THE ALEXIS

THE ALEXIS
WHO ARE YOU



"Kau ... pernah bertemu dengan Khiara sebelumnya?" Aditya mulai bertanya saat kewarasan mulai kembali padanya. Dia memincingkan mata,  menatap Alex dengan penuh selidik.


"Emh ...," sahut Alex. Dia sama sekali tidak ada niatan untuk memberitahu Aditya tentang hal itu.


"Kapan?"


"Apa aku harus mengatakannya padamu?" Bukannya menjawab Alex justru balik bertanya.


"Ya, agar aku tahu apa kau berkata jujur atau hanya mengarang cerita belaka." Aditya sangat benci dibuat penasaran. Alex bergeming seolah memikirkan sesuatu.


"Aku akan mengatakannya padaku jika kau membawaku menemui anakku." Dia mengajukan persyaratan setelah mempertimbangkannya.


"Hah, itu bukan wewenangku." Tentu saja hanya Khiara yang berhak menentukan apakah anaknya itu boleh bertemu dengan ayah biologisnya atau tidak. Jika Aditya mempertemukan mereka tanpa seijinnya, bisa habis dia karena dimusuhi Khiara.


"Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya padamu," sahut Alex dengan enteng.


Flash back off...


Alex kembali menyapukan bibirnya pada kening Khiara dengan lembut. 


"Kau tau Sayang, aku bukanlah Alexander Sebastian yang sendang kau maksudkan. Dan aku juga buka kekasih Shasha yang telah meninggalkannya di rumah sakit sendirian," jelasnya pada Khiara yang entah akan didengarkan dalam tidurnya atau tidak.


"Alexander Sebastian adalah kakakku, dia saudara kembarku yang terbunuh bersama dengan sepupumu."


"Kita sama-sama kehilangan orang terdekat kita karena orang itu. Orang yang telah membuatmu mengalami trauma yang mengerikan seperti ini."


"Aku punya hak untuk menghabisi nyawanya, dan aku ingin sekali membalaskan dendam kakakku dan dendammu padanya. Karena aku memegang prinsip mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, dan nyawa dibalas nyawa."


"Saat aku menemukannya waktu itu, aku ingin sekali segera menyeretnya ke neraka menyusul teman-temannya, tapi aku teringat ucapanmu yang ingin membalasnya dengan caramu. Sehingga aku mengurungkan niatku."


"Sambil mencari dirimu, aku mendekati adiknya. Aku berniat memberikan hadiah yang tak terlupakan untuknya melalui adiknya. Dan saat waktunya tiba, aku akan membiarkanmu mengeksekusinya sesuai dengan caramu."


Alex menjeda cerita panjang kali lebarnya. Dia mengusap lembut pipi wanitanya, kemudian menoel hidung mancungnya.


"Tapi dengan kondisimu yang seperti ini, apa kau mampu untuk menjalankan aksi belas dendammu? Aku justru takut jika kau akan histeris duluan saat kembali bertemu dengan b*aj*ing*an itu." 


Alex menghela napas resah. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan wanitanya, terutama keadaan psikologisnya. 


Apa tujuan utama Khiara kembali ke Indonesia pun Alex sudah mengetahuinya. Jauh sebelum ini, saat Rein memberikan sebuah kode pada Khiara dengan sandi morse


itulah Alex mengetahuinya.


Saat itu Alex segera menyudutkan Rein selepas kelas berakhir. Tanpa sepengetahuan Khiara, Rein telah membeberkan tujuan Khiara pada Alex. Yang bahkan Aditya pun tidak mengetahuinya.


Tak lain dan tak bukan adalah mencari keberadaan pria yang telah menghancurkannya empat tahun lalu. 


Alex baru mengetahui sifat Khiara yang sangat suka menebar jigsaw puzzles  di sekitarnya. Sama seperti bagaimana dia memisah-misahkan informasi pribadinya, begitu juga dengan rencananya.


Ya, jika Aditya hanya mengetahui rencana Khiara mengenai pengususutan kematian Shasa, maka Rein pun juga sama. Rein hanya mengetahui rencana Khiara tentang balas dendam pada teman sekolahnya yang bernama Ricky, tanpa tahu ada masalah apa dengan mereka berdua.


Dan yang membuat Alex tak habis pikir, selama ini Rein benar-benar membantu Khiara mencari informasi tentang Ricky tanpa mau tahu bahkan menanyakan masalah Ricky dan Khiara.


