RUN

RUN
Rencana Tertunda (2)



Dela turun dari boncengan motor Dinda dan Dinda pun menggiring motornya masuk ke dalam garasi, begitu juga Reza. Mereka naik motor sendiri-sendiri.


Ibu kemana ya? Kenapa di terminal nggak ada ya, Mas?"


Reza terdiam, merenung, memikirkan kemana ibunya. Sedari tadi berputar-putar di terminal tapi tidak kunjung menemukan ibunya yang mengabari akan datang. " Iya. Ibu kemana, sih?"


"Ma, Om Fajar!" Dela menarik-nari baju Dinda sambil menunjuk ke arah mobil baru saja parkir di depan rumah.


Dinda dan Reza menoleh ke arah tunjukan Dela. Reza langsung bermuka masam."Kenapa tu Danton kemari? Ganggu aja!"


Fajar keluar dari mobilnya bersamaan dengan seorang wanita tua. Wanita tua itu yang melihat Dela langsung berseru, "Dela!!" teriaknya. Dan Dela langsung berlari menghampiri Neneknya dan memeluknya


Fajar tersenyum melihat kejadian itu. Ia berjalan ke belakang, membuka bagasi mobil dan menurunkan koper. Reza dan Dinda menghampiri ibunya.


"Ibu dari mana saja,sih?"


"Dari terminal lah" Sahut wanita tua yang ternyata adalah Neneknya Dela.


"Tapi aku cari-cari di terminal ibu nggak ada"


Wanita tua yang dipanggil Nenek oleh Dela langsung mendelik sengit begitu melihat Dinda yang ada di samping Reza. Nenek Dela menunjuk ke hidung Dinda,"Hei! Kamu siapa? Kenapa kamu ada di rumah anakku?! Jangan ganggu Reza, dia sudah punya istri!!"


Dinda terkejut dan menahan tawa, "Bu, ini aku Dinda"


Nenek Dela melongo," Ah, masa? Tapi iya, suaranya memang suara Dinda"


Dinda tersenyum dan menggenggam tangan Ibu mertuanya " Sungguh, ini Dinda, Bu"


"Kok kamu jadi berubah gini, Dinda? Operasi plastik ya?"


"Hahahaha,Ibu ada-ada saja. Darimana aku dapat uang buat operasi plastik"


"Iya,benar juga" Nenek Dela tersenyum dan memeluknya," Bagaimana kabarmu? Apa Reza membuatmu tertekan dan menderita sampai kamu jadi kurus begini?"


Dinda merasakan kehangatan pada pelukan ibu mertuanya. Nenek Dela itu memang ibu mertua yang baik. Selama mengarungi biduk rumah tangga bersama Reza, Nenek Dela tidak sekalipun ikut campur rumah tangga putranya. Ia juga sayang Dinda dan Dela.


Reza memandangi ibunya yang memeluk Dinda, perasaan bersalah kembali menghantui.


"Katakan saja kalau Reza sudah membuatmu menderita, tak kuakui dia sebagai anakku"


"Mas Reza suami yang baik,kok, Bu. Aku bahagia bersamanya"


Mereka berdua melepas pelukan. Dela yang sudah tidak sabar langsung bertanya dengan wajah polosnya," Nenek bawa oleh-oleh apa?"


"Hahahaha" tawa Nenek sambil mengelus rambut cucunya. "Itu ada mainan di tas Nenek"


",Maaf, Bu" Dinda mengambil alih koper ibu mertuanya yang dibawa oleh Fajar. "Terus, bagaimana ibu bisa bertemu Mas Fajar?"


"Oh, aku tadi kebetulan bertemu di pintu masuk asrama. Kulihat Ibumu seperti orang bingung"


"Selamat siang,Pak!" Reza memberi hormat kepada Dantonnya. Fajar membalas hormat Reza.


"Mari,Bu, masuk dulu. istirahat. Mari, Pak Mampir dulu" ucap Reza setelah mencium tangan keriput ibunya yang telah lanjut usia.


Nenek Dela dan Fajar melangkah masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu bersama Dela.


Mas, kayaknya ada yang janggal deh"


"Apa?"


"Ibu tidur di kamar Dela kan?"


"Ya iyalah. Masa tidur sama aku."


"Bukan itu, tapi baju-baju aku masih ada di kamar Dela"


Reza terkejut"Aduh,gawat!!"


"Aku alihkan perhatian ibu.Mas pindahin dulu barang-barangku ke kamar depan


"Terus aku tidur dimana?" tanya Reza bingung.


""Di atas pohon"


Reza melongo " Hah!"


"Halah,gampang lah itu, Mas. Dipikirkan nanti saja. Yang penting ibu jangan sampai tahu dulu kalau Kita mau cerai. Aku masih nggak tega."


"Iya juga sih"


Akhirnya mereka berbagi tugas. Dinda mengalihkan Ibu mertuanya dan Reza sibuk memindahkan barang. Meski kesal,mau tidak mau dalam hati Reza berterimakasih pada Dantonnya yang secara tidak langsung membantu rencana mereka.