
Saya baru tahu, di penglihatan para hantu, ada jalan semacam ini untuk di masuki. Semakin ke dalam saya menyusuri jiwa Bu Desti, lorong ini memberikan gambaran-gambaran menyedihkan dalam jiwanya. Sekelabat namun jelas, terlihat tapi tak bersuara.
Dimana wajah kepala sekolah yang marah, teman sesama guru yang memandangnya dengan raut kesal, murid-murid yang memasang wajah benci ketika di hukum, dan beberapanya adalah orang asing yang tak pernah saya lihat di sekolah.
Mungkin ini adalah orang-orang yang terlintas di pikirannya, atau yang selalu ia fikirkan kala sendirian.
Ada wajah seorang lelaki, bisa di bilang pria dewasa yang brewok. Saya melihat pria ini memberikan sesuatu dengan wajah sedih, tapi di terima Bu Desti dengan senang hati. Seperti.. amplop berisi uang gaji? Tapi sepertinya, senyum dari Bu Desti itu palsu. Hanya seperti sedang menghargai. Apakah itu kurang?? Makanya Bu Desti bekerja. Dan sepertinya, lelaki brewok itu adalah suaminya.
Lalu gambaran yang lainnya muncul. Ada seorang anak kecil yang mengenakan seragam SD. Ia melambaikan tangan, lalu tersenyum dengan wajah lunglai. Seperti, anak yang sedang sakit?
Anak lelaki tadi tiba-tiba lenyap, berganti dengan wajah nenek tua dan seorang kakek-kakek yang menangis sembari terkulai lemah di atas kasur dan tak dapat bergerak. Tubuh mereka kurus kering, bahkan saya bisa melihat garis-garis tulang di bagian punggung tangannya.
Semakin dalam, saya bisa merasakan penderitaannya. Tanpa ada kata-kata, tapi kisah itu terlukis jelas. Menyedihkan dan penuh beban. Ia membayangkan orang-orang yang ia sayang, dan menyembunyikan beban dan kesedihannya sendirian.
Bu Desti menangis di dalam kesunyian. perlahan ia mengambil kanvas dan mengoles kuas menjadi sebuah lukisan.
Deg!!
Ternyata.. pelariannya sama dengan saya. Pelampiasan atas kesedihan adalah melukis di dalam kesendirian. Sunyi dan sepi. Terserah mau sambil menangis atau tertawa. Yang jelas, ketika melukis, saya bisa melupakan kesedihan yang ada.
Pengabaian orang-orang, penolakan, kesendirian, tatapan mata aneh, raut wajah tak suka, dan semua orang itu menjauhi saya, sebagaimana saya turut menjauhi mereka.
Saya tak bersahabat, tak bersosialisasi pada orang-orang. Saya menutup diri, padahal sebenarnya saya terluka akan hal itu. Tak ada cara lain. Mengabaikan atau melihat mereka yang dekat dengan saya di bunuh.
Tak ada pilihan bagus. Kedua-duanya menyakiti saya. Kesendirian itu membunuh dan pengabaian itu membuat luka. Saya membentengi diri dari semua itu dengan perkataan kasar dan seenaknya yang selalu keluar dari mulut saya. Semata-mata agar mereka tak merasa bersalah ketika menjauhi saya. Agar mereka membenci saya tanpa ada rasa kasihan.
Ingatan Bu Desti, membuat saya merasa kembali ke situasi saat hidup. Ternyata, nasib kami sama, namun saya lebih buruk meski tak sedang beradu.
Apakah karena ini.. Bu Desti menyukai saya? Apakah karena kami sama, makanya dia menangis kala saya meninggal?? Atau, apakah ia merasa, kalau meninggal adalah jalan yang tepat untuk menghentikan sebuah kesedihan?
Meski begitu, sama sekali tak terlintas bunuh diri atau kematian dalam dirinya. Karena apa?? Karena ia memiliki orang-orang yang ia sayangi dan yang menyayanginya. Seperti saya, yang menyayangi Ayuk dan juga para mbak.
