RUN

RUN
Penipu



*Author POV


Kepala sekolah mengurut dahi ketika melihat sekolahnya kembali di kelilingi oleh mobil polisi. Bahkan, hal ini cukup membuat panik para pelajar dan guru yang ada di sekolah.


Para siswi ketakutan, sambil mengintip-ngintip tanpa berani untuk bertanya walaupun hanya sepatah kata. Yang membuat mereka khawatir adalah, ketika para guru perempuan menangis histeris seolah ketakutan.


Para kepolisian naik turun ke lantai tiga, bahkan sekarang para detektif berseragam dan juga pihak rumah sakit ikut terlibat


Sebuah ranjang dengan roda di bawa ke atas sana. Desas-desus terdengar dari atas, dan pembicaraan mereka terdengar begitu serius. Dan Saripudin, yang merupakan OB senior ikut menyaksikan pemeriksaan di atas sana, karena ia pun di tanya-tanya mengenai kedekatan si korban dengan dirinya dan juga OB yang lain.


Saripudin kembali ke ruangannya, kemudian berlanjut Ucup yang di panggil oleh pihak kepolisian. Para OB yang berada di ruangan dengan sigap mengerumuni Saripudin, yang kini tengah duduk sambil mengurut dahi.


"Pak Udin, gimana? Di tanya apa saja pada para kepolisian di dalam sana? Coba bagi kisi-kisinya, aku ini orangnya suka gagap kalau tiba-tiba di tanya." pintanya, membuat pak Saripudin menghela napas panjang.


"Gak di tanya apa-apa kok. Cuma di tanya hubungan dan kedekatan saya dengan korban." sahutnya.


Para OB terdiam sambil menelan ludahnya. "Jadi, itu beneran mati ya? Si Ariandi beneran mati?" tanya mereka, membuat wajah Saripudin memucat.


"Iya." sahutnya sambil menganggukkan kepala. "Meski gak lihat mayatnya, tapi kata pihak kepolisian, dia mati dengan posisi tubuh yang berdiri tegang di depan sebuah lukisan yang ada di gudang." perkataan Saripudin membuat rekan-rekannya bergidik.


"Hah? Yang benar?"


Saripudin kembali mengangguk. "Ya. Katanya, bukan cuma itu, tapi.. kedua tangannya berada di leher, dan batang lehernya pun..." Saripudin menggeleng, seolah tak berani untuk melanjutkannya lagi.


"Lehernya kenapa?? Kenapa lehernya?" desak mereka, memaksa.


"Patah, dik." sahut Saripudin, membuat para wanita di ruangan ini menjerit ketakutan.


"Yang bener? Sampai kejadian begini?? Apa semua ini, ada kaitannya sama Adam?"


"Hush!!" dengan cepat Saripudin mendesah, membuat wanita yang berada di dekatnya terkesiap dan segera mengunci mulutnya.


"Bu.. bukan begitu maksudnya. Hanya aja, kemarin Ariandi begitu kekeuh dan sombong, kan.. bilang kalau ia tak percaya hantu dan memaksa untuk masuk ke dalam gudang. Hari pertama, dia emang tak kenapa-kenapa, hari kedua juga.. tapi kalian sadar tidak, kalau hari kematiannya ini.. adalah hari ketiga setelah ia masuk ke dalam gudang. Apa jangan-jangan, ini sebenernya adalah kutukan dari gudang??" seketika perkataan Yani ini membuat mereka kembali bergidik.


"Masuk akal sih, soalnya.. tak ada yang seberani dia kan? Terus kok bisa ya, Ariandi kembali lagi ke dalam gudang, setelah sebelumnya sudah berhasil membuktikannya pada kita semua. Apa jangan-jangan, sebenarnya roh Ariandi di panggil ke dalam sana untuk menjemput ajalnya, sama seperti para siswi yang selalu datang setiap malam Jum'at Kliwon?" ujarnya, membuat OB yang lain mulai berpikir keras.


"Bisa jadi sih, pasti rohnya di panggil dan dia sendiri pun tak sadar. Menyeramkan juga ya, sebaiknya gudang itu memang di tutup permanen dan jangan sampai ada orang lain yang masuk ke dalam sana meskipun hanya untuk meletakkan barang-barang bekas." ucap mereka.


Di antara pembicaraan serius mereka, ada beberapa orang siswa yang ikut mendengarkan hal tersebut. Mereka yang sebelumnya datang dengan membawa cangkir pun segera mengetuk pintu dan meminta para OB membuatkan kopi untuk para polisi yang bertugas.


Dan sontak saja, berita ini langsung menyebar ke seluruh penjuru sekolah.


"Ah, masa'? OB yang baru kerja beberapa hari itu, kan? Yang muka bapaknya ganteng?" ujar seorang siswa ketika mendengarkan berita hangat ini dari teman sekelasnya.


