THE ALEXIS

THE ALEXIS
REMEMBRANCE 2



Artha tetap menemani Khiara di dalam mobil, sedangkan yang lainnya mengantarkan Shasha ke peristirahatan terakhirnya. Sejak sadar dari pingsan, Khiara tidak pernah berbicara sama sekali. Tidak ada tanda kehidupan di dalam sorot matanya. Dia terus menatap kosong semua yang ada di depannya. Seolah jiwanya sudah terbawa bersama Shasha ke alam sana.


Kakak tertua Khiara yaitu Kalvin Aldric Mac Louis yang merupakan seorang kapten tentara di Amerika segera kembali ke tanah air setelah mendengar kabar kematian Shasha. Dia membawa seorang bayi bersamanya, yang entah siapa Artha sendiri tidak mengetahuinya. Artha belum sempat berbicara dengannya.


Sepertinya ada dua jenazah yang dimakamkan hari ini. Dari dalam mobil, Artha bisa melihat ada beberapa orang berdiri di dekat makam baru yang berjarak beberapa blok agak jauh di depan sana.


"Tapi kenapa yang mengantarkan hanya sedikit sekali? Apa mungkin yang lainnya sudah pergi?" tanyanya dalam hati.


Setelah beberapa lama, para pelayat pun sudah meninggalkan pemakaman. Adit dan lainnya kembali menghampiri Khiara dan Artha. Artha hanya menggelengkan kepala saat Krisna menanyakan keadaan Khiara dengan isyarat dagunya. Lalu tiba-tiba Khiara membuka pintu mobil dan keluar menuju pemakaman.


“Biar aku yang mengantarnya," ucap Krisna. Artha yang juga sudah keluar dari mobil mengikuti mereka berdua. Karena hanya dia dan Khiara yang belum ke pemakaman.


Mereka memanjatkan doa secara kusyuk untuk Shasha yang sudah terbaring di bawah sana. Khiara tidak terlihat menitihkan air mata sedikit pun di sana. Sorot matanya yang kosong sangat kontras dengan raut wajahnya yang begitu datar. Tidak ada yang bisa menebak apa isi kepala Khiara.


Cukup lama mereka di sana. Artha pun melihat tiga orang pelayat di sebrang sana masih setia di tempatnya. Dan mereka pun masih tetap di tempatnya masing-masing hingga akhirnya Adit dan Endra menyusul mereka. Mereka juga membawa payung karena hujan rintik-rintik mulai turun.


“Kita harus pergi, hujan sudah mulai turun," ujar Endra, tapi tidak ada reaksi dari Khiara. Krisna dan Artha hanya bisa menggelengkan kepala prihatin akannya. Adit menghembuskan nafas beratnya dan menyerahkan payungnya pada Artha. Dengan cepat Adit melayangkan tangannya pada tengkuk Khiara hingga membuat wanita itu pingsan untuk kedua kalinya.


Semua terkejut melihatnya. Namun memang hanya cara ini lah yang bisa dilakukan pada Khiara, jika mereka ingin membawa Khiara kembali ke rumah. Adit menggendong Khiara ala bridal style dengan dipayungi oleh Endra. Artha menyusul di belakangnya. Krisna yang hendak mengikuti para sahabatnya, mengurungkan niatnya ketika dia merasa melihat sosok yang dikenalnya.


“Kalian pergilah dulu. Aku akan menyusul nanti," ujar Krisna pada Artha. Artha segera menyerahkan kunci mobilnya pada Krisna.


“Pakai ini, kami akan memakai mobilmu.” Krisna mengangguk dan bertukar kunci.


Krisna segera membalik tubuhnya dan melihat seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Orang itu berjalan dengan langkah yang cukup tenang. Bahkan menyusupkan kedua tangannya di saku celana.


“Alex, kau... dari mana saja kau?”


Tidak bisa dipungkiri bahwa Krisna terkejut melihat Alex di pemakaman. Bahkan lebih terkejut lagi saat melihat Alex begitu bersih, bebas dari luka-luka perkelahian dan terlihat... sehat-sehat saja.


