
Ketika berusaha berkomunikasi jarak jauh dengan Tamusong, saya mendapati suaranya yang menyuruh pergi dan keluar dari tempat ini. Tapi dari apa yang sudah terjadi, saya berakhir di hukum kiyai ketika mendengarkan perkataannya.
Saya tak menyalahkan Tamusong sepenuhnya, karena saya memang yang memilih untuk mendengar dan mempercayainya. Tapi, kalau kali ini saya membangkang, tentu saja saya pun akan menyeretnya dalam hukuman ini. Saya tak tahu, apakah dia punya maksud yang baik atau buruk, hanya saja saya merasa kalau ada maksud baik di balik semua itu.
Dan, kalimat "Saya merindukanmu." darinya, membuat saya bertambah yakin dengan semua itu.
"Hah? Jangan meracau. Kenapa juga Tamusong merindukan saya? Rindu anakmu lagi, dan mau melampiaskannya pada saya?" terka saya, sembari berusaha berkomunikasi kembali dengannya.
Setelah itu saya diam, tapi tak ada sahutan sama sekali darinya. Apakah telepati ini terputus? Atau pesannya belum sampai?
"Kuno, apa kau tak merindukan aku?" suaranya kembali terdengar. Saya mengernyit kala ia mengatakan hal itu lagi.
"Dikit sih, saya merindukan makanan melati yang selalu kau petik, Tamusong." balas saya, membatin.
"Kalau begitu, kenapa kau sudah lama tak keluar dari dalam sana? Betahkah kau di dalam sana? Atau kah ada makanan enak yang membuatmu lupa untuk berkunjung ke kuburan?" tanyanya membalas.
Ya, saya hampir lupa kalau Tamusong tak mengetahui kalau saya telah mengadakan perjanjian dengan kiyai, tapi dengan syarat saya tak hanya dilarang mengganggu manusia, tapi saya juga harus di kurung dalam jangka waktu yang tak di ketahui.
Pada saat terakhir kali bertemu, sebelum saya di kurung seperti sekarang ini, saya berkata hal yang buruk kepadanya, tapi.. kenapa ia sama sekali tak marah atau membenci saya? Saya rasa, perbuatan saya cukup jahat. Dimana dia mengkhawatirkan saya, tapi saya malah membalasnya dengan perkataan buruk.
"Apa yang kau katakan, Tamusong? Sepertinya saya kehilangan transmisi sinyal di sini!" sahut saya asal, sambil meringis geli ketika mengatakannya.
"Transmisi sinyal ndasmu! Ayo keluar dan temui aku. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang pernah ku katakan padamu sebelumnya." ujarnya lagi.
Lagi-lagi mengajak saya ke suatu tempat. Sejak awal bertemu pun ia selalu mengajak saya ke tempat itu, tapi sama sekali tak terealisasikan tuh. Lagipula tempat apa sih yang ingin ia beritahu? Yang tak ada manusianya? Yang isinya hanyalah para jin saja? Memangnya tempat seperti itu ada? Terasa seperti khayalan anak-anak.
"Saya tak mau!" batin saya sejadinya. Sebenarnya ini bukan perihal tak mau, hanya saja saya tak bisa keluar dari tempat ini. Kalau memberitahukan hal ini pada Tamusong pun tak akan saya lakukan, kalau dia nekat masuk untuk mengeluarkan saya, nanti kami berdua yang kena batunya.
Setelah bertemu dengan kiyai, saya merasa tak mau melalukan hal-hal nakal di luar batas, atau bahkan membangkang. Saya takut sekali melihat aura dan cahaya di sekitar tubuhnya. Belum lagi dengan malaikat yang memiliki sayap panjang di segala sisinya. Cari perkara, bisa-bisa saya akan di kurung selamanya di tempat ini.
Mengerikan sekali!
Saya terdiam, dan hendak memutuskan konsentrasi agar Tamusong tak bisa berbicara pada saya lagi.
"Hei! Jangan memutuskan percakapanmu!"
"Gyaaaaah!! Bagaimana bisa kau masih berbicara pada saya sementara saya sudah menghilangkan konsentrasi ini?!" pekik saya sambil berteriak tak jelas.
"Kuno!! Jangan memutuskan percakapanmu! Ayo hubungkan lagi! Saya ingin bicara padamu!" batinnya masih terdengar.
Saya terdiam. Ini seperti pembicaraan satu arah, dimana saya sudah memutuskan koneksi, tapi ia masih bisa berbicara pada saya, namun sudah tak bisa mendengar balasan suara saya meskipun saya berteriak tadi.
"Hei, Kuno! Kau kenapa sih? Ayo sambungkan lagi, atau segera keluar dari tempat itu. Aku akan menunggumu malam nanti, tepatnya di depan pagar yang ada di samping sekolah dekat lapangan bola." batinnya lagi.
