Dan saat sebuah mobil hitam melaju di jalan tepat di depannya, dia melemparkan sebuah benda mini pada mobil tersebut. Got ya! Benda mini tersebut menempel dengan sempurna di bagian belakang mobil itu.
Alex kembali ke dalam mobilnya dan mulai membuka tabletnya. Tangan lainnya dengan cepat men-dail up nomor seseorang. Tak berapa lama, sambungan telpon tersambung.
“Aku sudah mendapatkannya. Dia pasti akan ada di sana. Terus awasi tempat itu.”
“Oke,” sahut orang di seberang sana.
Alex segera memutuskan sambungan dan segera mengutak-atik tabletnya. Senyum miring Alex menunjukan kepuasan.
“Lihat lah, seberapa terkejut kau melihat kawanmu mati. And let’s show me where is he!”
Ini lah cara Alex untuk mendapatkan target utamanya. Dia tidak suka menghabisi orang yang lebih lemah terlebih dahulu. Dia lebih suka menghabisi musuhnya dari urutan teratas. Karena orang di urutan teratas pasti lah tak akan mudah untuk buka mulut. Mereka terlalu sombong. Dan itu sangat menyusahkan baginya, hanya membuang-buang waktu saja.
Sedangkan dengan tetap membiarkan orang lemah berada di urutan terakhir, akan mengantarkannya pada tujuan utamanya dengan cepat. Orang itu pasti akan kehilangan nyali dan lari untuk meminta perlindungan.
Sangat menyenangkan sekali melihat orang payah seperti itu ketakutan. Anggap saja, Alex memposisikannya di posisi terakhir sebagai hadiah. Hadiah karena dia terlalu lemah.
Di tempat kecelakaan, Dicky terkejut bukan main saat berhasil menyeruak ke dalam kerumunan dan melihat mobil David ringsek parah.
“Bagaimana keadaannya?” teriaknya panik seraya menghambur ke arah 2 orang yang ada di samping mobil itu. Langkahnya terhenti saat salah seorang menggelengkan kepalanya tanda mereka tidak punya harapan setelah memeriksa denyut nadi korban.
“Tidak mungkin.” Dicky mendekati orang tersebut dan meraih kerahnya. “Hei, kau hanya bercanda bukan!? Jangan main-main denganku, bodoh!”
“Sudah ****, dia sudah tidak bernafas lagi," ujar salah seorang yang melerainya. Dicky hendak meraih tubuh David yang masih tetap pada posisi semula.
“Jangan menyentuhnya, kau akan menghancurkan TKP.”
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
“Entah lah, sebentar lagi ambulan dan polisi akan tiba.” Dicky segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban.
“Br*ngsek! Apa yang dia lakukan? Kenapa dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa dihubungi?” Dia mengumpat dengan gusar, mencoba menghubungi orang lain. “Boss!”
“Ada apa?”
“David.... David...”
“David kenapa bodoh!”
“Dia... mati.”
“Apa? Kau bercanda, hah?”
“Aku berharap aku bercanda. Tapi... mobilnya mengalami kecelakaan di gunung. Dan saat ini mayatnya ada di depanku.” Hening sesaat.
“Baik lah, kabari aku setelah kalian sampai di rumah sakit.”
“Baik lah.”
Tak lama, sebuah ambulan datang di tempat kejadian dan membawa jasad David ke rumah sakit. Dicky dan beberapa orang mengikuti ambulan tersebut dengan mobilnya masing-masing.
Seseorang mendekati Dicky dan kawan-kawannya yang sedang menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Sedangkan di sudut lain ruang tunggu yang besar itu ada Alex dan rekannya yang sedang mengamati tanpa diketahui oleh mereka.
“Orang itu....” Alex nampak tidak asing dengan seseorang yang baru datang.
“Kau mengenalnya?” Senyum miring tersungging di bibir Alex
“Ta, ternyata dunia ini memang tak selebar daun kelor.” Kening Ata berkerut. Tapi Ata tau, bahwa Alex pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya.
“Di mana kau pernah bertemu dengannya?”
“Baverly Hills, LAX.”
“LA? Kapan?”
“A year and half ago.”
Kapan? Ata bahkan tidak tau jika Alex pernah memiliki masalah dengan orang itu sebelumnya.
