RUN

RUN
Dugaan yang Menjurus



Desiran angin bertiup kencang, dan setiap dedaunan yang bergoyang membuat ulu hati saya terasa tertekan. Meski tak memiliki aliran darah, tapi rasanya ini serupa.. seperti aliran darah yang tiba-tiba saja membeku dan berhenti mengalir.


Sekujur tubuh saya kaku, seperti kebas yang membuat lumpuh. Saya memejamkan mata, berusaha bergerak dengan sekuat tenaga. Tapi semakin melawan, kiyai semakin bersemangat untuk mencengkeram tubuh saya.


Saya meringis sembari mengerekatkan gigi dengan sebelah mata yang mengernyit, dan berusaha memberanikan diri menatap cahayanya.


"Berhentilah melawan, kau menambah pasal hukumanmu saja." tukasnya.


"Hukuman macam apa? Memangnya saya membunuh? Memangnya saya membahayakan orang lain? Apa? Apa yang saya lakukan memangnya, sehingga harus di kurung seperti itu?" pekik saya geram.


"Ini yang terbaik, jadi menyerahlah." sahutnya.


Saya merasa semakin geram, dan baru kali ini perbuatan kiyai membuat saya marah, marah yang sesungguhnya. "Saya bukan burungmu!!" pekik saya, sembari menatap cahayanya. "Yang kau kurung dengan alasan menyayanginya. Yang kau tangkap lalu kau beri makan! Yang kau ajak bermain, bersiul, dan bicara! Yang kau pikir, semua yang kau lakukan itu adalah hal yang baik. Tidak!!" Saya menggeleng dengan wajah bengis. "Meski kau memperlakukan burungmu dengan baik. Memberikan makanan enak atau bahkan sangkar dari emas, kau sama sekali tak melakukan yang terbaik. Kau sedang mengurung dan menyiksanya, membuatnya hanya bisa melihat luasnya langit dari dalam kandang, tanpa tahu kalau mereka ingin hinggap di pepohonan, mereka ingin terbang."


"Dan mereka ingin bebas, sama seperti apa yang saya inginkan! Bebas, bukan terkurung seperti itu!" pekik saya sekuat tenaga, bahkan wajah saya begitu memerah ketika mengungkapkan segala isi yang ada di hati saya.


"Saya tak tahu, terbaik menurutmu itu apa? Apa kau berniat menjaga dan merawat? Apa kau berniat melindungi? Apa kau berniat apa-apa saja yang ada di dalam hatimu? Saya tak perduli itu!!" pekik saya lagi, dengan dada naik turun seolah terengah-engah. "Tapi yang harus kiyai tau, saya," Saya menunjuk diri saya sendiri dengan sekuat tenaga. "Saya tak suka di kurung! Saya tak suka caramu itu, saya membencinya! Saya benci itu!" tukas saya marah, dengan dada yang terasa begitu berat.


Saya menunduk, tak sanggup lagi menahan air mata dan tak sanggup menatap cahaya kiyai terlalu lama. Ketika pandangan saya alihkan ke tanah..


Tes.. tes..


Tetesan air menetes dari atas. Saya terkesiap, dan menyadari suatu hal. Saya menengadah ke langit, lalu kembali menatap hal serupa. Meski saya tak mampu memandang kiyai dengan mata telanjang, dan tak mampu menatap wajahnya secara langsung, tapi saya paham betul, kalau hari ini langit tak sedang mendung, langit tidak menumpahkan airnya.


Ini, berasal dari air mata kiyai. Dia.. sedang menangis setelah mendengar perkataan saya, atau sedang menangis karena merasa bersalah? Saya tak tahu, karena yang saya tahu, yang ia lakukan itu adalah hal yang jahat.


"Kenapa kau menangis? Saya tak minta di kasihani, saya tak suka itu!" balas saya, seolah tak berterimakasih dengan air matanya.


Ia menghela napas yang terdengar berat, dan suaranya sengau bagai keluar dari dalam hidung. "Terkadang, apa yang menurutmu baik.. belum tentu baik menurutNya. Dan apa yang menurutmu tidak baik, bisa saja baik menurutNya. Kau tidak tau sementara Dia maha tau. Jadi, maaf jika kau tersinggung dengan air mataku,"


"Tapi maaf, aku tak sedang mengasihanimu. Tapi aku sedang kecewa, karena kau.. salah paham padaku." ujarnya, membuat saya terkesiap. "Tapi tak mengapa, manusia tidak di hisab dengan prasangka dari manusia. Jadi, aku tak merasa keberatan akan hal itu. Sayangnya, kau harus tetap di kurung dengan atau tanpa alasan apapun."


Kini saya mengernyit, memandangnya dengan raut wajah benci.