Dan itu adalah obrolan terakhir setelah saya memutuskan koneksi seluruhnya.
.........
Malam harinya, saya mulai merasa gelisah usai menghubungi Tamusong. Entah kenapa, jiwa pemberontak saya ingin sekali keluar dari tempat ini. Dan lagi, kiyai bilang pengurungan ini hanya untuk beberapa waktu yang tak bisa di tentukan. Sementara kah maksudnya, tapi kenapa saya tak kunjung di keluarkan juga?
Apakah jangan-jangan, ia hanya berbohong untuk membuat saya mantap di tempat ini tanpa pernah berpikir untuk kabur atau pergi?
Aduh, Adam! Kenapa kau susah sekali sih mempercayai orang lain? Dan kenapa saya tak bisa patuh pada satu perintah, rasanya benar-benar ingin menjadi bajak laut biar bisa memberontak.
Saya mulai terbang, mengintip ke sela-sela papan yang menutup jendela.
"Kiyai!! Bukakan pintu ini!! Kalau tak mau buka, boleh ya saya buka kan sendiri." gumam saya seorang diri.
Saya langsung berganti posisi ke sebelah kiri, berpura-pura menjadi kiyai. "Iya, den. Silakan di buka sendiri." sahut saya.
Saya kembali berganti ke posisi semula, yaitu ke sebelah kanan. "Oh, boleh ya? Kalau begitu terimakasih!" sahut saya lagi.
Kihihi, sudah di izinkan kiyai untuk keluar. Tapi, ngomong-ngomong tentang keluar, ruangan ini di lapisi oleh tembok gaib bukan?
Saya mulai beranjak, mengetuk-ngetuk setiap dinding dan juga lantai serta atap dan pintu. Kalau ia mampu mengurung saya dengan kekuatan gaib, seharusnya saya juga bisa membukanya dengan kekuatan gaib kan?
Seperti halnya manusia, sebuah pintu pasti memiliki kunci, dan sekarang kuncinya berada di tangan kiyai. Lalu, cara lain untuk bisa membukanya adalah kunci duplikat. Saya tak tahu dengan apa kiyai membentengi ruangan ini, artinya saya tak bisa menduplikat kunci miliknya.
Tapi, ada cara lain yang agak beringas dari menduplikat kunci, yaitu...
Membobolnya.
Benar, cara yang bisa di lakukan untuk keluar dari ruangan ini adalah dengan membobol kuncinya. Tapi syaratnya, kekuatan yang saya kerahkan harus lebih besar ketimbang kekuatan yang di kerahkan oleh kiyai. Kalau tidak, kunci itu tak akan terbuka sama sekali.
Lagipula saya di kurung karena nakal dan mengganggu orang lain kan? Berarti, kalau saya tak nakal dan tak mengganggu orang lain, harusnya kiyai tak akan marah dan menghukum saya jika saya memberontak dan keluar. Syarat yang ia berikan hanya tak boleh mengganggu manusia lain kan??
Waktu itu kan dia berkata seperti ini.
"Pantangan?" saya mengulang, serasa tak mempercayainya.
"Ya. Ini adalah peraturan yang saling menguntungkan. Dimana aku melarang para siswa atau siapapun untuk masuk ke ruang seni dan berhenti mengusik tempat tinggalmu. Tapi, ada syarat yang harus kau penuhi. Tak boleh ada tawar menawar lagi, aku sudah berbaik hati untuk mempertahankanmu di tempat ini." ujarnya, seolah-olah yakin betul kalau saya akan protes terhadap persyaratannya itu.
"Ya, kau kan anaknya ngeyel. Nanti banyak cingcong lagi."
"Siapa yang bencong?!" tukas saya lagi.
"Cingcong, bocah!!"
"Kihihihi.. dasar tuli." Saya mengejeknya.
"Kau yang tuli!!" Ia balas memekik.
"Ya sudah, apa syarat untuk saya?" tanya saya lagi. "Mumpung saya mau mendengarkan nih."
Ia terdiam sesaat, hanya untuk menghela napas. "Para manusia sudah ku minta untuk menjauhi tempat tinggalmu, jadi.. Kau.. dilarang untuk menggangu manusia di sini dengan alasan apapun. Kau di perbolehkan untuk tinggal disini selamanya, ini adalah tempatmu dan kau tak kan terusir. Tapi, kalau kau masih melanggar perjanjian ini dan mengganggu manusia."
"Maka... kau akan mendapatkan hukuman berat, dan aku.. tak akan menganggap mu sebagai seorang bocah nakal lagi. Kau, akan ku musuhi, sebagaimana aku memusuhi iblis pemakan darah itu." tukasnya, membuat dada saya terasa tertusuk duri.
Kihihi, benar. Kenapa tak terpikirkan oleh saya sebelumnya? Dia kan pernah berkata demikian. Jadi, seharusnya tak masalah kalau saya pergi dari tempat ini.
