THE ALEXIS

THE ALEXIS
GREAT PERSON



“Kenapa Om tidak menghandlenya saja hingga dia siap?” Jiwa kritis Khiara mulai muncul.


“Om sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun kesalahan yang tanpa sengaja dilakukan anak itu begitu fatal hingga menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan. Dan hal itu di luar sepengetahuan Om. Biasanya anak itu akan meminta pendapat Om, tapi entah mengapa saat itu tidak ada pembicaraan sama sekali dengan Om. Hingga akhirnya perusahan mulai mengalami kebangkrutan.” Hening sejenak.


“Sebelum meninggal, Mrs. Seran mengatakan agar Om menemui anaknya yang satu lagi jika memang sudah berada dalam keadaan mengkhawatirkan. Anaknya itu adalah senjata terakhir untuk menyelamatkan perusahaan. Dan saat itu adalah kali pertamanya Om mendengar kebenaran tentang Alexander Smith. Akhirnya Om mencari keberadaan saudara kembar Alex.”


“Mencarinya? Apa pada kenyataanya mereka tidak saling keep in touch?” Kalimat terakhir Hutama mengundang pertanyaan bagi Khiara.


“Tidak Khiara. Mereka benar-benar keep in touch. Namun hanya dengan anaknya saja, tidak dengan mantan suaminya. Dan sayangnya mereka lost contat sejak usia anak mereka menginjak usia 11 tahun. Sepertinya ayah mereka sengaja memutus contact antara ibu dan anak serta saudaranya ini.” Mereka semua menganggukan kepala tanda mengerti.


“Mrs. Seran terus menghubungi mantan suaminya melalui perusahaannya. Namun ternyata perusahaan itu telah berpindah tangan. Mrs. Seran tidak patah semangat dan berusaha mencari putranya tersebut hampir selama 10 tahun. Dan pada akhirnya menemukan petunjuk pada saat-saat terakhir. Yaitu perusahaan MTRC yang saat itu baru berdiri sekitar 5 tahun. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan teknologi.”


“Dijuluki dengan dragon company karena pertumbuhan dan perkembangannya yang pesat," tambah Adit.


“Kau benar, kau yang berkecimpung di dunia bisnis multinational pasti sangat tahu perusahaan itu. Meski perusahaan itu merupakan perusahaan raksasa, tapi pemiliknya sangatlah jauh dari pemberitaan. Bahkan sama sekali tidak pernah muncul di media.”


“Ya, Om Benar.” Adit membenarkannya.


“Dan Om pikir, anak itu bekerja di perusahaan itu sebagai karyawan atau paling tinggi adalah manager, mengingat usianya saat itu masih menginjak awal 22 tahun. Masih sangat muda dan masih fresh graduated. Tapi ternyata tebakan Om salah. Dia adalah ....”


“Founder and Owner MTRC.” Adit memotongnya.


“Dia Owner nya?” Seakan Krisna tidak percaya.


“Ya, Dia adalah pengusaha sekaligus pebisnis muda yang mengerikan. Dia menghandle sendiri perusahaannya. Selain sebagai founder dan owner MTRC, dia juga yang menjabat sebagai CEOnya," jelas Adit.


“Tidak, posisi CEO sudah beralih tangan pada Co-Foundernya. Jika tidak salah namanya Atanael William." Hutama mengkoreksi.


“Ata ...,” gumam Endra dan Khiara secara bersamaan dengan lirih.


“Dia sekarang sedang fokus dengan perusahaan ibunya. Dia membangunnya kembali dengan dana yang disuntikan MTRC, dan bisa membuatnya berjaya kembali dalam waktu 3 bulan saja. Bahkan perkembangannya sangat pesat saat jatuh di tangannya. ”


“Apakah ayah menemui Alexander Smith ini saat bolak-balikpergi ke Amerika waktu itu?” tanya Krisna.


“Ya, menemuinya benar-benar butuh perjuangan. Orang itu tidak mudah untuk ditemui. Bahkan Om harus stay selama seminggu agar bisa bertemu dengannya. Saat itu, Om seperti sedang berhadapan dengan Alexander Sebastian dalam versi yang lebih berkarisma. Muda, tampan dan cerdas.” Hutama tersenyum saat mengenangnya.


“Bagaimana reaksinya saat bertemu dengan Om?” tanya Artha.


“Ekspresi wajahnya tidak bisa di tebak. Tatapannya begitu dingin dan mematikan. Tapi dia mengatakan dia senang bertemu dengan Om. Sepertinya dia sengaja meninggalkan beberapa pekerjaannya yang belum selesai di luar negeri hanya untuk menemui Om," jawab Hutama sambil menerawang kembali ke masa itu.


