THE ALEXIS

THE ALEXIS
DRIFT KING



“Wanna drive?” Suara itu membangunkannya dari pikirannya.


Alex yang masih dengan posisinya menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan bersandar pada mobilnya, menoleh ke sumber suara. Ini adalah kali pertamanya dia kembali melihat wanita itu, setelah kekacauan yang dilakukan wanita itu beberapa waktu lalu.


Wanita yang kini berdiri di sebelahnya itu mengangkat sebelah alisnya, seakan menanyakan pendapatnya mengenai tawarannya. Tidak ada senyum manis di bibir mungil itu.


Alex hanya memperhatikannya dalam waktu yang begitu lama. Menatapnya intens dengan mata gelapnya. Seakan ingin melontarkan berbagai macam pertanyaan. Namun dia ragu untuk mengucapkan.


“Oh, come on! Aku tidak sedang berbicara dengan tembok!” Seru Khiara sambil memutar kedua matanya karena jengah.


“Siapa bocah laki-laki yang bersamamu waktu itu?” Tanya Alex keluar dari jalurnya.


“Bocah laki-laki?” Khiara sedikit berfikir, “maksudmu Kael? Dia adikku, kenapa?”


“Adik?” Khiara mengangguk.


“Bagaimana??” Khiara kembali menanyakan soal tawarannya.


Alex tidak membalasnya, tapi dia berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya. Baru lah Khiara tersenyum karenanya. Khiara selalu mendapatkan yang apa ia inginkan.


Mereka berdua telah bersiap di start line. Suara mesin-mesin saling bersautan. Malam ini mereka menggunakan jalan baru di pesisir pantai sebagai lintasan. Dan ada dua peserta lagi yang ikut dalam pertandingan. Mereka berasal dari luar kota yang sengaja datang untuk balapan.


Ternyata mereka berdua bukan lah lawan yang bisa diremehkan. Mereka cukup mahir dalam menguasai keadaan. Sampai-sampai membuat Khiara dan Alex kewalahan. Alex menjadi sedikit lebih tertantang. Sepertinya pertandingan kali ini akan menjadi pertandingan yang mengesankan.


Untuk sementara, tuan rumah yang memimpin jalannya pertandingan. Tetapi di tengah-tengah pertandingan, Khiara tergusur di posisi runner up. Sedangkan Alex berada di posisi ke tiga. Pertandingan berlansung sangat seru, posisi depan diduduki oleh Red Ferarry dari pihak penantang.


Di menit berikutnya, keadaan kembali beralik. Alex memimpin, sedangkan Khira tetap berada di posisinya. Tiga perempat lintasan hampir usai dilalui. Kini Khiara yang memimpin. Tapi di akhir lintasan, Tiba-tiba Khiara menurunkan kecepatan. Meskipun tidak terlalu mencolok, tapi Alex menyadari perubahan ini.


Alex pun ikut menurunkan kecepatan. Dia akan mengimbangi permainan Khiara. Wanita itu tidak mengajaknya untuk berlomba, tapi hanya berkendara. Jadi dia akan menuruti kemauannya. Sejujurnya dia juga sedang tidak berniat untuk berlomba.


Dan akhirnya dia memberikan jalan pada pihak penantang untuk memimpin secara perlahan. Red Ferarry lah yang pertama kali mencapai garis finish. Kemudian dirinya lalu disusul oleh sebuah Grey SSC. Baru lah GTR milik Khira di posisi terakhir.


Alex berfikir ada yang janggal disini. Khiara seharusnya bisa mengalahkan Grey SSC. Tapi wanita itu memilih untuk mengalah dan berada di posisi paling akhir. Dia keluar dari mobilnya dan mengamati sekitar.


Di salah satu sudut, ada orang yang sedang bergembira atas kemenangannya dengan kerumunan manusia. Sedangkan di sudut lain, sudut yang terlupakan oleh orang-orang, ada seorang wanita yang keluar dari mobilnya. Ia menatapnya dengan lekat, sebelum tatapan itu terhalang oleh wanita-wanita j*lang yang mengerubungi dirinya.


Alex mengernyitkan dahinya tak suka. Mereka semua menghalanginya dari titik fokusnya. Ekor matanya menatap seorang pria berjalan mendekat ke arah Khiara. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Seolah gejolak emosi menyeruak dari dalam dirinya.


...***...


“Hi, Khiara-chan” Khiara yang masih mengamati segerombolan orang yang mengerubungi Alex, menoleh ke sumber suara. Ia masih tetap bersandar di pintu mobilnya. Senyum menawan menghiasi wajah cantiknya. Dia melambaikan tangan pada pria yang menghampirinya.


“Hai, DI-KEY.” Pria itu tersenyum geli saat Khiara mengucapkannya dengan penuh penekanan di akhir kata.


Dia mendekati Khiara, menatapnya dalam, kemudian menyandarkan tubuhnya di sebelah Khiara. Mereka berada dalam keheningan, di tempat yang terlupakan oleh semua orang.


Sedang kan di sudut lain Alex masih menatap mereka berdua dengan tajam.


“Siapa dia? Temanmu?” Tanya Dikey yang sebenarnya bernama Artha, untuk membuka percakapan.


“Eem___bisa dibilang begitu.” Khiara menelusuri wajah sang lawan kemudian mengangat bahunya.


