
"Tidak mungkin!!" teriak Reza dalam tidurnya. Seketika ia bangun dalam kegelapan. Napasnya memburu "Ternyata hanya mimpi. Mimpi buruk!!"Nggak di dunia nyata, nggak di dunia mimpi, Danton sialan itu selalu muncul!! Sial!!"
Reza bangun dan menyalakan lampu meja belajar. Suasana penerbangan kamar kembali remang - remang. Reza menatap Dinda yang tertidur pulas. Memperhatikan wajah Dinda dengan seksama di bawah penerbangan yang remang-remang. "Kalau dilihat-lihat terus menerus memang ternyata istriku begitu cantik"Reza juga menyadari jika Dinda istri yang baik. "Sepertinya aku sudah salah langkah"
Reza membayangkan seandainya Dinda sudah tidak jadi istrinya lagi, tak mungkin akan sedekat ini ia bisa memandang wajah Dinda. Tak mungkin bisa melihat Dinda sesering itu. Pasti semua akan terasa jauh. Reza jadi takut kelak ia akan rindu saat - saat sekarang. Dan itu tidak mungkin terulang.
"Akhir-akhir ini Dinda terlihat akrab dengan Pak Danton. Kok aku jadi sensi ya kalau lihat Dek Dinda dekat sama Pak Danton? Kalau ini namanya cemburu, lalu apa sebenarnya perasaanku pada Siska?"
Dinda tersenyum dalam tidurnya. Reza melihat senyuman itu. "Pasti dia lagi mimpiin Danton keparat itu!!"
Reza menggoyang-goyangkan tangan Dinda "Dek, bangun!! Dek, bangun!!"
Dinda mengerjapkan - ngerjapkan mata. "Ada apa, sih, Mas?"
"Ini sudah pagi tauk!!"
Dinda melirik jam Beker di meja, "Ini baru jam 4, mas!! Satu jam lagi. Aku masih ngantuk" Dinda membelakangi Reza dan memeluk guling.
"Nggak bisa!! Pokoknya bangun sekarang juga!"
Dinda kesal setengah mati. Ia mendorong dorong Reza keluar kamar.
"Loh, Dek?"
"Reza terbengong - bengong . "Loh, Dek? Kok aku yang keluar?"
"Ada apa,Nak?" Ibu keluar dari dapur. "Kok berisik banget
"Ah, Eh, ehmmm, ini Bu. Dinda lagi marah"
"Kok bisa?" ibu mengernyitkan dahi.
"Itu, Dinda marah karena.... minta 'jatah' tapi nggak kukasih" Reza menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
Ibu tertawa-tawa.
#####
Di dalam kamar, Dinda sendirian. Aroma ruang kamar itu masih menyatu di benaknya. Segala - galanya masih sama. Hanya keadaannya yang tidak sama. Dinda menyadari dirinya dan Reza seperti orang asing meski ruangan kamar itu tidak berubah sedikit pun. Dinda larut dalam kenangan di kamar itu.
Dulu ketika baru pertama menempati rumah itu, Dinda ingat setiap detailnya. Mengingat perasaan bahagia meski lelah beberes barang-barang mereka berdua. Rumah itu sepenuhnya Dinda yang menata. Termasuk kamar yang mereka tempati. Kamar yang tidak terlalu besar tapi muat tempat tidur besar dan sebuah meja belajar serta lemari kaca tiga pintu. Jendelanya pun hanya satu, terbuat dari kayu dengan model jadul. Gorden yang menghiasi jendela itu berwarna cokelat, warna kesukaan Reza.
Dinda menghela nafas. Sejujurnya karena terbangun ini ia tak dapat tidur lagi. Dinda melempar pandang ke rak kecil dekat meja belajar, isinya tak tertata, berantakan. Biasanya ia meletakkan barang-barang keperluan Reza disitu dan selalu berantakan setiap kali Reza mengambil barang disitu.
Dinda kembali menghela nafas. Teringat kenangan terakhir di kamar itu bersama Reza. Kenangan yang berisi pertengkaran demi pertengkaran. Jika di ingat semua terasa menyiksa semua secara bersamaan. "Tuhan, aku tidak ingin bersedih lagi. Ikhlaskanlah aku tak memilikinya"