
Jika di Paris sana Khiara sedang terlelap dengan anaknya, lain halnya dengan Alex di belahan dunia lainnya. Pria itu benar-benar sedang meledak. Gusar karena seorang Khiara.
Tak ada yang berani menatap Alex saat ini. Aura gelap tengah menyelimuti. Seolah pria itu bisa menelan siapa saja dalam aura kegelapannya.
Ketidakbecusan orang-orang Alex lah penyebabnya. Mereka sama sekali tidak berguna. Hanya untuk menemukan seorang Khiara saja mereka tidak bisa.
Rasanya dia sudah ingin meremukan tulang mereka, tapi ditahannya ketika Ata masuk ke dalam ruang kerjanya. Berjalan menuju meja kerjanya dan menyerahkan sebuah berkas padanya.
Orang itu baru pulang beberapa hari yang lalu setelah mengurus bisnis Alex di Amerika. Hingga sekarang masih saja nampak raut wajah letihnya.
Yah, fakta sebenarnya Alex memang memiliki perusahaan besar dengan produk utamanya jejaring sosial yang sudah digunakan oleh hampir seluruh penduduk dunia. Dan kantornya berpusat di Los Angles, California.
Dia merupakan pengusaha termuda yang sukses di daratan Amerika. Selama ini dia tidak pernah menangani bisnisnya sendiri. Semua dia percayakan pada Ata untuk mengurusnya. Walau otak penggeraknya tetap lah seorang Alexander.
Tak butuh waktu lama untuk Alex mencari tau tentang siapa lawannya. Seperti biasa, pekerjaan Ata tak pernah mengecewakannya.
Artha Wijaya. Orang itu sangat mengusiknya akhir-akhir ini. Hal itu karena kedekatannya dengan Khiara di gunung dua pekan lalu. Khiara terlihat begitu akrab dengan pria itu. Dan itu membuatnya gerah.
“Kalian keluar lah!” Alex mengusir semua anak buahnya dari ruangannya. Dan mereka segera undur diri.
“Dia bertemu dengan Khiara sejak junior high school dan menjadi sahabatnya hingga saat ini. Di tahun ketiga senior high school dia dan Khiara melakukan pertukaran pelajar keluar negri. Khiara di Amerika dan Artha di Jepang.” Jelas Ata.
“Dia seorang atlet tembak yang sudah menjuarai beberapa kejuaraan kelas dunia untuk negara ini. Dan seperti dirimu, dia merupakan orang yang berkecimpung di dunia balap mobil di luar sana. Dan kau tau? Dia memulainya di usia yang masih sangat muda. 16 tahun!” Ata melanjutkan penjelasannya.
“16 tahun___ bahkan dia belum mendapatkan SIM saat memulainya. Benar-benar anak nakal rupanya.” Sudut bibir Alex membentuk sebuah senyum sinis nan tipis.
“Meskipun masih sangat muda, tapi dia seorang ahli di bidangnya. Kemampuannya sangat mengesankan. Hingga dia dijuluki dengan sebutan DIKEY.”
“Drift King.” Alex berdesis.
“Yah, sepertinya dia adalah seorang legenda di kota ini sebelum___ kakakmu.” Alex mengamati foto Artha sambil tetap mendengar penjelasan Ata. Keningnya sedikit berkerut saat Ata menyebutkan kakaknya.
“Apa dia berhubungan dengannya?”
“Sepertinya tidak. Dia menghilang di tengah-tengah kejayaannya dan tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaanya. Setelah itu baru lah kakakmu muncul menggantikan tempatnya. Jadi dia tak ada sangkut pautnya dengan kakakmu.” Ata menyentikan jarinya karena teringat sesuatu.
“Ah, benar. Khiara juga sering ikut dengannya saat balapan di gunung. Itu lah sebabnya ada orang yang pernah melihat Khiara sebelumnya. Wanita itu selalu berada di dalam mobil Artha saat dia bertanding.”
“Khiara!” Alex tidak suka Ata menyebut Khiara dengan sebutan ‘wanita itu’.
“Iya, Khiara.”
'Jadi rupanya kau belajar drift darinya, sayang?' Alex dapat menarik kesimpulan dengan cepat berdasarkan cerita Ata. Otak cerdasnya selalu tepat dalam menganalisa.
“Lalu kenapa dia kembali kemari?”
