RUN

RUN
Pembersihan



Tamusong terdiam tanpa kata, atau bahkan ia telah kehabisan kata. Ia tak sengaja diam, ia benar-benar tak dapat bicara. Waktu itu, ia tampak begitu kaget ketika saya menyerupai Ayah, dan sekarang, ia sama kagetnya ketika saya mengucapkan nama Ayah.


Tak ada hubungan, tentu itu hanya dalih agar saya tak banyak bertanya. Meskipun begitu, ia berusaha keras untuk tampak biasa di hadapan saya.


"Ah, aku kan sudah bilang padamu agar tak menyebut nama itu lagi. Aku tak mau mendengarnya."


"Tapi saya ingin mendengarnya. Apakah kau punya masa lalu dengan ayah? Apa hubungan kalian hingga kau begitu terkejut ketika saya menyebutkan namanya? Atau menyerupainya? Dan lagi, kita tak pernah bertemu sebelumnya. Semasa hidup, saya tak pernah mengenalimu. Tapi kenapa Tamusong berlagak seperti benar-benar tahu saya? Pasti tau dari Ayah kan? Benar?!" tanya saya, terus-terusan menyerangnya.


Sebenarnya, tipe-tipe Tamusong ini tak akan mau mengulik hal pribadinya. Sudah berapa lama saya berteman dengannya, ia sama sekali tak menceritakan kehidupannya dengan detil. Hanya mengatakan kalau dia punya anak dan suami. Suaminya dua lagi.


Tapi, perihal nama.. tempat tinggal, dan penyebab kematiannya.. ia benar-benar bungkam dan tak mau mengatakan apapun pada saya.


Satu hal yang bisa di lakukan untuk mengetahui kehidupan masa lalunya, bukan dengan memaksa atau menanyakannya langsung.. tapi membiarkan dia merasa nyaman pada saya, memanipulasi pikiran dan perasaannya, seolah-olah berempati dan merasakan yang ia rasakan, dan saya yakin.. kalau itu berhasil, maka dia akan dengan mudah menceritakannya sendiri.


Ia masih terdiam, kini menundukkan pandangannya. Sempat terlintas kalau Tamusong ini adalah Ibu. Tapi, bukankah Ibu meninggal setelah melahirkan saya, jadi tak mungkin rohnya gosong dan menjadi pocong.


Atau, semasa hidup Ibu tak ikhlas akan kematiannya, jadi mati seperti ini. Perihal gosong... apakah itu hanya kamuflase untuk menutupi wajah aslinya? Dia sendiri bilang, kalau belum ada sesosok hantu pun yang melihat wajahnya ketika masih hidup. Itu adalah penampakan kematiannya.


"Tau atau tidak itu tidak ada hubungannya dengan masa sekarang. Anggap saja kalau aku hanyalah seorang teman yang mengenal lelaki itu. Tidak lebih dan tidak kurang. Kalau aku mengatakan rindu padamu, anggap saja karena aku merindukan anakku."


"Terkadang, ada hal yang perlu di ceritakan, dan ada hal yang ingin di ceritakan tapi terlalu berat untuk mengatakannya. Lagi pula, kita akan hidup bersama selama-lamanya, jadi aku tak mau masa lalu itu membuat kau menjauh dariku."


Saya mengernyit mendengarnya. Apa yang membuat saya menjauhinya kalau masa lalunya terungkap? Apakah ada suatu kesalahan yang ia lakukan, dan ia tak ingin saya mengetahuinya? Atau ada hal lain yang lebih berbahaya dari pada itu??


"Tamusong, kau ini membingungkan. Tapi tak apa, kalau kau tak mau menceritakannya pun tak masalah. Tapi ada satu hal yang ingin saya katakan padamu.." Tamusong menilik ke arah saya.


"Kau tahu kan, kalau Ludira itu bersemayam di diri Ayah setelah saya mengatakan mengenai kematian saya, dan siapa pelaku pembunuhannya??" Tamusong hanya terdiam, tapi kedua matanya tetap menatap saya dengan lekat.


