RUN

RUN
Siapa Dia?



Di dalam hutan yang penuh semak ini, ternyata berkumpul banyak hantu yang sedang berpesta. Di dalam kesunyian nan tak kasat mata, ternyata ada aktivitas tak biasa.


Saya membuka mata selebar mungkin, sampai alis saya terangkat dengan tinggi. Tamusong menyusul, dengan raut wajah senang ketika melihat saya tersenyum.


"Bagaimana?" tanyanya, meminta saya berpendapat.


Saya menoleh ke segala sisi, di mana ada para hantu yang berkumpul di bawah pohon masing-masing.


Di sebelah kiri, ada para kuntilanak wanita yang tertawa cekikikan sambil menggoyangkan kepalanya. Mereka bernyanyi bising, seolah sedang adu suara siapa yang paling tinggi dan panjang.


Di sisi lainnya, ada kumpulan pocong, tak tahu jenis kelaminnya lelaki atau perempuan, karena mereka tertutup rapat dengan kafannya. Mereka melompat-lompati sebuah akar pohon secara bergantian.


"Hah, asiknya!!" seru saya sambil terbang naik turun seperti sebuah pegas.


Di sisi lain, ada hantu-hantu terbang yang berkeliling seperti lampu-lampu yang berkelap-kelip, membuat suasana hutan yang gelap ini semakin meriah.


Di akar pohon gantung, saya melihat banyak bocah-bocah kecil berkepala botak, seperti tuyul dan yang lainnya adalah anak kecil perempuan dengan baju rok terusan. Mereka berlarian mengelilingi pepohonan dan melompati akar-akar dengan lihai.


Saya mengerjap ketika menyadari ada sesuatu yang bergerak di pepohonan. Ketika menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan, ternyata ada para makhluk berambut panjang tergerai dan kusut, sedang merangkak mengelilingi setiap badan pohon seperti seekor laba-laba. Dan yang membuat saya mengernyit, jumlah mereka banyak hingga begitu rapat dan memenuhi setiap pepohonan yang ada.


Saya terbang melintasi sebuah air sungai yang mengalir dengan lembut. Sudah lama saya tak melihat air dan merasakannya. Sudah lama juga saya terkurung dan tidak mandi.


Saya langsung menunduk dan menyedok air dengan telapak tangan. Ketika saya melakukannya, tiba-tiba saja hal aneh terjadi. Bukan lagi cairan yang saya ambil, melainkan sebuah kepala perempuan yang berwarna biru kehijauan bagaikan kulit yang mengkerut terkena air terlalu lama.


"Gyaaaaaaah!!" Saya menjerit sambil melempar benda tersebut kembali ke dalam air.


Saya memundurkan tubuh, sembari terus menatap ke dalam air. Sebuah kepala muncul, kemudian beberapa kepala yang lainnya pun ikut timbul ke permukaan. Saya bergidik, merasa sedikit geli.


"Hei! Jangan sembarangan mengambil air!! Lihat-lihat dulu dong ada yang berenang di dalamnya atau tidak!" pekiknya dengan wajah kesal.


"Ya mana saya ta-" Tamusong langsung membekap mulut saya dengan cepat dan memotong ucapan saya.


"Maaf ya, kami ini hantu baru. Baru saja sampai ke sini karena di usir dari kediaman kami. Anak ini ketika masih hidup suka main air, maklum.. dulunya nelayan yang suka mancing di kolong. Aku harap kalian bisa memakluminya ya, dan maafkan kami perihal tadi. Silakan bersenang-senang kembali." ucap Tamusong sambil melompat-lompat dan menyeret kerah baju bagian belakang saya.


"Sembarangan!! Saya ini anak orang kaya tahu!! Mandi di kolong gigimu! Saya punya kolam renang pribadi di rumah!!" pekik saya kesal, ketika telah cukup jauh dari mereka.


Tamusong mendengkus sambil mengerutkan dahinya menatap saya. "Kuno, kita ini kan pendatang baru. Kau bilang ingin mendapatkan teman di sini dan main bersama. Kalau belum apa-apa kau sudah cari perkara dengan hantu lain, bagaimana caranya kau mendapatkan teman?!" ucapnya, berusaha memberikan nasehat pada saya.


Saya terdiam, benar juga sih apa yang dikatakan Tamusong. Saya memang tak bisa menahan rasa jengkel pada orang yang bicara seenaknya. Tapi saya harus mengubah sikap itu, saya kan mau punya banyak teman di sini.


"Jadi bagaimana Tamusong? Masa' saya harus minta maaf padanya?" tanya saya.


"Itu bukan pertanyaan! Kalau kau salah, kau memang harus meminta maaf. Masa' itu saja harus di tanyakan!" balasnya, meniru logat yang saya ucapkan.


"Rada geli saya."


