RUN

RUN
Alkisah Sebuah Pulau



Saya terdiam, ketika suara Wenna terdengar gemetaran. Ia mengerling, berusaha menghindari kontak matanya dari kami. Ia bahkan mengerjap cepat, seolah berusaha menahan sesuatu yang membuat matanya berair.


"Kenapa?? Kenapa kau kelihatan sedih? Apakah pertanyaan Kuno membuatmu merasa tak nyaman?" tanya Tamusong, berusaha mendekat ke arah Wenna. "Dia ini memang begitu, jadi maafkan atas segala kesalahan dan ke khilafannya ya!" tambah Tamusong lagi.


"Is!! Tamusong pikir ini lebaran?!" kecam saya.


Wenna memaksa senyum, sambil menggelengkan kepalanya. "Tak ada yang membuat sedih atau tak nyaman kok. Mataku tiba-tiba saja berair, aku memang tak bisa terkena angin terlalu lama. Aku kan tinggal di dalam air." sahutnya.


Tamusong pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Oh, jadi begitu ya. Jadi, bisa kau jelaskan sesuatu mengenai tempat ini pada kami. Jadi, kami tak terlalu kagok seperti orang linglung di sini." pinta Tamusong, membuat Wenna menganggukkan kepalanya.


"Oke, ayo kita bicara di tepi air, biar aku bisa sekalian merendam tubuhku." pintanya sembari berenang dengan kepala yang tak di benamkan ke dalam air. Karena ketika ia melakukannya, maka tak akan tampak rupanya sama sekali, ia benar-benar menyatu di dalam air.


Kami mengikutinya, hingga sampai pada sebuah batu besar yang bagian bawahnya terendam air. Wenna menaikkan tubuhnya sedikit ke darat, tengkurap seperti putri duyung yang sedang terdampar. Saya dan Tamusong pun duduk di atas batu, tempat ini tak membuat kami mengambang terlalu jelas, karena sepertinya semua tempat memang di khususkan untuk kediaman para hantu. Bahkan saya bisa menyentuh batu tanpa mengerahkan tenaga sedikitpun. Berbeda dengan sewaktu saya berada di sekolah.


"Oke, apa yang ingin kalian ketahui tentang tempat ini? Aku akan mengatakan segalanya yang ku tahu." ucap Wenna, membuat saya dan Tamusong menoleh serentak. Sepertinya Wenna ini hantu baik. Saya jadi punya kepercayaan diri untuk bisa bersosialisasi dengan hantu lain. Baru beberapa menit di sini saja saya dan Tamusong sudah mendapatkan teman, apalagi kalau tinggal selama-lamanya disini, kan?? Pasti satu kampung ini akan menjadi teman saya semua.


"Pertama, kami ingin mengetahui mengenai kumpulan hantu dan tempat tinggalnya. Apakah ada tempat tinggal khusus yang membedakan para hantu dengan jenisnya? Seperti dirimu, yang hidup di air dengan komplotanmu, apakah kami juga mendapatkan tempat serupa?" tanya saya bersemangat.


Wenna melirik ke atas, cukup lama, lalu kembali menatap saya. "Ya, tentu saja. Sama seperti manusia, jenis hantu itu seperti marga. Kalian akan di anggap keluarga di jenis itu. Akan ada satu pemimpin dari setiap jenisnya, ia bertugas melindungi segala warganya dari mara bahaya, dan jika ingin bergabung.. kau harus bertemu dengan pimpinan itu. Dan kalian juga menempati suatu tempat sesuai dengan jenis kalian, seperti pocong.. rumah kalian ada di dekat pohon pisang, karena kalian memang suka berada di sekitar sana."


"Hantu air sepertiku, tentu saja tempat tinggalnya pun di dalam air. Lalu kuntilanak, tempat tinggalnya ada di atas pepohonan rimbun. Sementara kamu, kamu ini hantu jenis apa, hah? Hantu luar negeri kah?" tanya Wenna sambil menatap lekat ke arah saya.


"Saya ini kuntilanak, itu sih kata Tamusong. Dan sepertinya saya memang seperti itu." sahut saya, membuat Wenna sedikit mengernyit alis.


"Kuntilanak lelaki?? Woah! Baru pertama kali aku melihatnya! Berarti kau ini jenis langka di margamu. Sepertinya akan langsung di terima. Tapi, kau ini orang asing ya? Wajahmu tak ada wajah-wajah orang sini sama sekali." ucap Wenna, lagi-lagi ia mengatakan kalimat seperti itu.


"Tidak! Saya cuma keturunan saja. Saya asli Bangka kok, tinggal di Pangkalpinang." sahut saya menjelaskan, membuat Wenna mengangguk paham sambil tertawa.


