RUN

RUN
Menentang Aturan Tetua



*Ariandi POV


Aku meninggalkan mereka yang masih termenung mendengar ucapanku. Ketika melewati ambang pintu, aku mulai mendengar bisikan-bisikan kecil dari mereka. Entah mereka menganggap ku sebagai orang yang sok tahu, atau entahlah.


Sebenarnya aku tak begitu perduli mengenai pendapat menusia bod*h seperti mereka, toh aku bekerja di sini hanya untuk suatu misi yang telah di berikan tuanku yang bijaksana. Dan ketika aku berhasil menyelesaikan misi tersebut, maka aku akan keluar dari pekerjaan ini, bahkan tanpa mengatakan pengunduran diriku terlebih dahulu pada kepala sekolah.


Aku sudah cukup membuat mukaku tebal dengan bekerja di sekolah milik Arsya, tapi tetap saja.. sekali sudah bersekutu dan menuhankan Iblis, maka aku tak bisa lepas dari permintaannya. Aku sudah mendapat banyak hal darinya, meskipun pada akhirnya sedikit demi sedikit apa yang ku dapatkan mulai menghilang.


Itu semua, karena anak itu.. Si boncel berisik yang merupakan adik kesayangan Arsya. Karena dia pula, aku harus bercerai dengan Arsya. Arsya sangat menurut padanya, dan ia mempercayai kalau aku merupakan pemuja iblis.


Beruntung sekali, tuan besar bisa membunuh dan menghabisi pengganggu itu. Tapi meski telah mati pun, ia masih saja membuat masalah di kehidupanku.


Aku berhenti di depan sebuah ruangan, tepat menghadap ke kaca jendela. Aku tak tahu dan tak perduli ini ruangan apa, hanya saja aku harus berpura-pura membersihkan kaca agar mereka mempercayai kalau aku memang melaksanakan tugasku dengan baik.


Cairan sabun ku semprotkan, membuat air tersebut berbusa di atas kaca. Aku mulai menyekanya dengan kain kering ke segala sisi.


Satu, dua dan tiga kaca sudah selesai di bersihkan. Ketika hendak beralih ke kaca berikutnya, seorang OB datang menemui ku.


"Maaf mengganggu kerjaannya. Kamu Ariandi, kan? OB yang baru bekerja hari ini?" tanyanya.


"Benar, ada apa ya?" Aku melemparkan pertanyaan balik.


"Kau di panggil kepala sekolah di ruangannya." sahutnya.


Aku mengabaikan, sambil kembali menyemprot cairan pembersih kaca. "Kau tak lihat aku sedang bekerja?" balasku.


"Sekali lagi mohon maaf, tapi kepala sekolah ingin kau menghadapnya sekarang." ucapnya lagi.


Aku menghela napas, sambil berhenti mengelap kaca. Aku melongos begitu saja. Untuk apa kepala sekolah memanggilku? Tiba-tiba sekali, dan meminta segera datang pula.


Aku bergegas, melewati selasar kelas sambil memperhatikan para siswa yang sedang melaksanakan senam. Langkahku mantap, dan tak perlu menunggu waktu yang lama, aku sudah berada di depan ruangannya.


Aku memperhatikan di barisan terdepan, yang berisi para guru yang sibuk ikut senam. Tapi, kenapa kepala sekolah tak melakukan hal serupa??


Aku mengetuk pintu dan menunggu jawaban. Sebentar saja menunggu, kepala sekolah pun menyahut. "Ya, silakan masuk." sahutnya dari dalam sana.


Aku pun membuka pintu dan menatapnya. "Selamat pagi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanyaku sambil masuk ke dalam.


Kepala sekolah mengangguk, membalas tatapanku. "Ya. Aku memanggilmu ke sini, silakan duduk, Pak Ariandi." pintanya, dan aku pun menuruti.


Ia menghela napas sebelum mengatakan maksudnya. "Maaf sebelumnya, Pak. Bukan maksud saya untuk bertindak tidak sopan, tapi karena sekarang saya adalah atasanmu, maka saya ingin mengatakan mengenai beberapa hal mengenai pekerjaanmu di sekolah ini." ujarnya.


Aku mendengkus. Sepertinya para cecunguk tadi telah mengatakan suatu hal pada kepala sekolah. Berani sekali mereka. Baru saja aku mengatakan hal itu pada mereka, tak perlu menunggu waktu yang lama, perkataanku sudah sampai kepada kepala sekolah.


Aku mendengkus sambil menatap lesu ke arah kepala sekolah. "Ya, tak apa. Santai saja, sekarang pun aku bukan lagi suami Arsya, jadi kau tak perlu menghormatiku seperti kemarin. Lalu, hal apa yang ingin kau katakan mengenai pekerjaan baruku ini?" tanyaku, berpura-pura tidak tahu.


