THE ALEXIS

THE ALEXIS
THE TRUTH



Setelah memutuskan penyadap dan pelacak itu, Khiara kembali menatap kelima orang di depannya. Kini dia duduk di singgasana milik Oh Hutama. Jangan dikira Khiara tak tahu apa-apa, dia sangat tahu kalau dirinya tengah dipantau oleh Alex.


Dia tidak suka ada yang menguping pembicaraannya. Dan setelah ini dia akan membuka kembali akses untuk Alex agar bisa melacaknya. Tapi tanpa menyadapnya.


“Well, aku minta maaf pada Artha dan Krisna karna tidak memberi tau kalian terlebih dahulu mengenai hal ini.”


“Lupakanlah, kami sudah tahu alasanmu," balas Krisna.


“Baiklah. Aku sudah mengurungkan dan melupakan rencana balas dendamku sejak beberapa waktu lalu.” 


“Balas dendam? Balas dendam soal apa, Sayang?” Hutama terlihat cemas.


“Balas dendam pada orang yang sudah menelantarkan Shasha.” Kening Hutama berkerut. “Dan orang ini adalah orang yang sangat Om kenal," lanjut Khiara.


“Orang yang om kenal?” tanya Hutama lagi dengan penasaran.


“Ya, dan aku ingin mengetahui kebenarannya. Siapakah dia sebenarnya. Karena dia adalah orang yang terikat dengan kami semua.” Ucapan Khiara membuat Hutama semakin bertanya-tanya. 


“Sejak pulang dari Paris, aku langsung menyelidiki sebuah panti asuhan yang menurut informasi, merupakan tempat di mana orang itu di adopsi," lanjutnya.


“Kau sudah menyelidikinya sejak saat itu?” Khiara mengangguk atas pertanyaan Endra.


Khiara melirik Adit, ini semua berkat pria tampan itu. Seandainya saat itu Adit tidak menyuruhnya untuk mengenali lebih dalam siapa lawannya, mungkin Khiara sudah pasti kecolongan.


“Aku memang telah meretas semua data di panti asuhan itu sebelumnya. Semua data memang membernarkan bahwa orang itu berasal dari panti asuhan tersebut. Tapi ... ada satu fakta yang kudapat ketika aku mengunjungi panti asuhan itu secara langsung.”


Khiara teringat saat mengunjungi panti asuhan itu dengan keadaan kaki yang masih sedikit pincang karena terkilir. Dia mengaku sebagai istri Alex untuk mengorek informasi dari panti tersebut. Well, Khaira memang ahli dalam masalah acting dan penyamaran seperti itu. Yang sedikit sulit adalah menghilang dari hadapan Alex tanpa orang itu mencari keberadaannya.


“Apa?” Krisna tak sabar bertanya.


“Anak itu bukanlah anak panti, dia adalah anak kandung ibunya. Dan ibunya bekerjasama dengan panti tersebut untuk membuatkan identitas bagi anaknya," jelas Khiara.


“But, why?” Kini Endra yang bertanya.


“Karena anak itu adalah anak tanpa ayah yang dilahirkan di luar negri oleh ibunya.” Semua bisa menerima alasan ini.


“Dia bukan anak tanpa ayah, Sayang.” Hutama menyanggah. “Di dunia ini tidak ada anak yang terlahir tanpa ayah, kecuali Nabi Isa.” Khiara tersenyum.


“Yah, itu benar.”


“Di sini, apakah yang kalian maksud adalah Alexander Sebastian?” Hutama sudah bisa membaca arah pembicaraan mereka. Dan semuanya mengangguk. 


“Om, sama sekali tidak tahu jika Alex ternyata ada sangkut pautnya dengan Shasha. Om tidak pernah ikut campur dengan urusan pribadinya. Dan Krisna, maafkan ayah. Ayah berhutang maaf padamu. Karena telah menyembunyikan hal yang sangat besar dan mungkin akan memukulmu.”


“Aku tau, Ayah. Soal kematian Alex, 'kan?” Hutama terkejut dengan pernyataan anaknya. “Aku sudah tahu bahwa dia sudah tidak ada. Aku juga sudah menerimanya, yang kini kubutuhkan adalah penjelasan dari ayah.”


“Kau sudah tahu?” Krisna mengangguk.


“Aku, Adit dan Endra tahu berkat penjelasan Artha. sedangkan Khiara ....” Semua menoleh ke arah Khira. Wajahnya begitu datar, tidak ada ekspresi keterkejutan di sana. Menandakan bahwa Khiara juga sudah mengetahuinya.


“Kau sudah mengetahuinya?” Khiara menoleh pada Adit dan menganggukan kepala. “Dari mana kau tau?”


“Jika kau tak keberatan," sahut Endra.


“Bisa dibilang itu sebuah ketidaksengajaan.” Khiara menghela nafas. “Aku mengunjungi makan Mrs. Seran setelah dari panti asuhan dan ... di sebelahnya ....”


