
Los Angeles empat tahun lalu ...
Suara riuh yang mengganggu telinganya, hingga bau karbol yang menusuk hidungnya, membuatnya mendapatkan kembali kesadarannya. Perlahan ia membuka kelopak matanya. Cahaya terang membutakan kornea matanya. Sial, di mana ia kehilangan kontak lensanya?
Khiara berusaha mencerna situasi saat ini. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Mencoba untuk memfokuskan penglihatannya. Tapi percuma. Mata minus delapan disertai dengan silinder, tidak akan mungkin bisa melihat dengan jelas tanpa kontak lensa atau pun kacamata.
“Are you okay?“ tanya suara seorang pria yang penuh dengan kekhawatiran di dalamnya.
Dengan pandangan yang terbatas, Khiara mencoba menganalisa semua yang ada di sekitarnya. Tapi tetap saja penglihatannya bagaikan lensa kamera yang tidak bisa menemukan titik fokusnya, sangat kabur dan berbayang. Oh, kenapa dia harus kehilangan kontak lensanya segala?
"Apa yang anda rasakan saat ini? Apakah terasa mual?" Kali ini suara seorang wanita. Tidak ada pilihan lagi. Ia hanya bisa mengandalkan pendengarannya saat ini.
Khiara kembali memejamkan matanya, lalu menggelengkan kepalanya. Yang jelas, sekujur tubuhnya merasakan nyeri luar biasa. Seakan ia telah di gilas truk belasan ton beratnya. Bahkan untuk sekedar menggerakkan tangannya pun rasa sakitnya luar biasa.
"Are you sure?" Suara itu lagi. Siapakah gerangan orang ini? Ia bisa merasakan tangan kirinya yang digenggam erat oleh tangan yang begitu kokoh. Namun ia bisa merasakan kecemasan dan kegelisahan yang diselubungi oleh amarah.
Khiara kembali membuka matanya, menoleh pada orang di sampingnya. Ternyata memang seorang pria. Ya, sesosok prialah yang muncul dalam bayangan penglihatannya. Seorang pria dengan postur tubuh tinggi, tegap dan berbadan ramping namun dipenuhi dengan otot-otot yang keras di balik kaos putihnya.
Meskipun penglihatannya sangat buruk saat ini, namun ia masih bisa menangkap bentuk kasar dari posture tubuh pria ini.
Khiara terkejut dan mengerjabkan kedua matanya, saat sebuah bayangan tangan bergerak-gerak di depan kornea matanya. Itu satu tangan kah? Atau dua tangan? Sungguh kibasan tangan itu membuat kepalanya pening.
Khiara menangkap telapak tangan itu agar berhenti bergerak. Ternyata hanya ada satu tangan. Tangan itu terasa sedikit kasar, namun sangat kokoh. Ia tidak bisa menebak apa pekerjaannya.
"Ini di mana??" tanya Khiara dengan suara yang hampir saja tidak terdengar.
"Hospital." Jawab pria tadi. Seketika napas Khiara menderu dengan kencang. Seluruh ototnya terasa tegang. Kegelisahan dengan cepat menyerang.
Khiara sangat membenci rumah sakit. Ia tidak akan pernah sudi berbaring di tempat seperti ini. Ia ingin sekali pergi dari tempat ini. Tapi kenapa saat menggerakkan tubuhnya terasa susah sekali?
Khiara meremas kepalanya yang terasa berdentum-dentum dengan tangan kanannya. Rasanya ada benda yang siap meledak di dalam tengkoraknya. Sakit luar biasa. Hingga air mata mengalir begitu saja. Kini ia sudah sepenuhnya sadar. Ia telah mengingat semua kejadian yang baru saja dialaminya.
"Kau baik-baik saja?" Khiara hanya bisa tersenyum kecut sambil menahan sakit saat mendengarnya.
Wanita mana yang baik-baik saja paska dip*erk*os*a? Adakah yang lebih bisa menggambarkannya selain gelas yang pecah setelah menyentuh tanah? Ah, bukan tanah. Tanah masih terlalu lunak, mungkin aspallah lebih tepatnya.