“Dia yang bilang sendiri bahwa dia kembali karena sahabatnya kembali kemari. Yang sudah pasti itu Khiara. Kemarin di gunung dia juga mencari mu. Dia ingin mengajakmu bertanding, tapi ku bilang kau tidak bisa datang.”
'Tentu saja, mana mungkin kau datang dengan keadaan setengah gila karena kepergian Khiara?' Tambah Ata dalam hati.
Dan Alex pun hanya diam saja, tidak memberikan respon apa pun.
“Dia sama tertutupnya seperti Khiara, tapi setidaknya dia masih bisa dilacak. Dua tahun lalu, setelah lulus dari senior high school dia langsung melanjutkan kuliah kedokterannya di Tokyo University. Itu lah sebabnya kenapa dia menghilang di tengah kejayaannya.”
Yah, tugas Ata kali ini lebih mudah. Dia bisa menyampaikan hingga detail karena yang dia selidiki kali ini adalah seorang atlet kebanggaan bangsa.
“Lalu ketiga orang ini?”
“Mereka adalah sabat Artha yang lainnya. Dan kemungkinan besar mereka juga merupakan sahabat Khiara. Menurut dari data yang tertera, mereka selalu berada di sekolah yang sama di kota ini.”
“Aditya Iskandar, Endra Fahardian, Krisna Raditya Hutama. Sessttt___sepertinya aku tidak asing dengan nama-nama ini.”
“Aditya atau lebih sering dikenal dengan julukan Tiger Street. Sama halnya seperti Artha. Dia juga menguasai dunia balap jalanan, dia dan motornya merupakan raja jalanan yang melegenda di kota ini. Jika Artha tidak terjun di dunia balap legal, maka lain halnya dengan Aditya. Dia merupakan pembalap andalan negara. Di awal tahun ketiganya saat di senior high school, dia memilih untuk pindah ke Prancis dan membantu ayahnya mengurus bisnisnya dan melepas dunia balapnya.”
“Ah, Aditya Iskandar. Calon CEO perusahaan motor terbesar di Eropa.” Alex tidak menyangka ternyata Khiara mengenal orang besar seperti seorang Aditya Iskandar.
Aditya merupakan anak dari seorang pengusaha kaya yang bergerak dalam dunia otomotif dan produksi motor kelas dunia. Dan sebentar lagi sepertinya akan ada masa proses pengalihan kepemimpinan. Sama sepertinya, Aditya juga akan menjadi seorang pengusaha termuda di daratan Eropa.
“Owner universitas kita.” Tandas Alex.
Alex sebagai penanam saham tertinggi kedua di universitasnya saat ini tentu mengenal siapa Endra. Mereka sering bertemu dalam rapat pemegang saham. Dan Alex juga tau jika Endra merupakan seorang atlet basket yang saat ini sedang menitih karir di NBA.
Dan orang tuanya lah yang saat ini menjabat sebagai CEO. Beberapa kali pria itu sering menggantikan posisi orang tuanya di beberapa pertemuan. Terkadang Alex berfikir, apakah orang itu tidak kelabakan saat ikut mengurusi universitas dan meniti karirnya dalam dunia basket di saat yang bersamaan?
“Ya, selanjutnya Krisna, dia adalah tetanggamu, bukan? Rumahnya ada di depan rumah ibumu. Dan dia cukup dekat dengan kakakmu.”
Oh, Alex ingat sekarang. Dia pernah bertemu sekali dengannya. Di pemakaman.
***
Ata sempat terkejut saat pulang dari Amerika melihat keadaan Alex yang kacau. Dia tidak pernah menyangka seorang wanita yang begitu misterius mampu memporak-porandakan seorang Alexander.
Pria itu tidak pernah terlihat sekacau ini sebelum bertemu dengan Khiara. Bahkan saat badai menghadangnya pun pria itu masih bisa terlihat begitu tenang dan dingin.
Selama ini hanya kemarahan mengerikan yang pernah dilihatnya dari pria itu. Tapi saat ini? Bukan kemarahan yang sanggup melenyapkan orang dalam sekejap mata. Tapi lebih terlihat kacau karena,___ frustasi??
Entah apa yang terjadi pada mereka berdua di kehidupan yang lalu sampai seorang Alex begitu sangat terikat dengan seorang Khiara yang bahkan identitasnya saja sulit untuk digali.
