RUN

RUN
My Name Is Kuno



Saya terdiam, sengaja menjelekkan wajah saya usai mendengar alasannya. Saya tak henti-hentinya mengernyit, bahkan Nana sampai mencolek tangan saya, bermaksud untuk membuktikan kalau saya tak sedang menjadi patung-patungan.


"Hah?? Yang benar? Di dunia perhantuan juga ada penolakan yang seperti itu?? Ini tak logis kan? Semasa hidup saya mendapatkan perlakuan seperti ini, di jauhi bahkan di kelilingi hanya untuk di nikmati keanehannya. Masa' ketika mati, saya mendapatkan hal yang sama lagi, untuk apa saya jauh-jauh ke tempat ini kalau hasilnya sama saja!" protes saya, membuat pemimpin kuntilanak ini memutar bola matanya, seolah malas mendengarkan keluhan saya.


"Kau tahu, yang terpenting bagiku adalah kekuatan. Hantu kuntilanak yang kuat, adalah hantu kuntilanak yang paling di takuti oleh manusia. Dan kau tahu itu hantu yang seperti apa?? Itu adalah para hantu berwajah seram, bukan lucu dan tampan!" balasnya, membuat suara kikikan para kuntilanak yang lain terdengar jelas. Saya mengeratkan gigi, sambil menatap mereka sekelabat.


"Apa hubungannya dengan wajah, saya kuat kok. Bahkan saya ini langka, hantu kuntilanak laki-laki di antara yang perempuan." tukas saya lagi. "Lagipula hantu kan bisa mengubah bentuk wajah dan fisiknya. Kalau mau saya menjadi jelek, saya bisa melakukannya dengan mudah. Tak ada masalah!" ujar saya cepat, benar-benar memaksa untuk tetap bergabung bersama mereka. Karena kalau bukan komplotan kuntilanak, siapa lagi yang mau menerima saya? Bahkan jenis saya sendiri pun menolaknya.


"Sebenarnya ada yang harus kau terima dan juga tidak, nak. Selain tampan, wajahmu itu masuk ke dalam kategori hantu luar atau hantu asing. Jika kau terus memaksa untuk masuk ke sini, maka aku akan mendapat masalah pada pemimpin hantu asing."


"Lagipula, aku tak membutuhkan hantu kuntilanak seperti mu. Kau baru saja mati, dan tentu saja kau belum bisa menguasai kekuatan mu. Aku tak mau membuat Dewi malu karena menerima mu di tempat ini. Karena untuk sekarang, kelompok hantu kuntilanak adalah kelompok hantu yang paling menakutkan ketimbang kelompok hantu yang lain, jadi aku harus menjaga kepercayaan dan tetap konsisten pada hantu kuat dan juga seram. Aku tak mau mengecewakan Dewi." terangnya lagi.


"Meremeh sekali!" balas saya singkat, dengan suara serak yang terdengar parau.


"Nona Farisa, tolong terima kakak. Dia mau jadi teman Nana, kasihan dia kalau di tolak. Mau tinggal di mana dia?" rengek Nana, berusaha memberikan bantuan pada saya.


"Dia akan tetap tinggal di pulau ini, tapi tidak dengan kita. Jadi, Nana masih bisa bertemu dengannya di tempat yang lain." ucapnya lagi, masih bersikeras untuk menolak saya.


Saya mendecakkan lidah dan menatapnya dengan kesal. Orang-orang yang melihat wajah dan kecatatan albino saya pasti berkata kalau saya adalah lelaki yang indah dan unik. Mereka sangat ingin punya rupa dan ketampanan seperti saya. Tapi sungguh, ini tak semenyenangkan itu. Jadi seseorang yang berbeda dan tampan itu tak selalu di sukai orang-orang, buktinya, saya menerima penolakan semacam ini lagi, kan?


"Oke, kalau alasanmu tak menerima saya karena hal yang seperti itu. Tapi, kalau tak salah tadi kau berkata mengenai jenis hantu asing? Bisa katakan di mana saya harus menemui mereka?" tanya saya, membuat pemimpin Kuntilanak bernama Farisa ini menatap sinis.


"Kau meminta bantuan ku?" tanyanya, seolah tersinggung.


"Haduh!! Perhitungan sekali sih jadi hantu, pasti ketika mati, kuburanmu sempit! Saya terima kok kalau kau menolak, tapi apa salahnya kan memberitahukan tempat itu, tak akan menambah kejelekan mukamu!" balas saya kesal, membuat Farisa ini mendengkus napas berat.


"Berani sekali hantu baru dan juga tampan sepertinya mengolok-olok aku begitu!" Ia menggeram, membuat tubuhnya sampai gemetar menahan marah.


