
Wajah Si Anjing mematut. Entah kenapa, saya melihat kalau tatapannya terkadang kosong, terkadang berisi, terkadang fokus dan terkadang hilang kendali.
Tak tahu kenapa, hanya saja saya merasa ia setengah sadar dan setengah tidak. Seperti sedang kehilangan akal, atau seperti sengaja di gerakkan oleh seseorang.
Tapi tetap saja, datang ke sini adalah tekadnya. Ini seperti sebuah hipnotis, yang membuatnya merasa kalau semua ini harus di lakukan. Orang yang menghipnotis ini menggerakkan si Anjing sesuai keinginannya, tapi si Anjing berpikir kalau ia melakukannya dengan sukarela.
Kurang lebih.. seperti, boneka santet.
Ia masuk ke dalam, sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Tak lupa dengan senter yang memberikan bantuan penerangan padanya.
Ia mencari dari ujung kiri ruangan, sembari membatin. "Mana? Mana benda yang di maksud tuan?"
Saya mengernyit mendengarnya. Maksudnya apa?? Dia di suruh mencari sesuatu di dalam ruangan ini oleh si tua Bangka??
"Aku takut sekali. Rasanya gemetaran hingga lampu senter ini ikut bergetar juga. Aku jadi kurang fokus untuk mencarinya. Di mana benda itu berada??" lanjutnya lagi, membatin sembari ketakutan.
Dia di perintahkan mencari sesuatu?? Di ruangan ini?? Kira-kira apa ya?? Kenapa ayah tak melakukannya seorang diri?? Kenapa harus menyuruh orang lain yang melakukannya??
Benda penting yang di cari di ruangan ini?? Apakah jangan-jangan... adalah barang bukti?
"Barang bukti?? Yang mana barang buktinya?" ujar si Anjing, masih bergumam di dalam hatinya.
Jadi benar, ia memang sedang mencari barang bukti yang saya tinggalkan di tempat ini. Untuk apa ia mencarinya?? Tak mungkin hanya sekedar mengambil dan membawanya pulang, kan? Pasti Ayah ingin melenyapkan barang bukti yang saya tinggalkan, agar ia terbebas dari tuduhan.
"Licik memang!!" geram saya sambil menatap sinis ke arah si Anjing. Tak terduga-duga, kekuatan saya terlepas begitu saja, membuat sebuah foto pahlawan yang sudah retak terjatuh dan pecah berhamburan di lantai.
Karena hal tersebut, si Anjing ini terkesiap. Ia bahkan melompat dari tempatnya berdiri saking kagetnya. Ia mulai panik, dan menyoroti sekitar tempat dengan senter sembari berputar perlahan.
"Siapa itu??" pekiknya, sambil menilik sekeliling dengan mata yang melotot. Ia terhenti sejenak, menunggu reaksi yang akan saya lakukan padanya.
Saya masih diam, karena memang tak bermaksud untuk menakutinya. Tapi, kalau dia bisa menemukan benda tersebut, itu lain cerita. Kemungkinan saya akan melakukan suatu tindakan agar ia pergi dari kediaman saya.
"Kau jangan coba-coba menyakitiku? Apakah kau tak tahu siapa aku?" lanjutnya memekik, membuat saya mendengkus sambil memonyongkan bibir.
"Nyinyinyinyi... Berisik tahu! Jelas saya tahu lah siapa kamu! Kamu buaya buntung kan?? Penipu yang cuma takut kehilangan harta benda. Budak iblis bodoh yang mau saja di peralat. Gayanya seperti seseorang yang terkenal saja. Memangnya kamu gubernur??" gerutu saya, menyambar ucapannya dengan cepat.
Ia masih terdiam, sambil terus berputar di tempat dan menyoroti lampu senter ke langit-langit ruangan.
"Sudah bertanya, pura-pura tuli lagi!" omel saya lagi. Seketika saya terkesiap sendiri usai mengatakannya. "Oh, dia kan memang tak bisa dengar ya? Kihihihi..."
"Aku.. adalah seseorang yang derajatnya tinggi. Aku satu tingkat di bawah Tuan mulia yang bernama Barend Otte. Ha.. hahaha, pasti kalian mengenal nama itu kan? Benar kan?" pekiknya lagi, seperti orang yang kehilangan akalnya. "Kalian pasti sekarang merasa gemetaran, kan?!"
