
Saya yang masih terikat dengan kuat di atas udara, tepatnya satu cm di atas lantai masih sibuk berpikir dengan spekulasi sendiri. Bukan tanpa alasan apa yang di lakukan kiyai, tapi.. alasan yang ia kemukakan pun tidak jelas, seolah sengaja menyuruh saya untuk berpikir sendiri terhadap setiap permainan kata yang ia buat.
Tapi, dari sini saya bisa menarik kesimpulan atas ucapan dan tindakannya. Kiyai... tak menginginkan adanya pertemuan.
Kenapa saya bisa menyimpulkan demikian? Padahal jelas terlihat kiyai berkata alasan mengurung saya adalah agar saya tak kemana-mana, dan agar pertemuan dengan lelaki bermata tajam dan wajah lembut itu bisa terlaksana dengan baik.
Tapi menurut saya, bukan itu hal yang ia inginkan.
Alasan yang mendasar paling mencolok adalah.. ia mengurung saya secara sukarela dan secara paksa, intinya ia ingin sekali mengurung saya di dalam ruangan ini. Padahal, meski tak di kurung pun, tentu saya akan tahu arah pulang. Saya pasti akan kembali ke tempat ini lagi.
Ludira pun berkata, ia tak akan meminta tumbal selama enam belas tahun kedepan, dalam artian.. setelah enam belas tahun berlalu, tentu saja ia ingin mendapatkan tumbal itu kembali. Ia butuh darah, itu adalah sumber kekuatan dan penghidupannya. Saya paham sekali mengenai hal itu.
Lalu, kiyai bilang kalau saya akan di kurung sampai lelaki itu muncul, waktunya sekitar belasan tahun, tapi tak di katakan secara gamblang mengenai lama tahunnya.
Tapi saya menemukan kesinambungan di sini. Artinya, enam belas tahun kemudian, akan ada seorang lelaki yang mampu membunuh iblis itu, dengan saya sebagai perantara untuk membantu mencapai kemenangan.
Jadi yang menjadi tolok ukur pertamanya adalah, si lelaki tampan itu. Saya bertemu dengannya enam belas tahun kemudian, lalu.. Ludira akan memakan tumbal kembali setelah enam belas tahun berpuasa. Entah siapa dia, tapi kenapa kiyai seolah-olah tahu kalau dia itu adalah jalan satu-satunya, dan Ludira pun marah besar mendengar doa saya kala terakhir kali mati. Dimana saya ingin membunuh iblis, dan meminta kesempatan hidup sekali lagi..
Dengan terlahir, dalam bentuk dua wujud anak laki-laki!!
Bulu kuduk saya tiba-tiba saja meremang. Si*lan, apakah doa itu.. benar-benar di kabulkan?
Beberapa saat setelah saya mati, bukankah saya pertama kali melihat sosok itu? Dimana saya terbelah menjadi dua, lalu wajah tampan itu terlihat.
Jadi, apakah ketika saya mati.. sesungguhnya ada jiwa yang terlahir kembali, dalam kata lain, ini adalah..
Reinkarnasi???
Benar saja, doa terakhir saya?? Di kabulkan oleh Tuhan seluruh alam??
Tapi yang menjadi persoalan utamanya adalah, apakah pertemuan kami, akan membuat tragedi mengerikan itu terjadi lagi??
Waktunya benar-benar pas. Enam belas tahun kemudian?? Dan sepertinya, itu waktu yang cukup untuk seseorang menginjak bangku SMA bukan?? Dalam artian, lelaki itu kelak akan menjadi salah satu pelajar di sekolah ini?? Benar begitu kan?? Kalau tidak, tak mungkin ada siswa lain yang sembarangan masuk ke sekolah orang, apalagi sampai naik ke lantai tiga serta menuju ruangan paling ujung dari gedung ini.
Jadi alasan kiyai mengurung saya, adalah agar saya berontak, dan melarikan diri dari tempat ini?
Kenapa saya berpikir demikian?? Tentu saja karena kiyai semasa hidup telah mengenal saya. Jadi ia tahu apa yang saya suka dan yang saya tidak suka.
Meski ia memperingati saya untuk tak melukis malam-malam di ruang seni, tapi saya masih saja melakukannya. Semakin di larang, maka saya akan semakin tertantang dan tertarik untuk melanggar larangan itu. Dan kiyai, sudah paham betul tentang sikap saya itu.
Jadi, kurungan untuk menunggu kehadiran lelaki itu sebenarnya hanyalah alibi. Keinginan sebenarnya dari kiyai adalah..
Ingin saya berontak dan lari dari ruangan ini. Untuk apa ia menginginkan hal itu?? Tentu saja, agar tak terjadi pertemuan di antara kami. Dan agar, peristiwa kelam ini tak akan pernah terjadi lagi.
