
Roh saya terasa gamang dan bergetar. Saya merasakan tekanan di sekujur tubuh, seolah-olah tertindih oleh tanah padat. Tapi, tekanan ini seperti menyedot, atau bahkan menarik saya dengan kencang.
Wuuusshh!!
Tubuh saya terhempas, tersentak bagaikan naik kendaraan dengan kecepatan maksimal. Mata saya terpejam, karena angin yang bertiup seakan membuat mata perih.
Apa yang terjadi? Kenapa.. roh ini tiba-tiba saja tersedot dengan kuat?? Sebenarnya, kenapa saya di panggil? Apakah orang itu, ingin mengeksekusi saya??"
Saya terus mengerang, menahan roh saya agar tak terbang melayang. Ketika tarikan ini semakin kuat, tiba-tiba saja..
Buuum!!!
Tubuh saya terhempas kembali dengan kuat, membuat roh ini seakan-akan jatuh dari lantai tertinggi sebuah ruangan.
Saya memejamkan mata, mengerang dan merasakan sakit di tulang punggung serta tulang ekor. Saya menggeliat, berguling ke kiri dan ke kanan dengan cepat.
"Adudududuh!! Sakit sekali!" keluh saya sambil melentikkan tubuh agar kedua tangan bisa menyentuh punggung. Ketika saya berhasil melakukannya, saya terkesiap dan membuka mata, menampakkan pemandangan yang jauh berbeda dengan yang sebelumnya.
Tempat sempit, gelap dan seram tadi berganti menjadi sebuah ruangan luas yang bahkan terlalu luas untuk saya seorang diri. Saya menoleh, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat ini tak asing, yang membedakannya hanyalah keadaannya. Berantakan, dan penuh dedaunan kering yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam sini. Saya terkesiap, ketika menyadari, kini saya telah berada di ruangan seni.
Saya yang terduduk menghadap jendela pun mulai beranjak. Kenapa tiba-tiba saja saya berada di tempat ini lagi? Apakah, roh saya tadi sebenarnya di tarik dan terhempas ke sini?? Atau, karena memang saya sudah menyepakati janji untuk terkurung di tempat ini, makanya saya tetap akan kembali ke sini mau sejauh apapun pergi.
"Assalamualaikum, Adam Suganda." sapa sebuah suara yang berasal dari belakang. Saya terkesiap, entah kenapa suaranya membuat hati saya merasa gentar.
Saya menenggak ludah, bersiap untuk membalikkan badan. Saya menoleh di balik pundak, menampakkan cahaya aneh yang sungguh menyilaukan, sama seperti yang saya lihat sebelumnya.
Saya mengerjap dan menutup mata, tak kuasa untuk memandang cahaya itu dari dekat. Pilihannya tak ada yang lain, kecuali menundukkan pandangan.
"Kamu tak menjawab salamku, karena tak bisa to?" tanyanya, dan saya lebih suka diam ketimbang harus menjawab pertanyaannya. "Baiklah kalau kamu tak mau menjawab apapun, tapi sepertinya kamu harus menjelaskan padaku mengenai semua hal yang terjadi padamu akhir-akhir ini."
"Apakah, sebenarnya kamu memiliki keinginan khusus dalam mempergunakan kekuatan gaib para hantu? Atau kamu, mau menguasai ilmu khusus yang di miliki oleh para kuntilanak?" terkanya dengan logat Jawa kental, tapi ia akan berusaha berbicara bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan semua orang kecuali pada istrinya, dan saya masih tepat terdiam. Tak mau menjawabnya.
"Kau tahu, perbuatan semacam itu berbahaya bagimu. Dan seharusnya, kau tak berada di tempat ini sambil kebingungan karena gentayangan. Kau tak seburuk para hantu yang seram, tapi kau mungkin saja bisa lebih berbahaya dari mereka. Jadi, sebaiknya redam kekuatan mu, atau kau sendiri yang akan merasakan kesulitan di kemudian hari." Saya mengerjap mendengar wejangannya.
