
Dengan harap-harap cemas saya duduk ke tempat semula, menunggu sampai ada seseorang yang datang. Tapi.. karena dua kejadian tadi, saya rasa hari ini mereka tak akan mau datang ke tempat ini.
Dalam diam, tiba-tiba saja ada asap yang mengepul di ruangan ini. Saya mengerjap, sembari menoleh ke sekeliling untuk mencari asal muasalnya. Ternyata, yang mengeluarkan asap adalah tubuh saya.
Sepertinya ini adalah efek dari teralirinya energi besar akibat para manusia menceritakan mengenai saya. Sama seperti yang saya alami sebelumnya, ketika bersama dengan Tamusong. Tapi.. kenapa rasanya sedikit lebih nyaman dari pada yang pertama kali??
Saya terdiam, merasakan derasnya energi ini mengalir ke seluruh tubuh. Saya ingin tahu apa yang membuat saya bertambah kuat, obrolan apa yang mereka lakukan sampai saya merasakan dampak kekuatannya? Saya memejamkan mata, berusaha menerobos dinding penghalang yang di buat oleh manusia. Saya membiarkan batas-batas tertentu yang menghalang perlahan musnah, dengan cara menembus batas gaib.
Beberapa bayangan mulai muncul dan tergambar di kepala saya, asing dan tak saya kenal. Sebuah tempat.. banyak meja, tumpukkan buku pelajaran siswa, ada tv, kipas angin, dan... saya mengangguk kan kepala, tahu asal muasal pembicaraan ini ada dimana.
Ini seperti ruang guru?
Ya, benar. Lalu sekarang, apakah saya bisa menembusnya lagi? Memperjelas orang-orang yang berada di dalam sana, serta apa saja yang telah mereka katakan.
Keringat mulai mengucur. Dan tubuh saya mulai merasakan efeknya, seperti habis berjalan kaki. Tak melelahkan, tapi.. tetap saja ada tenaga yang di kerahkan.
Penampakan mulai jelas. Ada para guru yang berkumpul di sebuah meja, dan saya tahu siapa pemilik meja ini. Posisinya, warna taplak mejanya, hiasan bunga dan juga sebuah foto keluarga yang di bingkai. Benar, ini meja milik Bu Desti.
Ketika saya mengetahui si pemilik meja, gambaran wajah Bu Desti mulai terlihat. Ia sedang mengatakan sesuatu dan.. saya berusaha mendengar pembicaraan mereka.
"Iya, Pak. Betul. Tadi saya sendirian aja kok di ruang seni, gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba aja kanvasnya jatuh. Memangnya siapa yang bisa melakukannya? Saya tak menyentuh apapun." jelasnya, membuat raut panik terlihat jelas di antara wajah-wajah para guru yang mengerumuninya.
"Yang bener sih? Kok jadi takut dan gak tenang ya?"
"Iya nih, bikin merinding juga. Belakangan kabarnya begini-begini terus, apa beneran Adam?"
"Hush!! Pamali nyebut nama orang yang udah gak ada. Sebut almarhum kek, lebih bagus." protes yang lain. "Memangnya Bu Desti ngapain ke sana sendirian? Atau.. kenapa bisa di ganggu begitu??"
Bu Desti hanya terdiam, membiarkan mereka bertanya-tanya mengenai hal itu. Wajah Bu Desti di tundukkan, ia menghela napas berat yang tertahan di pundaknya. Benar, saya bisa merasakan itu. Bisa merasakan apa yang mereka rasakan jika fokus saya tertuju pada satu orang. Meski suara hati mereka terkadang terdengar semua dan saling bersahutan, tapi telinga saya bisa memilih hendak mendengarkan suara yang mana. Intinya, harus di fokuskan saja.
Bu Desti mulai menghela napas dan membuka mulut. "Sewaktu masih hidup, dia itu anak murid kesayangan saya. Dia pandai melukis dan sangat pintar di kelas. Meski jarang bicara dan sering menghindari orang lain. Saya tau kalau dia itu anak baik." terangnya.