Ia membenarkan posisi duduknya sebelum berbicara. "Ehem, jadi begini.." Ia mulai menatapku dengan serius. "Ku dengar dari OB yang lain, katanya kau tak mempercayai mengenai pantangan yang ada di sekolah ini? Bahkan kau tak mempercayai adanya hantu, benar begitu?" tanyanya, memastikan.


"Ya. Aku memang tidak mempercayai adanya hantu. Bukankah semua orang bebas berpendapat dan melakukan apapun. Dan lagi, pantangan? Pantangan apa sih? Kalian mempercayai hal itu?" tanyaku lagi, membuat kelapa sekolah mengusap wajahnya sambil menghela napas panjang.


"Itu sudah ada sejak zaman dulu. Dari tetua yang menjaga sekolah ini. Apa salahnya kita menuruti hal yang telah menjadi adat di sini. Maaf kalau aku menggurui, tapi setidaknya kau harus menerapkan peribahasa 'Dimana kaki berpijak disitu langit di junjung."


Aku langsung tertawa mendengar perkataan kepala sekolah. Sengaja bermaksud untuk meledeknya. "Ya ampun. Ini sudah tahun 1998, bisa-bisanya kalian mempercayai hal-hal semacam ini? Kolot sekali. Aku paham betul mengenai cara bersikap kepada sesama manusia, tapi.. perihal hantu, kalian mempercayai makhluk yang bahkan kalian sendiri belum pernah melihatnya? Hahaha, jadi bagaimana, pak? Apa perkataan penting lainnya yang ingin kau sampaikan?" tanyaku, membuat raut tersinggung terpancar dari wajah kepala sekolah yang berada di hadapanku.


"Aku sudah memperingatimu perihal ini. Jadi, kalau ada hal buruk yang terjadi padamu karena membantah, maka katakan pada keluargamu, aku berlepas tangan dari semua itu. Dan jangan ada yang berani-berani menuntut ku atau pihak sekolah. Kau mengerti?" tukasnya, seketika bersikap dingin dan menghilangkan sopan santunnya. Mungkin saja karena ia tersinggung, makanya ia bersikap seperti itu.


"Aku tak punya keluarga lagi. Aku anak rantau. Dan sekarang pun aku menjadi sebatang kara di sini. Kau tenang saja dan tak perlu khawatir, karena tak akan ada yang menuntut mu jika sesuatu terjadi padaku. Dan akan mu pastikan padamu, bahwa tak akan terjadi apapun padaku." sahutku.


Ia masih menahan pandangannya padaku. "Silakan keluar." tukasnya dengan wajah dingin.


Aku langsung beranjak dan segera keluar dari tempat ini. Ketika aku membuka pintu, beberapa orang OB terlihat hampir tersungkur ke dalam, beruntung mereka berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tak menabrak ku.


Aku hanya berlalu dan meninggalkannya. Bisa-bisanya manusia rendahan macam mereka menguping pembicaraan orang lain. Benar-benar membuatku geram.


Aku melongos masuk ke ruang OB dan melempar kain lap serta pembersih kaca. Mereka menoleh serentak ke arahku, dengan tatapan yang seolah mencibirku dalam diam.


"Kalian mengadu pada kepala sekolah mengenai perkataanku tadi?" tanyaku blak-blakan, membuat mereka berpura-pura tak mendengar apapun.


"Yang harus kalian dengar dan tahu, cerita hantu hanyalah kebodohan yang sengaja di buat-buat oleh orang-orang dulu, dan sekarang kalian mempercayainya? Cerita kolot yang tak tahu kebenarannya. Apalagi mengenai ruang tertentu yang memang di tekankan untuk tak boleh di masuki. Apa kalian mau di bodohi seperti itu?" tukasku lagi, marah.


Salah satu dari mereka mulai berdiri, seolah siap melayani perdebatan ku. "Di b*dohi katamu?" tanya Saripudin, suaranya terdengar marah dan kesal. "Aku dan kami yang berada di sini sudah cukup lama bekerja menjadi OB di sini. Kami tahu pahit manis, dan baik buruk yang ada di sekolah ini. Kami tahu para siswi yang menghilang setiap malam Jum'at Kliwon itu benar adanya, bukan cerita bohongan seperti yang orang lain pikir. Dan kami juga tahu, mengenai salah satu anak lelaki Albino yang mati di dalam ruang seni, bahkan jasadnya tak di temukan sampai hari ini. Semua jasad mereka menghilang. Dan karena meninggalnya anak itu juga, ruangan seni itu di tutup dan sekarang tak terpakai hingga dijadikan gudang." Ia bercerita panjang lebar, sampai napasnya tersengal-sengal.


