RUN

RUN
Takhayul



Saya menjerit ketika melihat penampakan menyeramkan yang ada di belakang. Tiba-tiba saja, wajah menyeramkan ini muncul di saat yang tidak tepat. Ia menatap saya datar dengan tangan yang tersembunyi di balik bajunya.


"Gyaaaaaaah!! Setaaaaaaan!!" pekik saya, membuatnya reflek menjitak kepala saya.


"Kita sama-sama setan tahu!!" balasnya, membuat saya mengernyit sebal sambil mengusap kepala.


"Aih, Tamusong toh! Wajahmu menyeramkan tahu!" gerutu saya, tak lupa dengan mata yang disipitkan serta bibir yang mengerucut.


"Wajahku memang seperti ini!! Waktu dulu, setiap hari kau melihatnya di kuburan. Apanya yang membuatmu menjerit begitu sih?" bentaknya kesal.


"Namanya juga terkejut. Kalau terkejut sih, melihat kecoa berdiri juga pasti kaget."


Tamusong mengernyitkan dahi. "Memangnya ada kecoa yang berdiri? Setahuku dia selalu merangkak." timpalnya, dengan wajah keheranan.


"Ya, itu kecoa yang masih bayi, dia baru belajar merangkak. Kalau sudah dewasa, pasti bisa berjalan dengan kedua kaki. Kemarin saya lihat ada kecoa yang takte (Belajar berjalan, istilah yang di pakai orang Bangka) di dekat WC!"


Tamusong menganggukkan kepalanya. "Oh, jadi begitu ya." beberapa saat setelahnya, ia terkesiap ketika menyadari sesuatu. "Mana ada yang seperti itu!! Semua kecoa berjalan merangkak tahu!! Jangan menipu hantu tua!! Nanti kau bisa kualat! Lagipula bohong sekali melihatnya di WC, kau sendiri tak bisa keluar dari ruangan itu!" lanjutnya, marah-marah tiada henti.


"Ya saya kan cuma bicara saja, yang menyuruh Tamusong percaya, siapa?" timpal saya. "Lagipula untuk apa sih Tamusong ke dalam sini, ini kan tempat untuk anak SMA. Tamusong sudah kadaluarsa!"


Ctik!!


Ia menjetikkan jemarinya ke dahi saya. "Kau ini memang keterlaluan mulutnya! Aku kesini karena kau cari gara-gara terus!! Kau merepotkan tahu! Dan lagi itu, kau berubah menjadi Kuntilanak merah?!" tunjuknya pada baju yang saya kenakan.


"Memangnya siapa bilang ini kuning? Yang kuning itu gigimu!"


"Kau ini memang mau di Qurban ya? Cari gara-gara terus!!" bentaknya lagi.


Saya mendecakkan lidah dengan tatapan mata sinis. "Memangnya saya kenapa? Kan cuma bermain-main saja."


Kini giliran Tamusong yang mendecakkan lidah. "Kau mengeluarkan kekuatan besar, hingga semua hantu bisa merasakan kekuatannya. Kan sudah ku bilang, agar kau tak sembarangan melepaskan kekuatan besar! Bisa bahaya jika ada manusia sakti yang merasakannya."


"Masa'? Kan Tamusong atau kiyai bisa meredamnya untuk saya." sahut saya santai.


"Memang benar sih." Ia membenarkan seraya berpikir. "Tapi tidak usah di jadikan alasan dan patokan juga! Meskipun tadi kekuatanmu memang tiba-tiba saja menghilang."


Saya menganggukkan kepala. "Nah, benar kan apa kata saya. Makanya jangan berlebihan begi- Gyaaaaaaah!!" Saya menjerit ketika ia kembali menjetikkan jemarinya ke dahi saya.


"Itu memang aman, tapi kau malah tak aman di mata kiyai tahu! Kau ini nakal sekali! Kau kan hanya meminta untuk di lepaskan dari jerat tali yang membelitmu, bukan mendobrak keluar dari tempatmu di kurung! Haduh, kepalaku bisa pecah kalau kau terus-terusan berulah begini. Kalau tahu begitu, aku tak akan memberitahu mu bagaimana caranya untuk melepaskan diri. Biar saja terikat seperti tali sepatu!" kecamnya, dengan raut wajah yang begitu panik.


"Ya sudah sih, Tamusong tak perlu khawatir berlebihan. Kalau saya melakukan suatu hal, saya sudah bersiap dengan resiko yang terjadi. Jadi saya juga sudah memikirkan dampaknya." ujar saya.


"Jadi kau sudah siap untuk diikat lagi dengan tali yang lebih besar? Jangan-jangan kali ini kau malah akan diikat oleh tali berduri." ancamnya.


