THE ALEXIS

THE ALEXIS
PINE



Mimpi buruk berulang kali datang dalam tidurnya beberapa hari ini. Entah apa yang sedang terjadi padanya. Yang jelas, kini tubuhnya memang sedang dalam keadaan tidak baik. Ditambah lagi mimpi-mimpi itu semakin memperburuk keadaannya saja.


Sudah berapa lama ia tertidur? Rasanya tubuhnya seperti remuk digilas truck belasan ton. Perlahan ia membuka kelopak matanya, namun saat ingin menggerakkan tubuhnya, gerakannya tertahan oleh hangatnya kulit yang menyelimuti tubuhnya.


Ia menoleh ke belakang, dan ia telah disambut dengan tatapan lembut namun sangat menusuk. Ini, sama persis dengan apa yang dialaminya empat tahun lalu. Hanya saja, kini ia dapat melihat wajah itu. Wajahnya yang begitu dekat, terlihat begitu jelas.


Wajah yang begitu dingin, namun terlihat begitu frustasi dengan mata yang tajam namun sarat akan kerinduan. Khiara bisa membaca semua emosi yang bergejolak dari raut wajah ini.


Khiara membalikkan tubuhnya. Ia yang tadinya ingin meneriakinya, kini justru terbius dengan sang pemilik rupa. Ia tidak suka membaca emosi dalam diri pria di depannya. Ia benci mengetahuinya. Alangkah baiknya jika Alex menampakkan wajah tripleksnya yang tidak berperasaan di depannya.


Tapi tidak! Khiara justru melihat ketulusan dan kejujuran di mata itu. Perilaku mungkin bisa menipu, tapi tidak dengan mata itu. Rindu yang menggebu, disertai gejolak jiwa yang membara, semua tercetak jelas di dalam sana. Ternyata, tidak hanya dirinya yang tersiksa.


Perlahan ia menelusuri rahang yang begitu tegas ini dengan jemarinya yang panjang. Setelah beberapa lama menyelami momentum ini, akhirnya Khiara membuka suara dengan seringai jahat seraya berdesis, “pervert!”


“I can be pervert for you, baby.” balas Alex menanggapi desisan Khiara. Khiara menghela nafas untuk menenangkan dirinya.


“Kenapa kau di sini?” tanya Khiara yang tak ingin lagi basa-basi.


“Kau yang membuatku ada di sini.” Kening Khiara berkerut mendengarnya.


“Me? What I’ve done?” Khaira sedikit berfikir. “Just because I lay down here?” Alex memberikan anggukan kecil. “Kenapa kau begitu memperdulikan ku? Bukankah kau sedang ada kencan dengan Nadya?”


“Are you jealous?”


“I’m not.”


“Yes, you are.” Sebelum Khiara sempat menjawab, Alex sudah meneruskan kata-katanya. “I'm sorry for everything, Honey. Maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan dan menjauhi mu hanya karena terbakar api cemburu.“


“Cemburu?“ Jelas telihat kerutan halus di kening Khiara. Memang apa yang membuat Alex bisa cemburu padanya?


“Ya, aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Aditya. Aku cemburu saat melihat Aditya tidur di pangkuanmu.“ Kerutan di dahi Khiara terlihat semakin dalam. Seolah dia tengah mengingat-ingat kembali.


“Ah, saat di cafe depan bandara maksudmu?“ tanya Khiara untuk mengkonfirmasi apakah tembakan benar atau salah. Dan dibalas anggukan oleh Alex. Khiara pun menghela napas. “Bagaimana kau bisa tahu?“ Khiara kembali bertanya.


“Nadya yang memperlihatkan video rekaman kalian berdua,” jawab Alex apa adanya.


“Nadya? Nadya ada di sana?“ gumam Khiara.


“Ya, dia ada di sana.“


“Lalu sekarang sudah tidak cemburu lagi?“ Alex menggelengkan kepala, bahkan dia pun pempererat pelukannya. Apa yang dilakukan Alex membuat Khiara melenguh karena pria itu pun juga menelusupkan wajahnya ke curuk leher Khiara. “Lex ...,” protes Khiara sembari menjauhkan wajah tampan itu dari tubuhnya.


“Aku merindukan mu, Sayang!“ rengek Alex yang kembali bersikap manja pada Khiara.


“Rindu? Kalau rindu kenapa sok-sokan cemburu?“ cibir Khiara.


Kali ini bukan lagi di leher wanitanya tapi di belahan dada wanita yang telah resmi menjadi calon istrinya. Meskipun dia belum memberikan cincin untuk Khiara, tapi sebentar lagi dia akan memasangkannya di jari manis wanitanya.


“Lalu ... apa yang membuat mu tidak lagi cemburu?“ Khiara kembali bertanya dan kembali menjauhkan wajah pria di depannya.