“Kenapa kau mengalah? Itu bukan gayamu.” Sekarang gantian pria itu yang menatap Khiara dengan dalam.


Tapi tatapan itu tak memberikan pengaruh apa pun padanya seperti biasa. Khiara hanya mebalasnya dengan tawa renyah.


“Siapa yang mengalah? Aku tidak mengalah, itu memang rencana ku. Sudah ku rencanakan sejak di tengah-tengah pertandingan. Lagi pula, aku hanya berkendara, bukan berlomba.”


“Kalau begitu, apa hasil dari rencana mu?” Khiara merubah posisi bersandarnya, kini ia menghadap pada lawan bicaranya.


“Kau tau? Aku hampir saja tidak mengenalimu gara-gara topi sialan mu.” Seru Khiara dengan santainya. Pria itu terus saja menyentuh topi di kelapanya dan tersenyum.


“Pacaaar?” Mata indah Khiara mulai menyipit hingga membuat pria itu tertawa di depannya.


“Bercanda, bercanda.” Pria itu segera memperbaiki ucapannya.


“Meskipun mobil ini udah lama, tapi SSC Ultimate Aero itu bukan mobil balap biasa. Jika aku tidak salah, itu salah satu dari tiga mobil tercepat keluaran motor cars. Kecepatannya aja mencapai 440km/jam bro. Mana mungkin mobil itu tidak bisa mengalahkan tiga mobil lainnya yang hanya memiliki kecepatan maksimal 300an km/jam??" Khiara menganggkat sebelah alisnya.


"Ya bisa aja kalau orangnya kurang pengalaman?" Sanggah Artha.


"B*llshit!!" Potong Khiara. "Kau kira aku tak bisa melihat permainanmu apa?" Tandas Khiara dibarengi dengan tatapan mautnya. Dan Artha tertawa lepas mendengarnya.


"Oke oke, sepertinya kau kini lebih hebat dariku." Puji Artha. Namun Khiara justru menggelengkan kepala.


"Tidak, tidak. Kau tetap masih lebih hebat dariku." Khiara mengingat kembali kemampuan Artha yang sangat memukau baginya. Jika kalian ingin tau, Artha mampu membuat mobilnya berjalan miring hingga tujuh puluh derajat dalam kecepatan 180km/jm.


“Oyah? Lalu bagaimana dengannya?" Artha menunjuk Alex di sebrang sana dengan dagunya. "Apa dia lebih baik dariku?” Khiara menatap Alex yang ternyata masih saja menatap ke arahnya.


"Aku tak tau."


"Hemh??"


"Sepertinya kalian sepadan. Kalian sama-sama berhak menyandang gelar Drift King." Jawaban Khiara membuat senyum kecut tercetak di bibir lawan bicaranya.


"Kau sendiri tau, bagi seorang drifter hanya sekedar teknik saja tidak cukup, bukan? Kita harus bisa berfikir cepat dalam menganalisa kemampuan lawan jika ingin menjadi pemenang."


"Yah, kau benar."


"Dan orang itu___" Khiara menggantungkan kata-katanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Alex.


Saat pertama kali bertanding melawan Alex, benar-benar membuat Khiara memeras otaknya. Ia harus tenang untuk bisa berfikir jernih dan mencari celah. Dan sialnya pria itu harus membuatnya melakukan teknik yang cukup sulit dan berbahaya untuknya.


“Sepertinya aku harus lebih sering berlatih mulai saat ini.” Celetuk Artha memecah keheningan.


“Yah, itu memang. Dalam teknik kau memang yang terbaik, tapi dalam membaca situasi___ kau tidak akan bisa menandinginya.”


“Apa kau menang darinya menggunakan salah satu dari teknik ku?”


“Ayo lah, aku belajar drift darimu. Tentu saja aku memakai teknikmu.”


“Baik lah, teknik mana yang sudah kau gunakan?”


“Jangan pernah menggunakan teknikmu lagi untuk melawannya, karena dia sudah membaca dan mematahkannya.” Khiara mengingat kekalahannya seminggu setelah kemenangannya.


“Dan___ dipertandingan pertama aku telah menggunakan setengah dari seluruh teknikmu.” Kedua bola mata pria itu melebar, tidak percaya. Dan Khiara hanya bisa nyengir menanggapinya.


“Dari selusin teknik yang kau kuasai, kau hanya memiliki 3 teknik terakhir yang kau kuasai.”


“Dan sudah berapa kali kau bertanding dengannya?” Sergah pria itu dengan cepat.


“Jika dihitung dengan hari ini, berarti sudah 4 kali.” Sahut Khiara dengan entengnya. Mengingat balapan ini hanya di lakukan di hari sabtu.


Jaw drops, itu lah respon spontan yang tanpa sadar dilakukan oleh pria itu.


“Kau gila!” Pria itu berdesis seraya menggelengkan kepala tak percaya.


“Bukan aku yang gila, tapi dia yang terlalu mengerikan. Jadi jangan salahkan aku jika ku menggabungkan beberapa teknik dalam sekali pertandingan dengannya.” Jawaban Khiara membuatnya frustasi. Tapi sebisa mungkin untuk tidak menunjukannya pada Khiara. Segitu hebatnya kah dia?


......***......