“Aku tidak akan menghabisinya malam ini.”
“Hahhh? Why?” Yang Ata tau, Alex tidak pernah mengulur waktu untuk sebuah dendam.
“Aku akan menghancurkannya terlebih dulu.” Kau akan mendapatkan balasan mu karena telah menyakitinya, dan telah mengambil orang paling berharga di hidupku. “Cari tau semua info mengenainya!” ujarnya lalu berbalik meninggalkan Ata.
“Emm.” Ata segera mengambil gambar orang itu, lalu meninggalkan tempat itu menyusul Alex. “Ternyata... ku kira kau benar-benar menundanya.” gumam Ata. Sedangkan di belakang sana, seorang dokter menghampiri mereka.
“Kematian korban perkirakan sejak pukul 1 dini hari. Tidak ada kerusakan structural pada jantungnya, tapi bisa dipastikan bahwa penyebabnya adalah commutio cordis. Gangguan fungsi jantung akibat benturan di dada.” Dokter menerangkan hasil autopsy. Mereka memang memutuskan melakukan autopsy untuk mengetahui penyebab kematiannya.
“Berfungsi, bahkan dia masih menggunakan sabuk pengamannya, boss.”
“Lalu, bagaimana dia bisa mendapatkan benturan? Apa ada tanda-tanda pembunuhan?” Dicky terkejut dengan spekulasi boss-nya.
“Mobilnya benar-benar ringsek parah, berarti kemungkinan benturan itu sangat telak menghantamnya," jelas Dicky.
“Tidak ada indikasi racun atau pun tanda-tanda bekas kekerasan pada tubuhnya," tambah sang dokter.
“Saat ini tim forensik masih menyelidiki TKP, dan masih belum ada laporan yang menunjukan bahwa ini merupakan kasus pembunuhan," ujar salah seorang polisi yang ada di sana. “Tapi kami akan berusaha untuk menyelidikinya lebih dalam.”
Ini aneh untuknya, tapi mau tidak mau dia harus menunggu hasil dari tim forensik. Akhirnya mereka semua mengangguk dan berjabat tangan dengan polisi dan dokter tersebut untuk berterimakasih. Mayat David akan segera dikebumikan besok.
“Di mana Erick?”
“Entah lah boss, aku sudah menghubunginya tapi tidak diangkat.”
“Si brengsek itu pasti sedang bersama degan salah satu j*langnya.” Orang itu berbalik dan berlalu. “Urus kepulangan David dan semua ***** bengek-nya. Aku sudah tidak ada urusan lagi di sini.”
“Apa? Apa kau tidak mau ikut mengurusi mayat temanmu sendiri?”
“Yang benar saja, dia hanya menyusahkan saja. Aku tidak perduli.” Dicky mengepalkan tangannya dengan geram.
“Kau benar-benar br*ngsek!”
“Kau baru sadar kalau aku ini br*ngsek, hah? Bodoh!” Balas orang itu dengan tetap berlalu dari sana.
Dicky tidak menyangkan bahwa seseorang yang dia panggil boss ternyata adalah manusia yang tidak punya hati. Dan sekarang dia menyesal telah melakukan kejahatan dengan orang itu, walau itu hanya sebatas menghajar orang.
Dia berharap suatu saat akan ada orang yang membalas orang itu. Walau sebenarnya dia ingin sekali menghajar orang itu dengan tangannya sendiri, tapi dia sadar bahwa dia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.
...***...
Keesokan harinya berita mengenai pembunuhan Erick tersiar di media. Tidak hanya kematian Erick, kecelakaan yang menimpa David pun juga tersiar. Berita itu membuat seseorang meradang dan meremas remote TV dengan keras lalu melemparkannya ke arah TV.
“Erik juga mati?” Dia terlihat sangat geram. “Ada yang bermain-main denganku rupanya.”
“Kakak, apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan TV-nya!” seru seorang gadis yang baru saja masuk ke ruang keluarga setelah mendengar suara TV pecah, namun ornag itu tidak menjawab.
“Cepat lah, kau akan ketinggalan pesawat jika kau tidak segera berangkat.” Dia masih bergeming.
“Ayo lah kak, ayah bisa membunuhku jika kau tidak ada di Perancis besok!”