“Emm ... karena aku sadar aku telah bertingkah kekanak-kanakan. Para sahabatmu tentu sudah menjaga mu di saat masa susahmu. Mereka yang sudah mendampingi mu di saat tidak ada aku di sisimu. Dan kedekatanmu dengan mereka pastilah hanya sebatas sahabat semata, tidak lebih. Benar, 'kan?“ Alex menegaskan di akhir kalimatnya dengan pertanyaan.


Khiara tidak menjawab, dia justru seperti menahan tawa. Salah satu sudut bibirnya seperti tertarik, dan dahinya pun berkerut. Dia merasa sangat lucu dengan tingkah Alex yang sedikit memaksa namun terkesan manja.


“Kau salah, mereka lebih dari sekedar sahabat.“ Ucapan Khiara membuat wajah Alex berubah. Tapi perubahan wajah Alex justru membuat Khiara semakin bersemangat untuk memanasinya. “Mereka bahkan sudah di dalam hatiku sejak sangat lama.“


“Kau hanya bisa memilih satu pria, Khiara!“ desis Alex dengan penekanan di akhir ucapannya.


“Benarkah? Kurasa tidak.“


“Ya, Khiara. Kau hanya bisa menempatkan satu pria di hatimu! Jika tidak maka akan kubuat hanya ada aku di hatimu!“ Alex benar-benar serius dengan ucapannya. Dia sangat tidak suka dengan ucapan Khiara. Bukankah dulu dia pernah bilang pada Khiara bahwa Khiara adalah miliknya seutuhnya?


“Satu pria ya? Kalau begitu kau bukanlah kandidat yang kuat.“ Kini Khiara bisa melihat kedua rahang pria itu mulai mengeras. “Why you leaved me alone?“ Khiara langsung menembak Alex dengan sebuah pertanyaan yang serius.


“I never leaved you ....“


“Li-ar!” sanggah Khiara memotong kalimat Alex. Kening Alex berkerut mendengarnya. “Four years ago, you leaved me alone in your penthouse.“


“Sayang ... Kau sudah mengingatku?“ Raut wajah keterkejutan bercampur dengan kegembiraan tergambar di wajah Alex. Khiara seketika terdiam, senyum getir terpahat di bibirnya.


“It’s you, it’s really you ....“ Air mata mulai menerobos keluar membasahi pipi mulusnya. Dengan lembut Alex mengusapnya. “Katakan! Apa kau mengenaliku selama ini?”


Khiara merasa begitu bodoh. Selama beberapa bulan ini dia telah bersanding dengan malaikat penyelamatnya, namun dia sendiri tidak mengetahuinya. Pantas saja tubuhnya tidak mengalami penolakan saat pria ini menyentuhnya. Tubuh dan hati tak bisa mengingkari meski mata tak bisa mengenali.


“Emh, of course.” Jawab Alex sambil mengusap-usap pipi Khiara dengan lembut. “Meski awalnya kukira kau hanya orang yang mirip.” Terjawab sudah atas perubahan sikap Alex padanya yang begitu drastis saat pertama kali Khiara menginjakkan kaki di kampus. Air mata Khiara semakin menjadi-jadi. Alex merengkuh wajah Khiara ke dalam dada bidangnya.


“Kau jahat! Kau brengsek! Aku membenci mu!“ Khiara memaki Alex dan meluapkan seluruh emosinya pada pria itu. Dan Alex tetap mendekapnya dengan erat. Tak dihiraukannya tangan Khiara yang terus memukuli punggungnya.


“Aku tahu, maafkan aku ....“


“Kau mengenaliku tapi kau tak mengatakannya padaku! Apa kau tahu kalau aku hampir gila karena menunggu mu? Menunggu kepulanganmu di istana megahmu! Aku terus menunggu mu tanpa ada kepastian dari orang-orangmu!“ teriak Khiara di sela-sela tangisnya.


Khiara benar-benar meledak. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini. Haru, pilu, rindu bercampur menjadi satu. Di satu sisi dia bersyukur karena malaikat penolongnya masih bernapas, dan bahkan kini bisa memeluknya dengan erat. Tapi di sisi lain dia juga marah karena pria itu tak mengatakan padanya siapa dirinya.


“Maaf ... kukira kau juga mengenaliku. Aku tidak tahu jika kau punya mata minus waktu itu. Yang terlintas di benakku adalah kau marah padaku karena berfikiran aku telah meninggalkan mu. Makanya kau berniat untuk balas dendam padaku dengan muncul di gunung waktu itu.“


Khiara menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Mana mungkin aku berfikir seperti itu sementara aku tahu kepergianmu untuk menantang maut. Rasanya Khiara ingin meneriakkannya, namun apa daya karena kini suaranya seakan menghilang dari tenggorokannya.


***