"Ayo cepat, kembali dan minta maaf pada buyut tadi." ujarnya sembari melompat mendahului saya.


Saya mendengkus tapi tetap saja melakukan apa yang di minta Tamusong. "Hei Yut, maafkan saya ya kalau tadi tidak sopan." tutur saya ketika telah berada di atas sungai.


Saya terdiam, menatap lekat ke dalam air yang bening. Tak ada apapun, airnya terlihat tenang. Apakah mereka sudah tak bermain lagi di sana?? Saya pun mendekatkan wajah saya ke permukaan air, berusaha mencari di mana keberadaan mereka.


"Lah, kok mereka suda-"


Perkataan saya terhenti ketika sesuatu tiba-tiba saja keluar dari dalam air yang tenang dan menyodorkan wajahnya tepat ke hadapan saya.


Ia membuka kedua matanya, menatap wajah saya dari segala sisi dan terhenti di kedua mata saya. "Ternyata kau tampan sekali, pemilik mata yang indah." tuturnya sembari terkikik dengan wajah memerah ketika saya terkesiap. Buru-buru ia kembali menenggelamkan dirinya ke dalam air, membuat beberapa kepala yang lain mulai bermunculan.


Saya mengernyit, ketika mereka semua melakukan hal serupa. Menatap saya dari ujung bulu mata sampai ujung bulu hidung.


"Woah, lihat! Matanya hijau. Kulitnya putih, rambutnya juga."


"Itu bibir yang mungil dan indah.."


"Lihat hidungnya, mancung dan kecil."


"Rambutnya lembut dan berkilau."


"Kulitnya mulus."


"Bulu matanya lentik."


Saya menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti asal suara. Mereka berbicara berebutan sambil mendeskripsikan rupa saya.


"Sayang sekali mati, padahal masih terlalu kecil. Kalau hidup, pasti banyak sekali perempuan yang menyukaimu." timpal suara yang kepalanya saya angkat tadi.


"Wah Morwenna, kau memuji hantu itu?!" timpal teman-temannya.


"Kembalilah ke dalam air, biarkan aku menyambut mereka." pintanya, dan dengan sigap para hantu air ini kembali masuk ke dalam air, mengikuti apa yang ia katakan.


Kalau di lihat-lihat, sepertinya dia adalah pemimpin di antara mereka, kalau bukan.. tak mungkin kan semuanya menuruti perkataannya.


Hantu air ini menyelam sesaat, lalu kembali timbul. Saya terkesiap ketika melihat rupanya yang baru, karena itu berbeda daripada yang sebelumnya. Ia tampak bersih dengan kulit yang mirip seperti manusia, tak melepuh seperti sebelumnya.


"Tamusong." sahut Tante muka gosong, membuat saya terkesiap mendengar jawabannya. Bukannya nama Tamusong adalah Nini, kenapa ia memberikan gelar yang saya beri??


"Lalu, kau?"


"Saya Adam." sahut saya, membuat Wenna mengernyit. Ia langsung beranjak dari atas air, berdiri dan mengeluarkan setengah tubuhnya hingga sejajar dengan tinggi saya.


"Gyaaaaaaah!!! Ikan bawal!!" pekik saya panik ketika melihat bagian pinggang ke bawahnya serupa ekor ikan.


Tamusong dan Wenna terkesiap dengan teriakan saya. "Ikan bawal bapakmu!! Itu namanya putri dugong tahu!" sentak Tamusong.


"Ooh, ikan Dugong." timpal saya sambil mengangguk. "Hampir kaget saya." sambung saya dengan wajah yang lega.


Wenna hanya tersenyum sambil menahan amarahnya. "Apa masa kecil kalian tak menyenangkan? Aku ini sedang menjadi putri duyung tahu!!" sahutnya menggeram.


Tamusong langsung menyikut tangan saya sembari berbisik. "Sepertinya dia menyukaimu. Lihat, dia langsung berubah jadi Putri duyung cantik ketika melihat ketampanan mu!"


Saya langsung menjelekkan wajah sendiri. Apa-apaan kesimpulan seperti itu?


"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang ingin ku katakan pada kalian sebagai hantu yang baru saja datang." Wenna langsung menyergah, tak merasa risih dengan tingkah kami berdua yang berbisik di depannya.


"Nama Adam itu, adalah namamu ketika masih hidup?" tanyanya, dan saya menganggukkan kepala untuk membenarkan. "Ehem, hal yang harus ku katakan padamu, dan sepertinya.. pocong di sebelahmu ini lupa memberitahukan ini padamu." lanjutnya.


"Apa? Memberitahu apa?" tanya saya dan Tamusong bersamaan.


"Ini adalah tempat perkumpulan para hantu. Hantu yang tidak dekat akan memanggilmu dengan nama jenismu, misalnya pocong atau Kuntilanak. Tapi, jika mereka sudah dekat atau ingin berteman, maka kau harus memberikan namamu yang lain."


