
Sekitar pukul 10 pagi di dermaga yang sudah ramai hiruk-pikuk manusia, terutama para istri yang sangat menanti kepulangan suaminya yang berbulan bulan tak jumpa.
Mobil pribadi Bu Danki memasuki area parkir dermaga. Dela memperhatikan laut luas dengan tawa bahagia. Ia memang suka melihat laut. Dulu, orang tuanya selalu mengajaknya ke pantai setiap papanya libur dinas.
Bu Danki bersiap keluar, "Ayo, Bu Reza," ajaknya.
Dinda seperti patung mendengar ajakan Bu Danki yang mempunyai nama asli Renata. Usianya lebih tua 1 tahun dari Dinda. Waktu kecil pernah mengontrak di sebelah rumah Dinda. Renata wanita yang keibuan.
Renata tersenyum mendapati Dinda gugup. "Ayo, Bu Reza", ajaknya lagi.
Dinda menelan ludah, "Saya di dalam mobil saja, Bu. Biar Dela yang ikut ibu"
Renata memasang tampang tegas. "Saya hitung sampai 3 nih!!"
Dinda kaget, "Baik, Ibu. Siap salah."
Renata tertawa kecil, merasa berhasil membujuk Dinda keluar. Dinda keluar dari mobil dengan terburu-buru.
"Santai saja. Anggap kita lagi main ke pantai.. Benar kan, Dela?"
Dela mengangguk senang, " Iya, Tante". Dinda hanya tersenyum kikuk.
Mereka bertiga berjalan dan ternyata kapal telah bersandar, terlihat beberapa prajurit telah turun dari kapal, menemui keluarga mereka masing-masing. Setiap seorang berpakaian PDL (Pakaian Dinas Lengkap) yang turun dari kapal membuat jantung Dinda mau copot, ia sadar betul kalau mentalnya belum kuat.
Tepat seperti dugaan Renata, tiba-tiba banyak pasang mata tertuju pada mereka berdua. Keberadaan Dinda mencuri perhatian. Sebagian besar dari mereka bertanya tanya, siapa gerangan yang berjalan di sebelah Bu Danki.
"Pada pangling sama Bu Reza, dikira Persit baru," canda Renata.
Dinda malah semakin gugup.
"Papa mana ya, Ma?"
Dinda menelan ludah. "Mungkin masih di dalam kapal, Nak"
Serka Budi yang berjalan tak jauh dari mereka heran melihat Dela, " Lho, Dela? Kok sama Bu Danki? Mamamu mana?" Tanyanya. Serka Budi ini abang letting Reza, tipikal pria yang hobi ngebanyol. Kalau main ke rumah teman, selalu menghabiskan makanan yang disuguhkan.
"Ada Mama juga kok, Om" Kata Dela sambil menunjuk Dinda.
Budi bingung melihat arah tunjukan Dela, karena wanita yang ditunjuk Dela sama sekali bukan istri Reza yang ia kenal. "Lho, mana Mamamu?"
Dinda tersenyum dengan anggukan sebagai tanda hormat. "Om Budi, apa kabar?"
Dan Budi begitu kaget mendengar suara sapaan itu, ia meneliti Dinda dari atas sampai bawah dengan matanya.
" Mbak Dinda?" Dan yang dipanggil namanya hanya tersenyum.
" Lho!! Baru beberapa bulan nggak ketemu kok saya jadi pangling." Sapa Budi dengan suara agak keras karena keterkejutan, membuat orang-orang di sekeliling mereka ikutan mendengar.
Dinda tersenyum datar karena malu.
"Tapi nggak usah melongo gitulah, Pak Budi. Nanti Bu Budi cemburu," gurau Renata.
Budi tertawa,"Siap, Bu. Untung istri saya lagi pulang kampung,hihihi"
"Ah, Pak Budi bisa aja," balas Renata dengan tertawa.
"Oh ya, tadi saya lihat Reza di sana, mbak. Kayaknya lagi nelpon"
Dinda menatap sedih, namun tatapan Renata menguatkan hatinya. "Doakan saya, Bu"
Renata mengangguk pelan.
***
"Aku sudah sampai dermaga. Kamu dimana, Siska?"
" Halo? Eh, ya, Mas. Aku diluar, nggak boleh masuk, penjagaannya ketat. Gimana, nih?"
"Sebaiknya kamu jangan kesini. Aku nggak enak Ama atasanku nanti."
"Tapi Mas Reza kan janji mau menemui ku"
"Kan bisa di rumahmu, nanti aku datang setelah laporan ke kesatuan."
"Lalu bagaimana dengan perceraian, Mas? Mas Reza beneran mau cerai kan?"
"Iya, setelah kembali ke rumah, aku akan mengurus perceraian ku"
"Janji lho, Mas."
"Iya. Ya sudah dulu, Sis. Nanti aku telepon lagi. Kamu pulang saja."
Ketika Reza menutup telepon, suara anak kecil yang memanggilnya"Papa" membuatnya terkejut.
"Dela? Sama siapa di sini?" Sapa Reza dengan setengah membungkuk sambil mengusap rambut putrinya.
"Sama Mama." Tunjuk Dela yang berjalan menyusulnya dari belakang, lalu berdiri beberapa meter darinya. Reza menekuri arah tunjukan itu dan mendapati wanita langsing dengan baju BSK bersanggul ala pramugari berdiri dengan sedikit senyuman.
"Dek?" Reza terheran mendapati Istrinya dengan wujud berbeda. Ia sebenarnya tertegun namun perasaannya tak ia tunjukkan.
"Reza!" Seorang kawan menyapa ketika melewatinya.
"Hei!" Reza menyapa balik, namun kawan Reza malah teralihkan pandangannya ke Dinda, hingga tak sadar jalan di depan ada pembatas jalan dan tersandung.
Dinda memperhatikannya lalu tersenyum tipis.
"Maaf, Mas. Saya datang ke sini nggak kasih kabar. Dela minta kemari."
Dela meraih - raih pundak Papanya, minta digendong. Reza menggendongnya.
"Kamu apa kabar, Mas?"
"Baik, kamu bagaimana?" Tanya balik Reza, sangat canggung. Serasa bukan berbicara dengan istrinya yang biasanya.
Dinda menatap datar, tersenyum hambar. "Baik juga, Mas" Dinda memperhatikan sekeliling, para keluarga begitu bahagia. Para istri memeluk suaminya, bahagia akan kedatangan suaminya. Dinda harus menyimpan rapat-rapat semua kekecewaan dalam dirinya. Ingin memeluk, tapi takut Reza menolaknya.
" Kita cari tempat duduk? "Tawar Reza. Ia masih menggendong Dela, putrinya yang sibuk menyentuh liuk lambang di seragamnya.
Dinda mengangguk. Mereka berjalan berdua. Reza menyadari istrinya jadi pusat perhatian ketika orang-orang yang berpapasan lalu fokus melihat keberadaan Dinda.
Dinda menyadari hal itu, ia tiba-tiba jadi buah bibir. Bu Reza yang sebelumnya tak banyak diketahui orang karena pendiam dan selalu duduk di pojok belakang saat pertemuan, kini menjadi sorotan.
Tapi dari semua itu, pikiran Dinda lebih tertuju pada pembicaraan Reza di telepon. Dinda menghela nafas panjang. Batinnya " Jadi perceraian kami sudah di depan mata.. " Dada Dinda terasa sesak.