"Jangan menampakkan dirimu pada manusia lain, seperti sebelumnya. Cukup diam dan biarkan orang-orang bekerja. Bukankah seharusnya kodrat hantu yang baik adalah tak mengganggu manusia? Kau sendiri pun pasti mengetahuinya. Kalau kau sengaja melakukan itu, sepertinya aku akan bertindak cukup keras dalam berbicara padamu. Apakah kau siap untuk berbicara banyak padaku?"
Saya mengerjap datar sambil melirikkan pandangan menyapu lantai. Dia bicara terlalu banyak hingga saya tak dapat menjawab salah satu dari pertanyaannya. Saya gemetaran dan juga kebingungan.
"Ck, banyak bicara. Berisik tahu!" tukas saya pada akhirnya, membuat suasana kembali mencekam. Saya terkesiap usai menyadari perkataan saya sendiri. Bisa-bisanya saya mengatakan hal buruk pada orang yang sebentar lagi akan menghukum saya.
"Hahaha, Masya Allah.. masih kurang ajar seperti biasa ternyata." sahut cahaya silau itu.
Saya mengerjap, masih tak mampu menatap wajahnya, tapi entah kenapa tubuh saya seolah mematung dan tak mampu untuk membalikkan badan meski hanya sebentar.
"Kalau begitu, kita gak usah bicara formal dan langsung pada intinya saja." tuturnya. Cahaya yang tinggi tadi perlahan merendah, seolah-olah sedang duduk berjongkok meski saya tak mampu untuk memandangnya. "Oke, banyak kabar yang udah ku dapat, dan pembuat onarnya adalah kamu. Jadi, apa yang kamu inginkan?? Mau ku hukum?" tanyanya lembut, membuat saya mengernyitkan dahi.
"Memangnya siapa yang suka di hukum? Lagipula saya tak melakukan kesalahan!" bantah saya, berusaha membela diri.
"Ooh, tak melakukan kesalahan to?" ujarnya mengulang, dalam cahaya silau itu, salah satu tangannya terangkat. Tepat setelah hal tersebut, tiba-tiba saja telinga saya merasakan kesakitan, membuat saya mengerang hebat.
"ADAAAAAW!! RASA DI CUBIT!!" pekik saya, membuat suara tertawaan kiyai terdengar kembali.
"Itu namanya cubitan gaib. Bahkan tanpa menyentuh, aku bisa melakukannya dari jauh." sahutnya senang. Saya mendengkus sambil mengusap telinga, mau masih hidup ataupun sudah mati, dia suka sekali menarik telinga orang lain. Ya, meskipun itu hanya ia lakukan pada saya saja sih.
"Kamu tak usah berkelit, sudah banyak korban yang kamu takuti. Entah itu jatuh di depan kuburan, ekskul palsu, menakuti Bu Desti, dan yang terbaru.. kenapa kau mengganggu kinerja polisi? Hah?!" tanyanya, membuat saya menarik napas panjang.
"Kenapa bertanya?" sahut saya, dan ia hanya bisa membalas dengan "Hah?" singkat. "Tak perlu bertanya seharusnya kiyai sudah tahu kan apa yang sebenarnya terjadi. Yang lainnya saya belajar, dan yang lainnya, saya berusaha mempertahankan tempat tinggal saya. Lalu sekarang apa? Kiyai mau menghukum saya sepihak, tanpa mau mengerti keadaan saya dulu?" tambah saya.
"Kau selalu saja berpikiran buruk pada orang lain. Aku mengajakmu bicara, karena ingin mendengar pembelaanmu. Jadi sekarang, silakan ceritakan apa yang kau inginkan." timpalnya.
Saya terdiam, mengumpulkan segala apa yang terpendam, dan bersiap untuk mengungkapkannya. "Saya ingin melindungi diri dan berusaha mengendalikan kekuatan besar yang saya punya. Saya tak mau karena kekuatan ini, saya diincar oleh para manusia sakti. Dan saya ingin menjadi lebih kuat, agar bisa membunuh si iblis." sahut saya, dan tak mendapat jawaban apapun dari kiyai.
"Mengendalikan kekuatan itu tak mudah, makanya saya mengikuti prosedur yang ada agar bisa mengendalikannya dengan benar. Tak asal melepaskan kekuatan yang besar saja. Dan prosedur itu, mengharuskan saya untuk menakuti manusia." terang saya. "Lalu, saya sama sekali tak berniat untuk mengacaukan tugas polisi, saya begitu.. karena mereka berusaha mengusir saya dari tempat ini. Padahal satu-satunya tempat tinggal saya adalah tempat ini." jelas saya, berusaha membela diri.
