
Peristiwa itu kembalil terulang dalam mimpi. semuanya terasa begitu nyata. Kegelisahan, ketakutan, dan kekalutan menyelimutinya. Peluh keluar di seluruh tubuhnya. Ia mendengar seseorang memanggilnya berulang kali, berusaha untuk membangunkannya. Dan tiba-tiba saja, ia bangun terlonjak dari tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" Dengan spontan ia memeluk pria di depannya. "Tenanglah, aku di sini. Kau akan baik-baik saja!“ Pria itu berusaha menenangkan dan memeluknya dengan hangat.
Nafas Khiara yang tersengal-sengal berangsur-angsur mulai stabil. Pria itu masih terus menenangkannya, mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Kini aroma fresh dari sabun mandilah yang tercium di hidungnya.
“Pria ini usai mandi,” tebak Khiara dalam hati.
"Kau mau minum?" Perlahan Khiara melepaskan pelukannya dan mengambil air putih yang disodorkan. Ia minum dengan perlahan.
"Di mana ini?" tanya Khiara sambil menyerahkan gelasnya.
"Hotel,” jawab pria itu ringan. Khiara mengedarkan pandangannya. Baginya, ini lebih tepat disebut dengan pentehouse. "Kau bisa tinggal disini sampai kapan pun kau mau."
Khiara bukannya orang yang tak tahu diri, dia sangat sungkan jika harus tinggal di tempat sebesar dan semewah ini. Pria ini sudah banyak menolongnya, dan kali ini terasa berlebihan baginya. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, terlebih lagi ia tidak ingin berhutang budi lebih banyak lagi pada pria ini.
Khiara menggelengkan kepalanya perlahan, "Aku tidak ingin tinggal di sini. Aku akan mencari tempat lain."
"Bagaimana? Bagaimana caranya kau mencari tempat lain malam-malam begini?"
Khiara tersadar, ia memang tidak akan bisa mencari tempat tinggal lain malam ini. Seluruh barang-barangnya hilang entah kemana. Bahkan ponsel dan dompet pun ia tidak memegangnya.
"Tidak usah keras kepala, tinggallah di sini. Kau bisa tidur di sini, aku akan menjagamu di sana,” ujar pria itu sambil menunjuk sofa di dalam kamar ini dengan ibu jarinya.
"Kau ... tidur di sofa?"
"Emh ... kau ingin aku di sampingmu?"
"Terserah, sesuka hatimu,” jawab Khiara dengan sesenyum simpul yang begitu singkat.
Lagi pula Khiara juga sudah tidak perduli dengan dirinya sendiri. Pria itu seakan tidak masalah dengan apa pun jawaban Khiara, dia mengambil ponsel dan mulai mengecek sesuatu di dalam ponselnya.
"Aku ingin ke kamar mandi,” ujar Khiara hendak turun dari ranjang. Tapi dengan sigap pria itu menahan tangan Khiara meski masih serius berkutat dengan ponselnya.
"Jangan mandi!" sergahnya dengan singkat. Hal itu membuat kening Khiara berkerut. "Jejak orang itu masih menempel di tubuhmu. Jika kau mandi jejak itu akan hilang, kau tidak akan bisa melakukan tes DNA untuk menjerat orang itu."
“Pria ini, pria ini berfikir sejauh itu?“ pikir Khiara dalam keterkejutannya.
Khiara tidak tahu saja bahwa dia sudah melakukan test DNA. Pria itu mengatakan hal seperti itu hanya karena ingin mencegahnya melakukan hal-hal buruk di kamar mandi.
Seperti mandi berlama-lama untuk membersihkan kotoran yang dia pikir tidak akan hilang dengan mudahnya yang pastinya akan membuat Khiara masuk angin. Atau menyakiti diri seperti di mobil tadi selagi tak di pantau oleh pria ini. Atau yang paling parah bisa saja di mencoba untuk bunuh diri.
"Aku akan menghubungi tim dokter kemari,”ujarnya sambil men-dial up sebuah nomor di ponselnya.
Apa yang dilakukan pria itu membuat hati Khiara tersentuh. Seulas senyum kecil terpatri di bibir mungilnya. Dan di saat itulah, meski samar-samar ia bisa memetakan bentuk wajah pria itu. Ada beberapa luka di wajah pria itu.
