RUN

RUN
Tempat Tujuan



Saya yang jatuh tengkurap pun sedikit mengangkat kepala, agar dada tak terkapar di atas angin. Mata saya mengerjap, menatap Tamusong dengan raut bingung.


"A.. apa? Teleportasi??" tanya saya mengulang.


Tamusong menatap saya dengan sinis. "Iya tuli!!" balasnya, sengaja meniru ucapan saya ketika mengatakan hal tersebut padanya.


"Kihihi, seperti kenal dengan kalimat itu." sahut saya. "Tapi... Teleportasi, yang benar?" ulang saya lagi sambil memperhatikan sekeliling.


Ruangan yang sebelumnya gelap dan juga berdebu, kini berganti menjadi tempat terbuka. Ini memang benar-benar tempat yang berbeda. Bukan ruang seni yang telah menjadi gudang seperti sebelumnya. Ini pasir yang nyata, desiran angin kencang yang nyata dan gelombang air laut ini pun juga nyata. Ini tak mungkin halusinasi kan? Atau jangan-jangan...


"Gyaaaaaaah!!" Saya tiba-tiba menjerit sembari menjambak rambut dengan kedua tangan, bahkan tubuh saya langsung berganti posisi menjadi duduk.


Tamusong terperanjat, ia langsung celingak-celinguk menoleh ke sekeliling, mencari siapa yang telah menakuti saya. "Apa? Apa yang menyeramkan? Apa yang kau lihat?" tanyanya panik.


"Jangan-jangan sebenarnya, kita ini bukan sedang teleportasi, tapi.. lenyap dan hilang dari muka bumi karena serangan kiyai tadi? Jadi, ini surga ya??" gumam saya dengan senyuman yang paling manis yang pernah saya tunjukkan, hingga Tamusong terperangah melihatnya.


Senyum saya tiba-tiba saja sirna ketika melihat sesuatu, dan hal itu di sadari oleh Tamusong. "Nah, sekarang kenapa lagi?" tanyanya.


"Bukan surga toh." balas saya singkat, tak tertarik seperti sebelumnya.


Tamusong mengerjap. "Kok tiba-tiba bilang bukan surga, tadinya kau bilang ini surga? Cepat sekali berubahnya." protesnya.


"Mana ada di surga benda itu." tunjuk saya pada Tamusong yang sama sekali tak tersentuh oleh lalat. "Lalat saja enggan memakannya." gumam saya, membuat Tamusong tertawa kesal.


"Gahahaha!! Aneh-aneh saja kau ini. Tapi aku cukup kagum padamu." ujarnya, dengan senyuman wajah gosong yang menyakiti mata saya. "Kau benar-benar bisa membaca pikiranku ketika saling berpandangan. Padahal, untuk masuk ke tahap itu, butuh ikatan yang begitu kuat antara dua sosok hantu." ujarnya.


Saya mengangkat sebelah alis. "Yaa, mungkin karena sebelumnya kita selalu melakukan telepati, jadi bukan hal yang sulit bagi saya untuk membaca pikiranmu." terang saya.


Tamusong terdiam, menatap saya dengan sendu lalu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Ya, kau benar. Anggap saja begitu." ucapnya.


Saya beranjak, terbang mengambang sambil berputar dan menilik ke segala tempat. "Woaaaaaah!!" ujar saya, terkesima.


Bagaimana tidak, setelah cukup lama terkurung di dalam gudang dan terikat, akhirnya saya bisa keluar dan melihat alam bebas. Tempat yang memiliki pasir pantai yang putih dan halus. Ombak air laut yang cukup dalam tapi tenang. Pohon-pohon kelapa yang berjejer di sepanjang pesisir. Dan, di ujung sana sepertinya ada hutan lebat dan juga pepohonan.


Sepertinya, ini adalah sebuah pulau dekat pantai. Apakah ada orang di sini? "Wooooi! Permisi.. apakah di sini ada orang. Kami tersesa- upph!!" saya terkesiap ketika Tamusong membekap mulut saya.


"Hei, kau kira kau ini manusia? Kau itu hantu yang terdampar bodoh! Bisa-bisanya minta tolong dan berteriak seperti itu di tempat ini!" bisiknya dari belakang, sambil mendekatkan mulutnya ke telinga saya.


"Puih!! Pih!!" saya langsung meludah ketika berhasil melepaskan tangan Tamusong dari mulut saya. "Tanganmu asin tahu!! Jangan lakukan itu lagi, menyebalkan sekali!" keluh saya.


"Jangan berisik, kau ini tak tahu ya kita sedang berada di mana? Hah?!" sergahnya lagi, sambil memasukkan kedua tangannya kembali ke dalam kain kafan.