"Oh, pantas saja rasanya seperti orang asing, ternyata punya keturunan orang luar toh. Dan lagi, jangan dengan mudahnya mengatakan tempat tinggalmu selama masih hidup dong, kan tadi sudah di jelaskan." keluhnya.


"Hah? Menjelaskan apa?" Saya malah belahan pikun.


"Eh, Wenna.. ngomong-ngomong tentang julukanmu, sebenarnya apa alasan Dewi itu memberikannya padamu. Kau juga pemimpin jenismu, apa yang sebenarnya kau lakukan hingga mendapatkan itu semua?" tanya Tamusong, dan saya mengangguk karena setuju dengan pertanyaan yang ia ajukan.


Wenna terdiam sesaat, sambil mengusap rambutnya yang basah dari depan ke belakang. "Sebenarnya ada banyak hal yang belum kalian ketahui di tempat ini, dan kalian akan mengetahuinya kalau sudah lama tinggal di sini. Aku tak tahu, apakah tak apa-apa jika mengatakannya pada hantu baru." ujarnya, tampak penuh keraguan.


"Karena tak tahu, makanya bertanya. Kalau sudah tahu, itu namanya bukan bertanya, tapi basa-basi."


"Hush!!" desis Tamusong sambil mengibaskan tangannya ke hadapan wajah saya agar berhenti berbicara. "Jangan tak sopan begitu, ingat.. kita ini hantu baru!!" bisiknya menggeram, dengan mata yang hampir melompat keluar menatap saya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menceritakan awal mulanya. Dahulu sekali, sekitar ribuan tahun yang lalu, tempat ini sudah di singgahi para hantu, karena memang di jadikan tempat pembuangan jin oleh para manusia."


"Jadi, semua jin yang menunggu di tempat tertentu yang jaraknya dekat manusia dan sangat mengganggu, maka mereka akan di usir oleh orang pintar."


"Siapa itu orang pintar?" sambar saya.


"Dukun." sahut Tamusong.


"Kok orang pintar sih?" keluh saya. "Ooh!!" Saya berteriak tiba-tiba, membuat mereka berdua terkesiap. "Di panggil orang pintar, karena orang-orang yang berobat padanya adalah orang bodoh ya?"


"Hush!!" lagi-lagi Tamusong mendesis pada saya. "Tutup mulutmu sebelum ku sumpal pakai ketiak!!" ancamnya, membuat saya menutup mulut sambil menggelengkan kepala.


"Mau di lanjutkan atau tidak nih?" tanya Wenna, terlihat sedikit kesal dengan kami berdua.


"Iya iya, silakan di lanjutkan." sahut Tamusong dengan raut wajah tak enak.


"Jadi, jin yang mengganggu akan di usir oleh orang pintar. Ketika di usir, biasanya mereka melakukan negosiasi dengan para hantu. Hantu yang di usir tentu saja meminta tempat tinggal yang lain, mana mau mereka di usir pergi kalau tak di rekomdasikan tempat tinggal baru. Dan akhirnya, para orang pintar pun menyarankan beberapa tempat untuk di tempati, salah satunya adalah pulau ini."


"Jadi, di pulau ini sejak lama sudah ada beberapa hantu yang di asingkan. Dan jenisnya pun beraneka ragam. Awalnya para hantu hidup dengan damai, tapi dari beberapanya.. ada saja yang suka cari gara-gara dan sok berkuasa. Mereka ingin di hormati dengan alasan sudah lama tinggal di tempat ini dari pada yang lain. Tentu saja hal ini memunculkan perdebatan dan perselisihan."


"Para hantu pun mulai bertengkar, beradu kekuatan dan pada akhirnya, datanglah sesosok hantu yang cantik jelita dengan selendang yang ia selempangkan di salah satu pundaknya. Ia menyarankan para hantu untuk membuat suatu kompetisi berdasarkan jenis mereka masing-masing."


"Setan memang suka berdebat tak penting." timpal saya, membuat Tamusong menatap saya dengan sinis. "Apasih, masa' mengomentari cerita saja tidak boleh!"


"Para pemimpin, beranggapan kalau mereka yang paling kuat dan harus di jadikan pemimpin utama di pulau ini. Hal yang sama pun terjadi, di lakukan lagi sebuah kompetisi untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin di pulau ini. Adu kekuatan antar pemimpin pun terjadi."


"Setelah kompetisi itu selesai, yang terpilih adalah wanita cantik dengan selempang di pundaknya. Ia, menjadi yang terkuat dari yang terkuat. Dia adalah sesosok hantu yang di panggil sang Dewi." terang Wenna, membuat saya dan Tamusong bergidik mendengarnya.


"Jadi, sang Dewi itu pemimpin dari segala pemimpin? Makanya dia berkuasa untuk memberikan gelar pada pemimpin-pemimpin yang lain?" ujar saya, menyimpulkan apa yang sudah ia terangkan.