Semakin dalam, jiwanya semakin terluka. Dan saya melihat semua itu dengan jelas. Suaranya mulai terdengar. Bagaimana amarah kepala sekolah, suara sesama guru yang menyindirnya. Murid yang melawannya, pria dewasa yang berkata lirih mengenai potongan gaji, dan anak kecil yang menjadi penyemangat hidupnya.
Nyuuuuuut!!!
Dada saya mendadak ngilu, tak tahan sekali jika harus masuk lebih dalam lagi. Ibu Desti, memiliki rasa sakit yang sama seperti yang saya hadapi, dan saya tak ingin memasukinya hanya untuk merasakan hal itu lagi. Saya sungguh tak mau merasakan hal seperti itu lagi. Menyakitkan dan.. perasaan saya mulai terusik.
Saya terhenti, mengambang di tempat dan menoleh ke belakang. Sudah cukup jauh saya terbang, apakah.. saya harus kembali? Ruang seni terpampang nyata di belakang sana. Dari yang terlihat, itu lebih baik.. seolah-olah menyadarkan saya, kalau kehidupan setelah mati, lebih baik ketimbang hidup saya. Saya menelan ludah sembari mengepalkan tangan dengan erat. Perlahan, saya mulai berbalik dan menjauh dari dasar hati Bu Desti.
Saya keluar dalam dirinya, namun lorong itu masih terbuka lebar. Nafsu seolah menekan saya untuk tetap masuk, tapi saya tak ingin melakukannya.
Karena Bu Desti masih melamun, tentu saja gerbang itu tak tertutup. Semakin lama menatapnya, jiwa hantu ini semakin ingin memasukinya. Saya menggelengkan kepala, kenapa Bu Desti masih sibuk melamun saja? Saya harus membangunkannya agar lorong ini menghilang.
Karena.. lorong ini, seperti lubang hitam.. menghisap.. dengan.. sangat.. ku..at!!! Dan saya, tak mampu menahan roh ini agar tak terbang menuju ke dalam sana.
Saya mengerang, tak sanggup lagi menahan badan. Urat di leher saya hampir keluar seluruhnya, dan saya berusaha untuk berteriak dan mengeluarkan suara.
"Bu Desti! Jangan melamun!!" geram saya, sambil mengeratkan gigi. "Saya..." napas mulai terengah. "Saya tak mau merasukimu!" bentak saya sambil melepaskan beban yang tertahan di pundak.
Teriakkan ini membuat semacam bola energi terlepas, dan menghantam tepat ke arah kanvas Bu Desti dan....
Bruuukk!!
Kanvas tersebut jatuh ke lantai, seiring dengan tubuh Bu Desti yang terkesiap kaget. Ia mengerjap cepat. Menatap sekeliling lalu beranjak dari atas tempat duduknya.
Ia menelan ludah, dengan tubuh yang mulai gemetaran. Dengan cepat ia melangkah, meski kakinya terlihat gemetar. Ia berlari, berusaha mencapai gagang pintu dan....
Ia keluar tanpa menoleh lagi ke tempat ini. Ia ketakutan dan pergi menjauh dari tempat ini. Dan saya, membiarkan hal itu terjadi.
Keringat mengalir di dahi saya, tapi tak ada kata lain yang bisa saya ucap selain syukur. Saya, tak mau merasuki jiwa seseorang yang penuh luka seperti itu.
Saya ingin merasuki jiwa seseorang yang baik, yang tulus, yang mudah memaafkan dan tak menyimpan dendam di hatinya. Yang baik, bijak dan penyayang. Yang Sholeh dan terkenal. Meski tak mungkin ada orang yang seperti itu, tapi saya berharap bisa melihat gambaran keindahan itu di dalam dirinya, tepat ketika saya berusaha memasuki tubuh dan jiwanya.
Saya kembali terbang, tak ke atas lemari tapi di tengah-tengah lantai ruangan. Lantai ruangan ini mengkilap, bahkan memantulkan penampakan saya sendiri.
Melihat jiwa Bu Desti membuat perasaan saya menjadi tak karuan. Sebaiknya saya memilih merasuki jiwa orang lain, sembari menunggu datangnya para siswa di mata pelajaran seni ke ruangan ini. Dan saya berharap, tak ada siswa yang memiliki luka seperti Bu Desti, ataupun saya.
