
“Wanitamu itu bahkan jauh lebih kuat setelah pemerkosaan itu daripada setelah ditinggalkan oleh sepupunya,” ujar Adit.
“Bagaimana bisa begitu?“ tanya Alex dengan kedua alis yang bertaut.
Menurut Alex, kematian seseorang itu sudah pasti. Wajar untuk bersedih ketika seseorang meninggalkan keluarganya ke alam baka, tapi biasanya kesedihan itu akan sembuh dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.
Sedangkan pemerkosaan yang dialami oleh seorang wanita, biasanya akan menghancurkannya hingga mereka akan berusaha untuk mengakhiri hidupnya, jika mereka tidak sanggup untuk menanggung bebannya.
Itulah pemikiran Alex, tanpa dia menilik kembali bagaimana hancurnya dia saat ditinggalkan oleh Khiara. Padahal Khiara hanya meninggalkannya ke negara yang berbeda, bukan ke alam baka.
Lalu singkronkah pemikirannya dengan dirinya sendiri? Sepertinya kepalanya memang harus di benturkan ke kaca agar otaknya bisa kembali berlogika sekalian berkaca.
“Entahlah. Mungkin karena sebelumnya dia pernah kehilangan ayah kandungnya, sehingga kehilangan seseorang menjadi sebuah trauma tersendiri baginya.“ Adit mengutarakan pendapatnya.
“Atau mungkin saja setelah peristiwa pemerkosaannya, kau sudah berhasil menguatkannya. Karena jujur saja aku tidak bisa membedakannya, antara dia sedang depresi atau hanya meluapkan emosi.“ Aditya menambahkan.
“Maksudmu?“ Jujur Alex tidak paham dengan apa yang dimaksudkan Adit pada kalimat terakhirnya.
Adit pun menoleh pada Alex dengan tatapan bertanya-tanya. Jujur dia sendiri juga tidak mengerti kenapa Khiara bisa sekuat itu saat itu. Apa yang terlihat di benaknya adalah Alex pasti sudah berhasil meyakinkan Khiara untuk tetap melanjutkan hidupnya.
“Coba kau bayangkan! Apakah wajar jika dia yang diperkosa, tapi justru dia yang menenangkan sahabatnya agar tidak hancur karena mengetahuinya?“ tanya Adit pada Alex yang juga sama-sama menatapnya dengan tatapan herannya.
Empat tahun lalu setelah Khiara memintanya untuk menyusul ke Los Angeles...
Bermula dari Adit yang mendapat telfon dari Kak Kalvin dan Kael bahwa sudah sebulan terakhir ini Khiara tidak bisa dihubungi. Sedangkan Kael sedang dalam tugas dan tak dapat menyambangi adiknya.
Dan beberapa waktu lalu, akhirnya wanita itu menghubunginya setelah dia berulang kali mencoba mendial-up nomor ponselnya. Dan seminggu setelahnya terbanglah Adit ke Los Angeles dan menyambangi unit milik Khiara.
Adit yang sudah hafal diluar kepala kode rumah Khiara langsung masuk ke dalam rumah dengan dua lantai tersebut setelah beberapa kali mengetuk pintu tak terdengar jawaban.
Betapa terkejutnya Adit ketika mendapati ruang tamu rumah ini berubah seperti medan perang. Semua barang berserakan di mana-mana. Khiara memang bukanlah wanita yang sangat rapi, tapi dia juga bukan wanita yang suka dengan kondisi berantakan. Apa lagi seperti kapal pecah seperti ini.
Merasa khawatir, Adit segera mencari Khiara ke dalam hingga lantai dua yang keadaannya pun tak kalah buruknya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat pisau-pisau menancap pada satu titik. Tidak hanya itu, lubang peluru pun menghiasi dinding ruangan di berbagai titik target. Adit semakin was-was dan memanggil nama Khiara berkali-kali.
“Ada apa teriak-teriak?” Khiara muncul dari kamar mandi dengan keadaan basah kuyup. Wajahnya terlihat begitu sembab, dan sangat berantakan. Terlihat begitu lelah, seperti orang yang tidak tidur berhari-hari. Khiara benar-benar terlihat sangat kacau.
“Ada apa denganmu?” tanya Adit yang begitu khawatir.
“Stop!” Khiara memperingatkan. “Jangan mendekat!” pinta Khiara.
Adit menggelengkan kepalanya dan tetap berusaha untuk maju. Namun mata lelah itu berubah menjadi mata yang menyalang. “Kuperingatkan kau, Dit!”