"Iya! Beneran! Gue denger sendiri kok tadi pas minta di bikinin kopi ke ruangan OB. Mereka lagi bahas bapak OB yang ganteng itu. Katanya mati di dalam gudang dalam keadaan berdiri kaku dan lehernya patah. Katanya rohnya di panggil buat bunuh diri gitu di depan lukisan gudang."


Beberapa orang yang mendengarnya langsung bergidik ngeri. "Ah, jadi merinding gue. Gue juga tau sih, hari ini kepolisian ramai banget, bahkan lantai tiga kan udah di kasih garis polisi, jadi gak sembarangan orang bisa lewat. Tapi, dari jumlah polisinya, kayaknya ini emang serius deh."


"Iya, gue kira kehilangan siswi terjadi lagi, rupanya ada yang lebih serem ya. Matinya begitu, mendingan gak usah ada jasadnya sekalian deh kayak yang sudah-sudah, jadi kan gak perlu ngebayangin gimana seremnya OB itu."


"Hush! Kalau meninggal tanpa ada jasad itu bikin sedih pihak keluarga korban tahu! Gak ada yang mending-mending, lebih baik itu kalau gak ada korban sama sekali!" timpal temannya.


"Jadi ngeri juga ya di gudang yang sekarang. Sampai ada korban begini. Apa jangan-jangan, yang bunuh itu Adam lagi?"


Mereka langsung memucat usai menyebut nama tersebut. "Gue gak tau bener atau enggak, tapi.. almarhum kan tertutup sama banyak orang. Mukanya juga sulit di nilai baik atau enggak. Soalnya datar-datar terus."


"Tapi dia lucu kok, ganteng juga." bela yang lainnya.


"Maksudnya bukan itu, orang buta juga tau kali dia itu ganteng, tapi maksudnya.. dia itu, baik atau enggak. Gitu loh."


"Apa arwahnya penasaran ya gara-gara mati di bunuh di tempat itu?"


Dan pembicaraan yang lain terus terdengar, bahkan para masyarakat di sekitar mondar-mandir di gerbang sekolah karena merasa penasaran dengan banyaknya mobil polisi yang terparkir.


Di gudang baru, para polisi, tim forensik dan juga detektif menyelidiki benda-benda yang hancur, seperti kursi yang terbelah, serta bau air seni di sekitaran ruang.


Mereka saling melirik dengan alis yang tertaut dan napas yang terdengar berat.


"Jadi bagaimana? Ada banyak kerusakan di tempat ini. Bahkan isi prakarya pelajar di lemari pun habis berantakan. Ada kursi yang terbelah dua, lalu bau air seni manusia. Jadi, apakah korban mendapat serangan fisik dari seseorang?"


Mereka mendesah napas berat bersamaan. "Tak ada tanda-tanda kedatangan orang lain di tempat ini selain korban. Sepertinya kerusakan ini pun murni di lakukan oleh satu orang. Perihal yang membuat lehernya patah, mayat korban sudah menyatakan segalanya. Ia mati, dengan mencekik lehernya sendiri." ujar mereka.


"Bunuh diri dengan cara mencekik diri sendiri itu tak logis. Kenapa dia tak mengambil tali dan gantung diri saja? Jeratan tali itu menyakitinya dengan spontan ketika tubuhnya terjatuh dan mengambang, tapi perihal mencekik, tak mungkin diri sendiri melakukannya. Otak pasti akan memberikan penolakan ketika anggota tubuh berusaha menyakiti dirinya sendiri. Sebagaimana manusia yang bisa dengan mudah menggigit jari seperti menggigit wortel, hanya saja otak melarang kita melakukannya." terang seorang detektif, membuat pihak kepolisian bertambah pusing.


"Jadi, apakah lagi-lagi kita di hadapkan dengan pembunuhan tak masuk akal? Aku muak bekerja di tempat ini dan melihat sekolah ini setiap bulan!!" kecam seorang polisi, dengan wajah yang memerah menahan marah.


"Ini memang konyol, tapi sepertinya.. memang hal mistis ini lagi yang kita hadapi. Dan pelakunya?? Tentu saja makhluk halus yang tak bisa di hukum dengan undang-undang."


*Author POV End


"Benar tak mau di temani? Aku tak yakin kau tahu jalan." ucap Tamusong, seolah-olah meremehkan saya.


"Hei! Jangan menganggap saya seseorang yang dungu! Lagi pula tinggal cari pepohonan yang besar saja, kan.. di sana kan tempatnya?" ucap saya yakin, sambil menunjuk sebuah pohon berukuran besar.


Tamusong menoleh ke arah apa yang saya tunjuk, lalu kembali menatap saya dengan malas. "Semua pohonnya besar! Bisa gila aku kalau berada di dekatmu! Tak lucu kan kalau kau tersesat di tempat ini, sebaiknya aku temani saja bersama dengan Pojata." tawarnya lagi.


"Tidak, aku tak mau menemani anak ini. Aku kesini hanya karena mu." ucapnya dengan nada merayu.