Tubuhnya telah rusak, mahkotanya telah terenggut, hatinya telah remuk, harga dirinya telah tercabut. Hidupnya kini bagaikan raga tanpa nyawa. Bahkan air mata pun enggan untuk bersemayam di kelopak matanya. Seolah jijik dengan dirinya, dan memilih keluar dari sarangnya.
"Apa kepalamu sakit?" Pria itu bertanya lagi dengan penuh kecemasan. Jemarinya menghapus air mata Khiara dengan lembut.
"Permisi, ijinkan saya untuk menyuntikan obat pereda nyeri,” ujar sang dokter dengan sopan sambil meraih tangan kanan Khiara. Namun Khiara menyentakkan tangannya.
"Pergi!!" desis Khiara dengan suara yang lemah.
"Tenang, Nona! Ini akan membantu anda ....“
"I said, GO!!" teriak Khiara. Dokter itu benar-benar pergi, tapi bukan karena perintahnya. Namun permintaan sang pria.
"What do you need?" Pria itu bertanya perlahan dengan sebelah tangan menggiring tangan Khiara. Dia berusaha menenangkan Khiara dengan tetap mengusap punggung tangan Khiara lembut. "Katakanlah, apa yang kau butuhkan agar kau merasa lebih tenang?"
"Bring me out here!" pinta Khiara di tengah tangisannya.
"Ok, kita pergi dari sini,” ujar Pria tersebut.
Bersamaan dengan itu, tangan kanannya yang terpasang selang infus terasa seperti teraliri oleh sesuatu yang cair. Pria itu menyuntikan obat suntik tadi ke dalam tangannya melalui injection port cap.
"Apa yang kau ...."
"Menurutlah! Semakin kau menurut semakin cepat kau akan pulang,” titah pria itu dengan kesabaran dan kelembutannya. "Lemaskan tanganmu! Jika otot tanganmu tetap tegang seperti ini, tanganmu bisa menggelembung seperti balon." Akhirnya Khiara mengendurkan otot tangannya perlahan.
Dengan hati-hati pria tersebut kembali menyuntikan obat tersebut sedikit demi sedikit. Rasa tidak nyaman saat obat tersebut mengaliri tangannya membuat Khiara mencengkram tangan pria tersebut. Pria itu menghentikan aktifitasnya, meraih tangan Khiara dan mengusap punggung tangannya untuk menenangkannya. Dengan lihainya, tangan yang lainnya kembali menyuntikan obat tersebut ke dalam nadinya.
“Kau akan baik-baik saja!” tandas pria itu sambil menyeka air mata di pipinya.
Baik-baik saja? Apa mungkin dia akan baik - baik saja? Rasanya saja ia sudah tidak mau meneruskan hidupnya. Dan sekarang pria ini mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja?
Sebuah senyum kering bahkan kini muncul di sudut bibirnya setelah mendengar pernyataan pria di depannya. Apa dia orang gila yang tidak tau bagaimana perasaannya?
"Masih ada yang sakit?" tanya pria itu setelah selesai melakukan pekerjaannya. Ini bukanlah sekedar pertanyaan simpati tanpa rasa empati. Khiara bisa merasakan nada kekhawatiran dari suara pria ini. Dia benar-benar mengkhawatirkannya.
"Aku akan meminta dokter untuk memeriksa mu lagi. Siapa tahu ada yang terlewat." Khiara segera meraih tangan kekar pria itu untuk menahannya sebelum dia benar-benar pergi memanggil dokter.
Pria itu terkejut saat Khiara meraih tangannya. Mereka melihat ke titik yang sama, titik di mana tangan Khiara mencengkram tangan kekar itu dengan kuat. Lalu mengusap-usapnya dengan ibu jari, tanda bahwa ia sedang bimbang. Apakah ia bisa mempercayai orang ini?
"Tidak perlu, kita pergi sekarang,” tolak Khiara masih dengan kondisinya yang lemah. Pria itu nampak ragu namun akhirnya menuruti permintaan Khiara.
"Tunggu sebentar, aku akan mengurus kepulanganmu,” ujar pria itu, kemudian segera meninggalkan Khiara.
"Mr. Al ...." Di balik tirai, dokter wanita tadi menghampiri pria tersebut. Namun sepertinya pria itu memotong perkataan sang dokter dengan bahasa isyarat.