Tapi jika dilihat lagi, seoarang Khiara memang sangat pantas digilai oleh seseorang seperti Alex. Wanita itu begitu mempesona dan sangat cocok untuk mengimbanginya. Sikap dan sifat mereka berdua sangat seimbang.
Seperti halnya Alex yang begitu berkarisma di mata para wanita dengan sikap dinginnya, Khiara pun begitu menggoda di mata para pria dengan sikap tajamnya.
Tidak hanya itu saja. Ketajaman insting dan intuisi Alex dengan mudahnya dipatahkan oleh kecerdasan otak Khiara. Wanita itu benar-benar sangat cerdas.
Percaya lah, tugas tersulit yang Ata terima dari Alex adalah menyelidiki latar belakang dan kehidupan Khiara. Wanita itu bukan lah wanita biasa. Tidak mudah untuk mendapatkan informasi mengenainya. Meski dia sudah memeras seluruh otaknya, tapi informasi yang dia dapat mengenai Khiara tidak lah sempurna.
Selalu ada bagian-bagian yang hilang dari informasi mengenainya. Seakan bagian-bagian itu sengaja dihapus dari tempatnya. Dan sengaja menyisakan bagian-bagian lainnya sebagai bagian dari teka-teki bagi para pemburunya.
Dan kini, wanita itu menghilang begitu saja tanpa bisa dilacak keberadaanya. Hilang tanpa jejak begitu saja seolah menghilang dari dunia. Sama seperti kedatangannya, datang begitu saja tanpa tau dengan apa dan dari mana asalnya.
Catatan dari Tokyo University memang membenarkan bahwa Khiara adalah seorang mahasiswa tahun pertama di sana, tapi tidak ada catatan bahwa wanita itu keluar dari negara tersebut. Sedangkan di dalam negri, tidak ditemukan catatan kedatangan yang menyatakan wanita itu masuk ke dalam negri.
Apakah ia masuk secara illegal? Jawabannya Tidak!
Catatan membuktikan bahwa ia adalah warga negara ini. Dan ia telah kembali dari Amerika sejak sekitar empat tahun silam, setelahnya tidak pernah melakukan perjalanan keluar negri hingga saat ini.
Aneh bukan? Seorang yang tidak pernah keluar negri dalam kurun waktu empat tahun ini, tapi tercatat sebagai mahasiswi di Tokyo University setahun belakangan ini.
Lalu apakah catatan dari Tokyo University merupakan catatan palsu? Tidak! Itu semua asli. Bahkan beberapa dosen, staff dan mahasiswa pun bisa dikonfirmasi. Mereka mengenal sosok Khiara.
Lalu, apa yang salah disini? Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Entah lah, ini masih menjadi sebuah misteri.
Sama seperti sebelumnya, hal ini kembali terjadi. Meretas semua situs penerbangan, dan pelayaran hingga imigrasi dan kedutaan pun sudah dia lakukan. Tapi catatan itu tetap tidak bisa dia temukan.
Semua CCTV di semua bandara nasional maupun internasional dan dermaga juga sudah dia periksa. Tapi tetap saja nihil. Ia jelas tidak ada di Negara ini saat ini. Tapi juga tidak ada catatan bahwa seorang Khiara keluar dari negara ini.
Wanita itu bak jalangkung bagi mereka, datang tak dijemput pulang tak diantar. Muncul secara tiba-tiba dan menghilang secara tiba-tiba pula. Usaha ini sama seperti mencari hantu saja.
“Apa dia melakukan teleportasi untuk keluar masuk negara ini?” Saat ini Alex sedang meremas rambutnya karena frustasi. Sudah hampir 4 jam ini pria itu terjaga di depan 4 layar monitornya.
Yah, Alex sendiri lah yang sekarang mengobrak-abrik seluruh jaringan yang ada di negara ini bahkan menyadap GPS-nya melalui satelit untuk mencari kemana perginya seorang Khiara. Tapi sepertinya Alex juga menemukan jalan buntu, sama seperti dirinya dan orang-orangnya.
“Bisa jadi.”
'Mungkin ini bisa membantu,' pikir Ata.
“Apa kau ingin menanyakan keberadaannya pada mereka?” Alex langsung mengangkat kepalanya.
“Hubungi mereka!”Ini adalah cara terakhir yang bisa mereka tempuh. Meski mereka ragu, para sahabatnya akan memberitaukannya pada mereka.
***