Saya mengernyit mendengarnya. "Kenapa memangnya?"


"Bagaimana mengatakannya ya?? Semua hantu yang berada di sini memiliki kisah kehidupan yang menyakitkan. Mereka tak mau mengingat apa-apa lagi tentang kehidupan di dunia, jadi sebisa mungkin kau tak boleh memberitahukan nama aslimu pada hantu mana pun seperti tadi." terangnya.


Saya semakin mengerutkan alis. "Lah, lalu.. Morwenna itu bukan namamu? Tapi, nama pura-puramu?" sergah saya.


Ia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Memangnya ada ya, wajah Bangka model saya punya nama luar negeri? Itu bukan nama asli ataupun nama pura-pura. Tapi itu... adalah nama gelar yang di sematkan oleh penduduk hantu di tempat ini padaku." ujarnya dengan nada suara yang mantap.


"Nama gelar?" ucap saya dan Tamusong bersamaan.


"Ya, Morwenna itu adalah sebuah nama yang memiliki arti 'Ombak di Lautan'. Itu di dapatkan dari para penduduk hantu padaku."


Saya mengernyit saking penasarannya dengan perkataan Wenna. "Apa yang kau lakukan hingga mendapatkan gelar seperti itu?? Apakah di tempat ini ada semacam pesta hantu, atau.. pertarungan hantu?"


Tamusong terkesiap mendengar perkataan saya. "Hei Kuno, khayalan mu terlalu tinggi tahu! Mana ada yang seperti itu!"


"Lalu kenapa bisa di berikan gelar begitu? Tak mungkin di dapat dengan cara cuma-cuma, kan? Pasti Wenna telah melakukan sesuatu. Dan lagi, apakah kau pemimpin para hantu air?" terka saya, membuat Wenna membelalakkan kedua matanya.


"Woh?! Darimana kau mengetahuinya?" tanyanya takjub, benar-benar terlihat terkejut.


"Ketika kau bicara, mereka semua mendengarkanmu. Mana ada orang yang mau mendengarkan seseorang, kalau dia tak punya power di atas mereka. Kau pasti orang yang berpengaruh, bukan?" terka saya lagi, membuat Wenna tertawa renyah.


"Hahaha, memang mendekati benar. Tapi, kau harus mengganti kata seseorang atau orang, dengan hantu. Kita semua ini adalah hantu. Jadi lucu sekali ketika kau berkata sesuatu dengan sebutan orang." ujarnya, membuat saya meringis sesaat. Benar juga sih yang dia katakan tadi.


"Dan lagi, Tamusong itu bukan nama aslimu, kan? Artinya kau juga tak mau ada hantu lain yang mengetahui sebagian kecil dari hidupmu, meskipun itu hanya sebuah nama." lanjutnya, membuat Tamusong menganggukkan kepalanya. "Dan lagi, ku dengar kau memanggil Adam dengan nama Kuno, apa itu?"


"Itu, singkatan dari kuntilanak albino. Tamusong juga singkatan darinya padaku, yang artinya Tante muka gosong." terang Tamusong, membuat Wenna kembali tertawa.


"Sepertinya kalian dekat sekali ya, sampai-sampai ada nama panggilan kesayangan begitu." balasnya, membuat saya dan Tamusong saling lirik dengan wajah yang jelek.


"Panggilan sayang apanya? Itu panggilan hinaan, tahu!" sahut saya dan Tamusong serentak, membuat Wenna semakin mengeraskan suara tertawaannya.


"Oke, baiklah. Anggap saja itu adalah nama kalian sekarang. Dan jangan sekali-kali mengatakan nama asli kalian di depan hantu lain, karena mereka pun akan mengatakan nama palsunya. Nama gelar hanya di berikan untuk seseorang pemimpin di jenis mereka."


"Woaaaaah!!" saya dan Tamusong berteriak serentak. "Jadi, kau pemimpin dari jenis hantu buyut dan hantu air? Benar begitu?" terka kami serentak.


"Ya, memang begitu. Nama itu di berikan oleh sang Dewi."


"Dewi?" lagi-lagi saya dan Tamusong mengatakan hal yang sama serentak.


"Kalian berdua kenapa sih? Anak kembar ya? Sepasang kekasih? Atau anak dan Ibu? Dari tadi ucapannya sama terus!" keluh Wenna, setelah sejak tadi mendengar seruan kami.


"Tidak-tidak, saya hanya terkejut dengan sang Dewi yang kau katakan? Siapa itu?" tanya saya lagi.


Raut wajah Wenna langsung berubah ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari saya. "Dia, adalah hantu penguasa di pulau ini." sahutnya lirih. Dan dari raut wajahnya, sepertinya ia tak menyukai sesosok hantu yang bernama Dewi.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......