
Reza dan David berjongkok di rerumputan dengan gunting rumput besar. SRAAK. Tangkai tanaman teh-tehan berjatuhan setelah dipotong. David mengumpulkan tangkai - tangkai yang berjatuhan di satu tempat.
"Bunga Soka itu juga dibentuk, Reza"
Reza mematung
"Reza!!"
"Eh, sorry,Vid. Gimana?"
"Itu loh, bunga sokanya juga dipangkas"
"Oh, iya, iya"
"Biar aku aja yang pangkas." Irfan muncul diantara mereka berdua. "Sini guntingnya, Reza"
Reza kembali mematung. Sorot matanya serius melihat ke arah barat dari jarak berdirinya.
Irfan dan David menatap ke arah Reza memandang.
"Kamu lihatin Kopda Yudan Nurdin itu,Reza?"
"Ya, Irfan. Perasaanku nggak enak aja lihat dia. Kasihan sama Prada yang baru-baru masuk batalyon"
"Iya, kamu betul. Dia terlalu sombong dan keras kepala. Dia bahkan berani melawan Perwira"
"Oh, ya? Kapan?"
"Dua hari yang lalu. Ditegur Pak Hizam, eh balas membentak"
"Trus Pak Hizam, gimana?"
"Kayaknya Pak Hizam malas ribut. Jadi ya ditinggal pergi si Kopda Yudan. Sama komandan saja berani, apa lagi sama kita, Reza."
"Astaga, orang itu!! Kenapa bisa arogan begitu, ya? Tapi kasihan aja sama Prada-prada yang baru masuk, terutama si Eko itu. Kayaknya sering jadi bulan - bulanan Yudan. Emang ada apa, sih?"
David masuk dalam pembicaraan. "Kabarnya sih karena Eko itu kurang beretika sebagai junior. Tapi nggak gitu juga harusnya si Yudan itu. Terus katanya yang dari tamtama di Yon kita ini pada takut sama Yudan"
"Mungkin bukan takut, David, tapi yang lain sudah tahu tabiat Yudan yang emosian, jadi males cari masalah sama dia"
Iya juga sih" David menepuk-nepuk pelan tangannya, membersihkan dari sisa-sisa tanah di telapak tangannya.
"Tapi Irfan, ada juga kok yang beberapa takut sama Yudan. Tuh lihat yang ikut bantai Prada baru itu, Praka Wahyudi sama Kopda Riki" Dagu Reza menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Iya juga ya. Aku sebenarnya sempat menegur mereka kalau jangan terlalu brutal, tapi jawaban mereka apa?"
Reza dan Irfan menoleh bersamaan ke David.
" Katanya 'Vid, nggak usah ikut campur, urus aja Bintara yang baru masuk!' JIAH, Sopan banget dia!!"sindir David dengan luapan emosi di wajahnya.
Keseriusan mereka terpecah setelah Budi muncul.
"Hayo!!! Pada ngobrolin apa, nih? Pasti yang jorok jorok , kan?"
Reza melirik malas, "Duh muncul lagi dakican Coba bukan senior, Udah kugilas pake roda tank"
"Ihh, Bang Bud su'udzon. Kalau yang suka ngomongin jorok bukan komplotan kita, tapi yang di sana itu, Si kembar ama Yoyok." sambung Irfan cekikikan.
Di kejauhan, Dono dan Doni yang sedang membersihkan saluran air tersedak. "Kok bisa tersedak barengan ya, Don?"
"Jiah, namanya juga kembar. Semua pasti sama. Ampe digosipin juga barengan, hahahaha"
"Semprul, kamu Yok!" Doni menjitak kepala Yoyok.
"Permisi, Om" sapa suara wanita dari arah belakang mereka.
Doni,Dono dan Yoyok menoleh lalu wajah mereka sumringah begitu mengetahui siapa yang bicara itu
"Cleopatra, Yok" bisik Dono lalu cengar-cengir.
"Eh, mbak Dinda, ada apa ya?" tanya Doni.
"Lihat mas Reza nggak,ya?"
Masih cengar-cengir Dono berucap "Kirain cari saya, mbak"
Dinda tersenyum melihat Yoyok menginjak kaki Dono dengan keras. Yang diinjak mengaduh dengan keras.
"Sepertinya di sebelah sana,mbak. Yang di pagar bumi"
Oh, ya. Makasih, Om" Dinda berlalu.
"Malu-maluin aku, kamu Yok! Jatuh harga diriku di depan mbak Dinda"
"Nggak usah kugituin tadi juga mbak Dinda nggak bakalan lirik kamu, Don"
"Apa mereka nggak jadi pisah ya? Kok sudah akur begitu? Duh, jangan sampai! Ya Tuhan, pisahkanlah mereka dan biarkan mbak Dinda jadi bidadari ku"
Dono memukul kepala Doni. "Trus istrimu mau dikemanakan?!"
"Ya buat kamu toh, Dono! kan kamu masih bujang"
"Kampret kamu, Doni. Harusnya mbak Dinda sama akulah"
"Om, permisi"
Sebuah suara kembali terdengar dari belakang mereka. Mereka melirik satu sama lain.
"Cleopatra datang lagi, Yok" bisik Dono.
Mereka cengar-cengir dengan wajah berseri lalu bersamaan menoleh dan jadi melongo.
"Busyet!!! Ini sih bukan Cleopatra,ini siluman ular"
"Iya Medusa kalau yang ini"
Wanita di depan mereka mendelik.
"Maaf Bu Budi, ada apa ya?"
"Lihat suami saya nggak?" tanyanya dengan nada membentak.
Doni,Dono dan Yoyok gemetaran. "Di sebelah sana kali, Bu" tunjuk Yoyok.
"Hatiku yang berbunga-bunga lihat mbak Dinda langsung jatuh terpuruk dan porak poranda setelah melihat Bu Budi"
Doni mengelus dada. Dono dan Yoyok tertawa