Pasti itu alasan yang sesungguhnya.
Sedang sibuk berspekulasi, tiba-tiba saja telinga saya berdengung. Sedikit aneh, di tambah saya tak bisa bergerak untuk mengorek lubangnya, siapa tahu kemasukan gajah di dalamnya.
"Kunoo.. Kunoo?? Kau dengar aku?"
Saya terkesiap dan mengerjap, dalam posisi tubuh yang terbaring menyamping dan terikat. Ini suara Tamusong? Ia melakukan telepati lagi kah??
Saya memejamkan mata, dan membayangkan wajah wanita gosong itu. Saya mengingat namanya serta suaranya, berharap ini bisa menghubungkan telepati kami satu sama lain.
"Saya dengar." balas saya dalam batin.
Beberapa saat setelah saya menjawab, terdengar suara serupa lagi di dekat saya.
"Kuno, aku merasakan kekuatan besar yang bertarung, ini adalah energimu, dan yang satunya lagi energi yang sama seperti energi yang menyelamatkanmu." batinnya.
Saya mengernyit, mendengar penjelasannya yang terakhir. "Energi yang sama seperti yang menyelematkan saya?? Apa maksudnya?"
"Uph!!" suara Tamusong terdengar aneh. Ia seolah baru sadar kalau sedang mengatakan sesuatu yang seharusnya tak di katakan pada saya. Tapi, kenapa sih di sembunyikan begitu?? Memang apa ruginya kalau memberitahukan pada saya? Tidak akan mengurangi berasnya di rumah kan??
"Lupakan! Maksudku, kau baru saja mengerahkan kekuatanmu kan? Sudah ku katakan sebelumnya, kalau kau dengan sengaja menunjukkan energi sebesar itu, maka para manusia sakti akan memburu untuk menangkapmu. Kenapa kau tak mau mendengarkan perkataan orang lain sih? Menyebalkan sekali!" keluhnya, sengaja berbicara panjang lebar agar saya melupakan perkataannya yang tadi.
"Saya tak perduli itu." balas saya membatin.
"Hah, apa maksudmu? Jangan main-main, ini adalah hal yang berbahaya tahu."
"Saya tahu." Saya langsung menyambar ucapannya. "Tapi ini tak terlalu membuat saya perduli, kecuali perkataan Tamusong yang pertama tadi. Apa maksudnya dengan energi yang menyelamatkan saya?" desak saya dalam batin.
"Ini berhubungan dengan kiyai, kan? Karena tadi, saya sedang melawannya. Dan sepertinya saya sedikit paham, ke arah mana perkataan Tamusong menjurus." Ia terdiam, bukan karena memutuskan telepati, hanya saja ia tak mampu berkata lebih.
"Tapi, sebelumnya saya berterimakasih. Saya mendengar suara Tamusong menyapa, makanya saya keluar ke tempat ini. Saya sudah menduga sebelumnya, kalau yang telah menekan kekuatan saya adalah Tamusong, jadi terimakasih untuk itu." ucap saya, membuat Tamusong mengernyit tapi tak mengatakan apa-apa.
"Kuno, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu." ujarnya, membuat saya mengernyitkan dahi.
"Apa itu?" tanya saya singkat.
"Di awal kematianmu, apakah kau pernah merasakan sesuatu, atau bertemu dengan sesuatu, pernah kah?" tanyanya, membuat saya bertambah heran.
Tiba-tiba saja ia menanyakan hal itu, dan tahu kalau seseorang yang pertama kali bertemu dengan saya di kala saya mati adalah kiyai.
Berarti, sepertinya saya keliru.. yang menekan kekuatan saya dan melindungi saya dari manusia sakti, bukanlah Tamusong.. melainkan..
"Kiyai." tukas saya, membuat Tamusong masih terdiam. "Jadi kiyai yang telah menekan kekuatan saya malam itu, ketika saya merasuki anggota kepolisan. Benar kan, itu bukan Tamusong? Makanya Tamusong langsung bertanya siapa yang bertemu dengan saya pertama kali dan menyadari kalau itu adalah kiyai."
Ia mengeluh, seolah membuang napas panjang. "Kau ini.. terlalu pintar, jadi terkesan menyebalkan karena tahu segala hal dengan modal perkataan yang kau teliti." desahnya. Ia terlihat jengkel dan berat untuk mengatakan kebenaran yang ia tutupi. Tapi itu tak berlaku lagi, karena saya sendiri pun sudah mengetahuinya. "Kau benar, waktu itu.. kiyai lah yang menekan kekuatan besar mu. Awalnya aku merasakan kekuatan itu, dan tahu di mana itu berasal. Aku mendatangimu karena khawatir, tapi tiba-tiba saja.. kekuatanmu bak lenyap di telan bumi. Dan aku menyadari, orang yang bisa melakukan hal itu hanya satu di daerah ini."