"Karena saya tak tahu, makanya saya mau bertanya. Kan, malu bertanya sesaat saja." ujar saya asal, dengan ekspresi yang menyebalkan.


"Apaan itu? Malu bertanya sesat di jalan, tahu!" protesnya sembari membenarkan.


"Jadi cepat katakan, memangnya tadi Tamusong sedang membayangkan apa ketika menatap mata saya?" tanya saya datar. "Jangan bilang kalau ini adalah tempat yang Tamusong maksud pada saya kala itu. Tempat menyenangkan yang hanya ada hantu di dalamnya. Benar begitu?" terka saya, membuat Tamusong menghela napas panjang.


"Yah, kau kan memang pintar. Makanya saya tak perlu kaget ketika kau menerka dengan benar." sahutnya. Ternyata benar. Ini memang tempat yang sudah sejak lama ingin ia datangi bersama saya.


Saya menatap Tamusong dengan sinis. "Jangan memperalat saya loh. Tamusong tak tahu kan saya ini orangnya bagiamana kalau marah." ujar saya, mengingatkan.


"Aku sudah capek-capek datang dan melindungimu dari kiyai, kau masih saja meragukan kebaikanku??" protesnya, tampak benar-benar tak suka. "Kau tahu, semua hantu itu takut dengan kiyai, mendengar napasnya saja rasanya ingin lari kalang kabut. Tapi aku malah datang menyergah dan berusaha melawannya, katakan terimakasih kek! Aku hampir saja kencing di celana tadi!" omelnya lagi.


Saya menutup telinga sambil mengerucutkan bibir. "Oke deh! Terimakasih! Tapi jangan mengomel begitu. Sekarang sebaiknya Tamusong jelaskan mengenai tempat ini. Dan kenapa kau ingin sekali datang ke sini bersama saya? Sejak awal pertemuan pun Tamusong langsung membicarakan tempat ini, kan?"


Ia terdiam, sambil beranjak dan duduk dengan kaki yang lurus di hadapannya. "Sebenarnya, tempat seperti ini adalah tempat yang di impikan oleh para hantu di seluruh dunia." ujarnya, dengan wajah sendu. "Tempat di mana, tak ada seorang pun manusia, dan semua hantu saling menyamakan frekuensi agar mereka terlihat satu sama lain."


Saya mengernyit, sambil menoleh sekeliling. Sepertinya masuk akal kalau tempat ini tak ada manusianya. Memangnya siapa yang mau tinggal di tengah lautan luas, dengan hutan belantara di pulau terpencil. Kalau pun ada, mungkin manusia itu di pungut oleh beruk dan sekarang menjadi Tarzan. Itu pun kalau beruk berbaik hati merawatnya, kalau dia merawatnya sampai besar lalu di makan ketika sudah gemuk, lain lagi kan ceritanya. Nanti judulnya bukan Tarzan, tapi 'Derita lelaki bersemp*k di tengah hutan, di rawat beruk lalu di makan'.


Tamusong tersenyum sebelum kembali memulai ceritanya. "Tempat di mana semua makhluk mati berkumpul, tak terjamah, tapi beritanya menggelegar ke segala penjuru."


"Selain bisa satu frekuensi dengan para hantu, kau juga bisa berkomunikasi dengan sesama hantu, bermain bersama, dan tak akan ada pelarangan dan tak akan ada manusia sakti yang mengincar. Kita semua aman di tempat ini. Tinggal selama-lamanya di sini."


"Tak akan ada penolakan, karena semua yang berada di sini pernah merasakan mati. Dan mereka datang dari segala penjuru, berusaha melarikan diri dari tempat kematian mereka. Bahkan di antara mereka ada yang memang sengaja di usir manusia dari tempat tinggalnya. Dan tempat terbaik mereka untuk lari, adalah tempat ini."


"Semuanya sama. Semuanya berteman. Semuanya menyenangkan. Semuanya aman. Dan tempat ini, benar-benar berada jauh dari jangkauan manusia."


Saya mengerjap ketika Tamusong mengatakannya. Kenapa rasanya seperti sebuah mimpi?? Seperti apa yang selama ini saya harapkan.


Mendapatkan teman karena persamaan nasib? Karena sama-sama mati dan terusir. Jadi, di tempat ini.. saya tak akan di kucilkan sebagaimana ketika saya masih hidup dahulu? Jadi, di sini saya bisa bermain bersama? Bukan bermain sendirian??


Kenapa?? Kenapa terasa begitu menyenangkan ya?? Saya jadi ingin terbang naik turun ketika membayangkannya.