Para guru terdiam dan saling melirik satu sama lain. "Dia memang anak yang sangat cerdas. Aku juga kaget dengan kepintarannya di kelas. Bahkan dia bisa menyelesaikan pelajaran matematika sulit, walaupun bicaranya buruk, tapi wajahnya mempesona. Dia juga lucu, jadi.. meski menjengkelkan, tapi kalau boleh jujur. Sebenarnya aku merindukan anak itu.Wajah lucunya itu memaafkan segala tingkah mengesalkannya." Saya mengernyit, melihat Pak Musa yang merupakan guru matematika cuek, berbicara seperti itu pada guru yang lain.
"Yah, kenapa tak langsung puji saja sih. Kenapa terselip tingkah jelek saya dalam pujiannya? Dasar, Musa botak licin! Kepalanya di pel pakai sabun lantai." kecam saya dalam hati, tapi.. baru kali ini saya mendengarnya memuji seorang murid. Seumur hidup tak pernah tuh, mana umur hidup saya pendek lagi.
"Adam ya, anak penyendiri.. pintar, dan suka berkata lucu kalau bicara. Pikirannya abstrak dan tak bisa di tebak. Sebenarnya aku terkejut ketika mendapat kabar kalau dia juga menghilang. Kalian tahu.. bukankah selama ini korbannya adalah perempuan, tapi.. bagaimana bisa lelaki pun di renggut?" tukas guru biologi, lupa namanya siapa. Tak pernah mengajar kelas saya, tapi saya tahu dia. Soalnya kalau makan di kantin, nasinya minta banyak.
"Apa jangan-jangan, yang menjatuhkan kanvas Bu Desti, benar-benar Adam?" ujar mereka lagi, membuat sebagian dari mereka bergidik ketika saya mengembang senyum meski dari jauh.
Ternyata karena ini sumber energi terus mengalir di tubuh saya?? Mereka menceritakan saya, sambil merinding juga.
"Bu... Bu Desti.." panggil dua orang siswa yang berlari tunggang-langgang menuju ruang guru. Saking paniknya, mereka tak sempat mengetuk pintu.
Para guru menoleh ketika dua siswa ini masuk, sementara di belakang mereka, siswa yang lain ikut dan mengintip melalui jendela dan juga pintu, seolah ingin mengetahui reaksi apa yang akan di tunjukkan oleh para guru.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Bu Desti sambil beranjak dari kursinya.
"Maaf, Bu. Gak ketok pintu dulu. Saya panik, ini peralatan lukis Ibu." ujarnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Panik? Panik kenapa?" tanya Bu Desti lagi.
"Tadi kami mengambil barang-barang Ibu sambil lari, terus dompet saya jatuh. Saya kembali sendirian, karena Asep gak mau nemenin. Tapi pas di dalam sendirian..." siswa ini terdiam, wajahnya kembali memucat, membuat wajah para guru mulai menegang, khususnya guru-guru yang perempuan. "Dompet saya terbang sendiri." ujarnya dengan suara gemetaran, membuat guru-guru yang perempuan berteriak begitu pula dengan Bu Desti.
"Ah, yang bener kamu?" sanggah Pak Musa, menutupi rasa gelisahnya.
"Sumpah, Pak! Beneran! Saya gak mungkin bohong. Saya takut banget." lanjutnya.
Pemandangan mulai kabur ketika konsentrasi saya sedikit buyar. Orang-orang yang semula terlihat jernih, kini malah bergoyang seperti tv rusak.
Keringat mengucur dari rambut menuju dahi, lalu meliuk mengikuti bentuk hidung saya yang mancung. Saya gemetar, dan rasanya seperti menahan lapar.
"Arggh!!" penglihatan itu menghilang, seiring dengan kedua mata saya yang terbuka. Memang saya memperoleh kekuatan besar ketika mereka menceritakan saya dan takut terhadap saya, tapi.. melihat mereka dari kejauhan, membuat energi saya terkuras. Hampir habis dan lumayan melelahkan.
Dari sini saya bisa menyimpulkan, kalau tak akan ada yang berani masuk ke ruangan ini untuk sementara waktu.
Kambing! Jadi bagaimana caranya saya merasuki tubuh seseorang? Misi tahap dasarnya tinggal ini saja. Masa' sih saya harus menyerah? Kalau Tamusong tak mau mengajari kekuatan kuntilanak pada saya, bagaimana?? Syaratnya kan harus melewati tahap dasar??
