RUN

RUN
Kediaman Hantu Asing



"Main-main kau ya! Akan ku habisi kau sekarang juga!!" pekiknya lagi.


"Apa sih? Berambisi sekali, saya kan tak maling jajananmu, kenapa marah begitu?!" keluh saya, membuatnya menepis cengkraman tangan saya dengan kuat.


"Siapa yang menyuruhmu datang kemari? Apakah kau sedang menipuku? Tunjukan wujud aslimu!" sergahnya, sambil melayangkan kepalan tangannya ke arah saya.


Saya segera menghindar, berusaha menjauh dan menjaga jarak darinya. "Apasih! Kau kebanyakan minum obat ya? Saya ini tamu, kenapa di serang?!" seru saya, tapi ia seolah tak memperdulikannya.


"Akan ku tunjukkan hasil latihan ku, lihat ini!!" balasnya menyeru, sambil mendaratkan kedua tangannya ke lantai. Ia mengangkat kakinya ke udara, dan sepertinya ia bersiap untuk melakukan tendangan maut atau yang sejenisnya.


Gerakannya cepat, tapi mudah di baca. Dari tekadnya, sepertinya ia berusaha keras untuk belajar mengendalikannya, tapi.. tetap saja, kekuatan itu, berada di bawah saya.


Kedua kakinya berputar di udara seperti baling-baling helikopter, saya langsung merebahkan tubuh ke belakang, untuk menghindari serangannya.


Saya melakukan hal yang sama, menjatuhkan kedua tangan di lantai, dan mengangkat kaki ke udara. Ketika tendangan kami hampir beradu, sebuah ledakan besar muncul tepat di antara kami.


Saya yang tak merasakan kehadiran serangan itu pun terjungkal menghantam dinding, sama halnya dengan anak keras kepala tadi.


Saya menahan perut, ketika ledakan itu menghantamnya. Saya menatap lurus ke arah ledakan, berusaha mencari tahu siapa yang telah melakukan hal tersebut.


Bahkan, lelaki yang menyerang saya sejak awal ini pun melakukan hal yang sama. Ia juga sepertinya penasaran dengan apa yang telah menyerangnya.


Kepulan asap perlahan menipis, membuat sesosok kepala tampak meski tubuhnya masih tertutup asap. Saya mengerjap, benar-benar bingung dengan komplotan yang seperti kentut ini. Datang secara halus, tapi membuat keributan banyak orang.


"Abbe, apa yang kau lakukan pada hantu asing yang baru datang?" tanya sebuah suara yang berasal dari dalam kepulan asap tersebut.


"Gu.. guru? Jadi, itu kau? Bukan yang ini?" anak idiot ini terlihat gagu sambil menunjuk ke arah saya.


"Bagaimana bisa kau menyangka hantu lain sebagai aku, apakah kau ini meremehkan ku?" tanya si lawan bicara, yang asapnya tak habis-habis. Yang jadi pertanyaan saya, kok dia tidak batuk?


Lelaki bernama Abbe ini terdiam sambil menundukkan kepalanya. Rambut blondenya yang menutupi sebagian besar dahi dan seluruh alisnya pun bergerak, tertiup oleh angin. "Maafkan aku guru, hanya saja.. dia bisa melihat serangan ku, dan menandingi kecepatanku. Jadi, aku berpikir kalau sebenarnya itu adalah dirimu, karena yang hanya mengetahui serangan cepat itu adalah dirimu." terangnya, terlihat benar-benar menyesal akan perbuatannya.


"Apa kau bilang?" tanya sang guru, sepertinya murid dan guru ini sama-sama bolot. "Dia, bisa menandingi kecepatanmu, bahkan di pertemuan pertama kalian?" tanyanya, seolah takjub.. atau sakit perut, soalnya ekspresi wajah Paman bule ini jelek sekali.


"Ya, maka dari itu, aku berpikir kalau itu dirimu. Karena kalau orang yang pertama kali menghadapi jurus itu, tentu saja tak akan berkutik seperti yang sudah-sudah, tapi..." si Abbe kembali melirik ke arah saya, tatapannya sinis dan sepertinya sedikit jengkel.


"Apa sih? Mana saya tahu. Kau yang menyerang, saya cuma menghindar. Begitu saja melihatnya seperti orang yang menagih hutang!" balas saya, merasa tak senang dengan tatapannya.


