
Saya mengerjap, membuka mata perlahan, menampakkan ruangan gamang yang sedikit buram. Saya kembali memejamkan mata dan melakukan hal yang sama lagi, dan kali ini pandangan yang tampak sudah cukup jelas.
Saya beranjak, tapi merasakan kesakitan di sekujur tubuh terlebih lagi di bagian tengkuk dan pundak. Sekujur tubuh ini rasanya seperti di remas, dan kekuatan saya melemah seperti habis terserap oleh benda yang serupa dengan tali pengikat milik kiyai.
Saya mengusap pundak, dan mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ini seperti sebuah ruangan yang memang di berikan mereka untuk saya.
"Ternyata sudah pagi??" gumam saya sambil menguap lebar. Saya terdiam usai meregangkan tubuh, menatap lurus ke depan tanpa tujuan.
Tapi, bukankah ini aneh?? Hantu kan tak pernah tidur.. lalu, kenapa saya baru saja bangun dari tidur?? Artinya, ini bukan tertidur, tapi.. tak sadarkan diri, bukan??
Seketika saya kembali teringat, saya mendapat serangan di altar oleh tiga hantu sekaligus. Dan yang menyebabkan saya tak sadarkan diri adalah mereka?? Ck, kenapa saya sampai melupakan hal tersebut??
Saya beranjak dan terbang menuju pintu keluar, sebelum saya menarik dan membukanya, tiba-tiba saja sebuah kepala muncul di hadapan saya, menembus pintu dan membuat saya terkejut.
Dengan reflek, saya langsung menusukkan dua jadi saya ke lubang hidungnya, membuat hantu itu mendorong saya hingga roh ini mundur beberapa langkah.
"Mau ku cincang kau ya?!" geramnya, membuat saya menyadari kalau ternyata yang datang ke tempat saya adalah si keras kelapa, Abbe.
"Kau lagi!! Mau apa kau kemari? Menipu saya dengan mengatakan gurumu ingin bertemu di altar? Kau hampir membuat saya mati tadi, masih berani muncul ke sini?? Memang mau di tusuk lubang hidungnya!!" balas saya kesal, membuatnya langsung menutup lubang hidungnya.
"Oh, iya ya! Kihihi, tapi kau itu mengesalkan tahu! Kenapa kau harus menipu dan membahayakan hantu lain. Kau ini tipe hantu jahat ya? Bocah bi*dab!" kecam saya, membuatnya terkesiap heran.
"Woow, bisa sekali setan berwajah polos sepertimu mengatakan kalimat yang buruk. Kali ini kau jangan salah paham, aku datang ke sini bukan untuk membahayakan mu, melainkan untuk menyelamatkan mu." ujarnya, membuat saya menatap datar sambil melipat tangan ke dada.
"Hebat sekali kalau kau berharap saya percaya." sahut saya.
Ia meringis, terlihat sebal dengan perkataan saya. "Aku ini ingin menebus kesalahanku yang tadi. Kau tahu, aku ini adalah bawahan, jadi aku hanya menuruti perintah dari para atasan dan hantu kepercayaan pemimpin. Mereka yang memintaku menyampaikan undangan itu padamu, agar kau datang ke sana. Sementara aku tak tahu apa niat buruk yang hendak mereka lakukan padamu."
"Aku hanya melaksanakan perintah. Tapi, kali ini aku berbaik hati untuk menyelamatkanmu dari hantu-hantu itu." terangnya panjang lebar, tapi saya masih tak mau mempercayai ucapan hantu ini.
"Ck, terserah kalau kau tak mau percaya. Hanya saja, tadi aku tak sengaja mendengar percakapan mereka setelah keluar dari dalam ruangan. Salah satu dari mereka kelak akan mengurung dan menyiksamu dengan berpura-pura menjadi gurumu. Itu hanya alibi agar ia bisa memusnahkan hantu yang bukan ras murni sepertimu."
"Sebelum mereka melakukan hal itu, mereka akan menyerap habis kekuatanmu, dan membuatmu seperti hantu yang tak bisa apa-apa. Bahkan sebelum ini pun kau telah di serap kekuatannya oleh mereka. Makanya kau merasa begitu lelah dan kesakitan."
"Coba kau ingat lagi, siapa tahu di pertengahan mimpimu kau sadar kalau mereka sedang melakukan sesuatu padamu."