Tepat satu jam setelah Bu Desti keluar, beberapa orang siswa datang ke ruangan seni. Mereka mengintip dari luar, sambil saling dorong untuk masuk ke tempat ini.
"Aish! Jangan dorong-dorong dong! Kalau lu mau masuk, duluan aja sana!" pekiknya.
"Ya lu lama banget sih! Masuk aja barengan, terus ambil alat lukis Bu Desti dan segera pergi keluar! Cepat!!" perintah temannya.
"Halah! Sok merintah banget lu, lu aja takut kan?" balasnya.
Sambil saling dorong dan mundur maju, akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan. Mereka setengah melompat untuk menyambar peralatan Bu Desti di atas meja, kemudian berlari tunggang langgang menjauhi saya.
"Kenapa sih manusia-manusia ini? Aneh-aneh saja kelakuannya. Saya kan tak melakukan apapun." gerutu saya dalam posisi yang sama. Saya kembali menunduk, dan tak sengaja melihat sebuah dompet yang terjatuh. Saya kembali menatap lurus ke arah pintu, apakah ini milik mereka?
Saya menunggu, sampai mereka kembali untuk mengambilnya. Tapi, sudah beberapa menit menunggu, mereka tak kunjung datang.
Akhirnya, saya terbang dan menghampiri dompet tadi, siapa tahu di dalamnya ada tusuk gigi. Lumayan kan buat membersihkan sela gigi, soalnya saya sudah beberapa hari tidak gosok gigi.
Saya melakukan hal serupa, berusaha keras agar mampu memegangnya. Padahal sebelum itu, saya mampu membawa kertas kemanapun. Tapi sekarang kenapa susah? Apakah hantu itu mudah mengangkat benda-benda ringan saja?
"Gyaaaaah!! Lama-lama kesal juga pada dompet ini!!" pekik saya sambil menyambarnya berkali-kali. Dan yang terakhir, saya pun bisa menyentuhnya, yaa.. meskipun hampir-hampir terlepas rasanya. "Nah, dapat kau!! Sekarang kau tak akan saya lepaskan!" gumam saya sambil menatap dompet ini dengan pandangan antagonis.
Seketika tubuh saya bergetar, saya mencium bau aneh di depan pintu ruang seni. "Ha.. haa... haaa..." sebuah suara pun terdengar. Saya mengernyit, menoleh ke sebuah suara serupa kambing yang berada di depan pintu. Ah, terlalu fokus pada hal tak penting sampai membuat saya tak menyadari kehadiran orang lain.
Seorang siswa yang tadinya sempat datang ke dalam ruang seni, kini berdiri kaku dengan posisi kaki yang gemetaran. Mulutnya ternganga dan wajahnya pucat pasi. Kedua matanya terbelalak dan ia menunjuk ke arah dompet yang saya pegang.
"Hantu.. dom.. dompet terbaaaaaang!!" ujarnya ketakutan.
"Sssst!! Sssst!! Jangan berisik, nanti ada yang datang!!" desis saya sebal.
Tiba-tiba saja, lorong serupa kembali tampak di hadapan saya. Menerobos masuk serupa jalan lurus yang mengarah ke dalam jiwa orang ini. Nama orang ini siapa sih? Meski satu sekolahan, tapi saya tak tahu dia siapa. Tak pernah kelihatan, atau saya yang tak pernah melihat orang lain?
Saya beranjak, melepaskan dompet dan menghampirinya. Ini berbeda dengan Bu Desti. Sensasinya berbeda dengan Bu Desti tadi. Apa yang membedakannya? Dan orang ini tidak sedang melamun.
Kembali pada penjelasan Tamusong, sepertinya saya bisa menarik kesimpulan. Kalau Bu Desti tadi berada dalam situasi sedih dan sendiri. Ia melambungkan pikirannya, dan melamun. Memikirkan hal-hal yang menyakitinya.
Tapi, sepertinya orang ini tak berada dalam situasi serupa. Ia.. tak melamun dan juga tak sedang memikirkan apapun.