"Nanti, lelaki yang bernama Barend Otte itu, lelaki yang kau kenal di masa lalu.." Saya mulai mengangkat kepalan tangan ke udara dan mengarahkannya ke hadapan Tamusong. "Tangan ini, akan membunuhnya. Sampai benar-benar mati." tukas saya, membuat kedua mata Tamusong terbelalak.


Ia terpaku beberapa saat dengan kedua mata yang terbuka lebar, kemudian mengernyit dalam. Ia menundukkan pandangannya, tersenyum dengan raut wajah getir kemudian menatap saya. "Ya, memang seperti itu. Pada akhirnya mungkin akan terjadi seperti itu, lagi." tukasnya sayu.


Saya mengernyit mendengar ucapannya. Lagi?? Apakah dia sedang menyatakan kejadian yang sama, akan terulang lagi???


Tapi, kenapa ia bisa begitu yakin? Atau maksud saya, kenapa saya begitu yakin dengan ucapannya? Ia hanya asal bunyi, dan itu bukanlah sesuatu yang akan terjadi. Tapi kenapa sih, dia seolah-olah dapat saya percaya, dan perkataannya menjadi pedoman. Dia bukanlah cenayang, hanya hantu biasa seperti saya. Yang mati, tapi tak bisa ke alam kubur.


Tamusong dan masa lalunya, lalu ada ayah juga.


Kenapa, kenapa saya jadi begitu penasaran dengan masa lalunya? Apa hubungannya dengan Ayah dan apakah ada kaitannya dengan saya?? Kurang ajar, ketiak kadal! Bisa mati penasaran saya di buatnya.


"Ehem, Tamusong.. sebenarnya meninggal pada tahun berapa sih? Dan pada tahun berapa mengenal Ayah?" tanya saya lagi.


Tamusong menggelengkan kepalanya. "Aku juga sudah melupakan itu. Ketika mati, perlahan masa-masa selama kau hidup akan terlupakan begitu saja. Memorimu akan memudar, dan berganti dengan kehidupan roh yang sekarang. Aku pun sudah melupakan itu, dan tak ingin mengingatnya lagi."


"Tapi, kemunculan mu seolah memaksa ingatanku untuk mengingat itu lagi. Dan kenapa, kau muncul sebagai anak dari lelaki itu? Dari teman lama yang berusaha untuk ku lupakan."


Saya memiringkan kepala mendengarnya. "Apakah... hubungan lamamu, berkaitan dengan cinta atau perasaan?" tanya saya getir, sedikit merinding ketika harus mengatakan sesuatu tentang cinta. Bahkan di umur enam belas tahun ini, tak pernah sedikitpun saya merasakan itu, dan tak pernah tertarik pada gadis mana pun.


"Tidak juga. Bukan karena itu." sahutnya. Dan saya, menangkap sebuah keraguan pada matanya.


.........


Usai menemui Tamusong, saya hendak kembali ke dalam gudang sembari melewati jalan pelalu. Dari kejauhan, saya melihat ruangan dalam gedung menyalakan lampu seluruhnya.


Tumben sekali, biasanya setiap malam saya hanya melihat ruangan gelap tanpa lampu, tapi kenapa kali ini terlihat terang benderang? Dan lagi...


Saya mengendus, berusaha mencium aroma yang tak asing. Sambil melirik sekeliling, saya sengaja memutar arah menuju ke pintu gerbang yang ada di depan sana.


Banyak mobil yang terparkir? Mereka pun berhenti di depan gerbang, apakah.. ada hal yang ingin mereka cari di sekolah ini? Sepertinya para hantu kedatangan tamu malam ini.


Beberapa orang keluar dari dalam mobil, mengenakan seragam dinas kepolisian. Saya mengernyit dari kejauhan, karena mereka tak mengenakan mobil dinas dengan lampu kelap-kelip di atasnya.


Apakah mereka sengaja agar tak menarik perhatian masyarakat??


Di antara mereka, ada seseorang yang tak mengenakan seragam seperti yang mereka kenakan. Mereka pun membuka gerbang dan hendak masuk ke dalam sekolah.


Perasaan saya tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Apakah mereka datang, untuk kembali masuk ke ruangan seni??