“Makam Alexander Sebastian," ujar Hutama.


Khiara menatap lurus ke arah Hutama dan menganggukan kepalanya sekali dengan perlahan sebagai tanda pembenaran.


Flash back on ...


Sebenarnya yang membuat Khiara ingin kembali ke makam adalah karena saat meninggalkan makam Shasha, dia seperti melihat seseorang sedang berziarah ke makam yang berada di block pemakaman yang berada di sebrang block pemakaman Shasha. 


Khiara sendiri merasa tidak asing dengan sosok itu. Alex? Itu lah yang terlintas di benaknya. Orang itu begitu jauh darinya, sehingga dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi dia yakin bahwa itu adalah Alex. Dan ia teringat seseuatu, bahwa makam ibu Alex ada di sekitar sana.


Di sana dia benar-benar menemukan makam Mrs. Seran. Dan itu setelah dia mengetahui keberadaan makam Alexander Sebastian. Dari jauh dia hanya melihat ada dua makam yang diberi sebouquet bunga di masing-masing gundukan. Dan saat mendekat, betapa terkejutnya Khiara saat membaca nama yang tertera pada batu nisan tersebut.


Seakan hal itu hanya mimpi di siang hari, Khira pun mengucek matanya dan mempertajam penglihatannya. Siapa tahu dia sedang dibawa ke alam lain oleh jin penunggu pemakaman itu. Tapi hal itu tidaklah berubah, nama yang tertera di sana memanglah Alexander Sebastian.


Lalu Khiara melirik makam di sebelahnya. Makam Mrs. Seran Sebastian. Dan tiba-tiba saja otaknya berputar ulang begitu saja seperti kaset.


Segala kemungkinan samar yang selama ini tidak mungkin dan dia anggap sebagai omong kosong belaka menjadi begitu jelas dan nyata. Semua hal itu memang benar. Alex yang sekarang, bukanlah Alex yang dulu. Mereka adalah orang yang berbeda. 


Dan orang itu mengantikan posisinya, menggantikan Alexander Sebastian untuk tetap eksis di dunia. Dan mengurus perusahaannya. Pertanyaannya adalah, siapakah dia? Dan apa tujuannya?


Khiara membuka ponselnya untuk melihat foto yang pernah Shasha kirimkan padanya. Mereka benar-benar mirip. Bagai pinang dibelah dua. Apa kalian berdua kembar? Jika benar, mereka merupakan kembar identik. Dan jika tidak, oprasi plastik yang dilakukan benar-benar mengesankan.


Benar-benar tidak ada perbedaan di antara keduanya. Mungkin yang sedikit membedakan adalah Alex yang sekarang terlihat lebih dewasa, lebih tegas terutama dibagian rahangnya, terlihat lebih berkarisma serta dingin dan gelap. Tapi dia kira, itu hanya perubahan struktur wajah karena umurnya yang semakin dewasa.


Rangkaian bunga tulip putih yang tergeletak di atas gundukan makam itu membuatnya menyadari sesuatu. Apakah yang memberikan bunga-bunga itu adalah Alex yang dikenalnya sekarang? Jika benar, maka dia pasti mengerti filosofi dibalik berbagai macam bunga.


Rangkaian bunga yang diberikan untuk Alexander Sebastian dan Mrs. Seran Sebastian adalah rangakain bunga yang berbeda. Di atas makam Mrs. Seran, ada sebouquet rangkaian bunga lili pink dan mawar orange dengan ukuran lumayan besar. "Sungguh karangan bunga yang sangat cantik," pikirnya.


Bunga lili pink merupakan bunga yang menggambarkan kekayaan dan kemakmuran. Tapi Jika diberikan kepada seorang ibu, maka itu menggambarkkan rasa hormat seorang anak pada ibunya dan mengungkapkan betapa cantiknya rupa dan hati sang ibu.


"Sedangkan mawar orange ... dia bangga pada ibunya." Khiara menilainya dalam hati. Dan sebuah senyum bangga tersemat di bibirnya setelah memikirkannya.


Entah mengapa setelah mengetahui hal itu, hatinya menjadi terasa begitu lega. Jahat memang. Tapi dia sendiri tidak tau kenapa hatinya merasakan hal itu. Mungkin karena beban dalam hati mengenai balas dendamnya menguap seketika. 


Dia tahu, saat ini keadaan telah berbeda. Dia tidak mau membalaskan dendamnya pada orang yang salah. Itu hanya akan menimbulkan penyesalan pada akhirnya.


Flash back off ...


“Maaf karena tidak memberitaukan hal ini padamu, Nak. Tapi kami terpaksa harus menyembunyikan semua ini," ujar Hutama dengan raut wajah sedih dan penuh penyesalan. “Tapi percayalah! Orang ini bukan lah orang yang jahat.”


“Tapi untuk apa? Dan siapa dia?” Krisna membrondong ayahnya dengan tidak sabar.


...***...