Akhirnya dia menyeret kopernya dengan amarah. Dia bukannya marah dengan kematian dua orang temannya. Tapi marah karena seseorang ingin bermain-main dengannya tetapi dia tidak bisa meladeninya.
Dia sangat yakin bahwa kematian David juga merupakan pembunuhan. Yang melakukannya pasti orang yang sama. Dan pastinya target terakhirnya adalah dirinya.
Tidak tau siapa yang sedang ingin bermain-main dengannya. Tapi yang jelas, pasti lah salah seorang yang memiliki dendam padanya. Hal itu tidak mengherankan, mengingat jumlah musuhnya yang tak terhitung.
Tapi siapa yang berani mencari gara-gara dengannya sampai bermain dengan kematian? Tiba-tiba langkahnya terhenti. Alex? Pemikirannya membuatnya geli. Itu jelas tidak mungkin. Karena yang tidak bisa bergerak tidak mungkin bisa membunuh seseorang.
Lalu siapa? Dia tidak pernah menghabisi nyawa orang sebelum ini. Jadi, jika ada orang yang bermain-main dengannya dengan kematian, pasti lah orang yang berkaitan dengan dua orang yang telah dia tembak minggu lalu. Alex dan kekasihnya.
Di dalam mobil, tiba-tiba tubuhnya membeku. Dia merasa tidak berkutik saat memikirkan kemungkinan yang Ada. Alexi? Oh , no! Betapa bodohnya dia? Kenapa dia baru menyadari bahwa gadis itu adalah sahabat Alexi? Seketika, penyesalan merayap dalam tubuhnya. "Bodoh!" Dia merutuki kebodohannya.
Dan jika benar dia adalah Alexi, maka kepergiannya ini merupakan keputusan yang tepat. Kekhawatiran mulai membayangi dirinya. Lebih baik dia menjauhkan diri dari rumahnya agar para pangeran vita dolce tidak mengusik adiknya.
Akan butuh waktu bagi mereka untuk mengetahui siapa dalang dari penembakan dua orang itu. Sehingga saat ini yang terpenting adalah mengamankan adiknya terlebih dahulu.
“Kak, kau kenapa sih? Dari tadi diam saja," tanya adiknya yang duduk di sebelahnya.
“Pindah lah ke rumah utama! Aku tidak ada di sini lagi, tidak akan ada yang menjagamu nantinya.”
“Tidak mau, aku mau di rumah kakak saja. Lebih nyaman di tempat kakak, meski tidak ada kakak di sana.”
“Jangan membantah!” Dia menaikkan suaranya dan membuat adiknya gemetar. “Oh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentak mu. Tapi ku mohon, menurut lah!” Adiknya mengangguk dalam pelukannya. Dia segera mengetik massage pada ponselnya.
⎾Manipulasi semua dokumen mengenai adikku. Jangan sampai ada yang mengetahui bahwa dia adalah adikku! Termasuk dokumen rumah utama.⏌
Setidaknya saat ini, ini lah yang bisa dia lakukan untuk menyembunyikan adiknya. Rumah utama merupakan rumah megah milik saudara jauhnya yang telah dibeli oleh keluarganya beberapa minggu yang lalu saat kepulangan adiknya. Namun belum ada prosesi balik nama akan bangunan dan tanah tersebut. Sehingga sampai saat ini dan seterusnya tidak akan ada sangkut pautnya dengannya maupun keluarganya. Ini akan mengaburkan identitas adiknya.
Di balik sisi kekhawatiran akan keselamatan adiknya, ada pula sisi kepuasan dalam hatinya. Dia tidak menyangkan bahwa masalah ini akan membawanya pada seorang Alexi untuk kedua kalinya. Sekali tepuk, dua lalat mati di tangannya.
Akhirnya kau keluar dari persembunyianmu Alexi. Selama kau mengerahkan para vita dolce, selama itu aku akan menemukanmu di tempatmu.
Satu setengah tahun sudah dia mencarinya, dan para vita dolce tidak memburunya setelah peristiwa itu. Itu berarti wanita itu tidak mengatakan apapun pada para sahabatnya. Dan sekarang, kebetulan sekali ketidaksengajaan yang dilakukannya ternyata mendatangkan Dewi Fortuna padanya.
Kita akan berjumpa lagi Alexi, sayang. Seringaian miring tersungging di bibirnya.
...***...