Sang guru pun ikut melihat ke arah saya. Ia terdiam, menilik dari atas ke bawah secara berulang-ulang. "Belum pernah aku melihatmu, siapakah dirimu?" tanyanya, ketika seluruh asap sudah menghilang dan menampakkan kakinya yang menjulang tinggi seperti tiang tujuh belas agustusan.


"Cuma tamu." singkat saya. Membuat dua hantu ini terdiam tanpa memberikan ekspresi berlebihan. Suasana mendadak krik-krik, seperti sedang mengais nasi kerak di dalam panci.


"Aku tahu itu, maksudku.. siapa namamu." tanya sang guru lagi.


"Oh, itu. Bilang dong dari tadi. Nama saya Kuno, saya boleh numpang tidur ya di rumah ini. Itung-itungan permintaan maaf kalian tadi karena anak muridmu tiba-tiba menyerang tamu." gerutu saya sambil terbang ke bagian dalam gedung.


Si Abbe menatap tak terima, ia bahkan mengerekatkan gigi sambil berkata. "Darimana kau belajar tak sopan santun seperti itu?" kecamnya dengan dingin, tak lupa dengan kerutan di dahinya.


"Dari sesosok hantu yang tiba-tiba menyerang tamu. Itu juga tak sopan kan?" balas saya, membuatnya semakin memperburuk ekspresinya. Sepertinya satu hantu sudah membenci saya di tempat ini.


"Tunggu dulu, nak. Kau tak bisa sembarangan masuk dan bertamu tanpa izin dari pemimpin. Kau harus melapor dan menemuinya terlebih dahulu." ucap sang guru, membuat saya terhenti dan berbalik menatap mereka berdua.


"Oke, kalau begitu antarkan saya menemui pemimpin." pinta saya, membuat si Abbe lagi-lagi mengernyit. "Kenapa sih? Kau sakit gigi ya?" celetuk saya sambil menatapnya. "Oh ya guru, bisa tidak suruh dia ini yang mengantar saya, sepertinya dia suka sekali dengan kehadiran saya." pinta saya lagi. Setiap ada orang yang membenci, saya sengaja bertindak seperti ini supaya dia bertambah kesal.


"Kau kira aku babu?" kecamnya, dengan nada mengancam.


"Bukan, kau kan Abbe. Tadi saya dengar pak guru memanggil mu begitu." balas saya, membuat wajahnya kian memerah, benar-benar menahan amarahnya.


"Hahaha.. Abbe, sepertinya kalian cocok kalau berteman. Ku rasa sudah dua puluh lima tahun kau tinggal di sini, tapi sama sekali tak mendapatkan seorang teman karena sifatmu itu." sahut sang guru, membuat Abbe terbelalak mendengarnya.


"Ah, guru! Jangan lakukan itu padaku! Kau tahu aku benci anak-anak nakal dan berisik. Masa' aku harus berteman dengan makhluk seperti ini! Lihat lah bajunya, kumuh dan.. iwh!!" tuturnya sambil memandang saya dengan raut jijik.


"Kau ini bencong ya?" balas saya lagi, membuat Abbe berteriak karena kesal.


"Dari mana kau mendapatkan kesimpulan macam itu?! Hantu miskin!!" pekiknya, membuat saya menatap datar sambil mengorek hidung.


"Lelaki yang gampang jijik itu bencong tahu. Dari saya sendiri sih, kihihihi.. biasanya kalau bencong kan bersih. Saya ini memuji loh."


"Kau kira aku bodoh, tak tahu mana hinaan mana pujian!!" bentaknya lagi.


"Ya salam!!! Tamusong hilang, dapat ganti baru yang suka teriak-teriak. Memangnya kalian kira saya ini mirip kuda?"


"Apa hubungannya!!" pekiknya lagi.


"Siap, laksanakan!" serunya sambil menunduk. Ia mengangkat kepala ketika melihat gurunya sudah pergi. Kini tatapan penuh hormatnya berganti menjadi tatapan penuh emosi.


"Kalau banyak cingcong akan ku cincang kau!" ucapnya.


"Kenapa sih, kan saya tak melakukan apa-apa." balas saya, sambil terbang mengikutinya dari belakang.