Cara lain... harus menggunakan cara lain. Tapi cara yang seperti apa? Saya tak bisa keluar dari dalam ruangan ini di siang hari, apakah saya harus keluar malam dan mencari mangsa di luar??
Suara jangkrik tiba-tiba terdengar, dan saya menganggukkan kepala dengan bibir yang mengerucut.
Sepertinya ini cukup bagus. Merasuki seseorang tak perlu melakukan pengenalan pada wajah dan sikapnya, kan? Jadi, siapapun punya peluang untuk bisa di masuki. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi.. dari sepuluh orang lewat, pasti ada satu atau dua yang memungkinkan untuk di masuki.
Saya mengangguk, penuh percaya diri. Baiklah, sepertinya.. saya harus menunggu malam untuk bisa melancarkan aksi ini.
.........
Malam harinya....
"MENYEBALKAN!! MENYEBALKAAAN!!" pekik saya sambil berbaring di udara, satu cm di atas pasir lapangan bola.
"Kahahaha, ciluk baaaa!!" ucap seseorang sambil menunduk memandang saya yang berada di bawah.
Saya menatap malas ke arahnya. "Apasih? Ketawa dulu baru mengageti! Pocong tak tahu diri!" kecam saya, membuat Tamusong terhenti sesaat.
"Kenapa? Tak bisa merasuki manusia ya?? Semalam bilangnya mudah, gampang, sekarang kenapa kau teriak-teriak seperti orang yang minta beras, hah?"
Saya mendengkus sebal mendengarnya. "Tamusong melompat capek-capek melewati jalan hanya untuk meledek saya? Cari kerja sana!! Jualan minyak, kek!!" balas saya asal, membuatnya tertawa semakin kencang.
Ia duduk berjongkok, tepat di samping tubuh saya. Senyumnya terlihat tipis, dan matanya berkilat-kilat. "Memang susah, kok. Kau tak bisa memasuki sembarangan orang. Tapi, kalau kau sudah berpengalaman, kau bisa memilih siapa yang ingin kau rasuki, tapi tetap saja.. kau tak bisa tinggal bersamanya kalau tak cocok. Kalau cocok sih, beda cerita." lanjutnya.
Saya mengernyit sambil beranjak, ikut duduk di dekatnya. "Tinggal bersama hantu?? Maksudnya apa itu?"
"Bukan tinggal bersama hantu." Ia mengoreksi. "Tapi kau, yang tinggal bersama manusia itu." lanjutnya, membuat saya mengernyit berkali-kali karena mengingat sesuatu yang hampir mirip dengan perkataan Tamusong.
"Oh iya, kemarin juga pas saya bertemu dengan hantu yang memakan tai, dia bilang sesuatu yang sama seperti itu. Katanya kalau makan tai atau darah manusia, maka kita bisa menempel pada mereka, begitu kah?"
Tamusong menganggukkan kepalanya. "Memang bisa. Tapi kemungkinannya kecil. Kecuali kalau si hantu memakan kotoran atau darah manusia berkali-kali, atau karena merasuki dan tak dapat kembali. Karena mengadakan perjanjian dari kedua belah pihak juga bisa. Lalu bisa juga yang paling memungkinkan adalah, ketika tubuh dan roh itu memiliki kecocokan yang sulit untuk di jelaskan."
"Intinya, tinggal di dalam diri manusia itu, sebenarnya manusialah yang membuka jalan, dan merasa cocok pula dengan keberadaan kita."
"Hal ini berlaku pula jika kau ingin merasuki seseorang. Intinya adalah kecocokan." terang Tamusong dengan lugas.
"Ngomong-ngomong tentang itu.. Saya teringat tentang memori Bu Desti yang hampir sama dengan saya, tapi tak ada niat dari saya untuk masuk ke dalamnya."
"Itu artinya kalian cocok, tapi kau tak suka pada kecocokan itu." sahutnya.
"Ada lagi satu.. saya ingin merasuki orang itu. Dia memenuhi situasi dimana merasakan ketakutan dan dia hanya sendiri. Ketika saya ingin masuk, ada sebuah pintu tertutup, dan ada sesuatu yang menghantam saya di balik pintu itu." Tamusong tampak tertarik dengan obrolan yang satu ini, ia sampai mencondongkan tubuhnya ke arah saya.