Apakah mungkin, ia sedang berada dalam situasi yang sangat ketakutan terhadap hantu, membuat mentalnya menjadi lemah hingga saya menjadi kuat. Bukankah Tamusong pernah menjelaskan hal ini pada saya?
Jika manusia merasa takut akan kehadiran hantu, maka kami akan semakin kuat. Tapi hal sebaliknya berlaku, jika manusia merasa berani, maka kami pula yang akan takut.
Saya pun melesat, tak mau melewatkan kesempatan ini. Pokoknya sekarang harus merasuki dirinya dulu, mumpung dia hanya sendirian saja di dalam sini.
Saya terbang cepat, mengamati setiap dinding hitam di hatinya. Tapi, kenapa kali ini berbeda? Saya tak melihat memori apapun dari orang ini? Berbeda seperti Bu Desti.
Ketika sampai di ujung relung jiwanya, saya terhenti pada sebuah lorong dan berakhir pada sebuah pintu yang terkunci, saya mengernyitkan dahi. Perasaan, tadi Bu Desti tak memiliki pintu terkunci di ujung jiwanya. Lempeng-lempeng saja, bahkan saya bisa melihat ke ujung pangkal dan segala memorinya.
Kenapa.. orang ini berbeda??
Tok.. tok.. tok..
Saya mengetuk pintu, sambil menempelkan telinga. Tak ada suara apapun. Di dalamnya seperti ruangan kosong yang...
"Groaaaaah.."
Saya terkesiap dan mengernyit, mendengar suara aneh di balik pintu. Saya menelan ludah, lalu kembali mengetuknya.
"A.. assalamualaikum.. Ada siapa di dalam?"
"Grooaaaah!!" suara itu terdengar kembali. Lebih garang daripada yang sebelumnya. Terdengar seperti dengusan hewan liar yang besar, dan kenapa.. di dalam tubuh orang ini ada makhluk lain??
Atau jangan-jangan...
Bruaaaak!!
Pintu terbuka lebar dan terhempas, menampakkan sosok pria bertubuh besar dan berbulu lebat seperti kera. Ia berteriak, membuat tumpukkan energi menghantam ke arah saya dan...
Buuum!!
Tubuh saya tertabrak sesuatu yang menyakitkan, hingga membuat saya terseret dan terpental jauh keluar dari dalam lorong tadi. Tidak, ini begitu cepat hingga saya tak sempat menghindarinya.
Saya meringis sambil menyentuh dada, terbaring di atas angin dan keluar dari jiwanya secara paksa.
"Ohok!! A.. apa-apaan itu tadi?!" keluh saya, sambil merasa sesak di dada.
Penampakan kembali seperti sedia kala. Lelaki tadi memungut dompetnya dan segera berlari keluar dari dalam ruangan.
Saya masih terbatuk, dan mengernyit menahan sakit. Ternyata.. apa yang di katakan oleh Tamusong benar adanya...
Ini tak menjadi mudah sebagaimana saya yang dengan mudah menyerupai wujud seseorang. Ini sedikit sulit, dan baru kali ini.. saya merasakan kegagalan itu lagi.
Ck! Kalau begini, apakah saya bisa melewati tahap ketiga?? Kalau tak bisa, saya tak mungkin tetap berada di tahap dasar kan? Saya ingin menjadi kuat dan melenyapkan si iblis Ludira, dan mengeluarkannya dari tubuh Ayah.
Kurang ajar!! Tokek sambal!! Apa yang harus saya lakukan?? Kalau kembali dengan kegagalan, pasti saya akan di tertawakan oleh Tamusong. Sebenarnya saya tak memperdulikan itu, tapi.. rasa gagal ini menyebalkan sekali!
Saya harus kembali ke Tamusong kalau sudah berhasil. Kalau gagal, apa yang harus saya laporkan padanya? Kegagalan saya?? Itu tak lucu!! Saya harus berhasil, tapi.. bagaimana caranya??
Merasuki manusia, ternyata tak semudah kelihatannya, meskipun lorong itu telah tampak di hadapan mata.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......