"Tidaaaak!! Hantu miskin, menjauhlah dariku!! Kau itu virus, berikan jarak sebanyak lima meter di belakangku." pekiknya, membuat saya terkesiap dan dengan cepat terbang menjauh darinya.


"Begini sudah belum?" tanya saya, dari ujung gerbang masuk.


"Itu terlalu jauh miskin!! Mendekatlah sedikit!!" bentaknya lagi.


"Kenapa sih, dekat salah. Jauh juga salah!" gerutu saya, sambil terbang sejauh lima meter di belakangnya.


"Kalau jauh, mana bisa kau melihatku! Kalau kau tersesat sebelum menemui pemimpin, bisa-bisa aku yang mendapat hukuman dari guru!" terangnya.


"Oh, jadi begitu?! Sebenarnya mau sih melihatmu di hukum."


Ia langsung berbalik dengan cepat menatap saya yang berada di belakangnya. "Itu bukan saran atau pilihan, kenapa kau begitu menyebalkan?" kecamnya, dengan suara yang dalam.


"Kau juga menyebalkan! Sama saja." balas saya, membuatnya terdiam dan mengerjap beberapa kali.


Ia langsung membuang muka, dan dengan cepat kembali melihat ke depan. Kali ini perjalanan kami memasuki gedung istana bohongan jadi sepi senyap. Kami tak mengeluarkan sepatah kalimat pun.


Saya menoleh sekeliling seperti orang udik, menatap tiap selasar yang memiliki sebuah ruang. Sama seperti ruang kelas, bedanya ini lebih mewah.


Di depan kami, saya melihat sebuah pintu yang berada di tengah seluruh ruangan. Pintunya terlihat berbeda sendiri dari yang lain, dan saya langsung menyimpulkan kalau itu adalah kamar pemimpin.


Abbe berhenti di depan pintu tersebut, berdiam dan mematung memandangnya. Dia lama sekali, apa saya bantu mengetuk pintunya ya??


Tok tok tok tok!!


"Pak pemimpin!!" pekik saya sambil menggedor pintu, membuat Abbe terkejut hingga rambutnya seolah melompat dari kepalanya.


Ia langsung mengibaskan tangannya, seperti sedang mengusir seekor ayam. Ia menatap saya dengan sengit sambil mengusap pintu yang ada di hadapannya.


"Kau ini benar-benar memancing kesabaranku! Kau mau ku cincang, hah?!" bentaknya lagi.


Saya langsung menutup telinga sambil membalas tatapannya. "Saya cuma mau membantu, marah-marah terus seperti Tamusong!"


"Diam dan tunggu di sana! Pintu ini terlalu bersih jika di sentuh oleh tangan kotor macam kau!" kecamnya, membuat saya menatap kedua telapak tangan saya.


"Iya sih, tadi memang habis ngupil tapi lupa cuci tangan." sahut saya, membuatnya bergidik.


Ia masih menatap saya sambil mengetuk pintu yang ada di hadapannya. Saya terkesiap, ketika suara ketukan pintu darinya terdengar berbeda dari suara ketukan pintu saya tadi.


Abbe yang melakukannya pun menyadari hal tersebut. Ia menoleh, menatap ke arah pintu yang ada di hadapannya. Betapa terkejutnya ia, ketika pintu yang berada di hadapannya telah terbuka, dan menampakkan sesosok pria penuh wibawa dan juga tampan.


Yang membuat saya terkejut bukan hanya itu saja, tapi.. perihal Abbe yang mengetuk benda yang berada di hadapannya.


Abbe menelan ludah, karena posisi tangannya sejajar dengan benda pusaka milik si pemimpin hantu asing. Dengan tubuh bergetar, ia perlahan mendongak ke atas, dan melihat reaksi apa yang sedang di tunjukkan oleh sang pemimpin.


"Ma.. Maafkan aku." ujar Abbe, dengan suara yang sangat pelan, berbeda dengan ketika ia berbicara dengan saya.


"Kihihih, pantas bunyinya lain. Ternyata gagang pintu toh!" ucap saya sambil tertawa karena tak bisa menahannya.


Sang pemimpin ini terdiam tanpa ekspresi, dan dengan cepat Abbe menutup mulut saya agar diam.


"Sssst!! Kau, mau mati lagi?" bisiknya, dengan wajah yang ketakutan.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......