“Begitu ... lalu menurut Om, apa yang membuatnya bersikap seperti itu? Dia terdengar tidak ramah dengan Om," tanya Khaira mengkirtisi.


“Tidak sayang, dia bukannya tidak ramah dengan Om. Dia seperti itu mungkin karena dia sendiri sudah mengetahui kematian ibunya.”


“Ya, dia sudah mengetahuinya. Mungkin dia bersikap dingin seperti itu untuk menutupi kesedihannya," sahut Hutama mengutarakan pemikirannya.


“Bahkan sampai sekarang dia masih tetap dingin, sepertinya itu memang sifat aslinya. Bukan karena sedang menutupi kesedihannya.” Sanggah Endra. 


"Tidak Endra, sepertinya memang begitu. Itu hanya karena kau belum pernah melihatnya tertawa," ucap Khiara dalam hati.


“Bagaimana dia bisa tahu jika Mrs. Seran telah meninggal?” tanya Krisna.


“Dia mengirimkan orang ke mari selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Dan orang itu melaporkan semua kehidupan Mrs. Seran dan saudara kembarnya padanya tanpa sepengetahuan ayahnya.” 


“Berarti dia pun tahu soal kebangkrutan perusahaan Mrs. Seran?” tanya Adit.


“Ya, dia mengetahuinya.”


“Tapi kenapa dia tidak melakukan apa-apa?” Kali ini Krisna yang bertanya.


“Tidak, dia bukannya tidak melakukan apa-apa. Tapi dia sedang menunggu.”


“Menunggu?” Krisna tidak mengerti dengan maksud menunggu di sini.


“Ya, menunggu dan mengamati seberapa jauh kemampuan saudara kembarnya. Dia tidak akan membantu saudara kembarnya itu dengan mudah. Karena kesuksesan memimpin perusahaan membutuhkan banyak perjuangan. Dengan begitu dia bisa menilai, dari mana dia harus mengajari saudara kembarnya itu.” jelas Hutama lagi.


“Itu terdengar sedikit sombong, tapi ... itu memang benar. Alexander Sebastian tidak akan bisa berkembang jika dia tidak belajar dari kesalahan dan berusaha memeras otaknya. Semua hal yang diawali dengan kemudahan tidak akan bertahan lama.” Adit setuju dengan hal itu.


“Tapi membiarkan perusahaan itu hingga pailit, itu sudah keterlaluan," sanggah Artha.


“Jika dia tidak punya keyakinan dan kekuatan untuk bisa membangun kembali perusahaan itu, mungkin hal itu memang keterlaluan. Tapi jika dia punya keyakinan bisa membangun kembali perusahaan itu dari nol dengan mudahnya, itu bukanlah hal yang keterlaluan. Justru itu akan menjadi kesempatannya untuk mengajari saudara kembarnya bagaimana membangun perusahaan dari nol.” Adit memberikan pembelaan untuk Jester Alexander ini.


“Benar apa yang dikatakan Adit. Dan ... sampailah pada peristiwa itu. Saat itu kami sedang dalam perjalanan ke mari. Dan saat kami mendarat di bandara, Om sudah dihubungi oleh pihak rumah sakit.”


“Bagaimana dengan orang suruhan yang tadi Om bicarakan?” tanya Khiara yang penasaran dengan ke mana orang suruhan Jester Alexander pergi.


“Orang itu sudah membantu semaksimal mungkin saat penyerangan itu. Tapi sayangnya, ternyata nasib Alexander Sebastian tidak beruntung.”


“Jika begitu bukankah seharusnya Om tau jika saat itu Shasha juga terlibat di dalamnya?” tuding Khiara seakan tengah mengintrogasi.


“Tidak Sayang, orang itu hanya memberikan informasi pada Jester. Sedangkan Jester sendiri tidak mengatakan apa pun pada Om. Dia bungkam dan hanya meminta Om untuk merahasiakan kematian saudara kembarnya. Dia akan menggantikannya hingga pelaku utama penyerangan itu ditemukan. Semua yang ada di sini dia ambil alih.” Dan itulah penjelasan panjang mengenai Alexander Sebastian, Alexander Smith dan Jester Alexander.


"Lalu kapan dia akan menangkap pelaku pembunuhan itu dan membongkar identitas aslinya?" Pertanyaan itu meluncur dari kedua bibir Khiara.


...***...