"Ah?? Benda apa itu??" tanyanya.
"Seperti... monster? Dan dia menghempaskan tubuh saya keluar." terang saya lagi.
Tamusong terdiam seolah berpikir, lalu menganggukkan kepalanya. "Hm, sepertinya itu khodam."
Saya mengernyit mendengar perkataannya. "Khodam?? Apa itu??"
Ia menghela napas panjang. "Itu adalah jin yang menjaga si manusia di dalam tubuhnya. Bisa jadi di dapat dari ilmu keturunan atau amalan. Jadi kalau ada hantu lain yang ingin masuk ke dalam sana, si khodam akan berusaha menghalaunya. Boleh juga, ada anak seusiamu yang memiliki benda seperti itu di tubuhnya."
Saya menggarukkan kepala mendengarnya. "Kalau yang pertama saya menolak, berarti yang kedua.. saya di tolak? Lalu situasi dan kondisi macam apa yang bisa saya lakukan untuk merasuki seorang manusia?? Hanya seorang saja loh." tukas saya, sedikit kesal.
Tamusong kembali menghela napas yang tak ada udaranya. "Tak tahu.. Aku saja tak pernah berada di semua situasi itu." akunya.
Saya terkesiap mendengarnya. "Apa? Jadi Tamusong tak pernah merasuki manusia? Begitu?" protes saya, tak terima. "Tamusong sendiri yang tak salah-salah mau mengajari saya, ternyata sendirinya pun tak pernah melakukan apa-apa." Saya mulai melirik sinis ke arahnya. "Pasti selama gentayangan, Tamusong kerjaannya hanya lompat-lompatan di kuburan ya? Menjengkelkan!" keluh saya, hingga membuatnya kembali menampar saya, meskipun pelan tapi sangat menyebalkan.
"Dasar cerewet! Memangnya kalau jadi pelatih, maka aku harus ikut bermain??" perkataannya membuat saya terdiam. "Bukankah pelatih renang, belum tentu bisa berenang. Dan juga pelatih bola, belum tentu bisa bermain bola. Jadi kau tak usah pedulikan itu. Yang terpenting kan.."
"...Aku tau, batas kemampuanmu." lanjutnya sambil memelototkan kedua mata, membuat wajah gosongnya terlihat menyeramkan.
"Gyaaaaah!! Jangan berwajah begitu! Kau menakuti kuntilanak!!" pekik saya, hingga membuatnya tertawa.
"Kahahaha, ada-ada saja kau! Kau juga setan, monyet! Sebaiknya kembali lah ke gudang dan beristirahat. Tak lucu kan kalau selama seminggu kau belum bisa merasuki seorang pun. Katanya mau melawan seorang iblis, iblis itu tingkat kekuatannya lebih besar lagi loh. Kau harus tetap semangat mempelajari hal ini, kalau kau berhasil.. aku akan memberikanmu sesuatu." ucapnya, mengiming-imingi saya.
"Halah! Palingan juga tali pocong. Atau melati gosong? Tak mau lah!" remeh saya.
"Bukan itu! Tapi lebih menarik lagi ketimbang itu semua!" lanjutnya, merayu.
"Oh ya, ngomong-ngomong.. tadi Tamusong bilang.. kalau Tamusong mengetahui batas kemampuan saya. Yang Tamusong maksud, secara umum atau spesifik?" tanya saya lagi.
Ia terkesiap, seolah-olah menyadari kalau barusan salah berucap. Dan saya rasa, ia sepertinya takut, kalau saya akan menyadari suatu hal, atau berusaha mengulik hal tersebut lebih dalam. "Ya.. mana ku tahu! Kau kan kuntilanak, tentu saja aku mengerti batas kemampuan kuntilanak itu seperti apa. Ini secara umum, anggap saja begitu." ujarnya, sedikit gelagapan.
Saya menatap datar ke arahnya. "Benarkah?? Jangan-jangan, kau tahu banyak mengenai Saya.. Dari seseorang.."
Ia terdiam, menilik saya dengan ragu. "Seseorang apa yang kau maksud??"
"Seorang pria, yang bernama Barend Otte." bisik saya, sengaja memancingnya dengan menyebut nama orang itu.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......