
*Tamusong POV
Aku mengerjap, mendengar kisah yang baru saja di ceritakan oleh Kuno. Betapa tidak, bisa-bisanya ia berpikir untuk melakukan hal itu dalam misi menyerupai manusia.
Aku sendiri pun yang berniat memberikan misi ini padanya, tak pernah berpikir kalau ia akan melakukan hal seperti itu. Aku memberikan saran padanya, agar ia bisa meniru salah seorang pelajar disana, dan gunakan pelajar itu untuk menakuti pelajar yang lainnya.
Tapi dari apa yang ku perintahkan itu, ia harus mengamati siswi itu setidaknya selama satu Minggu, baru wajah si korban bisa tergambarkan dengan jelas.
Tapi aku sampai lupa, kalau dia adalah salah satu pelajar di sana. Dia sendiri yang mengaku kalau tak punya teman dan selalu di pandang sebelah mata. Artinya, kalau harus meniru pelajar, maka ia tetap membutuhkan waktu selama satu Minggu pengenalan.
Beda halnya dengan seorang guru. Tentu sebagai murid, akan paham betul dengan sikap dan tingkah si guru selama mengajar. Entah itu wajah, suara atau gaya bicaranya. Makanya anak ini memilih menyerupai sang guru dan menakuti si siswi.
Hal hebat lain yang tak boleh ku beritahu padanya adalah..
Bisa-bisanya ia memanipulasi ruangan kosong itu dan membuat para siswa yang muncul di setiap sudut ruangan seolah pelajar di sana, padahal.. itu hanya ada dalam khayalan si siswi. Sesungguhnya, membuat halusinasi dan menjadikannya sedemikian rupa itu merupakan kemampuan hantu kelas atas.
Sebagai contoh, seorang hantu yang kuat dan memiliki daerah kekuasaan khusus, menyerupai manusia cantik untuk menarik perhatian manusia. Membuat halusinasi di sekitar tempat yang merupakan hutan atau kuburan, menjadi tempat yang cantik nan indah. Dan hal seperti itu, hanya bisa di lakukan oleh para hantu yang berpengalaman dan mampu mengendalikan kekuatan gaibnya dengan baik.
Dan lagi, ia langsung menirukan wujud seorang perempuan dan itu adalah hal yang sulit, mengingat jenis kelaminnya adalah laki-laki. Dari sekian banyak guru, ia memilih seorang guru perempuan? Padahal sebelumnya aku sudah mengatakan perihal perubahan, kalau lelaki sebaiknya meniru seorang lelaki pula. Seperti ia mengabaikan perkataanku yang satu itu. Anak nakal memang.
Tapi, di luar itu semua.. anak ini memang luar biasa. Belum satu Minggu ia mati, tapi bisa-bisanya membuat kamuflase tempat sedemikian rupa. Bahkan membuat kesan dramatis yang mengerikan dengan menggambar wajah si siswi dari segala sisi.
Kalau aku jadi manusia, aku pun akan melakukan hal yang sama seperti manusia tadi, yaitu pingsan berkali-kali.
Anak ini tak bisa di anggap remeh. Memang benar-benar mirip seperti dia. Pintar, cerdas, jenius, dan... licik.
"Tamusong, bagaimana? Apakah yang saya lakukan sudah baik? Berapa nilai yang akan kau beri??" tanyanya dengan semangat dan dengan suara yang serak nan khas.
Aku menggeleng, menghilangkan rasa takjub agar anak ini tak besar kepala. "Huh! Boleh juga kau ya! Lumayan sih, tak hebat-hebat amat." komentarku.
Ia mendengkus, terlihat benar-benar sebal. "Yah! responsnya begitu saja?? Padahal kan saya sudah susah payah mengerahkan seluruh tenaga gaib. Kau tahu, memanipulasi tempat yang kosong agar terlihat seperti terisi penuh oleh para siswa itu sangat melelahkan tahu!! Beri saya penghargaan kek!" keluhnya sambil merengek.
"Penghargaan apa? Memangnya kau barusan memenangkan olimpiade dunia perhantuan? Itu belum seberapa tahu! Tapi setidaknya kau bisa menyelesaikan misi tahap dasar yang ku berikan. Hebat juga sih." lanjutku.
"Saya tak butuh penghargaan yang seperti itu! Kata-kata saja memangnya bisa membuat perut kenyang? Berikan sesuatu kek, makanan misalnya! Saya lapar tahu! Lelah juga! Kalau perlu, sewa setan yang semasa hidup menjadi tukang urut. Biar hantu itu punya keahlian khusus dalam memijit kulit-kulit saya yang lembut."