Kalau itu benar, saya rasa kedatangan mereka tak ada hubungannya dengan kasus kematian saya, tapi.. tentu saja alasannya masih berhubungan dengan saya.


Buru-buru saya terbang mendahului mereka, masuk ke dalam ruangan seni sebelum mereka datang.


Dengan harap cemas, saya terus menatap ke pintu luar. Entah kenapa, tiba-tiba saja perasaan saya menjadi tak enak ketika melihat seseorang yang di bawa oleh pihak kepolisian.


Seperti takut, gemetaran, marah, panas, dan.. argh! Ini sulit sekali di jelaskan.


Dari lantai tiga, saya bisa mendengar suara langkah kaki mereka. Perlahan dan penuh keraguan, gemetar dan takut akan sesuatu yang bisa saja mengejutkan mereka. Harum makanan yang seolah menjadi aroma mereka semakin kuat, menandakan kalau mereka semakin dekat.


Kedua tangan saya mulai bergerak, meski tubuh saya kaku di atas lemari. Mereka sudah berada di lantai dua dan sebentar lagi akan naik ke lantai tiga.


Tap!!


Sebuah langkah pas menginjakkan kakinya di lantai tiga. Di antara langkah banyak orang, gesekkan sendalnya terdengar paling dominan.


Tidak!! Ini menyakitkan. Suara kakinya terdengar menyakitkan. Bahkan saya bisa merasakan hembusan nafasnya yang serasa menusuk ke gendang telinga.


Saya menutupnya sambil mengeluh. "Suara nafas siapa ini? Terdengar bisikan yang tak saya mengerti, dan kenapa.. ini membuat saya merasa gentar dan ketakutan.


Saya mengangkat kaki dan memeluk lutut, terus menatap awas ke arah pintu yang masih saja tertutup.


Aura panas mencekam, mengelilingi seluruh tubuh saya. Saya menenggak ludah, benar-benar takut, meski saya sendiri tak tahu alasannya.


Gagang pintu tertarik, dan saya merasa panas seolah akan meledak sesaat lagi. Aroma ini lezat, tapi di antaranya ada yang beraroma seribu bunga. Entahlah, yang satu ini terasa membuat sesak.


Kriiiieeet...


Pada akhirnya ketakutan saya terjadi. Pintu terbuka dengan perlahan, membuat alis saya terangkat seiring dengan lebarnya pintu yang sedang dibuka.


Glupp..


Suara menelan ludah saya terdengar ke telinga, bersamaan dengan sesuatu yang membakar masuk dan membuat ruangan bertambah panas.


"Arrgggh!!" Saya mengerang, mencengkeram kepala saya sendiri dengan kedua tangan.


Sebuah penampakan aneh masuk di antara para polisi. Seorang bercahaya masuk, dengan aliran air yang menetes di tubuhnya bagaikan embun.


Saya menutup mata, melihat cahaya bersinar di seluruh tubuhnya. Warnanya putih dan silau, terasa panas dan sangat menyakiti pandangan. Baunya terlalu wangi, seperti menyiksa penciuman saya.


"Arrgh! Jangan! Jangan mendekat!! Pergi!!" pekik saya sambil menyembunyikan wajah saya sendiri.


Langkah kaki mereka semakin masuk, membuat perasaan saya kalang kabut.


"Assalamualaikum makhluk Allah, adalah sesuatu yang berada di dalam sini?" tanya sebuah suara, dan suara itu terdengar begitu mengganggu di telinga.


"BERISIK!!" pekik saya lagi.


Mereka terdiam, meski banyak orang yang masuk ke dalam ruangan, tapi tetap saja suasananya masih senyap, seolah masing-masing dari mereka saling membungkam mulutnya.


"Jadi, bagaimana, Pak Ustadz, apakah bapak merasakan ada aura lain di tempat ini?" tanya para kepolisian, membuat saya menatap bengis ke arah mereka.


Jadi, mereka memanggil seorang ustadz ke tempat saya? Apa maksud mereka? Sudah pasti mereka memiliki niat buruk terhadap saya.