"Jangan melihatku seperti itu! Kau bisa jatuh cinta padaku nantinya,” celetuk pria itu asal tanpa menoleh sedikit pun pada Khiara.
“Yes I have,” ujar Khiara dalam hati.
"Kau tidak perlu melakukan ini, aku tidak ingin menjalani test DNA,” ujar Khiara.
"Tapi itu bisa menjadi bukti akurat untuk menjeratnya."
"That jerk, I know him. And I won't hand him over to the police." Dahi pria itu berkerut. "I have my own way. ini urusanku dengannya, kau tidak perlu ikut campur untuk selanjutnya."
"Kau takut dengannya?" Khiara menggeleng pelan.
"Tidak. Tapi saat ini, yang jelas aku sangat membencinya." Kalimat itu membuat pria itu berfikir bahwa sebelum ini pastilah perasaan Khiara pada orang itu spesial.
"Apa dia pacarmu?"
"No."
"And then?"
"Kami teman satu sekolah. Tapi sangat jarang berkomunikasi. Entah bagaimana kami mendapatkan beasiswa student exchange di tempat yang sama." Dahi Khiara berkerut memikirkannya, bagaimana bisa?
Pria itu menjentikkan jari di depan wajah Khiara setelah beberapa saat Khiara tidak melanjutkan ceritanya. "Dia sudah mengincar ku rupanya,” celetuk Khiara diikuti dengan seringai pahit.
"Mengincar mu?"
"Sekolah kami selalu mengirimkan murid untuk student exchange setiap tahunnya. Dan kuotanya satu orang setiap negara. Jadi tidak mungkin ada dua orang yang dikirimkan dalam satu negara yang sama. Tapi dia bilang dia juga mengambil student exchange di sini, satu kota lagi." Khiara merutuki kebodohannya dalam hati. "Dan kau tadi juga pasti menyadari, seluruh teman-temannya bukanlah orang asli sini." Yah, mereka adalah teman-temannya di tanah air.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Pria itu mulai mengerti alur cerita dari peristiwa ini. Khiara tersenyum simpul mendengarnya.
"Untuk saat ini, aku hanya ingin menghapus jejak orang itu dari tubuhku. Aku benar-benar merasa jijik dengan diriku sendiri." Pria itu mengangguk pelan. “Apa kau punya kekasih?” Pria itu mengerutkan dahinya. Merasa heran dengan pertanyaan Khiara. Tapi kemudian menggelengkan kepala.
“Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya pria itu dengan heran. Karena ini keluar dari konteks pembicaraan mereka.
"Tadi kau melarang ku untuk mandi, jadi sekarang aku ingin kau menghapus seluruh jejaknya dari tubuhku." Pria itu kembali berkerut.
"Kau tidak harus melakukan ini." Pria itu tahu apa yang dimaksudkan oleh Khiara dengan menghapus jejaknya.
Mungkin pria itu berfikir cara yang dimaksudkan oleh Khiara itu akan lebih melukai Khiara, tapi tidak dengan Khiara sendiri. Khiara justru merasa ingin melakukan ini. Baginya ini yang disebut dengan trauma healing.
"Does it hurt?" Khiara meraih wajah pria itu dan meraba luka di ujung bibirnya.
Pria itu bisa menangkap air mata yang menggenang di pelupuk mata Khiara. Sebelum pria itu sempat menjawab, Khiara sudah mencium luka itu dengan rasa penuh permintaan maaf di dalamnya sambil memejamkan mata. Membuat air mata itu lolos terjun bebas melintasi pipinya. Hatinya terasa pedih melihat luka-luka itu. Khiara bisa merasakan gestur keterkejutan pada pria itu.
"Maafkan aku ... maafkan aku karena kau jadi terluka karenaku.“Pemintaan maaf yang tulus serta rasa terima kasih yang begitu besar pada pria itu, membuat Khiara rela menyerahkan hati dan jiwanya pada pria itu.
"No ... this is nothing,” sahut pria itu meraih wajah Khiara dan kembali menyeka air mata itu. Khiara tersenyum kecut mendengarnya, ia tahu bahwa luka itu sangat menyakitkan. Khiara kembali mencium pria itu, namun kini ia menciumnya tepat di bibir.
"Please ...,” pinta Khiara di sela-sela ciuman halusnya.
...***...