RUN

RUN
Strong



*Author POV


Kepala sekolah terkesiap usai mendengar perkataan Wanto. Ia terdiam, tak ada pilihan lain selain menuruti apa yang Wanto mau, toh mereka sendiri pun tak bisa menangani kasus hantu di sekolah meski telah memakai ustadz lain. Hantu di sini, seolah-olah hanya tunduk dan mau mendengarkan perkataan Wanto saja.


Pelarangan masuk ke sekolah di malam hari memang telah lama adanya, hanya saja.. pelarangan masuk ke ruangan seni, baru kali ini di cetus oleh Wanto. Tapi, dari pantangan yang di buat keluarga Wanto, itu memberikan dampak baik, seolah menjauhi mereka dari hal-hal buruk, meskipun pada akhirnya, ada kegiatan sekolah di malam hari yang harus di ganti menjadi siang hari karena pantangan tersebut.


"Jadi, kita harus menerapkan pantangan itu?" tanya Kepala sekolah, memastikan.


"Ya, ada baiknya.. sekarang Bapak menyampaikan informasi ini pada semua penghuni sekolah, agar mengganti kegiatan belajar mengajar di ruang seni menjadi di tempat lain."


Kepala sekolah mendengkus, tubuhnya kaku dan pundaknya menegang. "Lalu, informasi untuk makhluk halus, bagaimana?" tanyanya getir, sambil mencari raut wajah pemuda di sampingnya ini.


"Itu serahkan saja pada Allah. Saya sebagai perantaranya, semoga Allah memberikan kemudahan dan melindungi kita semua." sahut Wanto, dengan raut wajahnya yang santai. Bahkan ia terlalu santai ketimbang wajah kepala sekolah yang sejak tadi terus menerus mematut.


"Lalu, ruangan seni akan di alihfungsikan menjadi apa? Tak mungkin kan kita mengosongkan ruangan itu begitu saja? Terlebih, ruangan itu berada di lantai atas dan merupakan ruangan paling ujung dari tempat lainnya. Membiarkannya kosong, sama halnya dengan membuatnya bertambah angker bukan?" tutur kepala sekolah, sambil menatap ke dalam gelas berisi teh yang mulai dingin.


Wanto hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak. Saya paham. Kalau begitu, sebaiknya kita langsung bicara saja pada hantu penunggu ruang seni." ujarnya sambil menyesap habis sisa teh yang berada di ujung gelas, lalu beranjak usai meletakkan gelas itu kembali.


Kepala sekolah melakukan hal serupa. Buru-buru ia menyesap teh yang masih penuh, lalu segera beranjak mengikuti Wanto yang menyodorkan kepalanya ke dalam rumah.


"Dek, Mas keluar sebentar ya. Kalau Mas pulang, makanannya di siapin. Udah lapar." pintanya.


"Nggih, Mas." sahut istrinya dari dalam.


Senyum sumringah merekah dari wajah Wanto setelah mendengar suara istrinya. Ia tahu, meski merasa khawatir tapi sang istri selalu mempercayai dirinya. Terdengar dari suara merdu kala ia menjawab pertanyaan suaminya. Tak ada yang lebih menyenangkan dari restu sang istri terhadap tugasnya. Ia bersyukur sang istri memakluminya.


"Ayo, Pak." ajak Wanto, sambil melangkah cepat keluar dari pekarangan rumahnya.


Kepala sekolah mengikuti, sambil memberi kode pada para guru dan polisi yang menunggu di ruang biologi. Pak kepala sekolah mengibaskan tangannya, agar mereka pura-pura tak melihat dirinya dan juga Wanto.


Meski begitu, sepertinya kali ini Wanto tak mempermasalahkan kehadiran para guru dan kepolisian. "Udah, Pak. Gak apa-apa kalau sekarang. Yang penting masalahnya kan udah kita bahas sama-sama, jadi kedatangan saya ke ruang seni hanyalah untuk berbicara dengan makhluk yang ada di sana. Mereka ikut pun tak apa-apa. Supaya mereka merasa tenang ketika melihatnya secara langsung." ucap Wanto, membuat para guru dan kepolisian berlari berbondong-bondong mengikuti dirinya.


Mereka naik ke atas melalui tangga samping yang berada di luar gedung. Itu hanya sampai pada batas lantai kedua, untuk naik ke lantai tiga, maka mereka harus masuk ke dalam ruangan karena lantainya berada di tengah gedung bagian dalam. Ketika mereka masuk ke lantai dua, mereka membiarkan para siswa menatap heran ke arah mereka sembari berbisik.


Tentu saja mereka sudah tahu apa yang sedang terjadi, dan kemana tujuan orang-orang ini.


Wanto berserta yang lain mulai menuju ke tangga lantai tiga. Saat kaki mereka menapak dan menginjak ke lantai tersebut, tiba-tiba saja Mading yang ada di dinding terjatuh, membuat Bu Desti menjerit karena terkejut.