"Kiyai saja kan?? Saya memang akan dihukum sih, tapi ini juga cara saya memprotes kepadanya. Dia itu keterlaluan. Masa' sih dia tega mengikat saya begini? Menyebalkan sekali! Sudah di kurung, diikat lagi." protes saya.


"Ya itu kan karena kau yang memulai, kau melawannya. Kau ini suka cari gara-gara ya, tak pernah belajar dari kesalahan. Memangnya kau pikir, kenapa kau bisa di kurung, ya karena kau cari gara-gara, kan?"


Saya terdiam, dan tatapan saya kini mulai menajam. "Cari gara-gara?? Bukannya saya hanya menuruti perkataan Tamusong pada awalnya? Lagi pula saya tahu kiyai itu orang seperti apa. Jadi tak usah di permasalahkan sih. Cari gara-gara itu memang kebiasaan saya. Jadi yang harus Tamusong lakukan adalah membiasakan diri untuk hal itu."


Ia mendengkus hingga dadanya naik turun. Berlagak seperti bisa bernapas saja. "Hal yang buruk itu tak seharusnya kau jadikan kebiasaan. Bukankah harusnya kau di ajarkan hal yang seperti itu oleh ayahmu?" balasnya, membuat tatapan saya mendadak kosong. Ia mengerjap, seolah merasa bersalah dengan perkataannya barusan.


"Ayah saya??" Saya mengulang perkataannya. "Ia tak punya waktu untuk melakukan itu." kini wajah Tamusong berubah, benar-benar menyimpan kesedihan dari sorot matanya. "Saya hanya hidup bersamanya, bukan berarti saya di ajari dengan baik. Kami hanya bertemu di meja makan, setelah itu ia mengurusi pekerjaannya. Yah, tapi meski begitu. Saya tahu dia berusaha menjadi Ayah yang baik. Yang menanyai pelajaran saya hari ini. Yang menanyakan apakah ada yang jahat di sekolah, sudah makan atau belum, sudah mengerjakan PR atau belum. Yaah, hanya sekedarnya saja."


"Terkadang dia memang aneh. Apalagi jika malam Jum'at Kliwon tiba, seharian ia akan berpuasa dan tak memakan nasi. Tapi percayalah, karena hanya dia orang tua tunggal yang saya punya, saya.."


"Lumayan menyayanginya." tukas saya, membuat Tamusong terkesiap dan mengulum bibirnya.


"Ayah hanya seperti bayangan, dan seperti seseorang yang panggilannya berbeda dari yang lain. Walaupun dia buruk, sebenarnya.. dia mencoba baik. Tapi, sebaik-baiknya Ayah.."


"Kiyai jauh lebih baik ketimbang dirinya dalam memperlakukan saya."


"Saya sengaja melepaskan diri sendiri dan tak menunggu kiyai, karena saya tahu.. ia tak akan melepaskan saya, kalau saya tak berusaha sendiri. Yang ia lihat adalah usaha seseorang, makanya saya berpikir untuk membebaskan diri sendiri."


"Terbukti, dari dia yang melindungi kekuatan saya dari pengamatan manusia sakti. Kalaupun ada kesalahan dari hal yang saya lakukan barusan, orang yang seharusnya datang pertama kali bukanlah dirimu, Tamusong. Melainkan kiyai." Tamusong terkesiap mendengar ucapan saya. "Kalaupun ia tak datang, itu berarti.."


"Ia memaklumi hal yang saya lakukan, dan memaafkannya."


Tamusong mengernyitkan dahinya. "Kau begitu yakin?" Saya mengangguk.


"Pukul berapa sekarang?" tanya saya, membuat Tamusong semakin mengerutkan dahinya.


Tamusong tak melepaskan kernyitan dari dahinya. "Kenapa sekarang kau tersenyum-senyum sendiri?" tanyanya ketus.


"Tidak, itu artinya.. tidak ada yang di tum-" Saya terkesiap dan terdiam. Tiba-tiba saja Indra penciuman saya mencium bau aneh, seperti bau manusia.. tapi aromanya tak begitu lezat.


Siapa yang datang? Kenapa ada manusia yang datang di tengah malam begini? Bukankah sudah lewat pukul dua belas malam. Apakah ini, korban yang terpanggil untuk menjadi tumbal??


Saya langsung berlalu, dan terbang meninggalkan Tamusong yang masih mematung di tempat. Ia terdiam, membiarkan saya pergi tanpa pertanyaan, tapi raut wajahnya tak bisa berbohong, kalau dia merasa penasaran dengan perilaku saya.


Tap..


...Tap.....


^^^Tap..^^^


Suara langkah kaki itu mendekat, terdengar berada di lantai dua. Ada dua derap langkah kaki yang berbeda. Ini.. dua orang? Tapi kenapa yang satunya tak beraroma sama sekali??