Dia pikir dia siapa sih? Bicara seperti itu?? Sekalipun derajat mu di atas Ayah, saya tak akan pernah takut akan hal itu.
"Kalau kau mau berani, muncul lah di hadapanku! Jangan menakut-nakuti orang yang tak akan takut kepadamu! Kau itu siapa memangnya? Iblis cilik? Atau hantu kuntilanak?" tanyanya menerka. Sepertinya dia tak yakin kalau saya memang benar-benar gentayangan. Ia masih menyoroti setiap ruangan dengan lampu senternya.
Rambutnya terlihat lepek, basah karena keringat. Napasnya tersengal, sampai terdengar di telinga saya.
"Dia tak menjawab. Aku tak tahu siapa yang ada di ruangan ini, apakah benar para siswi.. atau justru anak berisik yang sangat ku benci." gumamnya dalam hati, membuat saya mengeratkan gigi hingga garis halus muncul di antara hidung dan juga dahi.
"Ayo, tunjukkan dirimu, pengecut!! Kenapa kau bersembunyi? Berpikir bisa menghalangi niatku?? Atau mau mengejutkanku lagi?? Kalau kau masih tak mau menunjukkan dirimu, maka aku akan membuatmu muncul dengan sendirinya!!" pekiknya, membuat saya mengernyit heran.
Lelaki gila ini mulai meletakkan senter di antara ketiaknya, dan membuka bagian resleting depan celananya.
"Mau apa kau?" tanya saya parau, dengan tatapan yang tajam.
"Lihat! Kau tak berani muncul, maka aku akan mengotori tempat tinggalmu. Aku akan mengencingi ruangan ini..." ucapnya dengan suara yang terdengar gemetar dan gestur tubuh yang tampak gelisah.
Saya terdiam, ketika menyaksikan sendiri ia menyemprotkan air seni di sekitar dinding ruangan ini. Ia benar-benar melakukannya di kediaman saya.
Sepertinya selain menemukan barang bukti, ia juga ingin memperjelas kebenaran kalau saya memang benar tinggal di tempat ini, dan masih gentayangan. Kalau sampai Ayah mengetahui hal ini, maka ia pasti akan menemui saya dalam wujud yang lain. Dan terus terang saja, saya sungguh membenci penampakan iblis itu di tubuh Ayah.
Saya pun menahan amarah, meski tubuh saya sampai terasa panas dan gemetaran. Saya membiarkan air seninya mengalir dan menggenang di atas lantai.
Anjing ini masih menelisik sekeliling, kini sambil mengusap tengkuknya ketika telah selesai dengan tingkah buruknya. Ia menunggu, menantikan hal apa yang akan saya lakukan padanya ketika ia melakukan hal tersebut.
Tentu saja saya memilih diam. Mana mau saya menuruti kehendak mereka. Tapi yang namanya anjing, mau orang lain tak mencari masalah pun, ia yang mencari masalah pada orang lain.
"Saya marah kalau kamu berak di sini!! Kalau cuma kencing, nanti juga hilang sendiri." sahut saya.
"Kalau kau tak menunjukkan tanda-tanda kehadiranmu, berarti kau adalah seorang pengecut. Dan pengecut yang sangat ku kenal adalah, adik kurang ajar dari perempuan terkutuk, Arsya si wanita ******!"
Nyuuuut!!
Kedua mata saya terbelalak ketika mendengar anjing ini mengeluarkan kata-kata buruk tentang Ayuk.
Sungguh, sudut hati saya terasa panas ketika ia mengecam Ayuk dengan kata-kata buruk. Sungguh, Ayuk adalah wanita yang setia, dan ia tak pernah sekalipun tak melayani anjing ini dengan baik.
Bahkan ketika sudah jelas lelaki ini menjatuhkan talak, ia masih saja meminta agar lelaki ini mencabut gugatannya. Ayuk tak ingin anaknya terlahir tanpa sosok seorang Ayah. Ia tak ingin anaknya tak merasakan kasih sayang Ayah, sebagaimana saya yang tak pernah merasakan kasih sayang Ibu. Ayuk tak ingin itu semua terjadi.
Meski ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan segalanya, akhirnya ia harus tetap bercerai.. dan memilih mendengarkan perkataan saya.