"Gyaaaaah!!" pekiknya, membuat kepala sekolah dan dua polisi ini tersentak. Mereka ikut terkejut mendengar suara Bu Desti, dan menatap wanita itu dengan tatapan heran. Bu Desti tersenyum malu dengan wajah masam. "Maaf, Pak. Saya kaget." tukasnya sayu, sambil mengusap dadanya.


Mereka melanjutkan perjalanan. Ruangan seni yang biasanya dekat, entah kenapa terasa sangat jauh. Di pagi hari, ruangan lantai tiga ini tak di injak siapapun, sepi karena belum di gunakan untuk ekskul ataupun jam pelajaran.


Suara sepatu mereka tak seirama, meski tak ada angin, tapi tirai tersibak dengan kencangnya. Bu Desti mengerutkan tubuhnya, ia mengusap tengkuk sambil menatap awas ke seluruh ruangan, bahkan hingga sampai tubuhnya membungkuk.


Wusshh!!


Sekelabat sesuatu lewat di dalam ruangan, di sertai dengan suara benda jatuh dan desiran angin kencang. Bu Desti menutup mulutnya, tak mau berteriak seperti sebelumnya meski ia merasa sangat takut.


Meski di pagi hari, entah kenapa suasana ruangan lantai tiga ini mendadak suram. Cahaya matahari seolah enggan masuk, dan lampu ruangan pun seolah tak memberikan penerangan terbaiknya. Perasaan was-was ini semakin menjadi-jadi, terlebih ketika mereka hampir mendekat ke ruang seni.


Tubuh orang-orang ini mendadak dingin, bahkan rasa mual tertahan di dalam perut dan kerongkongan. Tubuh menjadi gemetaran, bahkan langkah kaki mereka semakin berat, kecuali Wanto yang masih menahan senyum di wajahnya.


"Jangan takut, mereka itu sedang menyambut." tukasnya yang berjalan di depan mereka semua.


Orang mana yang suka dengan sambutan para hantu, semua orang pasti akan merasa ketakutan terhadap hal itu. Dan mereka merasa kalau Wanto cukup aneh kali ini.


Deg.. Deg.. Deg...


Suara jantung terdengar seirama dengan derap kaki mereka. Tepat langkah mereka terhenti, seperti itu juga rasanya jantung terhenti. Mereka di hadapkan di sebuah ruangan dengan pintu artistik. Ukiran ini di buat oleh lelaki berambut putih itu.


Wanto mulai berkomat-kamit, membaca bismillah dalam bisikan, sebelum membuka pintu tersebut, sementara yang lainnya hanya saling pandang tanpa tergerak untuk melakukan hal serupa.


Krieeeeeet...


Pintu tak berderit, karena ini bukanlah pintu tua yang menyeramkan. Hanya saja, ruangan ini terlalu senyap hingga suara sekecil pintu terbuka pun terdengar di telinga.


Aura aneh merebak, masuk dan menusuk ke dalam kulit. Rasanya dingin, tapi dingin yang berbeda. Ruangan ini tampak biasa, setelah di bersihkan dan di pakai untuk para siswa belajar.


Memang..


Terlihat biasa di mata orang yang tak mampu melihatnya, tapi terlihat berbeda di mata orang-orang yang mampu melihatnya.


Semua orang terdiam, saling pandang ketika melihat Wanto mengernyit, bahkan masuk ke dalam ruangan sambil sibuk celingak-celinguk ke kanan-kiri.


"Assalamualaikum, hamba Allah.. Tunjukkan wujudmu jika kau ada di dalam sini." ujar Wanto, sambil melirik sekeliling.


Ia masuk, dan berkali-kali mengucapkan salam. Tapi anehnya, raut wajahnya masih panik, karena sesuatu yang seharusnya terlihat, menjadi tak tampak di matanya.


Keringat mulai mengucur dari pelipis sampai membasahi rambutnya. Napas Wanto seketika sesak, tak tahu apa yang terjadi, tapi itu membuat kepala sekolah dan yang lainnya ikut panik.


"Gawat!" keluhnya, sambil dengan cepat menuju ke lemari yang telah jebol.


"Ada apa? Kenapa?" tanya mereka ketika melihat ketenangan Wanto menjadi sirna.


Wanto memejamkan mata, dan membukanya dengan tenaga batin yang ia punya. Ia memeriksa, dan yakin betul kalau ini bukan suatu kesalahan.


Hantu anak lelaki Albino itu, tak berada di dalam ruangan ini?


Tentu saja ini menjadi hal yang mustahil, dimana Wanto dan Adam telah mengadakan perjanjian untuk mengurung hantu kuntilanak lelaki itu di waktu matahari terbit.


Bukankah ini pagi hari?? Seharusnya hantu itu ada di dalam sini, tapi...