"Sialan kalian!! Kurang ajar!!" pekik saya sambil sesekali memberanikan diri untuk menatapnya.


"Hmmm, sepertinya ada. Saya merasakan aura disini sangat suram, pengap dan.. tidak mengenakan. Ada sesuatu yang hidup dan tinggal di sini." tukas sebuah suara yang sangat mengganggu indra pendengaran.


"Ah, maksud Pak Ustadz, ada hantu di sini? Berapa banyak?" tanya mereka lagi.


"Satu.. saya merasa hanya ada satu. Ini semacam gaib yang kebingungan. Dia seperti di jauhi para hantu dan terkurung di tempat ini. Dia tak bisa kemanapun karena mungkin, meninggalnya disini, atau ada alasan yang lain." ucap ustadz itu lagi.


Saya menjulurkan lidah ke arahnya dengan cepat. "Weeeeek!! Dasar bodoh dan sok tahu! Siapa bilang saya terkurung dan tak bisa kemanapun?!" balas saya meledek, penuh kebencian. Meskipun mereka tak bisa melihat atau mendengarkan saya.


"Jadi bagaimana, pak? Apakah bapak sanggup membersihkan tempat ini?" tanya para anggota kepolisian.


Sialan sekali! Pasti mereka ini yang mengadu pada pak ustadz untuk membersihkan tempat ini, selepas amukan saya waktu itu.


"Bismillah, saya coba dulu ya." ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya ke udara selayaknya berdoa.


"Mohon bantuannya, Pak. Semoga hantu di tempat ini.. bisa pergi dan tenang di sisinya tanpa mengganggu orang lain." ujar para polisi.


Saya mengernyit, ketika bibir pak ustadz ini mulai komat-kamit membacakan sesuatu. Rasa panas mulai menyeruak, membuat keringat saya keluar dengan cepat dan berjatuhan. Saya terengah menahan siksaan, hendak mengerang tapi seolah tertahan.


Semakin cepat mulutnya bergerak, semakin sakit pula sekujur tubuh yang saya rasakan. Rasanya seperti di pijat, tapi pijatan yang menyakitkan hingga membuat salah urat.


Dalam keseriusan sang ustadz, para polisi mulai bergumam. "Anu, kalau bisa.. jangan hanya membersihkan tempat ini. Tapi, tolong, di lenyapkan sekalian sama setan-setannya ya pak ustadz." pinta para anggota kepolisian, diiringi oleh anggukan kepala si pak ustadz.


Di tengah kesakitan, saya meringis, menatap mereka dengan kekesalan. Bisa-bisanya mereka mengatakan hal yang tak berperasaan seperti itu di depan saya. Dia tak hanya bermaksud untuk mengusir saya, melainkan ingin melenyapkan saya juga.


Bukankah itu sama saja dengan membunuh seseorang, karena sama-sama mematikan kehidupan orang lain, meskipun mereka tak tahu ada atau tidak kehidupan bagi kami. Kami telah mati, tapi kami hidup.


Itu tak penting. Kenapa saya begitu marah bukan perihal yang seperti itu. Hanya saja, kalau tak di tempat ini, di tempat mana lagi yang bisa saya tempati?


Kalau di tempat lain, belum tentu ada hantu yang mau menerima kehadiran saya. Dan sudah pasti tak akan ada. Seputaran sekolah ini tak ada hantu yang mau berteman dengan saya, kecuali Tamusong yang berada di kuburan.


Jadi saya, tak akan mau di usir dari kediaman saya sendiri.


"Beraninya...." saya mulai bergumam, sembari mengeratkan gigi dan melotot ke arah mereka. "Beraninya kalian mengusir saya, bahkan dari tempat tinggal saya sendiri."


"Beraninya kalian berlaku lancang seperti ini!!" tukas saya sambil mengepalkan kedua tangan dengan erat.


"BERANINYA KALIAAAAAN!!!" saya memekik kencang, membuat tempat ini lagi-lagi bergetar dan tiba-tiba saja..


Sesuatu yang aneh, keluar dari dalam tubuh saya, dan berpencar ke segala arah.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......