"Kita bicara di luar!" ajak sang pria. Khiara masih bisa mendengar percakapan mereka. Dan setelah mereka pergi dari sana, Khiara mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya.
Dengan napas panjang, ia mulai bangkit dari posisi tidurnya. Saat itu ia baru menyadari bahwa ternyata ia hanya berbalutkan kemeja putih milik sang pria. Kemeja itu terlihat kebesaran di tubuhnya. Namun ia tetap berterima kasih karenanya.
Dalam posisi duduknya, ia kembali menghirup oksigen sedalam-dalamnya. Seakan ia benar-benar membutuhkan lebih banyak pasokan udara di paru-parunya. Dengan gerakan yang begitu lemah, ia mencabut selang infus yang menacap di tangan kanannya. Ngilu luar biasa, itulah yang dirasakannya. Tetapi ia berusaha untuk menahannya.
Ia menyibakkan selimut yang menutupi kakinya. Oh sial! Ternyata pantie-nya pun menghilang entah ke mana. Senyum getir muncul di sela-sela bibirnya. Sungguh malang sekali nasibnya.
Ingin rasanya ia menertawakan dirinya. Tapi justru air mata yang melintas di pipinya. Bodoh! hanya kata itulah yang sanggup mendeskripsikan dirinya. Rasanya ia ingin mati saja.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang harus diterimanya? Kenapa Tuhan begitu kejam padanya? Apa salahnya? Jika saja kematian bisa membebaskannya dari penderitaan, maka ia akan melakukannya. Karena sesungguhnya ia sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan hidupnya.
Perlahan ia menurunkan kakinya. Serangan rasa nyeri segera menyerbu kakinya, begitu ia mendaratkan kakinya pada lantai di bawahnya. Ia meringis menahan sakit yang menjalar hingga ke sekujur tubuhnya. Dan tubuhnya mulai ambruk saat ia mulai melangkahkan kakinya.
Pria itu berhasil menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Khiara. Kini ia sedang berusaha agar mulutnya tidak berteriak karna rasa sakit yang menjadi-jadi.
Dengan cepat, pria itu meraih selimut di atas ranjang rumah sakit. Dia melilitkannya pada pinggang Khiara. Sepertinya itu bukan selimut dari rumah sakit. Apa selimut itu milik pria tersebut? Yah, anggap saja seperti itu.
Khiara memekik beberapa detik kemudian. Pria itu kini telah membawanya dalam gendongan. Dia menggendong Khiara ala bridal style dalam sekali gerakan. Seolah Khiara adalah sebuah kapas yang sangat ringan.
"Turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri." Ujar Khiara.
"Tidak dengan kondisi seperti ini,” jawab pria tersebut dengan tegas. Rasanya Khiara tidak mampu membantahnya. Khiara kembali menarik nafasnya. Ia tidak ingin berdebat dengannya. Biarlah orang ini mau melakukan apa. Lagi pula ia juga sudah tidak perduli dengan dirinya.
Keluar dari pintu IGD, sudah ada sebuah BMW yang menunggu mereka. Meski penglihatannya buruk, tapi ia masih bisa menangkap logo BMW yang khas dengan warna putih biru di moncongnya. BMW i8, Khiara mencoba menerka type mobil itu dari bentuknya.
Khiara bukan orang yang tidak tahu menahu tentang mobil, bergaul dengan sahabatnya yang bernama Artha membuatnya mengetahui banyak jenis mobil bahkan hingga ke mesin.
Pria itu menggendongnya hingga masuk ke dalam mobil dan memposisikan Khiara pada jok penumpang dengan hati-hati. Lalu mengitari mobilnya untuk duduk di jok kemudi.
Sebelum memacu mobilnya, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Khiara. Khiara yang melamun sedikit terperanjat dibuatnya. Ternyata pria itu hendak memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ini sangat lucu baginya. Selepas pem*erko*sa*an yang dilakukan teman sekolahnya pada dirinya, seharusnya ia membenci semua pria. Tapi kini, ia justru menyukai hal-hal kecil dari pria yang kini ada di sebelahnya.
Khiara menyukai sikapnya saat dia menenangkannya, menggendongnya, hingga aroma maskulin yang melekat di tubuhnya. Semua hal yang ada pada dirinya mampu memberikan rasa aman dan nyaman untuk Khiara.
