RUN

RUN
Memandang Bayangan



Bola voli seberat 269 gr melambung melewati net setinggi 2,43 m. Berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Riuh elu penonton juga terdengar ramai. Para prajurit mengisi pagi dengan berolahraga setelah korvey.


"Ah, kalah nih kita dari tim lawan, Za!"


"Iya,Bang. Mungkin capek habis potong rumput"


"Halah,Za, motong rumput gitu aja capek!!" seru David.


Budi,Doni,David dan Reza jadi tim .Sementara Dono dan Yoyok berada di pihak lawan.


"Mana kemampuanmu Bang Budi? Segitu aja?" goda Dono.


"Eh,Awas ya kamu! Ni aku belum ngeluarin semua kemampuanku loh,ya"


Dono tertawa terbahak-bahak dari seberang net.


""Wes, Yok, jangan ketawa aja kamu. Buruan diservis bolanya!" tukas Yoyok.


"Awas,aku kerjain kamu,Yok" gumam Budi dengan senyum usilnya.


Dono sebagai server tim lawan menyervis bola, diterima oleh Bandi, berpindah ke Yoyok dan bola mencelat ke Budi, diarahkan ke Dono. "Don, ada Dek Dinda lewat pake rok mini!" teriaknya.


Dono spontan balik badan,"Mana-mana?"


""Yes,poin!!" teriak Budi girang ketika bola jatuh ke lapangan lawan.


"Wah, aku dikerjain Bang Budi! Awas aja nanti"


Budi kali ini sebagai Rosser yang bertugas mengumpan bola ke rekan-rekannya.


"Awas aja Bang Budi, ku kecoh kamu nanti!!" ledek Dono.


"Ah, nggak mempan" tangkis Budi sambil menggoyang-goyangkan pantatnya, tangannya mengepak-ngepak mirip bebek.


Reza geleng-geleng"Ni orang udah pada tua juga masih berulah, ckckck,sama aja kayak Dono!"


Pertandingan yang tak serius itu kembali bergulir, Yoyok sebagai spiker tim lawan yang bertugas memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan, berusaha mengecoh agar bolanya tepat sasaran,namun Irfan mampu menerima bola itu dan melemparkannya pada Budi. "Tangkap,Bang!"


Budi menjulurkan lidah," Mau ngibulin toh kamu?! Nggak mempan,Wee!"


"Loh,bener, Bang. Mbak Dinda lewat, loh"


Budi malah menangkap bola tadi tanpa memukulnya sesuai aturan, bola itu malah disingkap, diapit di ketiaknya. "Halah, Dono! Mau ngibulin,kan? Nggak mempan, Wee! Cara jadul"


Priiitt! Priiitt! Peluit wasit nyaring melengking di telinga. "Bud! Bolanya!"


Budi baru sadar kalau ia mengapit bola di ketiaknya.


"Yah, Bang Budi gimana sih!! Poin lagi,kan, mereka!" protes Reza. "Lagian nih Dono, dari tadi nyebut-nyebut nama Dinda!" lanjut protes Reza seraya melotot pada Dono.


"Aku nggak bohong kok. Itu loh, mbak Dinda lewat,coba deh kalian berbalik"


.


Budi menuruti apa kata Dono. "Eh, iya. Aduh, Dek Dinda cantik banget hari ini"


Reza ikutan berbalik tapi sebelumnya ia melirik dongkol ke Budi. " Dek Dinda,Dek Dinda!! Dasar Dakocan!"


Budi berlari keluar lagi sambil berteriak "Dek Dinda!"


Priiitt! Priiitt! Wasit setengah mati meniup peluit yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Budi yang kesurupan mengejar Dinda.


.


Akhirnya permainan break sementara. "Dasar, Budi! Patah!!" teriak wasit-Ramli, senior Budi satu klik.


Sementara permainan voli di lapangan sebelah masih berlangsung tapi ikut ramai saat Dinda melewati lapangan itu. Ada yang berbisik-bisik, "Cewek dari mana itu? Siapa tuh?" bahkan ada yang bersiul-siul. Masih banyak yang belum paham kalau itu Dinda, istri Reza yang telah berubah dari gemuk ke langsing. Reza mendengar semua decak kagum itu. Bahkan ia terus memandangi langkah istrinya yang semakin menjauh.


"Berubah sekali ya, Za, istrimu?" sela David. "Kelihatan modis juga. Kamu nggak berpikir ribuan kali untuk berpisah dengannya?"


Reza tak menjawab matanya tertuju pada sosok Dinda yang telah hilang dari pandangan matanya. Menatap tanpa berkedip, menatap dengan rasa.


Irfan memperhatikan kedalaman mata Reza dan dia tersenyum.