
Beberapa hari berlalu. Meski dalam satu rumah, Dinda dan Reza jarang sekali berbicara. Kamar pun sejak awal Reza datang sudah terpisah. Dinda tidur di kamar anaknya, Reza tidur di kamar yang dulu.
Kalau Siang, Nena lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengurusi ayam - ayamnya.Kalau malam hari selain menemani Dela, ia pun lebih banyak membaca buku-buku tentang cara beternak ayam. Ya, sejak 3 bulan lalu, sebelum suaminya pulang, Dinda mencoba beternak ayam. Meski baru 5 ekor.
Saat ini mereka berdua menghadiri undangan pernikahan dari adik letting Reza. Nena dan Reza datang tak bersamaan.
"Bu Reza!" panggil Renata yang juga sebagai tamu undangan. Acara pernikahan adik letting Reza digelar cukup mewah karena mendapat istri dari keluarga juragan bawang.
Dinda mengangguk memberi sapa, "Ya,Bu."
Renata melambai-lambaikan tangannya," Sini!"
.
Dinda berjalan menuju Renata. Renata menyuruhnya duduk di bangku sebelahnya.
"Mana Dela?"
"Saya titipkan ke gurunya, Bu"
"Lho, Dela sudah sekolah?"
"Baru seminggu,Bu. Kebetulan gurunya ini teman saya dulu"
Oh, begitu" Renata menengok kanan kiri,"Bu Reza nggak datang sama Om Reza?"
"Enggak, Bu" Dinda tersenyum kikuk.
"Tapi dia ada di sana, Bu" tunjuk Dinda ke sebuah meja yang banyak pria duduk berkumpul bersama.
Renata menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian pandangannya tersita melihat semi gaun yang dikenakan Dinda, "Cocok ya,baju dari saya" ucapnya pelan.
Dinda tertawa kecil, "Pas banget Bu. Bajunya bagus. Saya jadi nggak enak selalu dikasih Ibu."
Renata menepuk pundak Dinda. "Ah, Bu Reza ini. Udah nggak muat kalau dipakai saya, ngapain disimpan, mending berikan ke yang mau"
"Mau banget, Bu. Kalau ada lagi"
Renata tertawa. Kemudian ia mencuri pandang ke arah Reza dan muncul ide.
"Bu Reza, saya ke mobil dulu,ya. Jangan kemana-mana, disini aja". Renata mencari-cari sepatu cadangan di mobilnya. Sepatu warna pink berhak tinggi, berjenis peep toe lalu kembali ke dalam gedung.
"Dari mana,Bu?"
Dinda menengok cepat ke bawah."Aduh, Bu. Nggak PD saya pakai high heels"
"Saya hitung sampai 3 nih!"Renata tahu banget kelemahan Dinda, kalau sudah begini, Dinda langsung menurut.
Dengan ragu Dinda melepaskan sepatunya, gerakan diam-diam di bawah meja, lalu sepatunya kini telah berganti.
Renata membuka tasnya, mengeluarkan jepit rambut mutiara ala Korean style lalu menyodorkan pada Dinda. " Pake ini juga"
"Aduh,Bu. Saya ngrepotin terus"
"Ah, enggak. Saya senang lihat Bu Reza semakin cantik." ujarnya dengan seulas senyum.
Dengan cepat, Dinda telah meletakkan jepit rambut mutiara di rambutnya. Renata tersenyum puas. Sesuai dugaannya, jepit rambut itu cocok dipakai Dinda.
"Oh ya, Bu. Tadi sama siapa kemari?" tanya Dinda.
"Saya datang sendiri, Bapak kan masih sekolah. Kenapa? Bu Reza mau pulang bareng saya?"
Dinda tersipu,"Kalau nggak ngerepotin,Bu"
"Oh, enggak kok. Oh iya, itu rok Bu Reza kayaknya kena saos, deh" tunjuk Renata.
"Mana,Bu?" Dinda panik.
Renata menyodorkan 2 lembar tisu. "Di rok bagian belakang tadi saya lihat. Nih, Bu Reza bersihkan dulu saja. Itu ada toilet di sebelah sana."
Dinda menoleh ke arah tunjukan Renata. "Aduh, Bu.... Banyak Bapak-bapak di sana. Ada Mas Reza lagi"
Renata tidak kehabisan akal. "Dari pada nggak dibersihkan,Bu. Sayang lho kalau roknya rusak. Soalnya kain begini nggak bisa kalau kena bahan campuran saos, nanti warnanya belang "
"Aduh,masa sih,Bu? Iya, Sayang juga. Ini kan pemberian Bu Danki"
Renata tersenyum"Nah, itu tahu"
Dinda berdiri dari tempat duduknya. Mengenakan high heels sangat mempengaruhi postur tubuhnya yang seketika menjadi tegak,dada membusung, dan pantat terlihat penuh. Dinda tersenyum puas ketika Dinda yang baru berdiri saja sudah mencuri perhatian tamu lainnya.
Dari kejauhan, Renata mengamati Dinda yang berjalan menuju toilet. Tubuhnya yang tinggi semampai dan pinggangnya yang kecil membuatnya terlihat seperti model. Renata terus mengawasi Dinda hingga melewati meja Reza dan kawan-kawannya.
"Rasain kamu,Om Reza. Hihihi." Renata tersenyum jahil.