"Kau telah mengganggu manusia, dan sekarang kau melukai manusia,"


"Kau bukan manusia!" sergah saya, tak terima. "Kau manusia yang memiliki kekuatan. Kau terluka dengan sengaja, kau tentu saja bisa menghindarinya!" balas saya. Entah kenapa, setelah di kurung oleh kiyai, saya kehilangan respect padanya. Dia berbohong perihal waktu yang telah ia tentukan untuk mengurung saya. Kalau selama itu, tentu saja tak akan ada yang mau di kurung.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu perihal seorang lelaki tampan yang pernah kau lihat wujudnya?"


Saya terkesiap usai mendengar ucapan kiyai. "Dan aku mengurungmu, karena ingin kau bertemu dengannya belasan tahun lagi. Jadi, selama kurun waktu tersebut, aku ingin kau menunggu di dalam sana."


Saya mendecakkan lidah mendengar ucapannya. Belasan tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, dan lagi.. dikurung di dalam sana tanpa bisa keluar terasa sangat menyiksa.


"Memangnya kenapa saya harus di kurung? Bukankah tanpa di kurung pun, saya bisa saja bertemu dengannya?" tukas saya marah.


Kiyai memilih tak menjawab. Saya merasa jengah dan membungkuk, mengambil aba-aba untuk bersiap terbang dan melompat menjauhinya. Tapi tiba-tiba saja, dari arah bawah tepatnya di kaki saya, muncul sesuatu.


Sesuatu itu terbang melewati kepala saya, membuat saya menengadah dan terperangah. Entah karena terlalu sibuk terpesona atau apa, saya tak menyadari kalau benda tersebut melebar seperti kedua tangan yang terbuka.


Lesatannya lebih cepat dari gerakan saya, dan dengan lincah benda itu mengatup, membuat saya terlilit tepat di seluruh tubuh dan hanya menyisakan wajah saja.


Saya meringis, benda ini seperti sebuah tali tapi tak menyakiti. Hanya saja, cengkeramannya begitu kuat, membuat saya tak dapat bergerak sama sekali.


Saya jatuh dalam keadaan terikat dan tengkurap di atas udara. Buru-buru saya menggeliat, berusaha melepaskan diri dari benda ini.


"Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi jika kau terkurung. Dan kalau kau mengetahui alasan yang sebenarnya, maka aku sangat yakin, kalau kau... tak akan mau bertemu dengannya."


Saya mengeraskan rahang mendengarnya. Tak paham apa yang ingin ia katakan. Dua kemungkinan apa yang ia maksud? Lalu, kenapa saya tak mau bertemu dengan lelaki itu, padahal dia adalah wujud keindahan yang menenangkan.


"Karena semuanya, berhubungan dengan masa lalumu, penyebab kematianmu dan banyak orang. Kalau sampai itu terjadi, maka peperangan itu akan kembali di mulai." tukasnya.


Saya mengerung dahi, berhubungan dengan masa lalu? Serta penyebab kematian??


"Jadi berhentilah melawan dan ikuti takdir yang ada. Kau mati di dalam ruangan seni, dan terus lah berada di sana apapun yang terjadi. Kau, tak pernah boleh keluar dari sana dengan alasan apapun. Dan ku mohon, untuk kali ini jangan bertingkah dan menurutlah." ujarnya lagi.


Saya berusaha melepaskan benda yang mengikat, seolah tak mendengar apa yang baru saja di katakan oleh kiyai. Saya mengangkat kepala dan menurunkan pundak, tapi benda serupa tali ini mengikat saya lagi dan lagi. Bahkan kali ini, tali ini mulai merambat ke wajah dan menutup mulut saya.


"Bismillahirrahmanirrahim, dengan izin Allah SWT. Aku.." kiyai mulai berujar, dan saya memelototkan kedua mata ketika tahu kenapa kiyai memilih menutup mulut saya. "Memohon agar kiranya Engkau mengurung anak ini di dalam gudang, dan Engkau lah yang berkuasa untuk melepaskannya pada waktu yang tepat."


"Jika waktu yang Engkau tentukan telah terjadi, maka hamba berserah diri atas segala hal buruk yang akan terjadi." lanjutnya, seolah sedang berpuisi.


"Mmff!! Mmff!!" Saya berusaha menyanggah ucapannya, tapi sayangnya mulut saya menjadi bungkam dan tak mampu berkata-kata.


Lilitan tali ini tiba-tiba saja melesat dengan kencang sembari membawa tubuh saya. Saya seperti kepompong yang di bonceng menggunakan sepeda, tapi terikat di belakang dan melesat dengan kencang.


Tubuh saya yang gaib menembus-nembus ke setiap dinding dan juga lantai. Tubuh saya terhuyung ke kiri dan kanan. Beruntung sekali saya tembus pandang, kalau tidak, sudah gegar otak karena saya terpantuk-pantuk oleh setiap benda padat yang ada.


Ketika pintu ruangan seni terlihat seluruhnya. Duum!! Tubuh saya di lempar memasuki tempat tersebut, berserta dengan cahaya merah yang membentengi sekeliling ruangan.


Saya menggelinding, hingga terhenti akibat terpantuk dinding. Saya menengadah, menoleh ke dinding yang ada di belakang tubuh saya.