Ia menghela napas panjang. "Lalu, kenapa kau keluar dari tempat ini, bukankah kau tahu kalau kita pernah mengadakan perjanjian di sini?" tanyanya lagi.
Saya terdiam, mengatup bibir dengan rapat seolah enggan menjawab, tapi entah kenapa.. bibir ini seperti bergerak sendiri untuk menjawab pertanyaan yang ada. "Kata Tamusong, saya akan di hukum oleh kiyai."
"Tamusong?" kiyai mengulang.
"Tante wajah gosong." sahut saya singkat. Ia terdiam sesaat, sepertinya dia sudah kenal. Tamusong kan hantu lama, dan tinggalnya tak jauh dari sekolah. Pasti kiyai kenal, kan?
"Pocong wanita itu?? Kau mempercayainya ketimbang aku?" tanyanya lagi.
Saya mendengkus sebal. "Haruskah saya mempercayaimu? Padahal sekarang sudah nyata, musuhmu adalah saya. Dan saya, bukan anak kecil nakal yang selalu ingin menegakkan kebenaran. Saya adalah hantu, dan kiyai mau saya mempercayai musuh saya sendiri?"
Saya dapat melihat cahaya itu mulai terkesiap. Ia seolah kaget mendengar ucapan saya sendiri. "Sungguh, kau ini memang tak pernah berubah. Tak pernah mempercayai seseorang, bahkan aku yakin kau tak sepenuhnya percaya juga dengan tongkosong yang kau bilang tadi."
Kini giliran saya yang terkesiap mendengarnya. "Tamusong tahu! Sembarangan mengubah nama orang!!" sambar saya, mengoreksi ucapannya.
"Kau sendiri juga sembarangan memanggil nama orang lain!" balasnya, membuat saya tertawa geli.
"Oh, benar juga ya. Kihihihi."
Dia rela menolak permintaan para manusia demi saya?? Bahkan mengadakan perjanjian pada mereka dan juga saya?? Lantas, perjanjian apa yang ia buat untuk saya??
"Perjanjian apa yang kiyai maksud?"
"Mereka ingin aku membersihkan ruang seni, tapi aku menolaknya. Aku ingin kau tetap tinggal di sana, tapi dengan satu syarat." Ia menggantung ucapannya, membuat saya mengernyit.
"Apa itu?"
"Aku membuat sebuah pantangan di sekolah ini." sahutnya.
"Pantangan?" saya mengulang, serasa tak mempercayainya.
"Ya. Ini adalah peraturan yang kau inginkan. Saling menguntungkan satu sama lain. Dimana aku melarang para siswa atau siapapun untuk masuk ke ruang seni dan berhenti mengusik tempat tinggalmu. Tapi, ada syarat yang harus kau penuhi. Tak boleh ada tawar menawar lagi, aku sudah berbaik hati untuk mempertahankanmu di tempat ini." ujarnya, seolah-olah yakin betul kalau saya akan protes terhadap persyaratannya itu.
"Memangnya siapa yang mau menawar? Memangnya kiyai sedang jualan!!" balas saya ketus.
"Ya, kau kan anaknya ngeyel. Nanti banyak cingcong lagi."
"Siapa yang bencong?!" tukas saya lagi.
"Cingcong, bocah!!"
"Kihihihi.. dasar tuli." Saya mengejeknya.
"Kau yang tuli!!" Ia balas memekik.
"Ya sudah, apa syarat untuk saya?" tanya saya lagi. "Mumpung saya mau mendengarkan nih."
Ia terdiam sesaat, hanya untuk menghela napas. "Para manusia sudah ku minta untuk menjauhi tempat tinggalmu, jadi.. Kau.. dilarang untuk menggangu manusia di sini dengan alasan apapun. Kau di perbolehkan untuk tinggal disini selamanya, ini adalah tempatmu dan kau tak kan terusir. Tapi, kalau kau masih melanggar perjanjian ini dan mengganggu manusia."
