RUN

RUN
Cemburu



"Mas, gimana? Kapan cerai sama istri mas?" Siska tidak berhenti bertanya meski jemarinya juga tak berhenti mengupas kulit jeruk dan serat-serat putihnya yang menempel. Satu persatu jeruk dilahapnya.


Reza duduk di sebelahnya, termenung, tak menjawab pertanyaan Siska.


"Mas?"panggilnya.


"Iya iya. Kenapa, Sis?"


"Ihh!! Mas ini dari tadi diajak ngobrol." Sungut Siska.


"Ngomong apa?"


"Dari tadi melamun, sih... Yang dipikirkan apa sih?" Siska mencubit lengan Reza. "Kapan mas Reza cerai?"


Reza melepas nafas panjang, membalikkan badannya pada Siska yang duduk di sofa.


"Siska, beri aku waktu, ya. Mengurus cerai di batalyon tak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada alasan yang jelas."


Siska berdiri lalu duduk di pangkuan Reza. Memainkan tangannya di dada Reza. "Ini bukan alasan Mas buat mengulur waktu menceraikan istri mas,kan?"


Reza menelan ludah "Bukan, Siska. Kamu santailah sedikit. Aku baru pulang dari tugas"


"Iya iya... Aku percaya padamu. Tapi janji ya, Mas. Aku nggak sabar pengen memilikimu seutuhnya." Siska melingkarkan tangannya ke leher Reza.


Mencium bibir Reza dengan lembut. "Lagipula orang tuaku sudah menyetujuimu. Aku bilang pada mereka kalau kamu akan menceraikan istrimu karena istrimu itu selingkuh"


Reza tersenyum datar, lalu kembali terdiam. Menyadari bukan Dinda yang selingkuh, tapi dirinya.


"Malam ini tidur di sini, ya, Mas. Aku takut sendirian." ucap Siska dengan manja.


Reza tak menjawab. Ia mengambil HP nya, mengirim WA ke seseorang. Lalu meletakkan Hp nya lagi. Reza menidurkan Siska di sofa. Mencium bibir Siska. Siska membalasnya dengan liar.


Teringat bayangan Dinda, membuat Reza menghentikan aktivitasnya.


"Sis, aku sudah WA Figa. Bentar lagi dia datang. Aku masih ada urusan" Ia berdiri, mengambil HP,lalu meninggalkan Siska yang terkejut dengan sikap Reza.


"Loh, Mas! Kamu mau kemana?" Tanyanya. Namun Reza sudah pergi mengendarai motor.


Pintu terbuka ketika ia membuka kunci rumahnya yang kuncinya biasa diletakkan di bawah keset pintu. Ia mendapati ruang tamu masih gelap. la lalu menggapai tembok, mencari saklar lampu, menyalakannya dan duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya mengitari seisi rumah. Rumah yang selalu rapi yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan. Sepuluh menit dari waktu kedatangannya, sebuah mobil terparkir di depan rumah. Pintu mobil yang membuka begitu terdengar di telinganya, lalu di ikuti suara tawa dan obrolan antara Dinda dan Fajar.


"Makasih,ya, Mas"


"Ya. Sampai jumpa besok. Dadah, Dela"


"Dadah, Om"


Suara mesin mobil itu sudah tak terdengar di telinga Reza. Dinda membuka pintu, dia dan Dela masuk ke rumah. Dinda mendapati Reza tidur (pura-pura) di ruang tamu.


"Nak, ganti baju,cuci tangan dan kaki, lalu pergi tidur,ya?"


"Siap, Ma" Dela mengacungkan kedua jempol tangannya. Di ikuti Dinda.


###


Lima belas menit kemudian, Dinda keluar dari kamar anaknya yang sudah tertidur. Ia kini berdiri di hadapan Reza dengan selimut di tangannya. Ia membentangkan selimut ke badan Reza. Dan tiba-tiba saja tangannya ditarik. Dinda jatuh ke pelukan Reza.


"Mas!!"


"Kenapa kamu pulang malam begini?" tanyanya dengan agak ketus.


Rasanya Dinda ingin membalas ketus seperti biasanya, tapi ia menahannya. Ia takut Dela terbangun. Dinda menstabilkan emosinya. Ia berdiri, tapi sayangnya Reza menariknya kembali ke dalam pelukannya.


"Mas...." Dinda menatap Reza teduh. "Aku sudah malas bertengkar, lagi pula waktu kita sebagai suami-istri nggak lama. Sejak kamu sepakat akan menceraikan ku waktu itu... Aku berbulan-bulan berusaha untuk ikhlas. Sekarang aku sudah menerima keputusanmu. Sekarang bila aku keluar sampai malam, seharusnya kamu tak mempermasalahkannya. Kan kamu tadi nggak konsisten."


"Sebelum ada keputusan pengadilan, aku masih berhak untuk tahu"


"Oh, ya? Sejak kapan, Mas? Kurasa, sudah setahun ini kamu tak pernah mau tahu apa yang kuperbuat." Dinda menghela nafas panjang. "Lagipula aku sudah tidak mempermasalahkan saat kau kenal wanita itu. Pergi kemanapun aku juga tak melarangmu, kan?"


Reza terkejut, seperti di skak mat. Ia melepaskan pelukannya. Dinda berdiri, lalu tersenyum kecil. "Nggak usah terkejut begitu, Mas. Aku sudah melepas semua perasaanku padamu. Jika kau lebih memilih wanita itu sebagai istrimu." Dinda melangkah pergi dari ruang tamu.


Reza terbengong, hatinya berdebar, "Kenapa dia bisa sesuap itu?" Sebaliknya, Reza yang tiba-tiba saja menjadi tak siap.