Aku menoleh sinis ke arahnya. "Jangan berisik! Setan itu tak pernah pegal-pegal! Kalau lelah karena kebanyakan memakai kekuatan sih memang pernah. Diam saja dalam waktu beberapa jam, maka kau akan pulih seperti sedia kala!"
"Lagipula, kalau lapar cukup katakan kalau kau lapar. Tak perlu meminta makan dengan dalih penghargaan segala! Kau membuatku bingung tahu!!" balasku.
Ia langsung menyodorkan tangannya ke arahku. "Kalau begitu mana? Berikan saya makanan, saya merasa lapar." pintanya dengan wajah polos dan lugu.
Aku menghela napas mengalah. Kalau dia berhenti cerewet karena kelaparan, aku jadi kasihan melihatnya. Meskipun suara cerewetnya itu berisik, tapi kalau tak mendengar perdebatannya, aku rindu juga. "Ya sudah, ayo kita petik bunga melati sama-sama." ajak ku, diikuti oleh kuntilanak albino ini.
Sambil melompat-lompat kecil, aku menoleh ke arahnya sesekali, yang sedang terbang dengan pandangan lurus ke depan. "Hei Kuno, ngomong-ngomong tentang siswi tadi, apa yang terjadi setelah itu padanya?" tanyaku.
Kuno tak mengubah raut wajahnya, masih datar dan terlihat biasa saja. "Hm.. dia pingsan di tempat, lalu saya berinisiatif untuk membantunya. Ketika saya bangunkan, eeeh.. lagi-lagi dia pingsan."
Aku meringis mendengar ucapannya. "Tentu saja dia pingsan lagi, kau itu berniat membantu atau membunuhnya sih? Dia kan takut padamu, malah kau bangunkan begitu." protesku.
"Tapi setidaknya dia bisa lari sedikit demi sedikit, dan keluar dari ruangan itu." Aku mengernyit, tak paham dengan maksud dan ucapannya. "Maksudnya.. saya membangunkan dia, dia sadar dan berteriak, lalu lari menjauhi saya. Setelah itu pingsan lagi, dan itu terjadi sampai ia tiba di gerbang sekolah."
Aku masih mengernyit mendengar ceritanya. "Tahu dari mana kalau dia sampai ke gerbang sekolah? Kau kan tak bisa keluar dari dalam ruanganmu?"
Kuno menggelengkan kepalanya. "Kihihi, dia pingsan.. sampai malam. Dan berlari seperti orang ketakutan. Tapi dia bertemu dengan masyarakat setelah itu. Menangis sekali sampai gemetaran begitu. Apa saya keterlaluan?" tanyanya sambil tertawa. Aku tak menemukan raut bersalah pada wajahnya, ia terlihat senang.
"Dasar kau ini!" keluhku sambil kembali melompat.
Baru beberapa lompatan, tiba-tiba aku merasakan suatu energi aneh yang membuatku merinding. Rasanya sama seperti ketika masih hidup, dan merasakan keberadaan hantu. Tapi, aku kan sudah mati, kenapa masih merasakan hal ini???
Aku pun menoleh, pada anak laki-laki terbang yang berada di sampingku. Ia terlihat biasa, tak mengerahkan tenaganya sama sekali. Tadi dia bilang juga sedang lelah, tapi... kenapa auranya sebesar ini??
Ia mengembang senyum misterius, menatap lurus ke arah depan lalu dengan perlahan mulai menoleh ke arahku. Tatapannya yang datar kini ia lirikkan, ia menyentuh kedua telinganya sambil berkata...
"Hei Tamusong.. kau dengar itu??" gumamnya bertanya. Aku hanya terdiam sambil mengerutkan dahi. "Mereka, sedang membicarakan saya.." bisiknya dengan suara rendah yang serak.
Duuuumm!!!
Aku mengerahkan tenaga, melepaskan energi yang ku miliki ke arah Kuno. Asap mengepul, dan para hantu di kuburan menatap ke arahku.
Ia menatapku dengan tatapan mengerikan, dan sebagian baju yang ia kenakan, kini berwarna merah menyala. Aku terkejut, terus terang saja aku terkejut.
Ia.. berubah menjadi kuntilanak merah??? Kuntilanak pemarah dan agresif. Ini terlalu berbahaya, apakah ia merasa marah karena aku tiba-tiba menyerangnya?
"Kuno!! Apa yang kau lakukan?!" pekikku, berusaha menyadarkannya.
Ia kembali tersenyum dan menutup sebelah matanya dengan tangan. "Ck! Kenapa kau menyerang tiba-tiba Tamusong? Sakit tahu!" ucapnya.