"Nana, cepat bawa dia keluar dan antarkan dia ke tempat yang ia mau, sebelum aku mengamuk di tempat ini!" pintanya dengan suara serak dan dalam, serta tatapan mata yang menyeramkan.


.........


"Kakak itu.. suka cari gara-gara ya?" tanya Nana tiba-tiba, setelah sebelumnya terus diam selama berada di perjalanan.


"Tidak kok." dalih saya, kesal sekali sih sebenarnya kalau mengatakan apa yang sebenarnya memang benar.


"Jadi kakak mau tinggal bersama hantu-hantu asing itu?" suara Nana terdengar sengau ketika menanyakannya.


"Apa boleh buat kan, kalau di tempatmu saya tak di terima. Memangnya saya harus apa? Memohon atau memaksa? Malas sekali loh jika harus melakukan itu, membuang nyawa saja." balas saya datar.


Nana yang sedang terbang di hadapan saya pun terhenti, ia menoleh dan menatap saya. "Nanti Nana tunggu di luar saja ya, Nana tak suka dengan mereka." lanjutnya.


Saya mengernyit meskipun ingin mengetahui alasannya, tapi saya lebih memilih tak bertanya apa-apa. "Yasudah." singkat saya.


Kami yang sebelumnya terus terbang di tengah hutan, kini malah menjumpai sebuah kastil tua. Tentu saja saya mengernyit ketika menyadari keanehannya.


"Itu, kastil sungguhan kah? Atau cuma halusinasi yang di buat saja?" tanya saya, membuat Nana kembali menoleh, takjub.


"Ya!! Benar!! Ini bukan sungguhan, hanya kelihatannya saja begitu. Sebenarnya ini hanya sebuah mercusuar yang sudah tak terpakai oleh manusia. Kakak tahu itu? Hebat!" serunya, terlihat lebih ceria daripada sebelumnya.


"Ya, secara logika saja sih. Manusia gila mana yang mau membangun kastil di sebuah pulau tengah lautan dan juga hutan? Mana tempat ini tak strategis dan tak ada indah-indahnya sama sekali bagi manusia. Kalau pemandangannya bagus, mungkin saja di jadikan orang kaya sebagai villa atau pulau pribadi mereka, lah ini..."


Nana mengangguk bersemangat untuk menimpalinya. "Ya, dulu ini di jadikan mercusuar oleh manusia, mereka membuatnya lalu meninggalkannya begitu saja sebelum pembangunannya selesai. Setelah itu, tak pernah ada manusia yang datang. Tempat itu pun terbengkalai. Tapi sekarang, tempat ini di pakai oleh para hantu asing." ucapnya, membuat saya mengernyit.


"Ketika semua hantu memilih tempat tinggal di alam, mereka langsung memilih tempat tinggal yang ada bekas bangunannya? Sombong juga ya." protes saja, menilai perbuatan mereka.


"Ya! Itu benar! Nana juga tidak suka dengan kelompok hantu asing. Mereka sombong dan merasa tinggi, tidak mau berkumpul bersama hantu lain di taman bermain. Mereka hanya selalu dengan kelompoknya saja, kecuali jika Dewi memanggil untuk mengadakan acara, baru mereka akan datang dan ikut bergabung bersama yang lainnya." terang Nana lagi.


Sepertinya alasan kuat yang membuat Nana tak suka mereka, adalah karena keangkuhan mereka. Tapi, tak heran sih. Saya adalah anak salah satu orang asing, jadi saya tahu tentang bagaimana mereka merasa tak sederajat dengan pribumi. Ternyata hantu juga menganut sistem kasta seperti itu juga ya?


Dan perbedaan jelas terlihat dari hantu asing dan juga hantu pribumi. Dari segi pakaian dan tempat tinggal. Hantu Indonesia pakaiannya buluk dan lusuh, tinggalnya di pohon pisang, pohon beringin, hutan belantara, dan rumah tua yang reyot. Sementara hantu asing yang saya lihat di TV, pakaian mereka bagus, wajahnya tampan, dan tempat tinggalnya di kastil. Indonesia tak hanya tertinggal di kehidupan manusia saja ya, tapi ternyata para hantunya pun tertinggal pula.


"Nana tunggu di sini." ucap Nana sambil berjongkok di udara dan menengadah menatap saya.


"Woi!! Saya masuk ya!!" pekik saya sambil menyentuh pagar yang tertutup. Ternyata, karena ini adalah halusinasi, saya bisa menyentuhnya, sebagaimana benda-benda lain yang ada di pulau ini.


