THE ALEXIS

THE ALEXIS
GAVE BIRTH



“Bahkan aku pun melamarnya saat itu.“ Adit menoleh pada Alex, ingin melihat bagaimana reaksi Alex ketika pria itu mendengar bahwa dia telah melamar Khiara.


Tidak ada perubahan diwajah pria di sampingnya ini. Dia tetap terlihat begitu datar. Bahkan arah pandangannya pun sudah beralih ke bawah sana. “Kau tidak masalah jika aku pernah melamar wanita mu?“ tanya Adit yang akhirnya memilih untuk mengutarakan rasa penasarannya.


“Kau melamarnya, dan kau sudah ditolak olehnya. Lalu apa yang harus ku permasalahkan?“ jawab Alex yang memang begitu adanya. Adit tersenyum di sudut bibirnya. Sepertinya dia memang tidak bisa memancing Alex.


“Tapi lain halnya jika kau berhasil menikahinya.“ Kini Alex menegakkan tubuhnya dan kembali menelusup kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku akan merebutnya darimu,” ujarnya seraya menoleh pada Adit.


“Merebutnya? Aku yakin tidak akan menyerahkan Khiara padamu dengan mudahnya,” balas Adit.


“Maka kita akan menjadi rival yang sempurna.“ Aditya tergelak.


Ya, Alex memang benar. Mereka berdua akan menjadi rival yang sempurna. Sama-sama berkuasa, sama mencintai satu wanita, dan sama-sama menginginkan Khiara. Adit sendiri tidak bisa menebak siapa yang akan menjadi juaranya jika mereka benar-benar menjadi rival.


Meskipun seandainya dia satu langkah di depan Alex dengan berhasil mempersunting Khiara, dia tidak yakin dirinyalah yang akan keluar menjadi juara. Karena hati wanita pujaannya, hanya terpatri untuk seorang pria. Adit menatap pria di sampingnya dengan sebuah senyum kembali menghiasi sudut bibirnya.


“Kau tidak mau bertanya apa yang akan ku lakukan jika kita menjadi rival?“ pancing Alex.


“Tidak!“ tolak Adit. “Kita kembali ke pembahasan saja,” lanjutnya. Alex menyetujuinya gerakan kepala.


“Lalu bagaimana dia menghadapi keluarganya?“


“Kak Kalvin pulang ke LA tepat dua hari sebelum Khiara melahirkan. Saat itu aku sempat kena bogem mentah darinya, karena mengira aku telah menghamili adiknya. Tapi Khiara berhasil menjelaskan pada kakaknya, bahwa itu bukan anakku.“ Adit mengingat kembali masa-masa itu.


“Dan saat itu juga Khiara sudah mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Jika aku sendiri mungkin aku sudah sangat panik menghadapinya. Khiara selalu saja menggigit bibirnya dan menyentuh pinggangnya. Dia pun sering berjinjin dan mendorong pinggulnya, sesekali dia berteriak saat sudah tidak mampu menahannya,” Adit menggambarkan bagaimana wanita yang mereka cintai itu menderita.


“Seharusnya Khiara menjalani operasi sesar karena kehamilannya termasuk dalam kehamilan resiko tinggi.“


“Resiko tinggi?“ tanya Alex yang hatinya seperti dicubit oleh tangan tak kasat mata.


“Ya, kehamilan Khiara sangat beresiko. Pertama karena usia Khiara masih sangat muda waktu. Bahkan usianya belum mencapai sembilan belas tahun. Kedua dia mengalami Plasenta Previa, di mana plasenta janin menutupi hampir sebagian besar jalan lahir. Dan yang terakhir Khiara memiliki mata miopi hingga minus delapan, dan sangat bersiko jika menjalani kelahiran normal.“ Adit kembali menjelaskan.


“Makanya dokter menyarankan untuk melakukan operasi sesar. Tapi ternyata anakmu itu sangat tidak sabaran, karena dia meminta untuk segera keluar ke dunia sebelum waktunya tiba. Dua bulan sebelum hari ditetapkan untuk operasi.“


“Dua bulan? Itu artinya ....“


“Ya, bayimu lahir prematur. Beratnya saja hanya dua kilo saat itu,” jelas Adit.