Saya memejamkan mata, menembus suara yang berada di lantai bawah.


"Mau apa kau datang ke sini malam-malam?" tanya sebuah suara gamang, sepertinya orang ini sedang menghampiri seseorang yang datang di lantai dua.


"Maaf, tapi.. aku harus meletakkan sesuatu di lantai atas." sahut si lawan bicara.


"Untuk apa kau melakukan itu?" tanya si suara bersahaja. Ini, suara kiyai, kan? Tapi, bersama siapa?? Suaranya juga terasa tak asing. Pernah mendengarnya di suatu tempat, tapi.. dimana?


"Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Aku sekarang adalah OB baru di sekolah ini. Aku mau berkeliling sekolah untuk melakukan pengenalan, sekalian mau membersihkan ruangan paling ujung di atas sana." jawabnya.


"Kuno, apa yang kau laku-"


"Sssst!!" Saya langsung mendesis, memotong ucapan Tamusong, karena suaranya menghilangkan konsentrasi saja.


"OB baru? Jadi, kau datang untuk pekerjaanmu?" tanya kiyai, suaranya terdengar berat, tapi saya merasa kalau ia baru saja menekan kekuatan. Kekuatan yang entah berasal dari mana.


"Ya, begitu lah. Apakah kau penjaga di sekolah ini?" si lawan bicara melemparkan pertanyaan.


"Itu bukan hal yang harus di tanyakan dan di jawab. Karena sudah jelas, mana ada orang luar yang masuk ke sekolah kalau bukan penjaganya."


Si lawan bicara tertawa. "Oh, jadi begitu? Berarti pertanyaan mu memang berlaku mutlak untukku. Karena aku bukan seseorang yang seharusnya masuk ke area ini?" tanyanya menerka.


"Ya. Dan sebagai pegawai baru, aku ingin mengatakan satu hal yang menjadi pantangan di sekolah ini. Mau itu kau OB, kepala sekolah, atau pemilik sekolah sekalipun. Kau, tak akan diizinkan untuk menginjakkan kaki di sekolah ini pada malam hari, tanpa seizin ku."


"Waah wah wah.. Kau serius sekali dengan pernyataan mu. Memangnya kau begitu berpengaruh, hingga pemilik sekolah pun harus tunduk akan perkataanmu?" ia terdengar meremeh.


"Aku tak meminta mereka tunduk, tapi mereka lah yang mempercayai keluarga ku selama turun-temurun. Dan pantangan ini memang sudah ada sejak dulu. Aku bukan bersifat sok, hanya saja berusaha menjauhi kalian dari hal-hal buruk. Aku tak mau membuang tenaga untuk melindungi orang-orang yang membantah pantangan. Jadi sebaiknya kau menurut saja. Kau tak boleh datang ke sekolah di malam hari lagi, ini adalah yang pertama dan terakhir." suara kiyai terdengar begitu serius.


"Kenapa? Aku hanya ingin masuk ke lantai tiga, ke ruangan paling ujung. Itu saja." Ia masih saja mendebati kiyai.


Suara kiyai menghilang, entah karena malas berdebat atau karena kesal. "Ehem, sekali lagi saya ingatkan, saya tak mengizinkan siapa saja untuk masuk ke sekolah di malam hari. Dan ada satu tempat yang menjadi pelarangan keras untukmu dan siapa saja."


"Kalau ruangan paling ujung, adalah tempat yang paling terlarang dan saya tak akan mengizinkan siapapun untuk masuk. Itu sudah terkunci dengan rantai, dan jendelanya pun sudah di tutup dengan kayu." ujarnya.


"Kenapa? Kenapa di larang? Alasanmu apa? Melindungi apa yang kau maksud? Ooh.." Ia benar-benar ngeyel, mirip seseorang yang menjengkelkan, yang pernah tinggal satu atap dengan kami. Dan saya membenci gaya slenge'annya. "Kau melarang orang masuk, karena percaya dengan cerita rekaan, bahwa tempat itu, angker?" terkanya.


Kiyai hanya terdiam, tak menjawab dan tak merespons langsung ucapannya.


"Hahaha, dengar ya.. Ku katakan padamu, penjaga sekolah yang sok berkuasa. Aku, tak pernah mempercayai yang namanya hantu."


"Hantu itu, hanyalah cerita rekaan, dan mereka.. tak pernah ada."


Saya menyeringai mendengar ucapannya. Tangan saya tiba-tiba saja bergetar, seolah tertantang untuk menunjukkan wujud saya di hadapannya. "Rekaan? Kihihihi. Berani juga mulutnya itu!"


.......


.............


.......


.......


...Bersambung.....