"Idih najis!" sahut saya spontan. "Kamu ini centil sekali sih, jangan-jangan Pojata itu adalah singkatan dari Pocong yang sering jatuh cinta ya?" terka saya, membuat Pojata terkesiap. "Nah, jadi benar?"


"Padahal aku sudah berusaha membendung perasaan cintaku padamu Tamusong, tapi.. tapi anak kurang ajar ini merampas cinta dalam diamku!!" ucapnya menggeram, dengan hidung yang kembang-kemping.


"Idih! Bisa bisul mata saya melihatmu begitu!! Kalian berdua pergi sana!! Tak butuh juga! Tinggal cari pohon besar, kan?" gumam saya sambil terbang meninggalkan mereka berdua di belakang.


"Apa benar bisa di tinggalkan sendirian?" gerutu Tamusong, tapi membiarkan saya pergi sendirian.


Saya mulai terbang dan menoleh ke kiri dan kanan. Pohon besar sih memang banyak, apakah mereka tak punya clue lain untuk saya menemukan tempat tinggal hantu kuntilanak??


Apa saya kembali saja ke camp di mana banyak hantu yang berpesta di sana?? Pasti di antara mereka ada hantu kuntilanak, kan? Jadi saya tinggal mengikuti mereka saja ketika pulang.


Saya terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang menyentuh wajah saya. Bendanya sedikit mengganggu, seperti akar pohon gantung dari pohon beringin.


Saya menyibakkan benda tadi, lalu menengadah ke atas langit Ketika pandangan saya menatap langit seluruhnya, ada sepasang bola mata menyeramkan yang menatap saya, ia langsung menjatuhkan diri ke arah saya hingga membuat saya berteriak kaget.


"Gyaaaaaaah!! Kejatuhan cicaaaaak!!" pekik saya, membuat sesuatu mencolek-colek lengan saya.


Saya menoleh, menatap sesosok kuntilanak yang masih kecil. Ia tersenyum dan menatap saya dengan lingkar mata hitamnya. "Kakak cari apa? Main yuk?" ujarnya, membuat saya menghela napas.


"Sudah malam ini, sana tidur! Apa mau saya gibas?" ucap saya, secara tak langsung mengusirnya.


Ia menyipitkan matanya. "Kakak cari apa? Ayo Nana antar." ucapnya, membuat saya terkesiap sambil menunjuknya.


"Na.. Nana? Kamu anaknya Nini bukan?" tanya saya random, membuatnya menelengkan kepalanya. "Oh, bukan ya?" tambah saya. Saya terdiam sambil menatapnya. Dia kan kuntilanak, pasti akan kembali ke kediaman mereka, kan?? Sepertinya bisa di manfaatkan.


"Adik baik, mau pulang tidak? Biar kakak antar sampai ke rumah. Mau ya? Harus mau!" ucap saya memaksa. Yang tak pernah dekat dengan anak kecil mana bisa mengeluarkan kata-kata bujukan.


"Hihihi, ayo!" Ia langsung mengiyakan, dan saya tersenyum bangga sambil menepuk dada sendiri.


Kami terbang memasuki pepohonan besar, semakin dalam ke hutan. Ada sebuah batu besar yang terbelah di dekat pohon yang akar gantungnya menjuntai. Cukup menarik, karena bentuk batunya cukup unik. Seperti bulat sempurna, dan terbelah seperti buah yang di pisahkan dengan pisau.


Kami terbang cukup jauh, bahkan saya tak tahu kalau ternyata tempatnya sejauh ini. Awalnya saya tak menaruh curiga pada anak ini, sampai pada ketika saya kembali ke tempat yang tak asing. Sebuah batu yang terbelah di dekat pohon yang akar gantungnya menjuntai.


Kebetulan? Ya, itu adalah pikiran yang terlintas di benak saya. Saya yang selalu berpikiran buruk pada orang lain pun berusaha mempercayainya.


Sampai di kali ketiga, saya menemukan tempat, bentuk batu dan juga akar gantung yang sama. Dan ini semakin menyakinkan saya kalau hantu ini sedang berulah.


Ia masih asik terbang tanpa menoleh ke arah saya yang berada di belakangnya. Saya masih diam, mengikuti apa yang ingin ia lakukan.


"Hihihi, kak.. Kenapa diam saja sih di belakang, kakak tak mau mengatakan sesuatu seperti?" Ia menoleh ke belakang. "Loh?" Ia terlihat kaget ketika tak mendapati saya di belakangnya.


"Dimana dia?? Dimana kakak yang tadi?" tanyanya bergumam.


Saya pun mencolek tangannya, membuatnya menoleh ke arah belakang dan menatap kedua mata saya yang menyeringai.


"Kau sedang main-main dengan seorang pemain ya? Adik kampr*t?" tukas saya dengan suara yang menggeram dan tatapan mata yang tajam. Anak ini mengerjap, lalu memasamkan wajahnya dan menjerit...


"Kyaaaaaaa!!!!"


......Bersambung......