Beberapa detik kemudian Khiara berbalik kembali ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu. Adit bisa mendengar Khiara yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.
“Khiara, kau baik-baik saja?” Tidak ada jawaban. “Khiara!!”
“I’m fine,” sahut wanita itu dari dalam.
“Kau sakit, hah?” Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka.
“Kau kira aku sedang sehat-sehat saja, hah?” nada suara Khiara terdengar ketus.
“Kita ke dokter sekarang!” ajak Adit.
Adit menuju almari Khiara untuk mengambilnya, lalu melemparkannya pada Khiara. Ia segera mengganti bajunya yang basah kuyup lalu keluar menemui Adit.
“Ada apa denganmu? Kenapa rumahmu seperti kapal pecah?” tanya Adit dengan gusar.
“Menurut mu?” Khiara balik bertanya.
“Kau seperti orang gila dengan apartemen dan penampilan seperti ini.” Khiara tersenyum sinis mendengarnya.
“Sepertinya memang begitu.”
“Sepertinya memang begitu?? Kenapa kau ini? Kak Kael menghubungimu berkali-kali tapi kau tak menjawabnya. Dan sekarang kau terlihat menyedihkan seperti ini.” Adit serasa ingin meledak melihat Khiara saat ini.
Dia tidak bisa, dia tidak menyukai keadaan Khiara saat ini. Lagi-lagi Khiara mengeluarkan seringaian sinisnya. Adit tidak pernah melihat Khiara melakukannya sebelumnya. Khiara terlihat sangat jauh berbeda dengan Khiara yang dia kenal.
“Aku butuh istirahat, Dit. Setelah itu kita bicara lagi nanti.” Khiara melangkah menuju tempat tidurnya.
“Kita ke dokter sekarang!”
“Dit!” Khiara kembali memperingatkan.
Entah kenapa kali ini Adit merasa tidak bisa membantahnya. Biasanya, jika Khiara sakit, Adit atau yang lainnya pasti akan menarik paksa Khiara ke dokter. Tapi kali ini, aura Khiara benar-benar berbeda. Ia tak terbantahkan.
“Bisakah kau membereskan semua kekacauan ini selama aku tidur?” Adit melotot dibuatnya.
Satu hal yang masih sama darinya, suka seenaknya memerintah orang. Dan Adit paling tidak bisa menolak jika itu Khiara yang meminta.
Adit menghembuskan nafas untuk memulainya. Dari mana dia harus memulainya? Adit belum pernah membereskan rumah sebelumnya, apalagi yang seperti kapal pecah ini.
Akhirnya dia memesan jasa pembersih rumah dan mulai mencabuti pisau-pisau dan bekas peluru yang bersarang di dinding agar orang-orang yang akan membersihkan apartemen ini tidak merasa takut nantinya.
Beberapa jam kemudian apartemen sudah kembali bersih dan rapi. Dan Khiara pun telah bangun dari tidurnya. Adit datang dengan segelas ginger tea dan sepotong sandwich yang dia beli tadi untuk Khiara. Adit sendiri heran, hampir tidak ada makanan di rumah ini. Padahal Khiara adalah seseorang yang sangat doyan makan.
“Makanlah, dan teh ini untuk meredakan mualmu.” Adit duduk agak jauh dari Khiaydan menyodorkan nampan itu pada Khiara.
Khiara menatapnya dengan tidak berselera. Kemudian menatap Adit dengan tatapan aneh, seolah sedang terjadi perdebatan di tempurung kepalanya. Kemudian ia menghela nafas dan meraih sandwich itu.
Meski dengan tidak berselera, ia tetap mengunyahnya. Khiara sangat menghargai apa yang dilakukan seseorang untuknya. Dari dulu hingga sekarang, tidak akan berubah.
“Setelah ini kita pergi ke dokter! Tidak ada bantahan!” ajak Adit dengan nada rendah namun penuh paksaan.
“Tidak perlu, aku sudah pergi ke dokter empat hari lalu,” sahutnya.
“Lalu kenapa keadaanmu masih seperti ini? Kita pergi ke dokter lain!” Adit masih bersikeras.
“Tidak perlu, ini akan hilang sendiri nantinya,” tolak Khiara lagi.
“Kau ini ....” Adit menahan geram. “Ok, bisa 'kan cerita kenapa keadaanmu seperti ini?” Akhirnya Adit mengalahkan dan memilih untuk menanyakannya alasan kenapa wanita ini begitu kacau.
“Bagaimana jika aku menolak?”
***