"Kau ingin pulang?" tanya pria tersebut.
Khiara hanya terdiam. Ia tidak tahu apakah pulang adalah pilihan terbaik saat ini. Dia tidak ingin pulang dengan keadaaan seperti ini. Jika kakaknya ternyata pulang dari bertugas dan ada di rumah saat ini, dia pasti akan sangat khawatir. Sedangkan ia tak ingin seorang pun tahu tentang peme*rko*sa*an yang dialaminya, untuk saat ini.
Mobil mulai melesat meninggalkan rumah sakit dengan perlahan. Pria itu mengemudi dengan kecepatan sedang. Di depan sana, tersaji pemandangan tengah kota dengan lampu-lampu yang terang. Yang seharusnya sanggup membuat hati setiap orang senang. Tapi sayang, hal itu tidak berlaku untuk sekarang. Suasana di dalam begitu tenang. Keduanya sama-sama terdiam. Memikirkan, apa yang seharunya mereka lakukan?
"Di mana rumahmu? Kau bisa menyebutkan alamatmu dan aku akan mengantarmu pulang,” ujar sang pria membuka pembicaraan setelah sekian lama mereka terdiam.
"Kau bisa membawa ku ke mana saja kau mau,” jawab Khiara.
Pria itu terdiam, Khiara tidak peduli pria itu akan membawanya ke mana. Bahkan ia pun juga tidak peduli jika seandainya pria itu ternyata juga memiliki niatan jahat padanya. Kini dirinya telah hancur berkeping-keping.
"Jangan ditahan! Menangislah jika itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang,” ujar pria tersebut untuk menenangkan.
Khiara tidak tahu bahwa pria itu terus memperhatikannya dalam diam. Ia hanya terus memperhatikan pemandangan malam yang terlihat seperti bokeh dalam penglihatannya. Dan ia memalingkan mukanya ke kanan untuk menyembunyikan tangisan yang ia tahan.
Ia mendekap seluruh tubuhnya dengan erat, meremasnya dengan kuat hingga kuku-kukunya melukai kulit lengannya. Rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhnya sudah sangat hebat, ditambahkan dengan cakarannya kini membuatnya semakin ingin menjerit.
Tapi penyiksaan yang dia lakukan saat ini, tentunya tak mampu menghapuskan rasa sakit hati, rasa jijik, bahkan benci dalam dirinya. Semakin ia menyiksa diri, penyesalan semakin menjadi-jadi.
Air mata turun dengan derasnya dalam diam. Pemandangan malam kota Las Vegas yang terlihat seperti bokeh di luar sana, semakin kabur karena air mata.
Tiba-tiba mobil menepi dan berhenti di sisi jalan. Setelah menarik tuas hand break pria itu melepas seatbelt-nya dan menyalakan lampu. Khiara bisa mendengar pria itu menghembuskan napas kasar. Dan tiba-tiba ia merasakan tangan pria itu meraih dagunya dengan lembut, menggiring wajahnya dari pemandangan di luar sana. Kini kedua ibu jari itu mengusap kedua pipinya dengan penuh kelembutan.
"Sudah ku bilang jangan ditahan! Keluarkan semuanya! Itu akan membantumu merasa lebih tenang,” ujar pria itu.
"Aku akan membawa mu ke tempat yang aman, tapi dengan satu syarat,” lanjutnya. Khiara tersenyum kecut, ternyata semua laki-laki sama saja. Mereka tidak benar-benar tulus. Selalu ada udang dibalik batu.
"Berhenti melukai diri sendiri!" Khiara terkesiap. "Kau boleh menangis sepuasnya, jika itu bisa mengurangi sedikit bebanmu." Pria itu kembali mengusap air mata yang baru saja mengalir itu dengan lembut menggunakan kedua ibu jarinya.
"Dan jika kau ingin melampiaskan kemarahanmu, kau bisa melampiaskannya padaku. kau bisa berteriak di depanku, mencaci ku bahkan memukul ku sepuasmu. Tapi tidak dengan melukai dirimu sendiri seperti ini." Pria itu meraih kedua tangan Khiara berusaha melepaskan cengkraman yang begitu erat tersebut.