Sudahlah, Alex tak mau memikirkannya. Dia hanya berharap, setelah ini mereka bisa berkumpul lagi bersama sebagai satu keluarga yang utuh dan bahagia. Tanpa terpisah-pisah lagi seperti sebelumnya. 


"Jangan main-main kabur-kaburan lagi, atau aku akan mengurungmu di istana ini," gumam Alex yang gemas dengan sifat Khaira yang suka menghilang.


Bahkan Alex sampai memencet hidung Khiara. Tapi sepertinya wanitanya itu benar-benar terhanyut dalam tidurnya, hingga dia tidak merespon perbuatan tangan jahil Alex di wajahnya. 


...***...


Khiara terbangun dari tidur lelapnya. Beberapa hari ini semenjak Alex menemani tidurnya, merupakan keajaiban untuknya. Dia bisa merasakan tidur nyenyak tanpa ada Kaiven di dekatnya. Dan sebagai gantinya, Alex-lah yang selalu ada di sampingnya.


Dia sendiri merasa bingung, kenapa bisa seperti ini? Dan lagi, kenapa dia membiarkan pria itu tidur bersamanya? Tapi pelukannya benar-benar bagaikan candu untuknya.


“Kenapa kau terbangun, Sayang? Hem?” Suaranya yang berat dan serak itu menimbulkan gejolak di dalam dirinya. “Kau butuh sesuatu?”


Khiara memutar tubuhnya hingga menghadap ke Alex. Di tengah cahaya lampu tidur yang remang-remang, Alex terlihat bersinar. Sungguh pemandangan yang menyilaukan matanya.


“Em, aku memang butuh sesuatu," jawab Khiara.


“Apa, Sayang? Katakanlah!” Suaranya benar-benar lembut. Seakan Alex akan memberikan semua yang dia inginkan. Tapi Khiara tidak boleh terbuai olehnya.


“Jawaban.” Kening Alex berkerut. “Kenapa kau selalu memanggil ku 'Sayang'? Dan kenapa kau selalu menyentuhku seenak jidatmu?” Alex tertawa kecil mendengarnya, dan mulai mengetatkan pelukannya.


“Karena aku menyukainya," ujarnya sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Khiara yang seperti bayi di lekuk lehernya. Dengan lembut dia menghirup seluruh aromanya seakan aroma itu akan hilang jika dia tidak meraupnya.


Bibir lembut yang menyapu lehernya mengaktifkan seluruh syarafnya. Alex selalu saja memberikan rangsangan-rasangan yang kerap kali terasa memabukkan, tapi tak pernah lebih jauh dalam melakukannya. Membuatnya setengah bersyukur dan setengah kecewa.


Oh, kenapa dia terasa seperti ja*lang? Mengharapkan hal lebih dari pria ini? Seharusnya dia tidak boleh membiarkannya melakukan hal itu padanya, dia tidak boleh membiarkan seorang pria melecehkannya.


Tapi, entah mengapa dia tidak merasa pria ini telah melecehkannya. Dia justru merasa sedang dihujani kelembutan dengan seluruh kasih sayang di dalamnya. Begitu memabukkan, dan ... dia sangat menyukainya.


“Leex ....” Alex benar-benar membuatnya mengeluarkan sebuah erangan yang begitu sexy dan menggairahkan tanpa disadarinya. Dan seluruh tubuh Alex menegang. Khiara bisa merasakannya. Pria itu menarik kepalanya, dan menatap Khiara dengan lekat.


“Sayang ... ku rasa ini bukan moment yang tepat untuk mengatakannya. Tapi ... maukah kau menikah denganku?” Khiara terpana dibuatnya.


Alex melamarnya! Di tempat ini! Di atas tempat tidurnya! Oh, Tuhan. Apa yang sedang dipikirkan oleh orang ini?


“Sayang ....” Suara Alex menyadarkannya. “Ah, sh*it!”Alex mengumpat saat mendengar ponselnya berdering.


Khiara mengerutkan keningnya saat melihat Alex mengangkat telponnya. Siapa yang malam-malam seperti ini menelponnya? Wajah Alex berubah serius. Pria itu menyunggingkan senyum iblis di akhir teleponnya.


“Kau akan pergi?” Alex menganggukkan kepalanya.


“Maafkan aku, tidurlah.” Alex mengecup kening Khiara dengan sayang. “Kita bertemu di kampus," ujarnya lalu meninggalkan Khiara sendirian dengan seluruh pertanyaan yang belum sempat dia lontarkan. Khiara menatap punggung itu sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.


“Siapa kau sebenarnya?” Wajah Khiara berubah menjadi serius.


...***...