Tak ada jawaban sama sekali. Tapi, karena pagarnya tak di kunci, saya langsung saja masuk ke dalam sambil menoleh ke sekeliling.


Gedung halusinasi ini lebih mirip seperti gedung berdesain Eropa, kemungkinan mereka ini adalah orang-orang Belanda yang dulunya menjajah Indonesia dan mati di negara ini juga. Jadi, mereka di sebut hantu asing, dan sepertinya mereka juga mendapatkan gelar itu, karena mengasingkan diri dari hantu lain.


Saya menunduk, melihat lantai keramik yang mengkilap. Lalu menengadah, menatap tiang-tiang yang besar di sepanjang jalan. Langit-langit ruangannya begitu tinggi menjulang, membuat kesan mewah begitu tampak di tempat ini.


Jendelanya pun berdesain artistik, dengan sebuah tirai panjang raksasa yang berayun lembut, terlihat lusuh dan juga rapuh. Ketika masuk cukup dalam, saya mulai mencium bau bunga-bungaan aneh. Wangi sih, tapi bunga ini tak ada di Indonesia sepertinya, bukan seperti bunga mawar ataupun melati. Mungkin karena aroma bunga yang saya hafal hanya itu.


Saya mengernyit, ketika sebuah cahaya aneh terlihat setitik di ujung mata. Semakin lama, cahaya itu semakin membesar. Saya tak tahu itu apa, hanya saja...


"Ugh!!" Saya langsung melompat, berputar di udara dan mendarat dengan sempurna di atas lantai.


Sebuah kilatan baru saja melintasi saya, hampir saja menghantam saya kalau saja saat itu saya tak reflek untuk menghindar.


Saya melirik, melihat bola cahaya yang sepertinya sengaja di lempar oleh seseorang untuk menyerang saya. Saya menoleh sekeliling, berusaha mencari dimana ia berada.


"Siapa kau, berani sekali datang kemari?" tanya sebuah suara, logat asingnya terdengar, mengingatkan saya dengan cara bicara Ayah yang gila harta.


"Tunjukan dirimu jika ingin bertanya, itu tak sopan tahu!" balas saya, sengaja memancingnya agar keluar dan tak bersembunyi. "Saya bukan hantu jahat, saya datang ingin bergabung di tempat ini. Jadi, apakah saya boleh bertemu dengan pemimpin mu?" tanya saya. Sepertinya orang ini tak mungkin pemimpin mereka kan? Dari yang saya tahu, para pemimpin tempatnya tersembunyi dan sulit untuk di hampiri karena berada di ruang paling ujung dari ruangan yang ada.


"Siapa kau, lancang sekali menanyakan hal itu padaku. Lalu, siapa kau, berani sekali memerintahkan ku begitu?!" balasnya, masih asik bersembunyi tanpa berniat untuk memperlihatkan wujudnya.


"Oh, Mau kenalan toh? Nama saya Kuno, kuntilanak albino. Namamu?" tanya saya, membuat suara geraman terdengar setelah perkataan saya selesai.


"Kau ini, cari mati rupanya ya?" balasnya.


"Kan memang sudang mati, buat apa di cari lagi. Mendingan cari rezeki, siapa tau berkah ya.." balas saya, sengaja menimpalinya dengan main-main.


"Kau ini, benar-benar ingin merasakan hantaman kekuatanku!!" bentaknya, bersamaan dengan sebuah suara halus yang di bawa oleh desiran angin.


Cepat!! Sangat cepat hingga saya tak sempat mengedip. Tapi, sekelabat saya bisa melihat bayangannya, dan menyesuaikan irama tubuh saya dengan kecepatannya.


Tap!!


Langkah kaki terdengar menapak, bulu mata saya bahkan tak bergerak, tapi desiran angin halus meniup lembut rambut bagian kiri saya. Saya menoleh dengan cepat ke sisi tersebut..


"Di sebelah kiri!" pekik saya, bersamaan dengan sebuah tangan yang menyergah, tapi...


Dash!!!


Saya, berhasil menahan sebuah tangan yang melesat cepat ke arah saya, menampakkan seorang lelaki yang tinggi dan sepertinya seumuran dengan saya, atau lebih tua beberapa tahun.


Ia meringis, ketika tangannya berhasil saya genggam. Wajahnya terlihat kesal, bahkan kedua matanya mengatakan kalau barusan ia terkejut karena saya mampu menahan serangannya.


"Kurang ajar, siapa kau sebenarnya?" tanyanya lagi, dengan suara yang teramat kasar.


"Kau tuli? Kan sudah saya bilang, kalau saya.. adalah kuntilanak albino!" sahut saya lagi.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......