
Kepulangan Krisna ternyata lebih cepat dari yang dijadwalkan. Saat ini Artha sedang menjemputnya di bandara. Dia harus menjemputnya sediri karena Khiara sedang tidak di rumah beberapa hari ini.
Wanita itu bilang sedang mempelajari semua berkas-berkas yang harus dikuasainya sebagai CEO baru sebelum rapat pemegang saham. Dan dia tidak bisa pulang ke rumah.
“Kenapa kau mempercepat kepulangan mu?” Mereka berdua sudah berada di dalam mobil
“Aku hanya khawatir.” Artha hanya mengerutkan keningnya. Di sini ada dirinya, apa yang perlu di khawatirkan? “Ku dengar Endra juga kembali.”
“Ya. Dia sudah di sini sejak kemarin. Siang ini ada rapat para pemegang saham. Sekaligus perkenalan Khiara pada semua dewan.”
“Jam berapa rapat dimulai?”
“Jam 2. Kenapa? Kau ingin menemuinya?” tanya Artha.
“Kita ke tempat Endra sekarang!” pinta Krisna.
“Serius? Langsung ke sana?” Artha heran, Krisna baru saja datang. Bukannya istirahat dulu di rumah, ini malah langsung minta ketemu Endra.
“Serius, Tha!” Artha memutar kedua bola matanya. Orang ini tidak punya rasa lelah apa?
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Endra. Mereka berdua langsung masuk begitu saja tanpa permisi, layaknya rumah sendiri. Mereka menemukan Endra di taman belakang.
“Kau sudah ada di sini? Bukankah masih minggu depan?”
“Aku mempercepatnya," ujar Krisna cepat.
“Ada apa?” tanya Endra yang penasaran.
“Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian.” Krisna nampak serius.
“Tentang Khiara?” Krisna mengangguk. Sedangkan Artha hanya mengerutkan keningnya dan kembali sibuk dengan kudapan di meja.
"Sebaiknya kita bicara di dalam.” Ajak Endra lalu diikuti kedua temannya.
Endra menyalakan monitor besarnya dan men-dial up seseorang di sebrang sana. Jika di sini sudah pukul 10 pagi di sana baru memasuki waktu subuh. Dan panggilan tersambung.
“Pagi-pagi sudah mengganggu!” seru seseorang di sebrang sana.
“Jangan salahkan aku, salahkan saja dia," sahut Endra yang menunjuk Krisna dengan ibu jarinya.
Krisna muncul dibalik punggung Endra, sedangkan Endra menyingkir dan duduk di sofa, tepat di sebelah Artha yang sedang santai mengunyah cemilan yang dibawanya dari meja taman tadi.
“Sekarang jelaskan padaku, sebenarnya apa yang kalian rencanakan. Sepertinya di sini hanya aku yang tidak mengetahui rencana kalian!" serunya sambil melirik Artha dari sudut matanya.
Sedangkan Artha yang merasa sedang dilirik dengan tatapan sinis mencoba meluruskan. “Rencana apa?”
“Jangan pura-pura tidak tau, kau saat ini saja terlihat sangat santai," gerutu Krisna.
“Aku memang selalu santai. Lalu aku harus bagaimana? Meledak-ledak seperti dulu?” Kesal juga dituduh oleh Krisna, padahal dia sendiri tidak tahu permasalahan yang mereka bicarakan ini apa.
“Sudahlah, abaikan saja!” Krisna mengibaskan tangannya. Malas berdebat dengan Artha. Sedangkan Artha yang juga tidak mengerti dengan rencana yang mereka maksudkan, menyenggol Endra dengan sikunya.
“Rencana Khiara tentang kepulangannya saat ini," jelas Endra pada Artha.
“Ohh….” jawab Artha yang ber-oh ria.
“Tuh, 'kan. Kau juga mengetahuinya.”
“Bukan begitu. Aku hanya tahu kalau dia kemari untuk menangani kenangan buruknya. Hanya sebatas itu. Untuk selebihnya mana ku tahu. Sepertinya aku sudah mengatakannya padamu.” Krisna berniat menyanggahnya, namun Artha segera melanjutkannya. “Dan aku tidak perduli apa yang akan dia lakukan selebihnya, selama dia tidak kembali dalam keadaan nol-nya.”
Ya, hanya itulah yang dipedulikan oleh Artha. Dia tidak akan mencampuri urusan Khiara. Selama Khiara baik-baik saja, dia akan membiarkan wanita itu melakukan apa saja yang disukainya. Artha tahu, Khiara tidak akan melakukan hal-hal aneh diluar nalar tanpa ada sebabnya.
“Kau ....” Sepertinya Krisna ingin meledak dengan apa yang dikatakan Artha. Kenapa Artha memiliki sifat secuek ini pada sahabatnya sendiri?
Krisna melupakan, bahwa orang yang paling cuek ini adalah orang yang paling perduli. Di balik sikap cueknya, Artha adalah orang yang paling menyayangi para sahabatnya terutama Khiara.
Dia memperhatikan semua tentang mereka dalam diamnya. Bahkan Arthalah yang paling getol menjaga dan menyembuhkan Khiara dari keterpurukannya. Dialah yang selalu ada di samping Khiara dan teman-teman yang lainnya saat mereka menghadapi masalah.
Hanya saja, keperduliannya tidak pernah dia tunjukan secara terang-terangan. Dia hanya akan bertindak jika sesuatu yang buruk menimpa mereka, tapi dia tidak perduli dengan apa yang mereka lakukan.
Dia yakin teman-temannya memiliki otak yang cerdas untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak. Dan dia sendiri juga tidak suka mencampuri urusan orang lain. Hanya itu.
“Sudahlah, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan!" sergah Endra.
Entah mengapa di mata Krisna kini Endra seperti orang yang tidak terima pacarnya diganggu. Krisna semakin curiga ketika Artha menjejali mulut Endra dengan camilan dari tangan kirinya.
"Jangan sampai kau tidak jadi bertanya, hanya karena terpesona melihat kami berdua.” Krisna memutar bola matanya mendengar hal menjijikan itu.
***