"Jadi, kau yang baru bekerja satu hari di sini sok-sokan tak mempercayai semua itu?" lanjutnya, dengan nada suara yang semakin tinggi.


Aku terdiam. Dia berani berbicara begitu karena dia tak tahu siapa aku. Meski dulunya aku adalah suami Arsya, tapi aku memang tak pernah menampakkan diri di sekolah dan bertemu guru serta para pegawai seperti mereka. Yang mengenalku hanyalah orang-orang tertentu yang di percaya oleh tuan Barend Otte. Jadi, mereka pasti menganggap ku orang biasa yang bisa sesuka hati di debati seperti itu. Kalau mereka tahu aku mantan suami Arsya, pasti sikap mereka tak akan seperti itu.


"Ya, aku memang tak percaya. Karena masyarakat pun mengatakan kalau ini semua hanyalah isu. Tak ada kebenaran atas hal itu. Toh, sekolah ini juga tak membenarkan berita tersebut di khalayak ramai. Kalau memang berita kalian ini benar, maka tak akan ada orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah ini." ujarku.


Aku terdengar ngotot dan bersikeras begitu sebenarnya bukan tanpa maksud. Aku, harus menyelesaikan misi dari tuan, dan sialnya lagi.. tempat tujuanku ada di ruangan yang mereka sebut sebagai ruangan angker.


Sebagai pemuja setan dan satu-satunya pengikut setia Barend Otte yang masih ia biarkan hidup, aku harus mengucapkan rasa terimakasihnya dengan keberhasilan misi ini. Aku adalah pengabdi yang setia dan di sayangi. Bahkan ia memberikanku izin untuk menikahi anaknya sendiri.


Jadi, aku tak akan membuatnya merasa kecewa karena telah mempertahankanku sampai sejauh ini. Meskipun di sisi lain, sebenarnya ada rasa ketakutan dalam diriku.


Ketika manusia sudah mengadakan perjanjian dengan iblis, maka tak akan ada jalan kembali. Kami sudah terjerat dan kalau aku tak memberikan tumbal atau tak menuruti kemauannya, maka kemungkinan yang mengerikannya adalah...


Aku..


Yang akan menjadi tumbalnya.


Sejauh ini aku selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Barend Otte. Apapun itu. Dan ratusan pengikut Ludira yang telah mati, itu karena mereka mencoba berpaling, mencoba tobat, mencoba lari, dan mencoba berhenti dan mengkhianati. Mereka semua, mati dengan cara mengenaskan, sama seperti korban-korbannya yang lain.


Tapi, yang berbeda dari penumbalan mereka adalah, tuan tak memakan darah mereka. Tidak sama sekali. Tuan hanya menghisap darah gadis perawan, dan sisanya.. para pengikut yang berkhianat, di tumbal kan oleh tuan, dan darahnya...


Aku yang telah meminumnya.


Tuan bilang, itu bisa di gunakan sebagai ilmu kebal, dan agar para hantu tak akan menganggap ku sebagai manusia biasa, melainkan manusia setengah iblis.


Aku menilik, menatap para OB yang terdiam setelah mendengar pernyataan ku. Bukankah apa yang ku katakan masuk akal? Kalau mereka membenarkan peristiwa penumbalan ini, maka sama saja dengan mereka yang memberikan image buruk mengenai sekolah ini.


"Kenapa? Kalian tak bisa menjawab pertanyaan ku? Jadi sekarang kalian masih mau bersikeras untuk membenarkan tragedi itu, dan yang lain sebagainya?" ujarku lagi, mereka masih saja terdiam.


"Sepertinya ini hanyalah permainan si tetua. Tak ada hal mistis di sekolah ini. Tidak ada sama sekali. Kalaupun ada, maka aku akan membuktikan kalau itu semua tidak benar."


Saripudin mengernyit mendengar perkataan ku. "Apa maksudmu itu?"


"Aku, akan masuk ke dalam gudang lantai tiga, yang kalian sebut sebagai tempat yang paling angker di sekolah. Aku akan membuktikan, kalau semua isu itu.. tidak benar adanya." tukasku, penuh keyakinan.


Padahal di dasar hatiku yang paling terdalam, aku.. benar-benar takut untuk masuk ke dala. sana. Karena di sana, sudah pasti ada anak brengs*k itu kan??


Semasa hidup ia tak pernah tinggal diam melihat kejahatan ku, maka sekarang pun.. tentu ia akan melakukan sesuatu padaku.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......