Apa mungkin luka-luka perkelahian sembuh dalam waktu beberapa hari saja? Luka-luka perkelahian di wajah Alex bahkan sangat parah saat terakhir dia melihatnya. Apa dia menutupinya dengan semacam bedak ajaib?


Alex berhenti di depan Krisna. Matanya menatap rombongan orang yang telah menjauh di belakang Krisna. Dia tidak tahu siapa mereka. Dia hanya mengenali Krisna.


Sebenarnya Alex sudah akan meninggalkan area pemakaman ini. Namun segera menyuruh Ata dan pengacaranya untuk pergi terlebih dahulu setelah matanya menangkap sosok Krisna. Dia melewati mobilnya dan menyebrangi jalan pemisah block pemakaman dan menuju ke block pemakaman di depannya.


“Kau... baik-baik saja?”


Suara Krisna membuatnya memalingkan wajahnya ke arah pria itu. Pria itu masih memandangnya dengan raut muka terkejut.


“Emh.”


“Apa kau dari makam ibumu?”


“Emh.” Well, Alex tidak sepenuhnya berbohong. Komplek pemakaman di sebrang sana memang tempat di mana ibunya di makamkan.


Krisna merasakan perbedaan yang signifikan dalam diri Alex. Terutama sorot matanya, sorot mata itu begitu gelap dan dingin. Bak pembunuh berdarah dingin. Dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Dia menatap Alex lebih intens, menelisik apakah dia masih seorang Alex yang dia kenal? Karena dia merasa begitu asing dengan Alex yang berdiri di depannya saat ini.


Gaya rambut yang biasanya turun menutupi dahinya, kini dinaikan ke atas memamerkan dahinya yang keras. Membuatnya terlihat lebih berkarisma dari sebelumnya. Sungguh, penampilan Alex benar-benar berbeda dari yang sebelumnya.


Dan... sejak kapan Alex menggunakan anting di salah satu telinganya?


Apakah seseorang bisa berubah begitu drastis dalam beberapa hari saja? Mungkin memang bisa. Bahkan seseorang bisa berubah menjadi monster dalam hitungan detik, jika sebuah peristiwa mengerikan menimpanya.


Dan hari ini mungkin merupakan ******* bagi Alex. Krisna benar-benar menyesal dengan semua kejadian yang menimpanya.


Alex yang telah beralih pada gundukan tanah yang masih basah di sebelah kanannya, menaikkan sebelah alisnya saat melihat tulisan yang tertoreh di atas nisan.


“Dia...??” Krisna menangkap sedikit raut keterkejutan di sana.


“Maafkan aku," ujar Krisna dengan penuh penyesalan.


“Kenapa kau harus minta maaf?”


“Karena aku tidak bisa menjaganya sesuai dengan permintaanmu beberapa hari yang lalu.” Alex tidak menanggapi ucapannya.


Alex menatap foto Shasha di tengah-tengah karangan bunga di depan nisan dengan tajam. Krisna tau bagaimana perasaan Alex saat ini. Pastilah sangat hancur seperti halnya Khiara. Tapi wajah itu tak menunjukan kesedihan sama sekali. Wajah Alex benar-benar tak terbaca oleh Krisna. Sama seperti halnya Khiara.


"Jadi ini kah akhir kisah cintanya? Berarti aku tidak harus menjagamu di dunia ini. Beristirahat lah!" ucap Alex dalam hati lalu meninggalkan makam itu tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Krisna.


“Tunggu! Dari mana saja kau? Kenapa kau menghilang begitu saja setelah mengantarnya ke rumah sakit?”


“Mengurus para bedebah itu.” Ucapan Alex membuatnya terkejut.


Apa yang Alex lakukan pada mereka?


Terlepas dari apa pun yang Alex lakukan, para bedebah itu memang patut mendapatkan hukuman. Sekali pun itu kematian, mengingat mereka juga telah mengakibatkan kematian pada seseorang.


Krisna menatap kepergian Alex dengan mata nanar. Kini ada dua orang yang sedang hancur hidupnya karna kematian seseorang.


...***...