Wanita sebaik itu.. yang polos dan tak pernah berpikiran buruk tentang orang lain, yang meski melihat sendiri suaminya melakukan ritual aneh di dalam kamar, ia masih tetap tersenyum dan berkata.. "Aku yakin bisa mengubahnya."
Tapi sayangnya, saya.. saya tak bisa melakukan apa-apa karena dia memang ingin membuktikan adanya kehadiran saya. Saya hanya bisa diam saja seperti orang bodoh ketika Ayuk saya di hina. Sungguh, ini sangat menyedihkan. Sebagai seorang adik, saya.. tak pantas untuk memanggilnya sebagai Ayuk.
"Hah hah.. kau masih tak mau menunjukkan wujudmu?" pekik lelaki ini lagi, dengan napas yang berderu karena takut.
"Jadi kau tak ada di tempat ini?" tanyanya, sambil berjalan cepat ke arah lemari dan membukanya.
Saya melihat tingkahnya, ia menyorot isi di dalam lemari dan menilik satu persatu benda yang ada di dalamnya. Ia membuang sembarang hasil prakarya yang saya dan teman-teman ekskul Seni buat.
Cangkir dan piring dari tanah liat di lempar ke lantai hingga pecah. Topi dari anyaman bambu pun di buang sembarang. Ukiran sabun yang membentuk hasil prakarya indah pun di jatuhkan sambil di injak-injak.
Saya mengernyit, menahan marah yang sangat. Itu semua bernilai seni, dan saya membenci orang-orang yang tak menghargai hasil karya orang lain.
"Dimana?? Dimana dia? Aku harus menemukan barang itu sebelum hantu kecil itu datang. Sepertinya ia tak berada di dalam sini. Anak itu kan pemarah sekali padaku, kalau melihat kedatanganku, pasti ia akan marah besar dan langsung bertindak tak wajar." gumamnya dalam hati.
Ia pun menyerah, ketika hampir seluruh prakarya di dalam lemari telah ia rusak. Ia menjerit, sambil jatuh terduduk dan mengacak-acak rambutnya.
"AAAARGGHH!! Si*l!! Dimana petunjuknya! Aku tak bisa menemukan bukti yang di katakan tuan!! Dimana dia?" pekiknya sekuat tenag.
Ia kembali menatap lemari dengan kesal, dan membanting benda tersebut dengan kuat hingga lukisan saya yang tergantung pun terlepas, dan jatuh tepat di pangkuannya.
Ia terkesiap, kaget dan menatap benda tersebut dengan cepat. Ia mengira kalau ada hantu yang berusaha menyentuhnya, ternyata itu hanyalah sebuah lukisan aneh yang realistis. Begitu pikirnya.
Ia memandang lukisan tadi, sambil membolak-balikkan bingkainya. Lampu senter masih setia menemani, dan alisnya mengerut ketika membaca tulisan demi tulisan yang ada di sekitaran bingkai lukisan.
Ia membaca angka yang saya buat, serta nama yang di tulis menggunakan ejaan lama. Senyum mengembang di bibirnya, dan binar matanya bercahaya.
"Hah?!" Ia mendesah, sambil beranjak dari tempat duduknya. Di tatapnya lekat-lekat lukisan tersebut sambil berkata. "Tuan!! Aku.. aku berhasil menemukannya! Aku berhasil menemukan sebuah bukti yang di tinggalkan anak ini untuk lelaki suci. Aku telah berhasil memenuhi satu misi yang kau berikan."
Saya menatap lekat, seolah-olah bersiap untuk menelannya hidup-hidup.
Tapi kesenangannya menghilang sejenak. Ia mengernyit, sambil menoleh ke sekitar lemari. "Tapi, satu lagi benda yang di minta tak aku dapati. Tuan bilang ada di ruang seni, tapi aku hanya menemukan sebuah lukisan saja, mana yang lainnya?" batinnya penuh kerisauan.
"Sekarang aku harus menyelesaikan satu misi dulu. Perkara satu benda lagi, aku akan mencarinya setelah ini. Aku harus cepat, aku harus cepat..."
"...Menghancurkan barang bukti, yang telah di tinggalkan oleh Adam Suganda, untuk seorang lelaki di masa depan, yang bernama..."
"Agam Suganda!" tukasnya, membuat saya terbelalak kaget ketika mendengarnya.
"Apa kau bilang? A.. Agam.. Suganda?"
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......