
Di meja lain.....
Reza tak melepaskan pandangannya dari Dinda dan Renata yang ngobrol dengan iringan tawa kecil. Terkadang ia lupa kalau Dinda itu istrinya. Dinda pada sosok yang baru,terasa seperti wanita yang baru dikenalnya lagi, dikenal dan tidak terlalu akrab, alhasil menghasilkan suatu kecanggungan.
"Itu yang duduk dekat Bu Danki siapa,ya?"
Reza kaget saat beberapa temannya bertanya satu sama lain.
"Itu istrinya Reza" celetuk Budi.
Dan Yoyok menepuk pundak Reza dari belakang. "Za, istrimu punya adik nggak? Kenalin lah sama adiknya"
Reza tersenyum datar.
"Denger-denger kamu mau ngajuin cerai... Jadi,Za?"
Reza melemparkan senyum kecut.
"Nggak eman - eman kamu, Za? Bojomu ayu ngono !" Timpal Dono.
"Yowes. Kalau Reza jadi cerai, bojomu tak tampung Yo, Za!!" canda Doni, kembaran Dono.
Budi,Yoyok, dan Dono pun tertawa. Terpaksa Reza memaksakan tawanya yang hambar. Padahal ia tak nyaman dengan candaan itu.
Dan ketika Dinda berdiri dengan high heels nya, ke lima pria yang tertawa tadi langsung diam seketika. Pandangannya tak lepas dari Dinda. Apalagi saat Dinda berjalan melewati meja itu, Dinda melepaskan senyumnya pada mereka dan semua menyambutnya dengan debaran. Dinda berlalu, Reza menyadari jika ia akan kehilangan sebuah permata indah.
"Za, kapan kamu pengajuan cerai? Wes ndang cepet. Tak tunggu jandanya," canda Doni lagi. Dan mereka pun kembali tertawa-tawa.
###
Dinda memutar-mutar tubuhnya, berusaha menengok rok bagian belakangnya dari kaca toilet.
"Mana saosnya?" Ia heran sendiri karena roknya ternyata bersih. Beberapa detik berikutnya, ia tersadar lalu tertawa. "Aku dikerjain Bu Danki,nih"
Dinda melangkah menuju pintu. Ketika gagang pintu ia dorong ke arah luar, ternyata seseorang menariknya. Dan ketika pintu membuka,pria di luar terkejut.
"Eh,maaf, mbak. Saya kira toilet laki-laki"
Ada beberapa waktu mereka saling pandang. Dinda merasa mengenali wajah itu. "Mas Fajar, ya?"
Pria yang disapa Fajar oleh Dinda terheran, "Lho, kok tahu? Apa pernah ketemu, ya?"
"Saya Dinda,Mas. Mas Fajar teman Mas Muhammad Rifki?"
"Sebentar-sebentar, ini Dinda yang dulu gendut itu,kan?"
"Aduh,mas. Kok ada embel-embelnya gendut sih"
"Hehehehe. Oalah. Dinda. Kok bisa disini? Sekarang dimana Rifki?"
Dinda lega Fajar masih ingat akan Dinda, sepupu teman lamanya. Dulu saat Fajar duduk di bangku SMA sering datang ke rumah Rifki untuk sekedar main atau mengerjakan PR. Dan karena rumah Dinda dan Rifki bersebelahan, jadinya Dinda mengenal semua teman kakak sepupunya yang sering main ke rumah.
Mas Rifki sekarang kerja di PLN. Saya disini karena mempelai prianya adik letting suami saya."
"Berarti suami kamu satu batalyon sama yang nikah ini?"
"Iya,Mas"
"Oalah... Berarti satu batalyon juga nanti sama saya"
"Loh... Mas Fajar dinas disini?"
"Iya. Baru Seminggu.Setelah sekolah Capa, saya penempatan di Yon ini"
"Mas Fajar sudah sekolah Capa? Kok cepat banget? Padahal Mas Fajar masih muda lho"
Fajar tertawa," Dinda pikir yang Capa itu sudah tua-tua ya?"
Dinda tertawa kecil"Maaf Mas"
"Ah, nggak apa-apa, tapi saya memang yang termuda waktu sekolah kemarin" Fajar bisa langsung akrab dengan Dinda. Padahal sudah 10 tahun tak berjumpa.
Beberapa waktu mereka berbincang. Kemudian Dinda mohon pamit. Fajar menyelipkan kedua tangannya di saku celana sembari memandangi wajah yang berlalu pergi. Terlukis senyum manis di wajah pemuda itu.