Saya menunduk, menatap lantai yang berdebu. Beberapa hari di sini, saya sudah bisa memainkan dan mengeluarkan bola-bola energi di tangan saya. Sekarang, saya hanya perlu menghancurkan dinding penghalang ini saja kan???
.........
*Author POV
Di suatu ruangan segi empat dengan panjang dan lebar sekitar tujuh langkah kaki, ada sebuah tikar dari jerami yang tergelar di atas lantai dari semen halus yang berwarna kehitaman.
Ada sebuah jendela yang telah tertutup rapat, dengan tirai bangau berwarna pink pucat. Tak jauh dari tempat tersebut, ada sebuah lemari tua yang berada di sudut.
Seorang lelaki muda berwajah manis masuk ke dalam sembari membentangkan sajadahnya. Wajah, rambut serta tangan dan kakinya tampak basah karena wudhu. Ia melaksanakan shalat isya setelah adzan berkumandang.
Selepas shalat, lelaki ini berdoa dan berdzikir, tenang dan damai di atas sajadahnya. Tak ada yang berani mengusiknya, kecuali panggilan lembut dari istrinya yang menyuruhnya untuk makan malam.
Ia hendak beranjak dan menemui istrinya, tapi tiba-tiba saja dirinya tersentak kala menyadari sesuatu.
Ia menoleh dengan dahi yang mengernyit, tepat ke arah ruangan seni yang kini telah di jadikan gudang. Lagi-lagi anak itu melepaskan kekuatan gaibnya, tapi kali ini.. sepertinya ia melakukan sesuatu dengan benteng yang ku gunakan untuk melapisi ruangan itu, batin Wanto.
Ia menghela napas sembari berdoa, menekan segala aura yang mungkin saja di rasakan oleh para manusia sakti yang jahat.
"Dasar anak nakal, sepertinya ia menggunakan kekuatan untuk menghancurkan tembok yang aku buat. Memang tak bisa mendengar perkataan orang lain." keluh Wanto sambil beranjak.
Ia keluar ruangan shalat dan melewati meja makan, di mana sang istri sudah menunggu di sana.
"Mau kemana, mas?" tanya sang istri, sambil mengikuti arah gerakan Wanto.
"Tunggu to, dek. Ke depan rumah sebentar." sahutnya sambil melongos.
Ia berdiri di depan rumahnya dan melihat ke gedung kelas. Ia memejamkan kedua matanya, lalu membukanya secara mendadak.
Mata batinnya terbuka, saluran energinya terhubung melalui hati yang bersih. Di dalam mode ini, ia mampu melihat langit-langit yang sebelumnya gelap, menjadi terang benderang dengan cahaya kehijauan yang menembus sampai ke bawah tanah.
Wanto menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang. "Memang benar-benar di terobos dinding itu?" keluhnya.
Tak perlu capek-capek berjalan ke sana, Wanto langsung menyerap si pemilik kekuatan besar dan menariknya. Alih-alih tertangkap dan berhadapan dengan Wanto, Adam malah menepis tarikan lelaki tersebut.
Wanto menggelengkan kepalanya. "Melawan lagi, memang benar-benar anak nakal." keluhnya, sambil berusaha memaksa agar roh Adam terpanggil. "Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, mohon berikan hamba kekuatan untuk menarik roh anak laki-laki bernama Adam Suganda bin Barend Otte, dengan segera ke hadapan hamba." tukas Wanto, melantunkan doa dengan hati yang ikhlas.
Desiran angin mendadak kencang. Pepohonan rimbun di depan rumahnya meranggas kan daunnya karena terpaan angin kencang. Meski berada di tempat dan terdiam, tapi hati dan juga bibir Wanto lantas berdzikir memuji keesaan Allah, dan meminta agar di permudahkan dalam memanggil Adam.
Keringat mulai mengucur, tubuh Wanto terasa panas meski angin bertiup sangat kencang. Tepat di hadapannya, desiran angin tadi berputar searah jarum jam, membentuk tornado cebol yang lumayan berbahaya, tapi berupa gumpalan asap tebal.
Wanto membuka matanya lebar-lebar, ketika asap tadi perlahan menghilang. Ia menatap sesuatu jatuh terjerembab di hadapannya. Desiran angin mendadak berhenti, bahkan tak ada satu daun pun yang bergerak setelah itu.
Si anak lelaki berkulit putih pucat menengadah, membuat kedua mata mereka bertemu pandang. Tak cukup lama ia memandang, anak lelaki ini mengernyit dan menutup matanya, tak tahan dengan silau yang menyakiti matanya.
Wanto menarik napas panjang sembari berkata. "Anak nakal, kau.. benar-benar ingin di hukum, dan menjadi musuhku, ya?" tanyanya dalam.
"Ck, berisik tahu!!" balasnya, dengan suara yang terdengar aneh. "Kau lagi kau lagi!"
*Author POV End
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......