Lagi-lagi?? Lagi dan lagi?? Kiyai kembali mengurung saya di tempat ini, dan kali ini.. ia bahkan mengikat tubuh saya dengan kuat.


"Mmff!! Mmff!!" Saya mendesah, berusaha berbicara dengan mulut yang terbelit.


Tak hanya itu, saya kembali menggeliat dan berusaha merenggangkan tubuh. Tapi tetap saja, tali ini bukan sembarang tali, karena saya bisa merasakan energi yang terus mengalir pada tali ini.


Arggh!! Memang benar-benar! Kenapa mengurung saya lagi? Ini mengesalkan sekali!!


Saya hanya bisa merutuki dalam hati, dan terus menggeliat dengan sekuat tenaga. Tapi, kenapa semakin bergerak.. saya semakin kehilangan tenaga??


Apa jangan-jangan?? Aliran dalam tali ini, sebenarnya digunakan untuk menyerap energi saya?? Kalau tidak, tak mungkin saya kesulitan bergerak bahkan kesulitan mengerahkan tenaga dalam.


Kiyai kenapa sih? Apa sebenarnya yang ia maksud? Logikanya, kalau nanti dia tahu saya akan bertemu dengan lelaki tampan itu di tempat ini, maka tak perlu mengunci saya kan? Saya pasti akan tetap kembali ke sini dan tak kemana-mana. Yang namanya pertemuan yang sudah di ketahui, mau saya pergi ke Belanda pun, kami pasti akan tetap bertemu, lantas.. kenapa ia harus bersikeras mengunci saya dengan alasan ini adalah yang terbaik??


Apakah ada maksud lain yang tak saya pahami?? Atau apa?? Dia membingungkan sekali.


Tapi, sepertinya perkataan kiyai cukup rancu. Kalau dia mengurung seseorang, bukankah orang itu akan merasa tertekan dan berusaha untuk kabur?


Tapi kalau dia tak mengurung saya, tentu saja saya akan dengan senang hati bolak-balik ke tempat ini, kan?


Atau sebenarnya, dia punya maksud lain dengan mengurung saya?? Terlebih lagi dengan kata-katanya yang patut di pertanyakan.


"Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi jika kau terkurung. Dan kalau kau mengetahui alasan yang sebenarnya, maka aku sangat yakin, kalau kau... tak akan mau bertemu dengannya."


"Karena semuanya, berhubungan dengan masa lalumu, penyebab kematianmu dan banyak orang. Kalau sampai itu terjadi, maka peperangan itu akan kembali di mulai."


Dia mengurung saya dengan alasan ingin mempertemukan saya dengan orang itu. Tapi, kenapa terdengar seperti alibi?? Dia sudah yakin kalau saya tak akan mau bertemu jika mengetahui alasannya.


Lalu, semuanya berhubungan dengan kejadian masa lalu dan kematian saya? Terus, peperangan akan kembali di mulai??


Maksudnya, apa?


"Barend Otte, menurut lah pada iblis sesembahanmu. Bunuh anak lelakimu, dan aku akan memberikanmu kejayaan yang luar biasa, dan aku berjanji, jika kau membunuhnya, maka selama enam belas tahun, aku tak akan meminta seorang pun tumbal padamu. Namun kekayaanmu tak akan ku renggut." Ia merayu Ayah, saya yang masih merasa kesakitan lantas menatap ragu dan memelas pada Ayah.


Saya mengerjap, ketika perkataan Ludira terlintas begitu saja.


Bukankah waktu itu, ia berkata pada Ayah untuk tak akan meminta tumbal selama enam belas tahun. Lalu kalau masa itu sudah lewat enam belas tahun, artinya.. ia mau tumbal itu lagi kan??


Lalu, kiyai juga pernah bilang..


"Kau harus menyelesaikan misi ini, dengan dirimu.. atau seseorang yang kau percaya bisa melakukannya." sahutnya.


"Dan kau pasti tahu, Allah tak memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya. Meski sekarang kau telah gagal, tapi nanti.. aku yakin kau berhasil bersama dengan seseorang yang lain. Seseorang, yang kau lihat sebelum kemunculanku." lanjutnya, membuat saya kembali terkesiap.


Itu adalah perkataannya ketika saya baru saja mati. Bukankah ini, sebenarnya mirip dengan kata-kata Soekarno pada Husein Mutahar??


Lalu, waktu itu dia juga bilang kalau akan mengurung saya selama belasan tahun, kan??


Apakah belasan tahun yang ia maksud itu, waktu kongkritnya adalah enam belas tahun??


Dan lagi, ia bilang "Kalau sampai itu terjadi, maka peperangan itu akan kembali di mulai."


Belasan tahun??


Pengurungan??


Peperangan kembali di mulai??


Saya tersentak ketika menyadari suatu hal. Huh, ternyata begitu ya?? Ternyata itu semua berkaitan. Jadi sepertinya saya tahu, apa alasan kiyai mengurung saya. Ini adalah alasan yang sebenarnya.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......