"Benar. Dewi adalah pemimpinnya, dan ia di sebut sebagai hantu yang memegang tempat ini, atau manusia sering memanggilnya, penunggu pulau ini. Jadi, semuanya tak boleh melawan atau menentang kehendaknya. Dia yang menetapkan segala sesuatu dan semuanya harus tunduk."


"Kalau tak mau tunduk?" tanya saya.


"Memangnya kenapa kau tak mau tunduk?" Wenna balas bertanya.


"Kan capek harus tunduk terus, kalau kadang-kadang berjalan tegap memangnya tidak boleh?"


"Haaah, bisa hidup kembali ke dunia aku kalau kau mengoceh terus!" timpal Tamusong. "Lalu, lanjutkan Wenna, anggap saja makhluk satu ini tak ada." tambah Tamusong, dan mendapat anggukan dari Wenna.


"Intinya, kalian jangan membuat masalah hingga sampai ke telinga Dewi. Apalagi kalau sampai ia marah dan menampakkan wajahnya yang menyeramkan. Belum pernah ada yang melihatnya seperti itu." tambah Wenna.


"Bukankah semua hantu itu menyeramkan? Jadi seharusnya tak apa-apa sih. Saya juga menunjukkan wajah saya ketika hidup, kalau saya mati.. begini nih bentukannya, begini." Saya menjelekkan wajah dan menjulurkan lidah dengan bola mata yang di lirikkan ke atas, hingga yang terlihat hanya putihnya saja. "Lalu yang begini." lanjut saya sambil menunjuk wajah Tamusong yang gosong.


"Iya, tapi ia hanya selalu menampakkan diri dengan kecantikannya, kalau sampai ada yang melihat rupa aslinya kala marah, maka..." wajah Wenna menjadi tegang. "Mereka akan di rundung ketakutan selamanya." lanjutnya lagi. Wenna seketika mengubah ekspresinya menjadi lebih bersahabat ketimbang tadi.


"Sampai segitu berpengaruhnya ya. Apakah dia camat di sini?" tanya saya abstrak, membuat dua hantu ini terperangah.


Wenna langsung tertawa mendengarnya. "Bukan camat sih, tapi lebih tepatnya.. dia adalah penguasa yang kalau di istilahkan, dia adalah seorang ratu di kerajaan ini."


"Rajanya monyet kah? Ini kan hutan belantara, mana ada istana di dalamnya." tukas saya, membuat raut panik terpancar dari mereka berdua. Bahkan Wenna langsung menoleh sekeliling seolah takut ada yang menguping.


"Kau ini memang benar-benar, mengolok-olok penguasa di pulau ini. Kau itu sama saja dengan mengolok presiden kalau di negara kita." geram Tamusong kesal.


"Ah, lagi pula presidennya juga tak akan dengar, kecuali kalau dia memiliki mata-mata, mungkin saja perkataan itu akan sampai padanya. Tapi ngomong-ngomong, ini kan gaib ya, jangan-jangan dia memang bisa mendengarkannya lagi.." gumam saya sambil bertekan dagu.


"Daripada itu, sebaiknya kalian masuk ke dalam dan berkenalan dengan yang lainnya. Sebentar lagi pestanya selesai dan taman akan sepi. Jangan sampai ketika matahari sudah terbit, kalian belum mendapatkan teman dan tempat tinggal sama sekali." ucapnya, sambil beranjak dan terbang mengambang, setelah sebelumnya hanya bisa merangkak karena tak memiliki kaki.


"Ternyata kau bisa terbang juga?" tanya saya takjub. "Kau ini ikan spesies belut sawah ya?" sambung saya lagi.


"Kau ini suka sekali meracau, tapi lucu juga. Hahaha.. Aku bisa terbang, sama seperti hantu yang lain. Ini kan kekuatan dasar yang di miliki para hantu, bedanya.. aku lebih suka mengubah bentuk tubuhku dengan sesuatu yang berhubungan dengan hewan air."


"Wah, bisa berubah menjadi bintang laut?" tanyaku, membuat Wenna berbalik sesaat menghadapku.


"Nanti aku akan berubah menjadi itu. Sekarang aku harus kembali ke air dulu, kami sedang memetik rumput laut." ujarnya seraya berlalu.


Akhirnya, saya dan Tamusong pun masuk ke dalam hutan dan melihat perkumpulan para hantu yang sedang bercengkrama dan bermain santai di tengah pohon besar. Bedanya, perkumpulan ini mulai sepi, tak terlihat ramai seperti sebelumnya. Mungkin pestanya sudah selesai, seperti apa yang di katakan Wenna barusan.


Kami bermaksud untuk datang, dan berkenalan dengan mereka. Sebelum semuanya pergi dan hanya menyisakan kami berdua dan hutan yang sepi.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......