Aku mengerjap, masih terkendali? Kekuatannya masih terkendali meskipun ada semacam nafsu yang besar dalam dirinya. "Kuno! Maafkan aku! Kau tiba-tiba saja menyeramkan dan sungguh, itu mengagetkanku." ucapku, mengatakan yang sebenarnya ku rasa.
Senyum Kuno semakin melebar. Sebelah matanya yang tak tertutup kini membalas tatapanku dengan tajam. Terus terang saja, anak ini benar-benar menakutkan.
"Saya pikir kenapa. Rupanya cuma itu saja?" tanyanya. Aku masih terdiam sambil menelan ludah. "Saya hanya merasakan kekuatan aneh yang tiba-tiba menyeruak di dalam Sukma. Tepat ketika orang-orang mulai membicarakan saya." tukasnya.
"Siapa yang membicarakanmu? A.. Apakah siswi dan orang-orang yang menemukannya?" tanyaku menerka.
Kuno hanya menganggukkan kepalanya. " Ya.. itu mereka. Dan mereka ketakutan sekali pada saya. Sebagiannya ada yang mulai menyebarkan berita ini, dan sebagiannya lagi menganggap saya benar-benar ada dan gentayangan. Semua perkataan dan pembicaraan manusia itu, membuat nama saya semakin terangkat, dan saya..."
"... merasa bertambah kuat." tukasnya, membuat dadaku terasa berdenyut saking takutnya diriku. Ia mengabaikan, lalu terbang menghampiri bunga melati yang rimbun di dekat kami.
"Kihihihi... ini melati?" gumamnya sambil memetik beberapa dan memakannya.
Sebenarnya, aku berniat mengajari anak ini untuk melakukan sesuatu. Tapi sama seperti sebelumnya, bahwa Kuno.. sedikit lebih berbahaya dari yang ku kira. Jadi, rasanya aku lumayan takut untuk memperalat dan mempermainkannya.
"Hei Tamusong, berhentilah menjadi kayu kering begitu, kenapa kau kaku sekali sih. Ayo temani saya makan melati." pintanya sambil duduk berjongkok di atas dahan melati.
Aku menggeleng, masih kaku. "Aku tak makan melati." balasku.
"Ya sudah, padahal ini enak." lanjutnya sambil mempercepat kunyahannya. Perlahan namun pasti, aku bisa melihat warna kemerahan di bajunya berubah menjadi warna asli. Putih seperti sebelumnya.
Tandanya, ia sudah menekan kekuatannya dan menyimpannya dalam-dalam. Aku hampir kencing di kain kafan saking takutnya.
"Oh iya Tamusong, saya kan sudah berhasil melewati tahap ketiga dari tahap dasar ilmu para hantu. Jadi sekarang, apakah kau akan mengizinkan saya melakukan tahap yang ketiga?" tanyanya semangat, dengan tangan yang masih memetik melati dengan cepat.
"Ya, nanti akan ku ajarkan padamu. Tapi, kenapa kau memetik melati begitu cepat?" tanyaku heran.
"Nanti ada kuntilanak lain yang memakannya. Saya tak mau berbagi, apalagi pada mereka." ucapnya sambil menyumpal mulut dengan segenggam melati.
"Ck! Ternyata kau setan pelit! Lagipula tak ada yang mau makan bunga seperti kita. Kalau ada pun cuma beberapa hantu saja. Mereka lebih suka memakan darah dan menjadi budak manusia." perkataan ku membuat Kuno mengernyit.
"Apa?? Apa katamu tadi?? Hantu menjadi budak manusia?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Ya, ada sebagian hantu yang mau di perbudak manusia dengan menuruti keinginan mereka, hanya dengan di upah oleh darah dan sesajen saja. Jadi, mereka itu hantu pemakan darah yang di hidupi manusia. Syaratnya, mereka harus memberikan kekuatan mereka kepada manusia."
Kuno mendecakkan lidahnya. "Apakah itu ras terlemah dari para hantu? Setahu saya ketika masih hidup, kebanyakan manusia lah yang bersekutu dengan hantu dan di perbudak iblis. Tapi kok, ini malah terbalik sih?" keluh saya lagi.
"Itu hanya sebagian hantu saja. Jadi jangan terlalu dipikirkan."
"Berarti, mereka itu hantu-hantu yang lemah?" gumamnya, masih saja memikirkan mengenai hal itu.
"Kan sudah ku bilang jangan di pikirkan!! Masih saja kau memikirkannya!" bentakku. "Lagipula, hantu yang seperti itu bukanlah golongan yang lemah. Tapi, mereka termasuk kategori hantu terkuat."
"Dan seluruh hantu yang ada di kuburan ini pun, belum tentu bisa melawannya." lanjutku, membuat Kuno mengembangkan senyumannya.
"Benarkah?? Mungkin karena dia belum mengenal saya."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......