"Lihat, kuku-kukumu membuat luka baru di lenganmu." Khiara melihat kedua telapak tangannya yang dihadapkan padanya. Darah segar menghiasi setiap ujung kuku-kukunya.
"Apa ini tidak terasa menyakitkan? Apa seluruh lebam di tubuhmu masih kurang cukup untuk menyiksamu?" Terdengar nada kemarahan dari pria itu.
"Kau tidak tau apa yang ku rasakan!“
"Aku memang tidak merasakan apa yang kau rasakan, tapi aku paham apa yang kau rasakan." Khiara terdiam. "Rasa jijik, benci, frustasi, marah, kecewa, takut, bahkan penyesalan bercampur menjadi satu." Pria itu membalik kedua telapak tangan Khiara dan mengusap punggung tangan itu dengan lembut menggunakan kedua ibu jarinya.
"Tapi satu hal yang harus kamu ingat, ini bukan kesalahanmu. Jadi jangan pernah menghukum dirimu sendiri seperti ini. Dan kalau kau merasa kau sudah tidak berharga, kau salah. Kau tetaplah wanita yang sangat berharga. Terlebih bagi keluargamu, teman-temanmu, bahkan suamimu nanti."
Tangisan Khiara pun pecah seketika. Dan pria itu pun memeluknya, berusaha memberikan kekuatan untuknya. Khiara pun menangis dalam waktu yang cukup lama. Hingga dua jam lamanya. Pertahanannya telah runtuh karenanya.
"Aku tidak mau pulang." Suara Khiara tercekat dalam isak tangisnya. Dia ingin menegaskan bahwa dia tidak sanggup untuk pulang ke rumah.
"Oke. I got it." Pria itu mengusap-usap punggung Khiara dengan lembut.
Pria itu meletakkan kedua tangan Khiara di pangkuan Khiara dengan perlahan, lalu beralih mengusap kepala Khiara dengan lembut. "Ingat baik-baik apa yang tadi kukatakan!" Samar-samar Khiara bisa menangkap senyum lembut di kedua sudut bibir pria itu.
Khiara tidak berkata apa-apa. Tapi semua yang dikatakan pria itu membuat perasaan Khiara jauh lebih tenang. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Khiara untuk mengambil sesuatu di dalam dasboard. Hal itu membuat jantung Khiara berdetak lebih kencang dari sebelumnya, namun bukan rasa takut yang ia rasakan.
Aroma maskulin memang menempel pada kemeja putih yang kini Khiara kenakan, tapi aroma itu selalu lebih menusuk saat pria itu begitu dekat dengannya. Pria itu menyodorkan air mineral padanya, membuyarkan lamunannya.
"Ini, minumlah!“ ujarnya. Khiara sedikit ragu. "Aku tidak menaruh apa pun di dalamnya. Segelnya masih utuh, bukan?“ Meski sedikit ragu, tapi akhirnya Khiara menerima air mineral itu dan meneguknya setengah habis. Pria itu tersenyum renyah melihatnya.
"Ini akan membantumu sedikit lebih tenang." Khiara mengerutkan keningnya saat pria itu menyodorinya beberapa butir pil di tangannya.
"Ini dari dokter, obat anti depresan. Ini akan membantu mengurangi gejala depresi yang kau alami." Khiara masih sedikit ragu. "Kau bisa lihat?" Pria itu menunjukan label rumah sakit yang tertera pada bungkus obat itu. Tentu saja Khiara tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Jika kau ragu, kau bisa mengambil yang baru." Khiara segera mengambil obat itu dan meneguknya. "Itu akan membuatmu sedikit mengantuk, jadi beristirahatlah." Khiara tersedak mendengarnya. "Kau tidak apa-apa?"
"Kau memberikan obat tidur padaku?" Suara Khiara terdengar gusar. Tapi pria itu justru tersenyum geli.
"Beberapa obat tertentu memang mengandung obat tidur, apa kau tidak tahu itu?"
Pria itu sedikit mengacak-acak rambut Khiara karena gemas, lalu mematikan lampu dan kembali menjalankan mobilnya. Entah kenapa Khiara menyukai hal kecil yang dilakukan pria ini. Ia tidak protes lagi dan memposisikan diri lalu mulai memejamkan matanya.
...***...