Saya tersenyum sambil menatap Tamusong. "Wah!! Jadi, makanya Tamusong sangat ingin pergi ke tempat ini? Tapi, darimana Tamusong mengetahui mengenai tempat ini?" tanya saya lagi, membuatnya sedikit terkesiap dan salah tingkah.


"Ah, aku tahu dari mana itu tak ada urusannya denganmu. Pokoknya, aku tahu tempat ini dari seseorang. Aku pernah di ajak sebentar, makanya aku ingin pergi lagi. Tapi memang tak sembarangan hantu bisa kesini. Para hantu yang terkuat saja yang bisa masuk ke dalam."


Saya membuka mata lebar-lebar. "Jadi artinya saya kuat?" tanya saya semangat.


Tamusong memiringkan bibirnya. "Bisa di bilang begitu sih. Soalnya kau ini pandai mengendalikan kekuatanmu. Kau juga bisa mendengar suara manusia dari jauh, langkah kaki dan juga bau. Kau ini masuk ke dalam hantu tipe sensor, kau bisa mendeteksi kekuatan di sekitarmu. Kau juga mampu berteleportasi dan memiliki kecepatan yang luar biasa."


"Makanya, dari sekian banyak hantu.. aku paling tertarik mengajakmu karena sejak awal pun kau telah menampakkan kekuatanmu. Aku percaya, kau memang mampu menguasai kekuatan kuntilanak dan kekuatan hantu yang umum."


"Kalau mau jujur, terus terang saja sih.. sebenarnya aku ini tak terlalu kuat dan bukan tipe petarung. Jadi, aku tak bisa sendirian saja di tempat ini." terangnya, membuat saya menyipitkan kedua mata. Menatapnya dengan sinis.


"Kalau itu sih sekali lihat juga ketahuan tahu. Lagipula, memangnya kekuatan pocong apa saja selain melompat? Kalian kan terikat, jadi tak bebas melakukan apa-apa. Kalau dari cerita yang sering saya baca, pocong itu terkenal karena wujudnya serupa mayat yang berada di dalam kuburan. Wajahnya yang menyeramkan, baunya yang busuk, dan juga suka mengagetkan orang lain. Sudah, itu saja." tukas saya, membuat Tamusong menghela napas panjang.


"Itu kan pocong di cerita manusia. Mereka tak tahu saja, kalau para hantu sudah berkumpul, biasanya sering adu kekuatan untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Dan untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara yang terkuat. Begitu." terangnya lagi.


"Hoooh, jadi sekarang bagaimana? Apakah Tamusong tak berniat untuk berkeliling dan mencari hantu yang lain?" tanya saya, sambil mulai terbang. "Kalau saya sih mau. Tak sabar rasanya ingin punya teman. Soalnya, selama ini saya kesulitan berteman ketika di dunia manusia. Semoga sekarang saya bisa mendapatkan banyak teman di sini. Dan semoga, saya bisa bergaul dengan banyak hantu dan tak selalu menyendiri seperti dahulu lagi." ujar saya sambil melayang masuk ke dalam hutan.


Tamusong tersenyum sembari mengangguk, lalu ikut melompat-lompat di belakang saya.


Sebenarnya, tak ada yang spesial dari tempat ini. Hanya serupa hutan lebat yang menghitam di malam hari. Akar-akar kayu yang melilit di sepanjang tanah, serupa kaki laba-laba yang besar.


Rumput yang tinggi dan lebat, bahkan tingginya hampir menutupi tubuh saya. Pohon-pohon besar yang berkali-kali lipat dari pohon normal yang pernah saya lihat. Tak lupa dengan tumbuhan benalu yang melilit di sepanjang pepohonan. Bahkan ada tanaman lilit yang berduri.


Saya melayang melewati beberapa akar besar, sepertinya cukup bagus untuk di pakai bergelantungan.


"Hei Tamusong, tak ada yang menarik di sini seperti apa yang sudah kau katakan barusan? Ini sama saja dengan hutan belantara yang banyak nyamuk, yang biasa kami pakai untuk camping atau hiking dalam kegiatan Pramuka." ujar saya, sambil menoleh ke arah Tamusong yang ada di belakang.


Wajahnya terlihat sebal awalnya, tapi tiba-tiba saja ekspresi itu seketika berubah ketika ia memandang lurus sesuatu yang ada di belakang saya.


"Woaaaah!! Lihat!" ujarnya sambil menunjuk ke arah belakang saya.


Saya mengernyit, lalu mengikuti perkataanya. Ketika saya berbalik... kedua mata saya terbelalak, bahkan pupilnya benar-benar melebar ketika melihat apa yang ada di hadapan saya.


"Lu.. luar biasa! I.. Ini, bahkan lebih ramai dari para kuburan."


.......


.......


.......


.......


...Bersambung.......