"Yaitu kiyai." lanjutnya, saya dapat mendengar intonasi suaranya mulai dalam. Berbeda dengan getaran suara batin yang sebelumnya.
"Yang membuatku heran adalah.. kenapa ia bisa menolongmu? Kenapa ia repot-repot menekan kekuatanmu agar tak di rasakan oleh orang lain. Ia sedang melindungi mu. Padahal aku tahu jelas, kiyai tak akan mau melindungi hantu sejenis jin kafir seperti kita. Tapi kenapa ia mau menolongmu?"
"Makanya aku jadi curiga, kalau alasanmu tak dapat keluar dari dalam ruangan seni kala siang hari, adalah karena dia. Karena dia, tak mau kekuatanmu terjamah dan terasa oleh orang lain."
"Jadi sesungguhnya, dinding yang membuatmu tak dapat kemanapun adalah perlindungan darinya. Agar kekuatan yang kau kerahkan, tertekan di dalam ruangan seni seluruhnya. Tapi kelemahannya, dinding gaib itu pun membuatmu tak dapat keluar dari dalam sana."
"Ia memberikanmu waktu malam untuk belajar dengan saya dalam mengendalikan kekuatan, lalu mengaplikasikan pengajaran itu siang hari di ruang seni. Agar kekuatanmu tak terjamah oleh orang lain."
"Tapi sayangnya, para polisi itu datang di malam hari, tepatnya ketika dinding gaib itu di lepaskan oleh kiyai. Makanya, energimu bisa di rasakan oleh para hantu dan juga manusia sakti. Dan pada saat itu, sesungguhnya frekuensi mu terbuka separuh. Jadi, bagi para hantu.. kami bisa menonton aksi yang kau lakukan malam itu."
"Aku mendengar, kalau mereka.. mulai takut untuk melawanmu. Para gadis yang mati itu takut akan kekuatanmu." terangnya panjang lebar.
"Tunggu dulu, jadi... dinding yang tak bisa di tembus ini, sesungguhnya bukan mengurung saya? Tapi,"
"Melindungi saya?" tanya saya takjub, setengah tak percaya.
"Ya.. kiyai, berusaha melindungi dirimu. Ia melindungi mu sejak awal. Dia tak akan berani menyakitimu, itu adalah janjinya padaku. Ia tak akan menyakiti anak muridku."
Saya mengernyit lagi mendengarnya. Sedikit janggal, tapi.. mungkin saja kiyai menuruti perkataannya, karena hanya Tamusong yang mau berteman dengan saya dan mau mengajari saya sedikit banyak tentang bagaimana caranya mengendalikan kekuatan hantu.
Tapi, kembali lagi ke pembicaraan awal, artinya kiyai tidak melakukan hal yang jahat kepada saya. Jadi, perkataannya itu benar??
Ia menghela napas yang terdengar berat, dan suaranya sengau bagai keluar dari dalam hidung. "Terkadang, apa yang menurutmu baik.. belum tentu baik menurutNya. Dan apa yang menurutmu tidak baik, bisa saja baik menurutNya. Kau tidak tau sementara Dia maha tau. Jadi, maaf jika kau tersinggung dengan air mataku,"
"Tapi maaf, aku tak sedang mengasihanimu. Tapi aku sedang kecewa, karena kau.. salah paham padaku." ujarnya, membuat saya terkesiap. "Tapi tak mengapa, manusia tidak di hisab dengan prasangka dari manusia. Jadi, aku tak merasa keberatan akan hal itu. Sayangnya, kau harus tetap di kurung dengan atau tanpa alasan apapun."
Ya, waktu itu dia bilang kalau dia kecewa karena saya salah paham padanya. Ia berniat baik tapi saya malah menuduhnya yang bukan-bukan.
Saya bertindak buruk, padahal sejak awal ia masih memikirkan dan melindungi saya. Meski tak secara langsung, tapi ia tetap melindungi saya, bahkan sampai saya salah paham seperti ini.
Jadi, saya ini jahat sekali ya?? Bahkan saya melawan dan melukai dirinya.
"Kuno, apakah kau masih mendengarkan ku?" tanya Tamusong.
Saya mengerahkan kekuatan hingga membuat pipinya tergores. Padahal ia juga yang meminta pihak sekolah untuk tetap membiarkan saya tinggal di sini.
Saya merasa buruk sekarang. Bagaimana caranya saya bisa menembus kesalahan saya itu??
"Kuno? Kuno?" Tamusong masih memanggil saya terus menerus.
Tamusong??
Apakah dengan cara itu, cara yang diinginkan oleh kiyai. Dan yang pasti, ini juga keinginan dari Tamusong.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...