"Maka... kau akan mendapatkan hukuman berat, dan aku.. tak akan menganggap mu sebagai seorang bocah nakal lagi. Kau, akan ku musuhi, sebagaimana aku memusuhi iblis pemakan darah itu." tukasnya, membuat dada saya terasa tertusuk duri.
"Apa kau mengerti?" tanyanya lagi. Saya mengangguk, enggan menjawab apapun.
"Bagus, sekarang.. tetaplah tinggal di tempat ini, dan karena kau melanggar janji pertama kita, maka kau.. akan di kurung siang dan malam di tempat ini. Kau tak akan bisa kemanapun. Dan yang perlu kau ingat.." Saya mengangkat kepala dan menatap cahayanya. "Jangan mempercayai hantu mana pun di alam ini. Satu sama lain dari kalian, masing-masing.. tak memiliki manfaat sama sekali. Jadi, berdiri tegaplah dengan kakimu sendiri." ujarnya lagi.
Saya terdiam. Apa dia sedang mengejek? Menyuruh saya berdiri dengan kaki sendiri, padahal saya sendiri kan tak bisa berdiri dengan kaki, melainkan terbang mengambang.
Usai berbicara, tiba-tiba saja ruangan seni yang sebelumnya kosong, kini mulai terisi penuh oleh manusia. Dari para guru, Bu Desti sampai kepolisian. Padahal, tadi saya tak melihat kehadiran mereka sama sekali, tapi kenapa sekarang saya bisa melihatnya??
Cahaya tadi sudah menghilang, bersamaan dengan para manusia yang mulai keluar ruangan.
"Kuno?" seseorang menyapa, membuat saya terkesiap karena baru menyadari kehadiran hantu ini. Ya, dia bukan seseorang, tapi sesosok.
"Lah, Tamusong? Sejak kapan kau jongkok di situ? Sedang ber*k ya?"
Wajah Tamusong memucat, biasanya ia akan naik darah mendengar ucapan saya, tapi tidak untuk kali ini. "Sudah sejak tadi, tapi kita tak berada di frekuensi yang sama. Kiyai membatasinya, jadi kalian hanya bicara berdua saja tanpa ada seorang pun yang mendengarnya." ujarnya, membuat saya melongo.
"Jadi, apa yang di katakan kiyai padamu? Dia marah dan mengusir mu? Atau dia berniat melakukan sesuatu padamu?" tanyanya cepat, membuat saya menatap datar ke arahnya.
Seketika ucapan kiyai terlintas, dimana saya tak perlu mempercayai hantu manapun. Tapi, apakah itu berlaku pula untuk Tamusong?? Rasanya, rada aneh jika saya berkata buruk padanya.
Tapi, sepertinya ini memang harus di lakukan. Mau tak mau saya harus melakukan ini padanya.
"Jangan berlagak khawatir, itu.. tak ada urusannya denganmu." sahut saya, membuat Tamusong terkesiap mendengarnya.
"Apa katamu?" tanyanya, seolah takut salah dengar.
"Intinya, saya sudah mengadakan perjanjian. Kalau saya, tak boleh mengganggu manusia lagi, seperti apa yang kau perintahkan pada saya." sahut saya. "Kalau saya melanggar, kali ini.. saya akan benar-benar di hukum tanpa ampun."
"Jadi, berhentilah mendekati saya dan sok perduli. Saya, benci di peralat." tukas saya, membuat raut kaget dan tak percaya terpancar dari wajah Tamusong.
Entah kenapa, tiba-tiba saja tatapannya dalam terhadap saya. Bahkan sedikit memerah dan berkaca. Ia tersenyum, dengan tatapan yang lirih dan menyedihkan.
Ia menundukkan pandangan, dengan senyuman yang terlihat begitu getir. "Jadi begitu ya?? Maafkan aku." balasnya.
Saya terkesiap mendapati perlakuan lembutnya. Bukankah biasanya dia akan adu urat leher dan membentak saya, tapi sekarang.. kenapa responsnya berbeda??
Saya, jadi merasa bersalah terhadapnya. Dan kenapa, hati saya terasa mendung usai menyakitinya dengan perkataan saya??
Kenapa?
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......