Sekarang kemana dia? Kenapa ia bisa pergi dan keluar dari tempat ini?


Wanto mulai mengangkat kedua tangannya, menutup mata dan membuka mata batinnya. Ia menerobos, berusaha mencari keberadaan hantu Kuntilanak laki itu.


Dimensi berbeda mulai terbuka. Alam manusia kini terlihat aneh karena Wanto membuka mata batinnya, menembus segala frekuensi yang ada.


Ia mendengar, suara bersahutan. Dari sekian banyak suara, ia berhasil menangkap satu suara yang berbeda. Serak dan antusias. Suara yang ia kenal.


Ck, si*lnya dia memang cerdas. Dia mengetahui siapa yang menemui saya kala itu, dan dia juga menyadari mengenai keanehan pada diri saya yang tak bebas keluar dari ruangan seni. Tapi, kenapa baru sekarang sih? Coba saja mengatakannya dari dulu, jadi saya bisa langsung mengingat semua kejadian itu, kan??


Wanto mengernyit. "Anak ini.. sedang berbicara dengan orang lain. Dengan siapa?? Dia punya teman??" batin Wanto.


Apakah Tamusong takut, kalau saya bisa di kurung lagi oleh kiyai karena telah menyebabkan kerusuhan di sekolah hari ini??


"Tapi.. kiyai tak seburuk itu. Dia tak seburuk itu."


"Kiyai?? Dia menyebut kiyai??" Lanjut Wanto lagi. "Bukankah itu adalah panggilan khas dari para hantu. Kalau ia memanggil ku dengan sebutan itu, artinya ia memang telah bertemu dengan sesosok hantu. Karena yang tahu itu, hanyalah sesama hantu."


"Lalu, sekarang bagaimana? Sudah terjadi juga, tak bisa di apa-apakan lagi."


"Dia meminta pendapat sosok lain, kira-kira siapa hantunya?" Wanto menimpali suara gaib yang ia dengar.


"Mau pergi, apa maksudmu?"


"Tapi.. Kalau saya pergi, saya.. tak bisa bertemu dengan seseorang yang di janjikan kiyai. Tapi kalau saya di kurung selama-lamanya di ruang seni, saya.. tak mau seperti itu."


"Ck! Dia memang memanggilku kiyai, berarti dia sudah bertemu dengan para hantu yang berpengalaman. Dan liciknya, hantu ini tahu kalau mereka tak boleh menyebut namaku. Bukan hanya karena akan kepanasan, tapi..." Wanto terdiam di dalam batinnya. "Aku bisa mendengar dan menembus semua ucapan para hantu yang menyebutkan nama asli ku. Jadi, hantu ini sengaja mengajak Adam pergi, tanpa sepengetahuan ku??" lanjutnya.


Wanto menurunkan tangannya yang teradah. Ia mengatup bibirnya rapat-rapat, lalu menggenggam jemarinya dengan kuat.


"Atas izin Allah.. saya, seorang hamba Allah, memohon agar Engkau, menarik dan mengembalikan roh Adam, ke hadapan saya.. dengan atau tanpa perantara." batinnya.


Ia mulai berdoa dan bershalawat, membuat desiran angin menerobos masuk ke ruangan seni, bahkan jendela yang tertutup rapat mendadak terbuka dan memasukkan sampah-sampah daun kering berguguran ke dalamnya.


Bu Desti berteriak sambil menutup wajahnya. Sementara guru, kepala sekolah dan dua orang polisi mengernyitkan dahi, berusaha menahan tubuh mereka dari desiran angin yang mengibaskan bajunya.


Tiba-tiba saja, segumpal cahaya aneh masuk, membuat pori-pori mereka meremang. Jendela dan pintu ruangan seni yang terbuka mendadak tertutup, membuat beberapa orang guru panik dan berusaha membukanya.


Cklek!! Cklek!!


Mereka menarik-narik gagang pintu, tapi ruangan ini tiba-tiba saja terkunci. Semburat raut panik mulai tampak di wajah mereka.


Mereka menggedor-gedor pintu sambil berteriak-teriak. "Tolong!! Di luar sana, siapapun tolong buka pintunya!!" pekik mereka sambil menoleh ke arah Wanto yang masih memejamkan matanya sambil berdiri.


Kaca jendela yang tertutup mulai terbuka, tertutup lagi dan terbuka, berulang-ulang hingga ruangan ini di penuhi sampah-sampah daun kering, yang sekilas membuatnya terlihat seperti area pemahkaman yang tertutup daun di segala sisi.


"Huaaaaaa!! Tolong, tolong!!" pekik Bu Desti.


Wanto membuka matanya, menoleh panik ke arah mereka. "Bentengi, bentengi diri kalian dengan dzikir!! Sebisa mungkin, tanpa putus!! Karena yang kita hadapi ini..."


"Adalah hantu terkuat, yang pernah ku jumpai."


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......