Alex menatap Adit dengan embun yang menghalangi penglihatannya. Dadanya bergemuruh, namundia masih mendengar kelanjutan dari penjelasan Adit setelah bertanya, “Kenapa dia bisa lahir prematur?“


“Pendarahan?“ Alex sudah tidak bisa lagi menampakkan wajah datarnya. Adit bisa menangkap raut keterkejutan dari wajah lawannya. Mata itu itu membesar dari sebelumnya, guratan-guratan merah nampak jelas di matanya, bahkan tubuh itu seakan menegang dengan setiap otot-ototnya yang mengeras.


“Ya, Khiara mengalami pendarahan hebat setelahnya. Bahkan kami hampir kehilangannya.“


“Kita bicara lagi setelah ini,” ujar Alex sambil menepuk pundak Adit, kemudia berlalu melewatinya. Kini Alex sudah tidak bisa lagi menahannya. Dia mengusap air matanya dengan kasar lalu berlari meninggalkan Adit.


Beberapa saat Adit masih tetap diam pada posisinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas menunjukkan kelegaan yang luar biasa. Akhirnya dia bisa merelakan Khiara untuk lawannya. Dia telah mengikhlaskan Khiara pada orang yang tepat.


Pria itu segera memutar tubuhnya dan menatap punggung Alex yang mulai menghilang dari balik dinding pintu masuk. Adit tahu bahwa Alex sangat mencintai Khiara, bahkan sanggup menjaganya melebihi dirinya dan Vita Dolce lainnya.


...***...


Alex yang terburu-buru pun terpaksa harus menghentikan langkahnya karena ada seseorang yang tengah menghadangnya. Sosok mata orang itu begitu nyalang mengarah kepadanya. Tanggannya mengepal dengan erat hingga urat-urat venanya menyembul dengan sempurna di balik kulit lengan dan wajahnya.


Alex segera menahannya dengan sebelah tangannya begitu kepalan tangan itu melayang ke arahnya, sehingga kepalan itu masuk ke dalam cengkramannya.


“Dasar brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh Khiara!“ desis orang itu. “Aku tidak akan pernah memaafkanmu!“


Alex masih menahan dorongan tangan yang begitu kuat itu. Tidak hanya pria di depannya ini, namun dirinya pun juga diselimuti oleh amarah karena ada orang yang berani menahan langkahnya. Apalagi di saat dirinya tengah diburu oleh waktu.


Saat ini wanitanya tengah terbaring di kamarnya. Dia sangat membutuhkankannya ada di sampingnya. Dan dia harus segera meredakan demam pada tubuh wanitanya sebelum Khiara semakin tersiksa. Tapi sekarang orang ini justru membuatnya membuang wantu hanya untuk meladeninya.


Alex bersumpah tak akan pernah lagi membiarkan wanita pujaan hatinya itu melewati setiap rasa sakit yang dideritanya tanpa dirinya pun segera mengempaskan tangan lawannya.


“Menyingkirlah! Jangan menghalangi langkahku!“ sergahnya dengan nada penuh penekanan. Dia masih menghargai pria di depannya ini sebagai sahabat dari wanitanya, jadi sebisa mungkin dia mengontrol emosinya.


“Hah, kau kira kau bisa melewatiku semudah itu?“ Pria itu terdengar begitu angkuh ditambah dengan seringai di sudut bibir kanannya.


“Aku tidak ada waktu untuk meladenimu.“ Nada bicara Alex terdengar tenang meski tububya tengah memanas karena terbakar oleh api amarah.


“Kalau begitu kita lihat, masihkah kau bisa mengatakan itu ...“ Orang itu kembali melayangkan tinju ke arah Alex. Dan saat itu pula terdengar suara menggelar dari balik tubuh Alex.


“Hentikan!“ perintah Adit sebelum tinju itu berhasil menyentuh pipi Alex. “Turunkan tanganmu! Beri jalan padanya, dia harus segera menemui Khiara.“ Apa yang diucapkan oleh Adit membuat orang itu menurunkan tangannya dengan rasa enggan.


Alex pun segera melangkah pergi meninggalkan mereka di belakangnya.


...***...